
Alvin tidak menduga walaupun dia asal tunjuk sebuah Mansion, ternyata Mansion itu malah miliknya.
Iring - iringan Mobil Alvin mulai memasuki kawasan Distrik pertama Gangnam, Distrik pertama merupakan kawasan terelite disana dengan Mansion Grown sebagai pusat dari Mansion ataupun Vila mewah di Distrik pertama.
Distrik Gangnam terdiri dari tiga Distrik, tentu semua Distrik disana sangatlah Elite, harga Vila termurah saja satu Milyar dolar, itupun berada di distrik ketiga.
Mansion Grown yang akan Alvin tempati merupakan Mansion termahal, Harganya mencapai 150 Milyar dolar, karena itulah yg tidak ada yang berani membeli Mansion tersebut.
Mansion Grown sebenarnya sangat diminati para Taipan Lokal maupun luar negeri, tapi karena Mansion tersebut sangatlah besar otomatis biaya perawatannya sangat mahal, butuh setidaknya 50 orang pelayan untuk mencakup semua ruangan Mansion setiap harinya. Itu hanya untuk di dalam Mansion, belum pelayan yang bekerja merawat taman halaman depan Mansion dan Perkebunan halaman belakang Mansion, karena itulah para Taipan superpun berpikir seratus kali untuk membeli Mansion itu.
Tapi Alvin berbeda, dengan adanya System, dia tidak perlu mengkhawatirkan semuanya, jika dia kekurangan uang, pikirkan saja uang satu truk dan Boom Alvin pun disengat listrik karena menyalahi peraturan System, yang tidak memperbolehkannya meminta uang langsung, dia harus memikirkan akar kekayaan bukan uang, jika dia meminta uang, System akan langsung memberikannya hukuman kecuali System sendiri yang memberinya hadiah seperti saat dia pertama kali mendapatkan System, meminta Cincin berlian dan hadiahnya uang 100 juta dolar.
Iring - iringan Mobil Alvin sudah sampai di depan gerbang Mansion, para Taipan yang melihat iring - iringan Mobil Alvin dari Bila dan Mansion mereka masing - masing bertanya - tanya siapa orang yang sanggup membeli Mansion Grown.
Tentu saja mereka penasaran, karena mereka yakin kalau Mansion Grown tidak sembarangan orang yang dapat membelinya.
Penjaga gerbang menghampiri Mobil Alvin, Alvin langsung membuka kaca mobil agar Penjaga melihatnya, karena Alvin yakin jika wajahnya sudah di kenali para penjaga tersebut.
Benar saja ketika Penjaga melihat wajah Alvin, dia langsung membungkuk Hormat " Tuan Moor !"
" Bukakan gerbang !" Perintah Alvin tegas.
" Baik tuan Moor " penjaga langsung berlari membukakan gerbang bersama satu temannya yang menunggu disana.
Jeni menatap Alvin penuh dengan tatapan sayang, di sudah tidak bisa berkata - kata lagi, karena menurutnya akting Alvin selama tiga tahun menjadi menantu tidak berguna sangatlah mendalami, Jeni yakin kalau Alvin ikut ajang penghargaan Akting terbaik mungkin dia akan mendapatkannya.
Jeni tidak tahu saja kalau Alvin juga sebenarnya kaget dengan kehidupannya yang sekarang, tapi dia mau jujur takutnya malah di anggap gila saat dia mengatakan punya System.
Gerbang dengan ukuran yang sangat besar itu terbuka, iring - iringan Mobil masuk kedalam gerbang.
Lagi - lagi Jeni di buat tercengang, pasalnya luas halaman Mansion Grown seluas lapangan sepak bola, artinya luas halaman tersebut lebih luas dua kali lipat dari Mansionnya yang ada di Hyaning, Chinate.
Jeni sedikit menggigit bibir bawahnya, karena dia takut sedang bermimpi, tapi ternyata dia merasakan sedikit sakit disana, berarti yang dilihatnya itu nyata.
Tubuh Alvin bergetar, tapi dia mencoba untuk tenang, perasaannya campur aduk, antara senang, terkejut dan perasaan bahagia lain yang ada dalam benaknya.
Mobil mereka sampai di depan Mansion, Alvin dan Jeni turun dari Mobil ketika Molina dan Jeremy membukakan pintu untuk mereka.
__ADS_1
Dengan santainya Alvin keluar dari Mobil, dia menghampiri istrinya yang langsung merangkul lengannya.
Ketika mereka mau melangkahkan kakinya ke dalam Mansion, handphone jadul Alvin berbunyi dengan nyaring.
" Tulalit, tulalit, tulalit...
Molina dan Jeremy melihat ke arah anak buahnya, karena mereka mengira jika suara dering ponsel jadul itu milik salah satu dari mereka.
Tapi mereka terkejut, karena ternyata tuannya pemilik Ponsel jadul yang bunyinya sangat nyaring itu.
" Halo.. ada apa Rudi ?" ternyata yang menghubungi Alvin Rudi, kepala pelayan Mansionnya di Hyaning.
" Tuan Moor, di luar gerbang ada banyak orang menangis, mereka bilang keluarga Nyonya Moor, mereka ingin bertemu dengan anda !" Nada suara Rudi terlihat kebingungan.
Alvin mengerutkan keningnya " Apa mereka dari keluarga Su ?" tanya Alvin memastikan.
" Be..benar tuan Moor, mereka bilang katanya ampuni mereka dan kembalikan perusahaan mereka " Rudi masih sangat gugup memberitahu Alvin.
Bersamaan dengan Alvin yang menerima telepon dari Rudi, Molina juga mendapat telepon dari Swan, tentang Glard yang m nghancurkan keluarga Su, tentu saja Swan juga menjelaskan kejadiannya dengan detail, untuk berjaga saat Alvin bertanya.
" Saya juga tidak tahu tuan, tapi mereka semua merengek meminta untuk di maafkan dan kembalikan aset mereka "
Alvin Menoleh ke arah Molina dan Jeremy, Molina langsung menganggukkan kepalanya, dia seolah tahu apa yang sedang terjadi.
" Biarkan mereka dulu Rudi, nanti aku tangani !" Setelah mengatakan itu Alvin menutup Panggilan dari Rudi.
" Ada apa sayang ?" tanya Jeni penasaran yang masih merangkul lengan Alvin.
Alvin menghela napas " Sepertinya keluarga kamu telah kehilangan semua Asetnya karena mengusik mereka " Alvin menunjuk Molina dan Jeremy.
Jeni terkejut " Apa maksud kamu ?"
Alvin menggendikkan bahunya " Molina, Jeremy !, aku yakin kalian tahu masalah keluarga Su, ceritakan Sekarang !" ucapnya tegas dan berwiba.
Molina buka suara tanpa ekspresi " tuan Moor, misi kami adalah melindungi aset dan Anda dari segala gangguan para orang yang menginginkan kehancuran anda, kami akan membasmi mereka tanpa belas kasihan, Keluarga Su yang mencoba menyakiti Keysa Velias Asisten pribadi Anda di Matrix Capital, saat dia akan menandatangani kontrak dengan mereka, itu adalah tindakan yang menurut kami para Eksekutor ingin menghancurkan perusahaan anda, jadi kami mengambil tindakan langsung dan menghancurkan seluruh Aset mereka baik itu perusahaan ataupun yang mereka gunakan, tapi kami juga memberikan keringan karena mereka adalah keluarga Nyonya Moor, jika tidak mungkin keluarga Su sudah kami hilangkan dari keberadaan !"
Tentu saja penjelasan Keysa membuat Alvin dan Jeni tersentak, karena mereka terlalu sadis dan berbahaya.
__ADS_1
" Jadi maksudmu mereka sudah tidak memiliki apapun ?!" Jeni bertanya dengan sedikit nada tinggi.
" Benar Nyonya Moor, kami melakukan itu sesuai dengan Kode etik kami para Eksekutor !" jawab Molina tegas.
Alvin melepaskan rangkulan Jeni dari lengannya dan mendekati Jeremy dan Molina.
" Plaakkk
" Plaakkk
Suara tamparan begitu nyaring terdengar ketika Alvin menampar keduanya, Jeremy dan Molina hanya menundukkan kepala tanpa berani memandang Alvin.
" Apa kalian pikir tindakkan kalian aku menyukainya !?" Suara Alvin menggelegar membuat para Eksekutor yang ada disana langsung menciut.
" Memang aku pernah disakiti mereka, tapi mereka masih keluarga istriku !, jika itu orang yang tidak aku kenal silahkan kalian mau berbuat apapun pada mereka, apa kalian tidak bisa menghubungiku terlebih dahulu !" urat - urat di kepala Alvin terlihat saat dia memarahi Molina dan Jeremy.
Jeni menghampiri Alvin, dia merangkul lengannya " Sudahlah sayang, ini bukan salah mereka, mereka hanya menjalankan tugas saja "
" Tapi sayang, keluarga kamu bagaimana ?" Alvin takut Jeni akan marah padanya, karena walaupun mereka berdua sebelumya tidak pernah diterima keluarga Su, tapi Jeni tetaplah bagian dari mereka.
Jeni tersenyum " Sudahlah biarkan saja mereka, biar tahu rasanya bagaimana menderita seperti kita "
" Kali.... eh.... Sayang kamu... ?" Alvin bingung karena ternyata Jeni tidak marah sama sekali.
" Hihihi.. kamu sih langsung marah saja, kasihan mereka tahu, aku senang akhirnya mereka mendapat pelajaran " Jeni terkikik Geli.
Jeni menatap bawahan Alvin yang masihenundukkan kepalanya " Molina, Jeremy jangan di ambil hati yah, dia memang kalau menyangkut aku seperti ini "
" Kami baik - baik saja Nyonya " Molina berkata dengan lembut.
Alvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal " Maaf, kali ini aku yang salah !" ia membungkuk hormat pada Alina dan Jeremy.
" Bruggg
Tapi Alina dan Jeremy malah berlutut di tanah " Tuan Moor tolong jangan tundukkan kepala anda pada kami, kami tidak bisa menerima konsekuensinya, kami tidak pernah marah dengan anda, apapun ucapan anda kami akan menerimanya, jadi tolong jangan menundukkan kepala anda "
Molina dan Jeremy terlihat sangat ketakutan saat Alvin menundukkan kepala pada mereka, para anak buah mereka juga sama saja, Ekspresi mereka langsung cemas dan berlutut bersamaan di tanah.
__ADS_1