
Di Arnesia Taipan tersebut telah menguasai seluruh bisnis disana, baik itu perusahaan Online, properti, hingga perusahaan besar lainnya, bisa dikatakan kalau Taipan itu sangatlah berkuasa di Arnesia.
Setiap Taipan pasti memiliki sekelompok pelindung mereka sendiri. Eksekutor adalah pelindung yang bisa dikatakan sebagai orang - orang terkuat di sisi mereka. Baik Taipan itu dan Alvin mereka sama saja memiliki kelompok Eksekutor.
Tujuan awal Eksekutor sebenarnya sebagai penyelesai misi, tapi seiring berjalannya waktu para Eksekutor mendapatkan pekerjaan layaknya seorang Bodyguard yang harus melindungi Tuannya.
Kehidupan seorang Eksekutor mereka menghilangkan identitasnya, dengan kata lain mereka tidak di terdaftar dalam hak kewarganegaraan.
Eksekutor bisa dikatakan seperti hantu, Walaupun mereka ada tapi tidak diketahui oleh pemerintah.
...***...
Pagi hari di Mansion Alvin, dia yang tidak akan pergi kemana - mana sedang berendam di kamar mandinya sambil menyanyi lagu favoritnya.
Alvin berhenti bernyanyi ketika suara System menegurnya.
[ Ding ]
[ Misi Terpicu : Jadikan Keluarga SU sebagai pion Host !
Hadiah : Kotak Silver ]
Sontak saja Alvin langsung mengernyitkan dahi karena tiba - tiba System memberinya sebuah tugas.
Alvin baru membuka mulutnya ingin bertanya, System berbunyi lagi.
[ Host belum Cek in hari ini, apakah Host akan Cek in ?]
Alvin tersenyum dia memikirkan sebuah Perusahaan besar di luar negri sambil tersenyum penuh arti " System Cek ini sekarang !"
[ Host melakukan Cek in pikiran :
Selamat Anda mendapatkan Diamond Tower yang bertempat di Arnesia.
Selamat anda mendapatkan hadiah tambahan sebuah Bandara penerbangan Pribadi Merak Wings, berkas - berkas semua ada di brankas anda ]
" Arnesia ?" Beo Alvin sambil memegang dagunya untuk mengingat - ingat dimana Arnesia itu.
__ADS_1
Alvin kemudian teringat dimana Arnesia itu " Bukankah Arnesia adalah negara yang perkembangannya sangat pesat itu ?, aku harus mencari tahu Diamond Tower itu seperti apa !"
Alvin bergegas menyelesaikan mandinya dan langsung keluar dari kamar mandi, dia ingin segera menjelajahi internet untuk mencari tahu tentang Diamond Tower.
Saat Alvin baru selesai memakai pakaian santainya, Jeni masuk ke kamar sambil menunjukkan wajah yang di tekuk.
Alvin mengerutkan keningnya " ada apa sayang ?"
" Kakek sama paman Nolan datang kemari, aku mau menolaknya gak enak " Jeni duduk di ranjang sambil menggembungkan pipinya.
Alvin tersenyum, dia duduk disamping istrinya " sudahlah biarkan saja, paling juga mereka sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, jadi mereka datang sendiri kesini " Alvin mengusap punggung istrinya itu.
Jeni menyenderkan kepalanya di bahu Alvin sambil menghela napas " aku malu sama kamu sayang, saat kita masih dibawah boro - boro mereka mau menolong kita, yang ada mereka malah mengolok - olok kita, tapi sekarang mereka bergantian untuk merayu kamu dengan tidak tahu malunya "
" Sudahlah, Ayo temui mereka dulu, aku punya rencana untuk membuat mereka tidak besar kepala lagi " Alvin mengajak istrinya dengan lembut.
Jeni menganggukan kepalanya dan mengikuti Alvin sambil merangkul lengan suaminya dengan mesra.
Mereka berdua keluar dari kamar untuk menemui kakek dan paman Jeni yang biasanya tidak mau menginjakkan kakinya dirumah mereka.
Alvin dengan acuhnya menghampiri sesepuh keluarga Su itu tanpa memberikan salam ataupun menyambutnya, dia langsung duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya, Jeni masih merangkul suaminya itu dengan mesra.
" Jadi maksud kedatangan kalian kemari untuk apa ?" tanya Alvin acuh.
" Alvin !, apa begini cara bicaramu dengan orang yang lebih tua !" Nolan akhirnya tidak bisa membendung amarahnya lagi.
Tapi Alvin masih tetap santai " ckk' kalian menyuruh ku sopan dengan kalian, sementara kalian tidak sadar juga jika statusku sekarang lebih tinggi dari kalian !" ucapnya Sinis.
Alvin melepaskan rangkulan Jeni, dia kemudian menatap serius kedua sesepuh keluarga Su itu " Jika aku menjentikkan jari saja keluarga Su mungkin sudah menjadi tuna wisma yang mengais sampah dijalanan, seharusnya kalian sadar kalau orang didepan kalian bukanlah orang yang dulu hanya diam saja ketika di tindas !"
Tatapan Alvin begitu mendominasi membuat punggung Danil dan Nolan berkeringat dingin karena merinding ketakutan, pasalnya mereka sudah melihat Alvin bisa mengalahkan para Bodyguard keluarga Su.
' Glek ' Nolan yang tadinya ingin memarahi Alvin lagi, dia menelan ludah karena melihat Alvin yang terlihat sangat serius itu.
Danil menghela napas " Alvin, aku tahu jika kami telah salah menilai kamu, apakah tidak ada kesempatan untuk keluarga Su untuk mendapatkan maaf dari kamu ?"
" Kakak..." Danil mengangkat tangannya menahan Nolan yang ingin berbicara.
__ADS_1
Alvin tersenyum tipis " Apakah ada untungnya untukku jika mengampuni keluarga Su " dengan santainya Alvin berkata seperti itu sambil menyenderkan tubuhnya di sofa.
Jeni yang melihat betapa lihainya suaminya berbicara dengan kakeknya itu, dia sangat yakin kalau Alvin yang sekarang memang sangat berbeda dengan Alvin yang dulu. Pasalnya Alvin yang sekarang seolah mudah saja untuk membolak-balik am ucapan lawan bicaranya.
" Bilang saja kami harus apa, aku akan memenuhi semua ucapanmu asalkan keluarga Su tidak kamu berikan hukuman " Danil mulai melunak karena dia tahu sudah tidak bisa bernegosiasi lagi dengan Alvin, jalan satu - satunya dia harus mengalah.
Alvin tersenyum " Setengah saham Keluarga SU !, aku mau itu "
" Alvin !, kamu sudah keterlaluan !" Nolan menggertakkan giginya karena marah.
" Kenapa ?, apa kalian pikir masih bisa bernegosiasi denganku?, asal kalian tahu saja, nasib keluarga Su kalian ada di tanganku sekarang " ucapnya penuh dengan ancaman.
Danil tidak bisa berkata - kata, dia terlihat berpikir untuk mengambil sebuah keputusan. Sementara Nolan sebenarnya sangat geram tapi dia sadar kalau Alvin serius dengan ucapannya itu.
Danil menghela napas berat " Apa dengan menyerahkan setengah saham Su grup, maka keluarga Su akan mendapatkan keuntungan juga ?"
" Tentu saja, aku orang yang menjunjung tinggi perihal bisnis, asalkan kalian memenuhi semua pengaturanku, bukan tidak mungkin jika Su grup akan menjadi keluarga Nomor dua atau bahkan mungkin menjadi keluarga nomor satu !" Alvin menyeringai tipis sesudah mengatakan itu.
Danil dan Nolan saling bertatapan, mereka seolah mendapat pencerahan kembali. Nolan yang tadinya marah juga sumringah.
" Tetapi ada syarat yang harus kalian penuhi, semua petinggi Di grup nantinya harus orang - orangku, karena aku tahu betapa buruknya keluarga Su itu !" Ucap Alvin tegas.
Sontak saja wajah Danil dan Nolan yang tadinya bersinar cerah, secerah harapan author, langsung berubah padam dan jelek. Keduanya merasa jika Alvin telah menginjak martabat Keluarga SU.
Jeni yang dari tadi diam buka suara " Lebih baik kakek terima saja, orang - orang Alvin lebih kompeten daripada anak - anak kesayangan kakek itu dan mereka semua orang pilihan dari Matrix Capital, benarkan sayang " Jeni merangkul lengan Alvin lagi.
Alvin menganggukan kepalanya " Jeni benar, kakek tidak perlu khawatir dengan pembagian Deviden, orang - orangku pasti lebih baik dari orang - orang kakek, bagaimana ?"
" Apa aku boleh tanya apa hubungan kamu dengan Matrix Capital Alvin ?" tanya Danil penasaran.
Jeni dengan bangganya menjawab " Apa kakek masih perlu bertanya lagi ?, jelas - jelas Alvin pemilik Matrix Capital !"
" Apaa !!!" Nolan dan Danil melebarkan rahangnya, jika saja ada telur bulat dan dimasukkan kemulut mereka mungkin akan langsung tertelan masuk.
" Sekarang kakek dan Paman sudah tahu siapa Alvin, apakah kalian yakin masih mau mengganggunya ?" Jeni bertanya dengan nada mencibir.
Mereka berdua langsung kompak menggelengkan kepalanya tanpa berbicara sepatah katapun, pasalnya mereka tahu betapa menakutkannya pemilik Matrik Capital.
__ADS_1
" Ya sudah, kalau kalian setuju besok Asistenku akan membuat kontrak langsung dan mendatangi Su grup, dia yang akan mengurus semuanya untukku !" ucap Alvin santai.
Kedua sesepuh keluarga Su tersebut masih terkejut dengan kenyataan apa yang telah mereka dengar. Mereka berdua seperti orang bodoh saat meninggalkan Mansion Alvin.