System Cek In Pikiran

System Cek In Pikiran
Sebuah Harapan Baru


__ADS_3

Suara langkah kaki semakin mendekat ke arah mereka yang ada di dalam Goa, Neil dan yang lainnya menatap dengan tajam ke arah kehadiran orang tersebut.


" Apa cuma sebatas ini kesetiaan yang kalian janjikan dulu pada tuan Besar ? Apa perlu aku menghabisi kalian sekaligus disini ?" Ken yang baru datang memegang gagang pedangnya yang masih dalam selongsong.


" Jangan salah paham dulu Ken, duduklah dulu " Neil mencoba menengahi mereka.


Ken memang paling tidak suka dengan orang-orang yang membicarakan hal bodoh tentang kesetiaan mereka pada Pak tua Moor, perkataannya yang ingin membunuh mereka bukanlah omong kosong, karena Ken sangatlah menghormati Pak tua Moor.


Crewi menghela napas " Ken kami hanya sedang membicarakan kenyataan saja "


" Kalau kalian ingin mundur seharusnya dari awal ! Apa kalian tidak malu dengan anak buah kalian yang sangat mempercayai dan menjunjung tinggi martabat kalian di hadapan tuan Besar ?!" Ken meninggikan suaranya.


Ken kembali buka suara lagi " puluhan tahun kita bersama untuk mempertahankan keutuhan keluarga Moor. Tapi saat tuan besar dan tuan Muda sudah mulai bergerak kalian malah mengatakan hal yang memalukan ! Apa kalian lupa tujuan kita dari awal masuk Eksekutor Moor Family ? Apa kalian lupa sumpah kalian dulu ? Atau insting kalian sudah tumpul karena selama puluhan tahun ini sudah tidak pernah dapat misi berbahaya lagi !"


Suara Ken begitu lantang, tangannya semakin erat menggenggam gagang pedangnya, dia sudah bersiap untuk membunuh mereka semua jika perlu. Karena Ryu menganggap sampah orang - orang yang tidak bisa memegang janjinya.


Tapi kata-katanya membuat para pemimpin Eksekutor itu tersadar, Lori, Finsmoke dan Crewi langsung bertekuk lutut di hadapan Ken. Mereka sadar kalau telah melakukan sebuah kesalahan.


" Maafkan kami Ken ! Kami janji tidak akan mengulangi kata-kata itu lagi, kamu benar kami sudah semakin tumpul karena selama ini terlalu santai " Crewi buka suara mewakili Lori dan Finsmoke.


Neil yang melihat itu tersenyum " Dasar pria tua yang menyedihkan, harus digertak dulu baru tahu kesalahannya " gumamnya lirih.


Ken mulai mengendurkan genggaman tangannya pada gagang pedangnya, karena rekan - rekannya sudah mulai tersadar dengan kesalahan mereka.


Ken menghela napas " Aku memaafkan kalian untuk saat ini, tapi jika terjadi lagi, aku tidak akan ragu menebas leher kalian !"


Crewi dan yang lainnya mengangguk mengerti, karena mereka tahu kalau Ken tidak akan mungkin bermain - main dengan kata - katanya.


Mereka berlima kembali duduk untuk menyusun strategi yang matang, agar tidak mati konyol saat melakukan penyerangan ke markas musuh.


...***...

__ADS_1


Sementara itu di kediaman Alvin, hari sudah mulai malam, Sera terlihat sedang menyiapkan makan malam bersama para pelayan Alvin.


Weis yang sudah tahu kalau Sera adalah ibu kandung Alvin dari Jeni, dia sebenarnya melarang Sera untuk melakukan pekerjaan mereka, tapi Sera kekeh ingin melakukannya, sehingga Weis tidak bisa berbuat apa-apa.


" Nyonya Sera, anda sudah membantu dari awal, lebih baik anda beristirahat dulu saja, biarkan kami yang menyelesaikan ini semua " tegur Weis dengan lembut dan sopan.


Sera tersenyum " terimakasih atas perhatian kamu, tapi biarkan aku melakukan ini, sudah sangat lama aku tidak memanjakan anakku "


" Tapi nyonya ..." Weis terlihat sangat tidak berdaya, pelayan lain juga merasakan apa yang dirasakan Weis.


" Sudah, sudah, jangan pedulikan aku, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian " Sera tersenyum lembut pada para pelayan.


Weis menghela napas berat, dia pun langsung menyuruh para bawahannya agar kembali bekerja lagi.


Sera terlihat sangat senang saat menata meja makan, dia tersenyum - senyum sendiri seperti seseorang yang sedang kasmaran saja.


Setelah semuanya selesai di siapkan, Weis memanggil Alvin dan Jeni untuk makan malam, tentu saja Pak tua Moor dan Arisa juga ikut di panggil.


Tak berselang lama Alvin dan Jeni datang, Sera dengan sigap menarik kursi Alvin sebelum Weis melakukannya.


Alvin mengernyitkan dahi, dia menatap Sera dengan penuh tanda tanya, tapi Sera menanggapinya hanya dengan sebuah senyuman.


Jeni yang melihat Alvin belum duduk, dia menegurnya dengan lembut " Sayang, ayo duduk dong, jangan seperti itu dengan ibu "


Alvin dengan malas duduk disana tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Sera, saat dia akan mengambil makanan, lagi - lagi Sera langsung menyerobot untuk mengambilkannya.


" Kamu mau makan apa nak ? Biar ibu yang ambilkan " ucapnya sangat lembut pada Alvin.


Jeni tersenyum " Alvin tidak pilih-pilih makanan Bu, tapi dia sangat suka daging sapi "


Jeni mencoba mendekatkan Alvin dengan Sera, karena Jeni yakin kalau Alvin pasti akan menerima ibunya kembali.

__ADS_1


Sera dengan senang hati menyendokan Nasi ke piring Alvin, dengan lauk daging sapi tentunya.


Alvin buka suara " apa kamu pikir aku kuli bangunan makan sebanyak itu ?" ucapnya datar pada Sera saat melihat piringnya tidak terlihat sama sekali karena Nasi dan lauk pauk yang sangat di ambilkan Sera.


" Hihihi... Sayang Ibu kan belum tahu porsi makanan kamu seberapa, jadi wajar kalau beliau mengambilkan banyak untukmu, itu tandanya dia ingin kamu makan banyak, biar lebih kuat lagi untuk menjalani kehidupan " ucap Jeni sambil terkikik geli.


" Kalau nanti tidak habis, biar ibu yang habiskan Nak, makan saja dulu " ucapnya lemah lembut.


Alvin menghela napas " dia pun tidak bertanya lagi dan langsung menyantap makanannya yang bagai gunung itu "


Pak tua Moor dan Arisa melihat cara makan Alvin yang tidak seperti orang berada, tata cara makannya sangatlah jauh jika di bandingkan para Milyarder lainnya, tapi dia terlihat cuek dan menikmatinya.


" Kenapa kalian memandangiku seperti itu ? Apa ada yang salah denganku ?" tanyanya dengan mulut penuh makanan.


Jeni hanya tersenyum dan melanjutkan makannya, Pak tua Moor menggeleng - gelengkan kepalanya, begitu juga dengan Arisa.


Sementara Sera merasa terenyuh, karena dia sangat yakin sewaktu kecil tidak ada yang mengajari Alvin tata cara makan dengan benar.


Hatinya begitu tersayat, seorang anak Milyarder tidak tahu tata cara makan yang benar, padahal itu adalah hal dasar untuk kalangan atas.


' Uhuk, uhuk ' Alvin tersedak karena dia makan dengan cepat dan lahap.


Sera langsung mengambilkan air minum " pelan-pelan saja makannya nak " ucapnya penuh perhatian sambil mengusap-usap punggung Alvin.


Alvin langsung meminum air yang diberikan Sera, dia langsung bernapas lega saat makanannya masuk ke perut.


Alvin Menoleh ke Sera " kenapa kamu gak ikut makan ?" tanyanya acuh tak acuh.


Bagaikan tersengat listrik, perasaan Sera langsung berbunga saat Alvin memperhatikannya, bebannya seolah sedikit terangkat mendapat perhatian dari Alvin walaupun tidak sengaja.


" Ibu nanti saja makannya, kalian dulu makan yang banyak " jawabnya khas seorang ibu yang sangat perhatian pada anaknya.

__ADS_1


Arisa sebenarnya merasa bersalah, karena ibunya seperti pelayan saja, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, pasalnya itu semua kemauan Ibunya sendiri dan Sera juga melarang Arisa ikut campur Walaupun Alvin nanti akan menyakiti nya sekalipun .


__ADS_2