
Gadis itu menyambut uluran tangan Alvin, betapa terkejutnya gadis tersebut saat melihat wajah tampan Alvin saat bertatapan muka langsung dengannya.
" Ternyata jauh lebih tampan dari dekat, di bandingkan melihatnya menggunakan teropong kemarin " ucapnya dalam hati sambil tertegun disana.
" Hei !, Nona...!" Alvin melambai - lambaikan tangannya di depan wajah gadis itu, karena dia sejak tadi tertegun di depan Alvin.
" Eh... Arisa Clown !" Ucapnya terkejut sambil mengulurkan tangannya, dan memperkenalkan diri.
Alvin mengernyitkan dahi, dia merasa aneh dengan gadis itu, tadi dia seolah marah - marah, tapi sekarang dia mengajak berkenalan dengannya.
Tangan gadis itu masih menggantung di udara karena Alvin tak kunjung juga menyambut uluran tangannya.
Alvin menghela napas dan menyambut uluran tangan gadis itu " Alvin Moor !" jawabnya singkat dan langsung melepaskan jabatan tangannya.
Arisa tersenyum manis " kamu baru pindah kemari ?" tanyanya lembut.
Alvin mengangguk " Ya aku baru kemari bersama istriku, maaf Nona Arisa aku mau lanjut melihat - lihat daerah sini dulu "
Alvin berjalan meninggalkan Arisa sendirian. Arisa yang merasa Alvin sangat cuek dan tidak meliriknya sama sekali, dia menghentak - hentakkan kakinya di jalan sambil menggembungkan pipinya. Padahal dia sudah bersusah payah mencari momen agar bisa bertabrakan dengan Alvin dan memulai perkenalan, tapi nampaknya Alvin tidak tertarik padanya.
Sementara itu Ken yang melihat dari kejauhan tersenyum dari kejauhan. Dia sangat yakin kalau sifat dan kepribadian Alvin seperti pak tua Moor.
Arisa tidak mau menyerah, dia berlari mengejar Alvin " tunggu dulu Alvin !, aku akan ikut bersama kamu menunjukkan tempat ini ! "
Alvin berhenti melangkahkan kakinya dan menoleh kebelakang, Arisa yang tidak menyangka jika Alvin akan berhenti, dia menabraknya.
" Bruukk
" Aduhh..
" Awww
__ADS_1
Mereka berdua jatuh bersama, posisi Arisa seperti sedang berhubungan diranjang dengan dia di atas Alvin, gunung kembarnya yang padat berisi itu menempel di dada Alvin, membuat Alvin tersentak kaget.
Alvin tertegun beberapa saat, akan bohong jika pria yang di tabrak wanita cantik seperti Arisa tidak merespon memandang dan menikmati momen itu.
Arisa menatap Alvin, ketika tatapan mereka bertemu, detak jantung Arisa berdetak sangat kencang, darahnya berdesir menandakan jika dia benar - benar menyukai Alvin, Apalagi selama ini dia tidak pernah di sentuh oleh pria manapun.
Alvin segera tersadar " Nona Arisa tolong bangunlah " ucapnya lembut sambil memegang kedua bahu Arisa dan menjauhkan dari tubuhnya.
" Eh..iya !" Arisa langsung beranjak dari tubuh Alvin.
Mereka berdua berdiri bersama, wajah Arisa merah merona, dia masih merasakan detak jantungnya yang masih berpacu dengan sangat cepat.
Sementara Alvin mencoba untuk menyetabilkan emosinya yang terasa sangat aneh " tidak boleh Alvin !, kamu memliki Jeni. Dialah wanita satu - satunya yang kamu cintai !" gumamnya dalam hati.
" Maaf Alvin, aku tidak tahu kalau kamu akan berhenti berjalan " Arisa berbicara dengan malu - malu.
Alvin menghela napas, saat Alvin mau berbicara, tiba - tiba seseorang menegurnya " Hei !, berani sekali kamu memegang wanita ku !!" ucap seorang Pria yang tergesa-gesa menghampiri Arisa dan Alvin bersama para Bodyguardnya.
" Arisa !, bukankah Ayahmu sudah sepakat ingin menikahkan kita berdua !, kenapa kamu malah bermesraan dengan bajingan ini !" pria itu melihat ketika Arisa jatuh dan menindih tubuh Alvin. Jelas saja dia sangat marah karena Arisa adalah tunangannya.
" Ivan !, tunangan kita hanya sepihak saja !, aku tidak pernah menyukaimu !, jangan harap aku akan menurut padamu !" Arisa menjawab sambil bersungut-sungut karena marah.
Alvin menatap keduanya, dia menghela napas " baiklah, kurasa aku tidak ada hubungannya dengan kalian, aku pergi dulu " ucapnya dengan santai.
Alvin melangkahkan kakinya untuk pergi, tapi Ivan tidak membiarkan itu " kamu pikir bisa lari dariku setelah menyentuh wanitaku ?, Hajar dia !"
Para Bodyguard Ivan langsung menerjang ke arah Alvin, Arisa yang melihat itu panik " Ivan apa yang kamu lakukan !"
Ivan hanya menyeringai ketika para Bodyguardnya menerjang ke arah Alvin, tapi saat mereka baru mendekat satu meter di belang Alvin.
" Srat
__ADS_1
" Srat
" Srat
" Brug
" Brug
" Arghhhhh
Para Bodyguard berjatuhan karena kaki mereka terpotong sebelah semuanya, mereka pun berteriak histeris ketika darah mulai mengucur deras dari kaki mereka.
" Slaapp
Suara pedang yang masuk ke dalam sarungnya terdengar, terlihat pria sepuh dengan baju putih berdiri di belakang Alvin dengan pedang di tangannya.
Ivan terkejut ketika para Bodyguardnya bertumbangan di jalan dengan kaki yang terpotong sebelah semuanya.
Arisa menutup mulutnya tidak percaya, karena mereka berdua tidak melihat pergerakan pria sepuh tersebut.
" Berani menyentuh tuan Moor, maka akan ku potong leher kalian semua !" ucap Ken dengan tatapan dingin ke arah Ivan.
Alvin yang baru menoleh juga terkejut, saat melihat orang - orang yang bersama dengan Ivan semuanya bertumbangan dengan satu kaki terpotong.
Alvin melihat pria sepuh yang ada di hadapannya sekarang, dia tidak percaya kalau ada orang yang sangat mudah menebas tulang seseorang.
Wajah Ivan langsung memucat, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, dia tidak menyangka kalau Alvin memiliki pelindung yang lebih kuat darinya.
" Brugg
Ivan jatuh terduduk di jalan, karena tubuhnya tiba - tiba melemas saat menyaksikan hal itu. Awalnya dia sangat percaya diri, tapi setelah melihat Ken nyalinya langsung menciut.
__ADS_1
Para Bodyguard Ivan masih merang kesakitan, mereka bersusah payah untuk mengikat kaki mereka dengan kencang agar darah tidak terus mengucur keluar.