
Jordan dan Jorah yang paling tertekan di antara yang lainnya, karena mereka lah yang kedudukannya paling tinggi di antara keluarganya yang lain.
Setelah rapat selesai dan Danil meninggalkan ruang rapat keluarga, para anggota keluarga Su mereka semua saling berdiskusi satu sama lain.
" Bagaimana ini ?, bukankah dengan begini sama saja dengan merendahkan keluarga Su ?"
" Benar, kita harus mencari solusi untuk membatalkan Matrix Capital menguasai Su grup !"
" Tapi bagaimana caranya ?, apa kalian yakin mau melawan Matrix Capital ?"
Mereka semua Cemas karena posisinya terancam jika Matrix Capital yang menjalankan Su grup.
Jordan buka suara " jalan satu - satunya kita harus menahan Ayah menandatangani kontrak itu !"
" Kakak benar, lebih baik kita menyuruh orang untuk menggagalkan rencana ini !" Jorah memberikan usul.
Semua anggota Keluarga Su mengangguk setuju dengan rencana Jorah itu, mereka pikir jika dengan menahan Matrix Capital menandatangani kontrak maka masalahnya akan beres.
Mereka semua tidak tahu saja kalau Alvin sudah berniat menghancurkan keluarga Su jika mereka berani bertindak bodoh. Kesalahan Danil tidak menjelaskan dengan Detail pada anggota keluarganya, apa resiko yang akan mereka hadapi kalau berani melawan Matrix Capital.
Jorah dan Jordan langsung menghubungi seseorang untuk menahan Matrix Capital yang akan membawa Kontrak perjanjian besok. Mereka berdua sangat yakin kalau rencananya akan berhasil.
...***...
...ke esokan Harinya, Alvin sedang bersiap - siap untuk pergi ke Arnesia bersama dengan istrinya....
" Sayang apa membawa pakaian segini cukup ?" Jeni memperlihatkan koper besar yang isinya pakaian dia dan Alvin yang sudah dikemas rapi di dalamnya.
Alvin terkejut dengan tindakan istrinya itu, dia menggeleng - gelengkan kepalanya sambil tersenyum " Sayang, tidak usah bawa baju banyak - banyak, Nanti disana kita akan beli lagi saja, biar tidak repot berangkatnya " ucapnya lembut.
" Tapi sayang.. " Jeni takut menghambur - hamburkan uang Alvin disana, jadi dia membawa banyak pakaian ganti.
Jeni melakukan itu karena tahu kalau biaya perjalanan mereka ke Anarka tidaklah murah, belum lagi nanti akan menginap di hotel dan sesuatu yang lainnya.
Alvin mendekati Istrinya dan berkata dengan lembut " Bawa keperluan kamu saja, tidak usah membawa pakaian, nanti anak buahku yang disana akan menyiapkan pakaian untuk kita oke "
__ADS_1
Alvin sudah menghubungi Swan Semalam jika dia akan pergi ke Anarka di bandara Merak Wings miliknya. Tentu saja Swan langsung mempersiapkan segalanya.
Jeni menghela napas " kamu yakin sayang ?"
Alvin mengangguk " sudahlah, tinggal ini semua dan bawa barang kamu seperlunya saja, percaya padaku oke " ucapnya sambil mengusap pipi Jeni.
Jeni akhirnya luluh, dia hanya membawa tas kecilnya saja yang isinya Ponsel dan peralatan makeup jika bepergian.
Koper besar yang sudah dikemasi pakaian merekapun di tinggal begitu saja dalam kamar.
Mereka berdua keluar dari Mansion, saat mereka keluar Alvin terkejut karena ada enam buah Mobil Roll Royce yang sudah menunggunya disana. Begitu juga Jeni sama terkejutnya, sampai - sampai dia melebarkan rahangnya karena terkejut.
Terlihat Swan dan Glard membukakan pintu untuk Alvin dan Jeni " Silahkan tuan dan Nyonya Moor " Ucap Swan sangat sopan.
Wiliam yang tadi malam sudah di suruh mengantar Alvin ke bandara Merak Wings juga ikut terkejut, pasalnya dia tidak tahu jika Tuannya itu akan di antar orang lain, apa lagi dengan mobil Mewah. Wiliam hanya bisa tertegun di dekat Mobil yang biasa di kendarainya untuk mengantar Alvin bepergian.
Alvin dan Jeni tersadar, mereka berdua langsung masuk kedalam Mobil yang sudah di siapkan oleh Swan.
Sebelum memasuki Mobil Alvin buka suara pada Wiliam " Wiliam, aku akan di antar mereka, kamu tidak perlu mengantarku " ucapnya sedikit merasa bersalah.
Alvin pun memasuki Mobilnya, didalam Mobil Jeni menatap suaminya itu, karena semakin kesini dia seperti menikahi orang lain saja.
Orang yang selama tiga tahun lebih hanya menjadi bapak rumah tangga berubah sangat drastis, sehingga dia seperti melihat orang lain saja .
Alvin yang melihat Jeni menatapnya begitu intens dia bertanya " kamu kenapa sayang ?"
Jeni tersadar " eh... tidak !, aku tidak apa - apa sayang " ucapnya gugup karena terkejut di tegur Alvin.
Alvin hanya mengulas sebuah senyum saja menanggapi kegugupan istrinya itu, karena dia tahu Jeni pasti terkejut dengan segala sesuatu yang tiba - tiba di milikinya.
Jangankan Jeni, Alvin saja sebenarnya terkejut dengan apa yang terjadi, Pasalnya pemberian System sangatlah mengejutkan untuknya. Tapi karena Alvin tidak ingin istrinya curiga dia mendapatkan banyak kekayaan dan Aset dari mana, jadi dia pura - pura Cool saja, toh tidak ada yang tahu tentang Systemnya itu.
Mobil pun melaju meninggalkan Mansion Alvin, Glard yang mengemudikan mobil tersebut sangat tenang dan tidak banyak bicara. Begitupun denga Swan yang sama dinginnya dengan anaknya itu.
Peraturan di Eksekutor memang seperti itu, mereka tidak boleh mengajak bicara tuannya jika tidak ada masalah atau laporan penting, mereka hanya boleh menjawab dan menjelaskan apa yang ingin tuannya tahu.
__ADS_1
Hening beberapa saat hingga Mobil sudah setengah perjalanan ke Bandara Merak Wings.
Alvin tiba - tiba bertanya " Swan, apakah kalian akan ikut kami ke Arnesia ?"
Swan tersenyum " tidak tuan, tugas kami menjaga Aset Anda di Chinate ini, di Arnesia Molina Lu dan Jeremy Hu yang akan melayani anda disana "
Setelah mengatakan itu Swan terlihat membuka Jasnya dan menyerahkan dia foto pada Alvin " Ini foto mereka tuan, saya juga sudah mengirim foto anda pada mereka, seharusnya mereka akan langsung menjemput anda di Arnesia " Ia memberikan foto Molina dan Jeremy pada Alvin.
Jeni yang penasaran melihat foto itu, ketika dia melihat foto itu, Jeni nyeletuk " Kenapa banyak anak buahmu yang Cantik-cantik sih !" Jeni langsung menggembungkan pipi dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Alvin yang melihat itu menghela napas " Sayang, dia hanya anak buahku, aku juga baru pertama kali melihatnya " ucapnya menenangkan Jeni yang sedang merajuk manja.
Swan dan Glard hanya saling memandang mereka berdua tersenyum getir, karena tuannya itu seperti pasangan muda - mudi saja yang kalau cemburu sampai blokir - blokiran nomor.
Jeni masih merajuk tapi Alvin terus merayunya hingga dia kembali seperti biasa, Alvin merasa kalau Jeni semakin hari semakin manja saja padanya membuat dia bingung untuk mengimbangi perubahan sifatnya itu.
Mobil mereka berdua sampai di bandara Merak Wings.
Alvin dan Jeni kembali di kejutkan dengan adanya para pramugari dan Pilot yang menyambutnya secara langsung. Mereka semua sangat sopan dan Ramah saat menyambut keduanya.
Jeni langsung merangkul lengan Alvin dengan Mesra, dia seolah tidak ingin kehilangan Alvin, karena melihat para pramugari yang kecantikannya bisa di bilang melebihi kecantikan Jeni yang sudah di atas rata - rata.
Sepanjang melangkahkan kaki mendekati pesawat, Jeni menatap sinis para pramugari yang bertugas melayani mereka berdua.
Tentu saja pramugari tidak berani menatap Jeni, mereka semua menundukkan kepalanya karena takut di pecat dari pekerjaannya.
Mereka semua sudah diberitahu kalau jangan sampai ada yang membuat masalah ketika Alvin dan Istrinya datang, jadi merekapun melakukan tugas seprofesional mungkin, walaupun dalam hati ada keinginan untuk mendekati Alvin.
Alvin dan Jeni memasuki pesawat pribadi mereka, lagi - lagi mereka di buat terkejut, karena pesawat tersebut tidak terlihat seperti pesawat pada umumnya, melainkan seperti sebuah Apartemen mewah dengan segala Fasilitas yang ada di dalamnya.
" Tuan dan Nyonya Moor, di sini kamar anda, jika butuh sesuatu silahkan hubungi kami saja, kami akan melayani anda sepanjang perjalanan " ucap Pramugari yang mengantarkan mereka dengan ramah.
Alvin mau menjawab, tapi Jeni lebih dulu menjawab " Terimakasih, silahkan tinggalkan kami !" ucapnya ketus.
Pramugari tersenyum getir, dia pamit undur diri dan kembali ke tempatnya dan berkumpul dengan pramugari yang lain.
__ADS_1
Jika ada yang melihat betapa mewahnya pelayan untuk Alvin, mungkin mereka akan mengatakan itu terlalu berlebihan, pasalnya hanya untuk melayani mereka yang Notabenya cuma dua orang, ada sepuluh pramugari yang ada di pesawat itu. Sungguh kehidupan orang kaya memang pemborosan yang haqiqi.