
Alvin membolak-balikkan album foto tersebut dan memperhatikannya dengan seksama, dia semakin penasaran, kenapa ada foto yang di gunting disana.
" Sayang... kamu sedang ngapain ?" Jeni tiba - tiba masuk ke kamar, membuat Alvin sedikit terlonjak kaget.
" Ah... ternyata kamu sayang, kirain siapa ?" ucapnya sambil tersenyum kecut.
Jeni menghampiri Alvin dan duduk disebelahnya " Apa yang sedang kamu lihat itu ?" tanyanya penasaran.
" Tidak ada, hanya melihat album lama saja " jawabnya ringan.
" Oh..." Jeni tidak banyak bertanya lagi dan diapun tidak berusaha melihat album foto yang ada di tangan Alvin.
Jeni pikir itu hanyalah Album foto biasa saja, tanpa ada sangkut pautnya dengan Alvin sama sekali, karena itulah dia tidak tertarik sama sekali.
Jeni merebahkan kepalanya di bahu Alvin, dia kemudian buka suara " Sayang.. apa kamu masih marah dengan mereka ?" ucapnya lembut sambil menatap Alvin.
Alvin menghela napas " sebenarnya aku tidak marah pada mereka, hanya saja aku kecewa dengan mereka "
" Aku tahu itu sayang, tapi kamu juga tidak boleh seperti ini, mau bagaimana pun mereka tetap Keluarga kamu bukan ?" Jeni masih dengan lembut mencoba merayu Alvin agar tidak bertindak gegabah.
" Kamu mungkin benar, tapi kamu pasti tahu jika di posisi aku sekarang, aku juga bingung mau menyalahkan siapa ? Kakek sudah menjelaskan alasannya dan mungkin aku bisa menerima itu, tapi Ibu .... ah... sudahlah " Alvin terlihat malas membahas ibunya. Karena bukan hanya meninggalkannya, Sera juga malah menikah dengan pria lain.
Jeni tahu rasa sakit Alvin walaupun dia tidak mengalaminya sendiri, karena dia tahu betul bagaimana sikap Alvin jika sudah kecewa.
Contohnya ibunya Jeni, karena dia sering mencaci makinya, jadi Alvin tidak punya belas kasihan sama sekali, jika saja dia tidak memandang Leni karena Jeni, mungkin Alvin sudah mengikat dan menenggelamkannya di laut.
Sementara Ayah Jeni yang tidak pernah berbuat jahat padanya, Alvin malah memberikan dia pekerjaan, itu saja sudah terlihat kalau Alvin hanya peduli dengan orang - orang yang cukup baik menurutnya.
" Sayang... Aku menyuruh mereka tinggal disini untuk sementara waktu, bolehkan ?" Jeni bertanya pada Alvin lagi.
__ADS_1
Alvin menghela napas " terserah kamu saja, yang penting mereka tidak mengganggu hari - hariku "
Alvin paling tidak bisa menolak permintaan Jeni, dia selalu menuruti kemauannya, walaupun dulu dia masih tidak punya apa - apa.
Jeni tersenyum " terimakasih yah sayang " Jeni langsung memeluk suaminya.
Alvin menghela napas lagi " kamu ini terlalu baik dengan orang lain, tapi itu yang aku suka dari kamu " dia balas memeluk dan mengecup puncak kepalanya.
Alvin sudah sedikit tahu tentang Keluarga nya, berkat album foto dan Hardisk yang di berikan System, jadi tidak ada alasan baginya untuk tidak menerima Keluarganya, walaupun dia masih enggan menerimanya.
Sementara itu di kamar Sera, dia sedang menangis tersedu-sedu sendirian, karena kamarnya dan kamar Arisa berbeda.
Terlihat Sera memandangi foto Garin muda, dia masih teringat dengan jelas wajah tampan dan garangnya itu.
" Maafkan aku sayang karena telah menghianati Keluarga kamu, tapi aku tidak bermaksud seperti itu, aku juga dulu ingin pulang kembali, tapi kamu tahu sendiri aku tidak pernah kemana - mana, Hiks...hiks..." Air matanya jatuh di atas foto Garin, Sera memeluk Foto itu dengan penuh penyesalan.
Berbeda dengan Sera, Arisa masih belum bisa menerima kalau Alvin adalah kakak tirinya, dia masih berharap itu semua hanya mimpi saja.
" Kenapa jadi begini ? Bagaimana mungkin Alvin adalah kakak ku ? " Arisa menutupi matanya dengan lengan, dia merasa lelah dengan kenyataan yang sedang di jalaninya sekarang.
Ayahnya mati di depan matanya, Keluarganya hancur dan dia tidak memiliki kekayaan lagi, belum juga semua itu berakhir, sekarang dia harus menerima kenyataan kalau orang yang dia cintai adalah kakaknya. Arisa berpikir kalau kehidupan sedang mempermainkan takdirnya.
Di kamar pak tua Moor, dia sedang bersama dengan Sean dan Darla yang selalu setia menemaninya.
" Tuan Besar, bukankah tuan muda terlalu berlebihan? Dia seolah tidak menghargai Anda sama sekali !" Sean berkata dengan geram.
" Tutup mulutmu Sean ! Alvin seperti itu juga karena kesalahan kalian yang tidak becus mencarinya !" suara pak tua Moor meninggi.
Sean langsung menundukkan kepalanya " maaf tuan, saya salah "
__ADS_1
Darla menghela napas " tuan besar, tolong ingat darah tinggi anda " ucapnya lembut dan sopan.
Pak tua Moor menarik napas panjang dan membuangnya " aku tidak ingin kalian semua menyalahkan Alvin, semua kesalahan ini semua karena kita yang tidak bisa menemukannya dari dulu, ingat itu baik - baik !"
" Di mengerti tuan besar " Sean dan Darla menjawab bersamaan.
Pak tua Moor akan menanggung sedikit beban Alvin, tentunya dengan harus bergerak cepat mencari tahu siapa dalang di balik pembantaian Keluarga Moor, jika itu sudah terwujud mungkin dirinya bisa meninggal dengan sedikit lebih baik.
" Bagaimana perkembangan pencarian kalian ?" tanya Pak tua Moor mengalihkan perhatian.
Darla buka suara " Nomor empat memberitahu kami, kalau dia melihat anggota bertopeng di Grivia, kemungkinan markas mereka ada disana tuan besar dan ini ..."
Darla memberikan ponselnya dengan foto seseorang disana, Pak tua Moor menyipitkan matanya, karena wajah orang tersebut penuh dengan bekas luka dan susah di kenali.
" Siapa ini ?" tanya pak Tua Moor langsung.
" Nomor empat mengatakan, kalau kelompok bertopeng seolah menjaga dirinya jika dia bepergian dengan jarak seratus meter, dengan anilisnya Nomor empat mengatakan kemungkinan besar dia salah satu orang penting di organisasi tersebut !" jawab Darla yakin.
Pak tua Moor menganggukan kepalanya " Siapa saja yang di kirim kesana ?"
" Enam sampai sembilan, tuan Ken akan menyusul kesana juga, setelah dia menyelesaikan misinya di Andalas !" jawab Darla tegas.
" Baiklah, kalian boleh keluar dulu, aku mau istirahat !"
" Baik tuan !" Sean dan Darla langsung keluar dari kamar pak tua Moor.
Selepas kepergian bawahannya pak tua Moor bergumam " Aku harus memberitahu Alvin, aku yakin bawahanku tidak akan sanggup menyerang markas mereka !"
Pak tua Moor sangat yakin akan hal itu, karena dulu saja mereka dengan sangat mudah meruntuhkan Moor Family, apalagi sekarang yang Notabenya sudah puluhan tahun lamanya mereka berkuasa, pasti mereka semua juga tumbuh lebih kuat dari yang dulu.
__ADS_1