
Alvin memanggil Jeni dan Robert " Ayah, Latisa kemari dan duduklah " Ia berkata layaknya seorang Bos.
Robert dan Latisa dengan patuh duduk di kursi depan Alvin. Keysa dan Furi segera berdiri di belakang Alvin, mereka berdua terlihat jelas deperti bawahan Alvin.
" George dan Joaquin Weah, kalian cukup berani juga datang kemari " Suara Alvin menyadarkan George dan anaknya yang dari tertegun.
" Tuan Lane !, apa yang sebenarnya terjadi ?" George masih belum percaya dengan yang dia lihat.
Furi menatap George dengan sedih, dia menghela napas berat dan menundukan kepala tanpa memberinya penjelasan sedikitpun.
Wajah George menjadi pucat, Keringat dingin bercucuran di dahinya. Kaki George seolah kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya.
" Bruggg !" George sudah menangkap maksud Furi, walaupun dia tidak buka suara.
Joaquin yang notabenya hanya anak manja saja dia bertanya seperti orang bodoh " Ayah !, Ayah kenapa, kenapa Ayah mau di rendahkannya !?" ucapnya sambil menunjuk ke arah Alvin.
Joaquin berdiri dia meraung " Tuan Furi !, kenapa kamu tidak mengusirnya saja !, dia sudah sangat keterlaluan duduk di kursimu dan wanita lacur itu sudah di black list kenapa anda masih memanggilnya kemari !?"
Suara Joaquin bagaikan terompet malaikat pencabut maut di telinga George. Dia memyesal membawa anaknya, padahal dia nermalsud memperkenalkan anaknya pada Furi agar dia menjalin koneksi. Tapi nyatanya tidak seperti yang dia harapkan.
Alvin menepuk pinggul Istrinya dengan lembut, Jeni mengerutkan keningnya. Alvin tersenyum " turun sebentar sayang "
Jeni mengerti maksud Alvin, dia berdiri dan beralih duduk di Meja. Sementar Alvin mendekati Joaquin dengan santainya.
Joaquin memicingkan matanya, dia menatap Alvin dengan tajam.
Alvin tersenyum, ia membenarkan kerah Jas Joaquin dan berbicara " Seorang Wanita yang tidak bisa menghargai pengorbanan Pria, dia bisa dikatakan lacur seperti katamu, Tapi pria yang tidak bisa menghormati wanita bagiku ... hanyalah sampah !"
__ADS_1
" Buggg !!
" Arghhh !
Joaquin berteriak tertahan sambil memegangi masa depannya yang di dengkul oleh Alvin dengan keras. Ia jatuh ke lantai di dekat George.
George yang melihat anaknya jatuh tersungkur di lantai, dia hanya menghela napas berat dan menatap Alvin.
" Brug !
George langsung berlutut " Tu..tuan !, tolang maafkan kami ini yang buta tidak melihat sipa orang di depan kami !"
George berlutut berkali - kali membuat keningnnya berdarah karena dia membenturkan ke lantai dengan keras.
Alvin mengernyitkan dahi, ia mendengus " Cih !, dengar baik - baik pak Tua !, karena kamu berani memperlakukan Saudaraku seperti orang rendahan !, maka terimalah nasib kalian yang akan menjadi orang rendahan !"
" Furi !, pecat dia dan anaknya !, Black list namanya, jika ada perusahaan yang mau menerima keluarga mereka bekerja !, Matrix Capital akan memusuhi mereka dan jangan harap di beri belas kasihan !" Suara Alvin bagaikan guntur yang menyambar hamparan padang pasir.
George tertegun sambil menatap punggung Avin, darah di dahinya mulai menetes di lantai. George merasa kehidupan makmurnya sudah berakhir.
Jantungnya terasa tidak berdetak, tubuh tuanya bagaikan tidak mempunyai tulang dan diapun pingsan di tempat karena tidak bisa menerima kenyataan.
Sementara Joaquin, yang tadi mendengar ucapan Alvin baru menyadari kalau Alvin pemilik Matrix Capital yang mereka berdua tunggu.
Joaquin mau bicara, tapi Alvin yang sudah duduk buka suara lagi " Seret mereka keluar !"
Security yang dari tadi menunggu di luar langsung masuk dan menyeret keduanya " Tuan Moor maafkan kami hiks..hiks... , Ayah bangun Ayah " Joaquin terlihat seperti anak kecil yang merengek minta jajan pada orang tuanya.
__ADS_1
Lama kelamaan suara Joaquin tidak terdengar lagi. Robert dan Latisa yang menyaksikan itu. Mareka berdua menoleh ke arah Alvin.
' glek ' Robert dan Latisa menelan Ludah, kurang lebih apa yang di pikiran mereka berdua tentang alvin sama saja.
Jeni kembali duduk dipangkuan Alvin, dia tersenyum dan buka suara " Ayah tidak usah takut seperti itu, Alvin tidak menggigit kok "
Robert tersenyum kecut " Huss, kamu ini Jen, jangan bicara seperti itu dengan Suami kamu " jawabnya sambil mengusap keringat dingin yang ada di dahinya.
" Alvin, Jeni hanya bercanda kamu jangan salah paham " Robert berbicara dengan lembut.
Alvin tersenyum " Ayah tenang saja, mana bisa aku marah dengan rstuku ini, iyakan sayang " ia menaik turunkan alisnya.
Jeni membalas dengan senyum merekah, layaknya bunga mawar yang baru mekar di pagi hari. Begitu indah dan mempesona.
{ " Jangan terlalu lebai Otor !, lanjutkan ceritanya !" Ucap Readers setia otor yang muak dengan kata - kata mutiara Otor.}
Latisa buka suara dengan hati - hati " Alvin, kamu pemilik Matrix Capital ?"
" Sudahlah tidak usah membahas masalah itu, Latisa, kamu akan menggantikan George di perusahaan cabang Matrix Capital, apa kamu keberatan ?" Tanyanya lembut.
Latisa tentu saja terkejut, Pasalnya dia mengira hanya akan diberi pekerjaan rendah dulu. Tapi siapa yang menyangka jika dia akan langsung dijadikan CEO perusahaan cabang Matrix Capital.
" Kamu serius Alvin ?" tanya Latisa tidak percaya.
Alvin mengangguk " kenapa ?, apa kamu tidak mau ?"
Latisa langsung menggelengkan kepalanya " saya mau Al... Eh Tuan Moor !" Latisa langsung membungkuk hormat.
__ADS_1
" Panggil aku biasa saja Latisa, aku sudah menganggap kamu seperti saudara. Aku tidak suka kamu memperlakukanku sepsrti atasan kamu oke !" Alvin menegur Latisa.
Mata Latisa berkaca - kaca, ia tidak menyangka jika Alvin begitu sangat peduli padanya. Ia pun bertekad tidak akan mengecewakan Alvin setelah bekerja di perusahaannya.