
Pencarian para keluarga Moor yang terpisah terus di lakukan oleh para Eksekutor, tapi sayang hasilnya nihil.
Sampai beberapa tahun berlalu tidak ada tanda - tanda sama sekali tentang keberadaan Pak tua Moor, Sera dan Alvin.
Sementara itu Alvin tumbuh layaknya anak desa pada umumnya, dia sudah menganggap Sintia sebagai ibunya tanpa tahu masalalu yang sebenarnya.
" Ibu !, lihatlah aku lulus dengan nilai masuk sepuluh besar !" ucap Alvin yang sudah remaja dan lulus dari SMA.
' Uhuk..uhuk.. kamu memang anak yang pandai sayang " jawab Sintia yang terlihat sudah sakit - sakitan karena dia membesarkan anak seorang diri jadi kesehatannya seolah cepat merenggut masa tuanya.
' Uhuk..uhuk..uhukkk .." Sintia batuk darah karena penyakit radang paru-paru nya sudah semakin parah saja.
" Ibu, ibu kita kerumah sakit yah " Alvin menitihkan Air matanya sambil memegang tangan Sintia dengan erat.
Wajah pucat Sintia memaksakan sebuah senyum " Ibu tidak apa - apa sayang " ucapnya lembut.
" Tapi Bu... hiks..hiks... " Alvin menangis tidak berdaya, walaupun dia mengajak Sintia ke rumah sakit, tapi dia juga tidak tahu biayanya dari mana, sedangkan selama ini yang bekerja hanya ibunya, Alvin hanya membantu jika sepulang dari sekolah saja.
Sintia memegang pipi Alvin " Jika ibu telah tiada nanti, pergilah ke kota MULDOR dan rubah nama belakangmu menjadi Moor, kelak kamu akan dapat kebahagiaan disana "
" Apa yang ibu katakan, Ibu tidak akan pernah meninggalkan aku, Ibu akan menemani aku sampai aku sukses dan menikah nanti !, hiks..hiks..." Alvin masih menangis sambil berbicara.
Sintia menitihkan air matanya " Ibu sudah sangat bahagia bisa hidup bersama kamu Alvin Moor, sudah saatnya kamu tahu masalalu kamu di Kota MULDOR, ibu yakin nanti disana akan ada orang yang mengenali kamu "
Tiba - tiba saja napas Sintia tersengal - sengal, Sontak saja Alvin panik " Ibu, ibu, ibu... jangan tinggalkan aku !"
Ya hadiah kelulusan Alvin setelah Lulus sekolah SMA adalah kematian dari pengasuhnya, Sintia Wafat sebelum dia menjelaskan seluruh masalalu Alvin.
Alvin memang selama ini menyandang nama keluarga Yang, dia dikenal dengan Alvin Yang bukan Alvin Moor, baru setelah Sintia meninggal Alvin menggunakan nama kuarga aslinya.
" Aku pasti akan menjadi orang sukses Bu, Alvin janji pada ibu " Ucapnya sambil memeluk makam Sintia dengan penuh kasih sayang.
Setelah beberapa hari kematian ibunya, Alvin pun pergi merantau ke kota MULDOR dimana tempat dia menjadi seperti sekarang ini.
__ADS_1
Awal Alvin datang ke Kota Muldor, dia tidak mengenal siapapun, dengan hanya bermodalkan lulusan SMA, dia bekerja tanpa kenal lelah di kerasnya kehidupan kota.
Alvin bekerja apapun yang dia rasa sanggup untuk di kerjakannya, tidak ada kata mengeluh darinya.
Hingga akhirnya di bertemu dengan Larisa, disitulah awal Alvin merasakan kebahagian walau hanya secuil saja.
Latisa sempat memperhatikan Alvin, walaupun bukan kekasihnya tapi Ia memperlakukan Alvin layaknya seorang kekasih.
Tapi karena Alvin waktu itu tidak mengenal yang namanya Wanita, jadi dia tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali dengan Latisa.
Hingga akhirnya mereka berpisah setelah Alvin mendapatkan pekerjaan baru dan merekapun kehilangan kontak, karena Alvin yang dulu tidak memiliki ponsel sama sekali.
Alvin bekerja sebagai pengantar barang disebuah toko yang cukup besar, hanya menggunakan ponsel jadulnya dia mengirim barang - barang tersebut, walau harus sering tekor dengan pulsa, karena tidak ada aplikasi WA di ponselnya itu.
Hingga akhirnya kejadian saat dia tertabrak Mobil Jeni pun terjadi, hingga akhirnya mereka menikah.
Flashback off.
Sementara itu di pulau terpencil tapi terlihat sebuah bangunan mewah berdiri sendirian disana.
Satu orang pria sepuh dan satu orang Wanita sepuh duduk di kursi dekat kursi kosong tempat pemimpin mereka.
Seorang Pria sepuh dengan memakai tongkatnya berjalan ke arah kursi kosong dengan dua Maid yang mengikuti dari belakang.
Para bawahan pria itu yang tadinya duduk langsung berdiri dan membungkuk hormat secara bersamaan " Tuan Besar !"
Pria tersebut mengangkat tangannya, menandakan jika dia menerima hormat dari mereka semua.
Saat pria sepuh itu duduk, mereka semuapun ikut duduk dengan tenang menatap ke arah pria sepuh itu untuk menunggu perintah darinya.
" Sean, Darla, bagaimana keadaan di Chinate ?" tanyanya dengan santai.
Sean menyunggingkan senyum " Tuan Besar, sepertinya cucu anda telah ditemukan dan hanya dalam hitungan hari saja dia sudah hampir menguasai Andalas !"
__ADS_1
Darla menimpali dengan senyum mengembang " Benar tuan Besar, nampaknya keputusan anda untuk menghilang dari keluarga Moor membuat Swan dan yang lainnya menjadi lebih kuat lagi, kami saja sampai terkejut saat mendengar jika selama dua puluh tahun lebih ini mereka berhasil mempertahankan Chinate !"
Pria sepuh tersebut tidak lain adalah Pak tua Moor, walaupun badannya ringkih tapi dia terlihat sangat sehat dan bugar.
Sean dan Darla masih memiliki orang di Chinate, jadi mudah bagi mereka mendapatkan informasi dari sana.
Pak Tua Moor tersenyum " ternyata pengorbanan putra bodohku tidak sia - sia, aku kira harus mengeluarkan dana dari sini, tapi ternyata cucuku malah bisa mengatasi masalah ini dengan mudah "
Pak tua Moor diam sebentar kemudian melanjutkan " Sean, Darla dan Guan Rin, kita besok akan terbang ke Chinate, yang lain kalian jaga tempat ini dan Pulau Java dengan baik, jangan sampai ada seorangpun dari luar sana yang masuk tanpa izin !"
" Dimengerti Tuan besar !" Ucap mereka serempak.
Pulau yang di huni oleh Pak tua Moor sekarang dulunya adalah pulau terpencil tidak berpenghuni, dia dan dua Eksekutor yang menjaganya selama ini bersumbunyi disana dan membangun kerajaan Moor, Pulau tersebut dinamakan Pulau Karo.
Sementara Pulau Java, adalah pulau yang memiliki tambang Emas, Batubara dan berbagai tambang lainnya, dari situlah sumber kekayaan Kerajaan Moor di pulau Karo.
Para pengawal baru yang di pimpin Sean dan Darla juga termasuk orang - orang pilihan, mereka sangat kuat layaknya para Eksekutor keluarga Moor, jadi tidak sembarangan orang bisa masuk pulau Karo dan Pulau Java begitu saja.
Sean dan Darla sangat senang, karena setelah Puluhan tahun lamanya mereka akan bertemu kembali dengan keluarga mereka.
***
Sementara itu di Mansion Alvin Andalas.
Arisa membawa sebuah rantang makanan di tangannya, dia sedang bernegosiasi dengan para penjaga gerbang.
" Tuan, tolong beritahu tuan Moor, saya ingin mengucapkan terimakasih karena telah menyelamatkan keluarga saya " ucapnya memohon dengan iba.
Para penjaga saling bertatapan ketika melihat seorang wanita cantik memohon pada mereka.
Seorang penjaga buka suara " Maaf Nona, kami tidak bisa melakukannya, kami takut dimarahi istri tuan Moor !" ucapnya tegas.
Larisa menghela napas " Aku hanya ingin berterimakasih saja, apa itu tidak boleh ?"
__ADS_1
" Tetap saja Nona, prioritas kami patuh pada aturan, jika Nona berkenan silahkan tinggalkan nomor telepon Nona, nanti jika tuan Moor keluar aku akan menyampaikan nya pada beliau " Jawab penjaga tidak berdaya, karena memang tugasnya didepan gerbang dan tidak boleh masuk kedalam gerbang, itu adalah perintah mutlak yang harus mereka lakukan.
Adapun jika mereka ingin menyampaikan pesan juga harus pesan darurat, jika hanya untuk mengijinkan masuk seorang gadis, bisa - bisa kepalanya dipenggal anak buah Ken.