
Alvin dan Jeni bingung apa yang sebenarnya terjadi, karena tiba - tiba saja mereka semua berlutut di tanah.
Alvin tidak tahu saja ada sepuluh kode Etik bagi para Eksekutor yang wajib mereka lakukan dan harus mereka patuhi, jika tidak Eksekutor nomor 10 dan anak buahnya akan memburu mereka dan membunuhnya.
Kode Etik yang sedang mereka lakukan adalah kode Etik Eksekutor nomor dua yang isinya.
' Tuan Moor tidak pernah salah, Apapun yang dia lakukan semuanya benar, jika ada yang berani membuat Tuan Moor menundukkan kepala ataupun sejenisnya, mereka akan berhadapan dengan Eksekutor nomor 10 '
Sebenarnya peraturan kode etik tersebut di buat karena pak tua Moor orang yang sangat baik, dia tidak segan untuk menundukkan kepala pada siapapun, karena itulah Kode etik nomor dua menjadi sangat menakutkan para Eksekutor.
Adapun Eksekutor Nomor 10 sebenarnya hanya memiliki sembilan orang anak buah saja, tapi kemampuan mereka untuk melenyapkan seseorang orang sangat menakutkan, rumor mengatakan kalau 1 anak buahnya saja sanggup melawan puluhan orang dengan tangan kosong.
Eksekutor nomor 10 momok menakutkan bagi lawan maupun kawan, karena jika sudah mendapatkan perintah 99% misi mereka akan berhasil.
Yang bisa memberikan perintah padanya hanya Alvin dan Swan saja untuk saat ini, Swan pun sering ragu kalau mau memberikan perintah pada Nomor 10, jika bukan karena mandat pak tua Moor mungkin Swan juga tidak akan pernah bisa memerintahnya.
" Kalian kenapa ?, bangunlah !" Alvin masih terheran-heran, pasalnya dia yang salah malah mereka yang berlutut.
" Terimakasih tuan Moor " Wajah mereka sedikit berseri ketika Alvin menyuruhnya bangun.
" Ya sudah kami masuk dulu, besok antar kami ke Mall Guardian !"
__ADS_1
" Baik tuan Moor !" ucap mereka serempak.
Karena perjalan cukup panjang, jadi Alvin dan Jeni memutuskan untuk beristirahat saja hari ini. Mereka berdua pun langsung masuk ke Mansion.
Molina dan Jeremy menghela napas lega, Jeremy mendesah " mudah - mudahan saja Tuan Ken tidak melihat kejadian tadi " ucapnya penuh dengan kekhawatiran, karena walaupun dirinya mantan pembunuh bayaran, tapi mustahil baginya untuk melawan Ken yang Notabenya memiliki pengalaman bertarung jauh di atasnya.
" Dia pasti melihat kejadian ini, tunggu saja pasti dia akan datang kemari dan memberikan peringatan untuk kita " Molina sudah pasrah jika akan mendapatkan hukuman.
" kamu benar Molina, Sepertinya beberapa hari ini kita akan beristirahat di rumah sakit " Ucapnya tersenyum kecut.
Keduanya sudah pasrah, jika Ken atau Eksekutor nomor 10 akan datang dan memberikan mereka pelajaran.
Benar saja belum selesai mereka bicara, pria dengan rambut panjang hitam yang di kuncir, dengan pedang panjang yang menggantung di punggungnya, menghampiri mereka.
Jeremy menghela napas " Apakah aku boleh melawan tuan Ken ?"
Jeremy yang sering mendapatkan hukuman oleh Ken, dia sudah memutuskan lebih baik melawan untuk mendapatkan pengalaman bertarung dengannya daripada diam saja dan hanya mendapatkan luka saja.
Ken menghela napas " Kamu ini tidak pernah berubah Jeremy, Swan terlalu lembut padamu makanya kamu sering seperti ini !"
" Dan kamu Molina, ini kesalahan pertama kamu, kenapa kamu bisa sampai ceroboh seperti ini !, bukankah kamu harusnya mencari tahu dulu bagaimana sifat dan karakter tuan Moor muda terlebih dahulu sebelum menjelaskan sesuatu padanya ?"
__ADS_1
" Saya mengaku salah tuan Ken " Molina tidak berani membantah sama sekali.
" Hari ini kalian berdua aku maafkan, karena kalian masih memiliki masalah yang belum tuntas dengan Turner, jika para Eksekutor yang lain tidak sedang sibuk mengurus masalahnya masing-masing mungkin aku tidak akan memaafkan kalian berdua !" Ken berbicara dengan nada yang mengintimidasi.
" Terimakasih tuan Ken " Mereka berdua membungkuk hormat.
" Kalian berdua selesaikan urusan kalian, biar kami yang menjaga tuan Alvin ! " Ken memberikan perintah.
" Baik tuan Ken !" Molina, Jeremy dan anak buahnya langsung pergi meninggalkan Mansion tersebut.
Sementara itu di sebuah Mansion yang letaknya dekat dengan Mansion Alvin, Seorang gadis muda yang dari tadi memperhatikan Alvin semenjak dia datang ke Mansion menggunakan teropong terlihat mengulas sebuah senyum.
" Pria yang mengagumkan, bukan hanya kaya tapi anak buahnya juga terlihat sangat kuat, jika bisa dengannya mungkin hidupku akan nyaman " Ucapnya tersenyum penuh Arti.
" Jangan Mimpi !, taipan sepertinya mana mungkin menyukai gadis seperti kita, apa lagi dia terlihat sudah beristri !" ucap temannya yang sama memperhatikan menggunakan teropong.
" Siapa tahu saja dia mau, toh wajah dan tubuhku tidak kalah dengan wanita yang terus merangkulnya tadi " Gadis itu berkata dengan Yakin kalau Alvin bisa dia miliki.
" Terus saja bermimpi, tapi hebat juga yah dia, umur segitu sudah memiliki Mansion super Mewah disini, apakah dia seorang pebisnis muda ?" ucap teman gadis itu menyimpulkan.
" Mungkin saja seperti itu, dia memang tipe idamanku, aku yakin Ayah pasti akan menyukainya !" gadis itu masih mengagumi sosok Alvin.
__ADS_1
Gadis itu sangat yakin kalau dia bisa mendapatkan Alvin dengan mudah, Pria mana yang tidak akan tergila - gila padanya, kaki jenjang tinggi, pinggul montok, gunung kembar kencang dan padat, di tambah wajah yang cantik, dengan bentuk tubuh yang proporsional seperti itu, dia yakin bisa menaklukkan Alvin cepat atau lambat.