
Alvin dan Jeni makan malam berdua saja, terlihat banyak hidangan di meja, makanan - makanan Mewah tentunya yang ada disana.
Alvin di buat tidak bisa berkata - kata dengan pengaturan Weis, menurutnya Weis sangat berlebihan saat melayani mereka berdua.
Jeni juga merasakan hal yang sama, jika makanan di rumah saja sudah sangat mewah seperti itu, rasanya pergi ke restoranpun tidak ada artinya lagi.
Weis memperhatikan ekspresi Alvin, dan lagi - lagi ekspresi Alvin sangat datar di bandingkan dengan Jeni yang sangat bersemangat.
Weis menghela napas berat, padahal dia sudah menyiapkan makanan terbaik, tapi tak kunjung juga melihat senyum dari tuannya itu.
Mereka berdua makan dengan elegan, Alvin berusaha sebisa mungkin agar terlihat layaknya orang kaya pada umumnya, walaupun pengetahuan cara makan dia hanya dari film - film yang di tontonnya saja.
Jeni sesekali melirik Alvin, benar saja cara makan Alvin berbeda ketika di rumahnya dulu, dia sekarang makan layaknya seorang taipan, sangat lembut dan elegan.
Jeni yang tadinya bersemangat juga mengikuti Alvin, tentu saja dia tidak mau di cap sebagai Nyonya Moor yang tidak memiliki adab. Jadi dia juga berusaha makan se elegan mungkin sama seperti Alvin.
" Sayang, besok beneran kita akan ke Mall ?" tanya Jeni disela makannya.
" Kita pergi ke perusahaan dulu, baru setelah itu ke Mall, kamu tidak keberatankan ?" jawab Alvin ringan.
Jeni menggeleng " terserah kamu saja sayang, aku ikut saja "
Alvin tersenyum, mereka berdua kembali melahap makanannya, setelah selesai makan, Mereka berdua menonton bercanda gurau di ruang keluarga.
Saat keduanya sedang asyik bercanda, Ponsel Alvin berbunyi " Tulalit, tulalit, tulalit...
" Sebentar sayang !" Alvin mengangkat panggilan tersebut.
" Ada apa lagi Rudi ?" Alvin bertanya pada Rudi yang menelepon dirinya.
" Yu..Tuan Moor, Keluarga Su masih ada di depan gerbang sampai saat ini, apa tidak apa - apa terus seperti itu, takutnya nanti ada yang gak terima mereka mengganggu ketertiban area Mansion dan mengusir mereka dengan paksa " Rudi terlihat gelisah di seberang telepon.
Alvin menepuk jidatnya " Aku lupa, bentar biar aku urus !" Alvin langsung mematikan Ponselnya.
" Ada apa sayang ?" Jeni bertanya dengan penasaran.
__ADS_1
" Keluarga kamu masih ada di depan gerbang Mansion kita, baiknya kita apakan mereka sayang ?" Alvin malah balik bertanya pada Jeni.
Jeni menghela napas " Benar - benar orang yang tidak tahu malu, usir saja mereka sayang, aku sudah tidak peduli mereka mau jadi gelandanganpun "
Jeni mengatakan itu sebenarnya setengah hati saja, tapi jika dia memohon pada Alvin untuk memaafkan mereka, takutnya Alvin nanti sakit hati dan malah membencinya, Jadi Jeni pikir lebih baik membenci keluarganya yang telah menyakiti suaminya dari pada harus di benci oleh suaminya yang selama ini tulus menyayanginya.
" Ternyata kamu kejam juga yah ?" Alvin tersenyum kecut. Dia kemudian menekan nomor Swan untuk mengurus keluarga istrinya itu.
Hanya butuh satu deringan telepon saja Sawan langsung mengangkat panggilan Alvin " Halo tuan Moor, apa ada yang bisa saya lakukan untuk anda ?"
" Di depan gerbang Mansion ada keluarga Su disana, kamu Carikan tempat tinggal untuk mereka, tempat kumuhpun tidak apa - apa, agar mereka belajar dari kesalahan sebelumnya " Ucap Alvin dengan nada datar.
Swan menghela napas " Anda memang orang yang baik, saya akan langsung melakukan perintah anda tuan Moor, apa ada lagi ?"
" Tidak ada, hanya itu saja " Alvin langsung menutup teleponnya.
Mata Jeni berkaca - kaca saat mendengar Alvin akan memberikan tempat tinggal untuk keluarganya.
Walaupun dia membenci keluarganya, tapi dia juga masih memiliki perasaan, mana mungkin dia melupakan kakeknya yang merupakan Ayah kandung dari ibunya, sejahat apapun dia, tetap saja masih ada hubungan darah dengannya.
Alvin mengusap puncak kepala istrinya " Aku tahu kamu bukanlah orang yang sejahat itu, aku juga tidak mungkin tega dengan keluarga istriku tercinta "
Jeni mendongak sambil tersenyum, dia langsung berdiri dan menarik Alvin agar ikut berdiri juga, Alvin bingung dengan tindakan Jeni, tapi dia menurut saja dengan ajakan istrinya.
" Kamu tunggu disini !" Jeni menyuruh Alvin duduk di ranjang ketika sampai di kamar mereka.
Jeni mengambil pakaian yang tadi siang membuat Alvin mimisan, diapun segera ke kamar mandi untuk memberikan surprise pada Alvin.
Tak berselang lama Jeni keluar dari kamar mandi " Sayang, apa aku pantas memakai ini ?" ucapnya malu - malu.
Sontak saja Alvin langsung menganga lebar, Si Joni langsung berontak, tanpa basa-basi Alvin bergegas menyambar istrinya.
Jeni tersenyum senang karena suaminya begitu buas, karena dengan begitu mereka berdua akan menikmati malam yang panjang dan penuh gairah.
Alvin menggarap Istrinya entah sudah berapa kali, dia merasa si Joni selalu tegap dan gagah berdiri dihadapan istrinya.
__ADS_1
Jeni sampai dibuat basah kuyup oleh peluh, riasannya mulai berantakan, rambutnya juga sudah kusut, karena Alvin membolak - balik tubuhnya seperti menggoreng tempe saja.
Mereka pun akhirnya kelelahan saat pusaka dan Goa Jeni mengalami lecet - lecet akibat ribuan gesekan yang terjadi. Keduanya tumbang dan terlelap bersama di ranjang dengan senyum puas mengembang di bibir mereka masing - masing.
Ke esokan harinya, acara yang sudah di rancang sedemikian rupa gagal total, Jeni tidak bisa berdiri, dia merasakan goanya sangat pedih, ditambah tubuhnya seperti habis digebukin orang sekampung akibat Alvin memakai puluhan gaya padanya.
Berbeda dengan Jeni, Alvin masih bisa beraktifitas seperti biasanya, walaupun si Joni sedikit terluka karena gesekan, tapi itu bukan masalah besar baginya.
" Sayang kamu tidak apa - apakan ?" Alvin menyuapi istrinya yang bersender diranjang.
Jeni tersenyum getir " Sepertinya pakain itu berbahaya sayang, bisa merubah pribadi kamu " ucapnya tidak berdaya.
Alvin ikut tersenyum kecut " Apa aku buang saja ?" tanyanya seperti orang bodoh.
" Ih..kamu ini, aku hanya bercanda saja sayang " Jeni mau bergerak tapi dia merasakan nyeri yang teramat, hingga dia hanya meringis ditempatnya saja.
Alvin yang melihat itu merasa iba " jangan bergerak dulu, lebih baik kamu istirahat saja dulu "
Jeni menganggukan kepalanya, setelah makan Jeni kembali beristirahat, untuk memulihkan tubuhnya.
Sementara itu Alvin pergi keluar halaman untuk sedikit berolahraga, Alvin keluar dari gerbang Mansion jalan kaki, niatnya memang ingin melihat pemandangan sekitar.
Ken yang berjaga langsung mengikuti Alvin, karena dia takut tuannya kenapa - napa di luar, apalagi dia jalan kaki.
Alvin berjalan sambil menyapu pandangannya ke kanan dan kiri, melihat Bila dan Mansion mewah yang ada disana.
Ketika dia sedang melEng karena melihat pemandangan di area tersebut, tiba - tiba seorang wanita menabraknya.
" Brugg
" Aduhhh
Wanita tersebut jatuh di jalan, Alvin tentu saja terkejut, dia langsung mengulurkan tangannya dan bertanya " Maaf Nona, kamu tidak apa - apa ?"
" Kalau jalan lihat - lihat dong !" ucapnya dengan ketus.
__ADS_1