System Cek In Pikiran

System Cek In Pikiran
Hidup Yang Sempurna


__ADS_3

Di dalam Mansion, Jeni menatap kagum Mansion milik Suaminya itu, dia yakin kalau Mansion yang begitu besar tersebut sangatlah mahal.


" Selamat datang, tuan Moor dan Nyonya Moor " Kepala Pelayan menyambut kedatangan mereka bersama dengan pelayan yang lainnya, mereka semua berbaris rapi seperti menyambut kedatangan raja saja.


Jeni sudah tidak kaget lagi dengan para Pelayan yang jumlahnya sangat banyak itu, dia cuma heran saja, kalau suaminya biasa di layani oleh banyak pelayan seperti ini ketika masih sendirian, yang membuat Heran Jeni kenapa suaminya itu selama tiga tahun mau saja disuruh menjadi bapak rumah tangga yang pekerjaannya hanya mengurusi pekerjaan rumah saja.


Jeni berpikir apakah Alvin gabut dengan kekayaannya ?, ataukah dia hanya ingin mengujinya saja ?, semakin di pikirkan Jeni semakin tidak tahu dengan jalan pikir suaminya itu.


Karena setelah Alvin memperlihatkan kekayaannya, sikap dan sifatnya juga berubah 180 derajat, dia jadi pintar, tegas dan berani. Karena itulah Jeni merasa tidak mengenal suaminya dengan benar.


" Tuan Moor, saya Weis Halington kepala pelayan disini, jika ada yang anda perlukan saya yang mengaturnya untuk anda " Weis memperkenalkan dirinya dengan sopan.


Alvin menganggukkan kepalanya " Apakah kamar kami sudah kamu siapkan ?" tanyanya datar.


" Semuanya sudah kami siapkan tuan, apakah ada yang lainnya yang anda perlukan ?" Weis bertanya lagi.


" Tidak usah dulu, antar kami ke kamar kami !"


" Baik tuan, silahkan ikuti saya tuan Moor " Weis berjalan di depan untuke menunjukkan kamar mereka Alvin dan istrinya.


Mereka sampai di lantai dua, terlihat pintu kamar yang sangat besar layaknya pintu kamar raja di istana.


Weis membukakan pintu kamar tersebut, Jeni langsung melebarkan rahangnya, saat melihat kamar barunya itu.


Kamar tersebut sangatlah Luas, ranjang Jumbo di tengah - tengah kamar, lemari pakaian dengan puluhan pintu, meja rias yang tertata rapi, tentu saja peralatan rias terbaik sudah tertata rapi juga disana.


Balkon kamar yang bisa untuk melihat pemandangan seluruh kota Gangnam, di tambah kamar mandi yang mempunyai berbagai macam jenis tempat mandi yang ada di beberapa negara. Kamar mandi juga luasnya hampir sama dengan ukuran kamar tersebut.


Alvin tertegun mengagumi kamar tersebut, Sementara Jeni berlarian kesana kemari melihat semua isi dari kamar barunya itu.


" Lihatlah sayang, astaga ini kosmetik yang terkenal itu !" Jeni melihat - lihat alat rias yang ada disana.

__ADS_1


Weis tersenyum melihat betapa antusiasnya Jeni, karena dengan begitu usaha mereka tidak sia - sia menyiapkan segala sesuatunya disana.


Tapi ketika Weis melihat Alvin yang diam ditempatnya, keringat dingin mengucur deras di dahinya, karena wajah Alvin seolah tanpa ekspresi sama sekali, Weis mengira kalau Alvin tidak puas dengan pengaturannya.


Padahal Weis salah tangkap dengan Ekspresi wajah Alvin yang sebenarnya bingung mau mengungkapkan kekagumannya, dia mau seperti istrinya, nanti malah di kira orang kaya baru dan Jeni curiga, jadi dia cuma diam tanpa ekspresi sama sekali ditempatnya.


Tubuh Weis yang sudah tua bergetar, tulang - tulangnya seolah berdenyitan karena getaran tubuhnya, dia tidak tahu kalau Alvin tidak sedang meragukan kemampuannya sebagai kepala pelayan.


" Tu..tuan Moor, adakah anda yang inginkan lagi " Weis memaksa bertanya untuk memastikan kapasitasnya.


Alvin segera tersadar " untuk saat ini tidak ada, kamu boleh pergi " ucapnya dengan bibir sedikit bergetar.


Weis merasa jika dirinya tidak kompeten, dia pergi meninggalkan kamar Alvin dengan menundukkan kepala.


" Sayang lihatlah ini..!" Jeni membuka lemari, dia sangat senang karena banyak sekali pakaian yang ada disana, di tambah semuanya merk terkenal dan sesuai selera Jeni.


Alvin mendekat, dia memaksakan untuk tersenyum " Apa kamu suka sayang ?" tanyanya dengan canggung.


Jeni kemudian membuka pintu lemari satunya, betapa terkejutnya dia ketika melihat isi lemari itu.


Alvin juga sama terkejut dengan Jeni, karena di dalam lemari tersebut, tersedia pakaian - pakaian Wanita yang sangat Seksi.


Raut wajah Jeni merah merona sambil mengambil salah satu pakaian transparan, dengan penutup goa hanya sehelai tali saja.


Dia bertanya dengan malu - malu pada Alvin " sayang, apa kamu menyukai yang seperti ini ?, kenapa kamu tidak bilang dari dulu " walaupun malu tapi Jeni mencoba untuk menjadi istri yang pengertian.


Sontak saja Alvin langsung mimisan, karena dia tidak bisa membayangkan kalau Jeni memakai pakaian tersebut, mungkin dia akan langsung kehilangan kendali.


" Sayang kamu kenapa ?" Jeni panik ketika melihat Alvin yang mimisan.


" Ah.. tidak apa - apa, mungkin aku lelah " jawab dia sekenanya saja.

__ADS_1


Jeni buru - buru mengambil tisu dalam tasnya dan menyumpal hidung Alvin yang mimisan " Kamu istirahat dulu yah sayang " ucapnya dengan penuh kasih sayang.


Alvin tersenyum getir, dia tidak menyangka akan mimisan hanya dengan membayangkan istrinya memakai pakaian seksi tersebut, padahal dia sudah terbiasa melihat istrinya tanpa sehelai benangpun.


Alvin rebahan di ranjangnya sambil memandangi langit - langit kamarnya, dia tersenyum - senyum sendiri seperti orang gila.


Sementara Jeni masih sibuk dengan mengecek setiap lemari, karena di masing - masing lemari ada berbagai pakaian yang sudah di kumpulkan sesuai dengan kebutuhan, misalnya pakaian kerja Alvin di taruh di lemari nomor satu, pakaian santai di lemari nomor dua dan pakaian - pakaian lainnya di masing-masing lemari.


Jeni sampai di buat tercengang, karena semua pakaian yang ada di lemari tersebut bukanlah produk sembarangan, semuanya kualitas terbaik dari merk terbaik masing-masing produk pakaian.


Alvin kemudian terlelap di ranjangnya, saat Jeni sedang mengobrak - abrik seluruh isi lemari pakaian mereka.


Alvin terbangun ketika hari sudah malam dan waktunya makan malam, itupun Jeni mbangunkannya.


" Sayang bangun " Jeni menggoyang - goyangkan tubuh Alvin dengan lembut.


Alvin mengerjapkan matanya, dia samar - samar melihat istrinya, kemudian mata dia membelalak saat melihat Jeni yang terlihat sangat cantik dengan gaun malam dan riasan yang maksimal.


" Siapa kamu ?" Alvin langsung bangun dan mundur kebelakang.


Jeni tersenyum " Masa kamu tidak mengenali istrimu sendiri sih ?, ih.. jahat banget kamu sayang ?" Jeni pura - pura menangis.


Alvin terkejut " Ka..kamu Jeni ?" tanyanya memastikan.


" ih... memangnya siapa lagi ?, apa aku terlihat sangat jelek ?" Jeni mengerucutkan bibirnya.


Alvin menggeleng " kamu sangat cantik sekali sayang, sampai aku pangling melihatmu "


Wajah Jeni langsung merah merona bagaikan tomat matang saja, walaupun sudah sering di puji Alvin, tapi dia merasa kali ini berbeda.


" Ya sudah kamu mandi gih, terus kita makan malam, Weis sudah tadi sudah memberitahu kalau makan malam sudah siap " Ucapnya dengan lembut.

__ADS_1


Alvin menganggukkan kepalanya, dia langsung bergegas ke kamar mandi, sementara Jeni menyiapkan pakaian untuk suaminya.


__ADS_2