
Melihat Ibunya yang langsung bersujud di depan pak Tua Moor, Arisa juga ikut bersujud di hadapan pak tua Moor.
" Tuan tolong ampuni ibu, dia tidak bersalah, hiks..hiks..." ucapnya sambil menitihkan air mata.
Pak tua Moor menghela napas " Bangunlah kalian, jika kamu bukan ibu kandung Alvin, mungkin aku tidak akan pernah mengasihanimu Sera ! "
Sera mendongak, dia menatap pak Tua Moor " Terimakasih tuan Moor " sambil memeluk anaknya.
" Jangan berterimakasih dulu, kita akan terbang ke Nerika, biar Alvin sendiri yang memutuskan apakah kamu akan di lepaskan atau...." Sorot pak tua Moor menjadi sangat tajam, membuat Sera tahu apa maksud mantan Mertuanya itu.
Sera mengangguk walaupun takut " aku akan menerima hukuman apapun yang akan Alvin berikan " ucapnya tulus.
Arisa belum tahu kalau Alvin yang di maksud Sera adalah Alvin yang dia kenal, walaupun nama kakek Alvin bermarga Moor, tapi karena kondisi mental yang sedang kacau akibat melihat kematian Ayahnya, Arisa jadi tidak fokus dengan arah pembicaraan mereka.
Pak tua Moor pun pergi meninggalkan mereka berdua yang masih terduduk di lantai.
" Ibu... , apa yang akan terjadi pada kita selanjutnya ?" tanya Arisa sambil memeluk Sera.
Sera memaksakan sebuah senyum dan mengusap puncak kepala putrinya itu " kamu akan baik - baik saja, nanti kamu akan ibu titipkan pada kakak kamu, ingat jangan membantah perintahnya !"
" Jadi aku beneran punya kakak Bu ?" tanya Arisa lirih.
" Ya kamu memiliki kakak, dari pernikahan ibu yang pertama, walaupun ibu tidak pernah merawat kakakmu " jawab Sera sendu.
Sera sangat tahu kalau mungkin hidupnya hanya tinggal menunggu waktu saja, melihat Ken yang dengan mudah membunuh Milick, jadi Sera berpikir kalau Alvin juga akan membunuhnya.
Sebelumnya Ken sudah menceritakan semuanya pada Sera, kalau Alvin ingin memutus semua hubungan masalalu nya, karena kata - kata itulah Sera sudah yakin kalau Alvin sudah tidak peduli lagi padanya.
Tapi Sera tidak menyalahkan Alvin, walaupun dia yang melahirkan, kenyataan nya semua bayi butuh kasih sayang dari orang tuanya, karena jika bayi tersebut terlantar otomatis hidupnya akan sengsara, malahan bisa meninggal jika dia tidak ada yang mengasuh, atas dasar itulah Sera memantapkan tekadnya untuk menerima semua hukuman dari Alvin, kalaupun harus mati di hadapannya.
...***...
Malam hari di Nerika, Terlihat Jeni yang sudah lunglai di ranjang, mau duduk saja dia tidak ingin, karena suaminya terlalu perkasa sehingga membuat dirinya mencapai puncak berkali - kali.
Alvin tersenyum melihat istrinya yang masih mengatur napas sambil menatap langit - langit, karena terlalu menikmati permainan suaminya.
Alvin mengusap pipi Jeni yang masih terlentang tanpa sehelai benangpun " Apa kamu capek Sayang ?" tanyanya lembut.
__ADS_1
Jeni perlahan menoleh ke arah Alvin, dia mengulas sebuah senyum, bibirnya yang tanpa coretan Lipstik masih terlihat menggoda bagi Alvin.
Alvin mengecupnya dengan lembut, Jeni hanya bisa memejamkan matanya pasrah, karena akhir - akhir ini suaminya seolah tidak pernah puas saat berhubungan ranjang.
Padahal setiap bergelut, mereka bisa berjam-jam lamanya, tapi Alvin tetap saja masih kurang.
Seperti sekarang, Jeni di berikan istirahat sebentar dan Alvin pun mulai mengerjai istrinya lagi.
Jeni tidak bisa menolak, walaupun lelah tapi pusaka suaminya saat menghujam Goanya sangat dia nikmati.
Betapa bahagianya kehidupan pasangan tersebut, tidak ada hutang, tidak ada yang mengganggu, apapun yang mereka mau ada semuanya, oh... surga dunia yang di idamkan setiap pasangan yang hidup di dunia ini.
Setelah larut malam Akhirnya Alvin mencapai puncak yang ketiga kalinya, sedangkan Jeni entah sudah berapa kali, dia sudah lemas seperti sudah tidak punya tulang saja.
" Makasih sayang " Alvin mengecup kening Jeni dengan mesra.
Jeni hanya tersenyum tipis sambil mengangguk lirih, dia benar - benar di buat kewalahan meladeni birahi suaminya itu.
" Apa kamu mau mandi sayang ?" tanya Alvin lagi.
Jeni menggeleng " aku langsung istirahat saja sayang, takutnya besok kamu kambuh lagi " ucapnya lirih sambil tersenyum getir.
Alvin mengambil tisu, dia dengan lembut membersihkan goa istrinya yang penuh dengan ****** ***** mereka berdua yang menyatu disana.
Jeni sedikit menggelinjang, karena perih dan geli yang dia rasakan saat tisu tersebut menyentuh organ intimnya.
Setelah selesai Alvin menyelimuti Jeni, dia kembali mengecup kening istrinya " istirahatlah "
Jeni mengangguk " selamat malam sayang " ucapnya lembut.
Alvin mengangguk dan meninggalkan Jeni untuk membersihkan diri dalam kamar mandi, tubuh Alvin yang terlihat kekar sekarang, sangat kontras dengan dirinya yang dulu kurus kerempeng karena kekurangan Vitamin.
" Apakah aku juga bisa mendapatkan kekuatan juga darimu System ?" tanya Alvin yang ingin memiliki kekuatan bertarung juga.
[ Tidak tuan, saya hanya bisa merubah tubuh anda, tapi saya tidak bisa memberikan kekuatan, jika anda di berikan kekuatan, dunia ini tidak akan seimbang lagi, karena kekuatan anda pada kekayaan dan Klon saya ]
Alvin menghela napas " bagaimana jika aku bertemu dengan orang yang bisa menculikku tanpa sepengetahuan kamu ?"
__ADS_1
[ Itu tidak mungkin tuan, saya sudah menyatu dengan tubuh anda, bagaimana mereka bisa menyembunyikan anda dari saya, sementara Saya tidak pernah tidur seperti anda ]
Alvin mengangguk mengerti, artinya dia tidak akan lepas dari pengawasan System selama dua puluh empat jam penuh.
Alvin menghela napas " Berikan juga pengawalan ekstra pada istriku, karena aku tidak mau istriku tidak tergores sedikitpun !" sorot wajah Alvin menjadi serius.
[ Sesuai perintah anda Tuan, Nona Moor akan kami jaga dengan ketat ]
Alvin sadar, sumber kebahagiaan dia sekarang adalah Jeni, jadi dia harus menjaganya lebih ketat lagi.
Alvin keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri, terlihat istrinya yang sudah terlelap, dia tersenyum saat melihat itu.
Alvin memakai pakaian tidurnya, tapi dia tidak langsung ke kamar, melainkan pergi ke atas, seorang pelayan pria yang kebetulan ada di atas menyambutnya dengan gugup.
" Tu..tuan Moo..r !" dia membungkukkan badan.
" Kamu belum istirahat ?" tanya Alvin langsung ketika melihat pelayannya itu.
" Sa..saya dapat sif malam tuan Moor " jawabnya tegas.
Semua pelayan Alvin yang ada di Rumah mewah tersebut memang bergantian, karena Velas mengatur mereka agar melayani Alvin dan istrinya dua puluh empat jam penuh, karena itu mereka menggunakan sistem Sif.
Alvin mengangguk mengerti " temani aku minum !" ajak Alvin dengan santainya.
" Ba..baik !" pelayan tersebut langsung bergegas masuk dalam Bar dan mengambilkan sebuah Lafite 1983.
Dia menuangkannya ke gelas dengan gugup, sampai - sampai tangannya gemetaran, karena saking gugupnya.
" Santai saja, nikmati malam ini bersama ku " Alvin mengambil gelasnya dan menyesap Lafite tersebut.
' Glek ' pelayan menelan ludah saat Alvin menenggak minumannya, karena satu teguk Lafite langka tersebut seharga gajinya satu bulan penuh.
" Kenapa kamu gak minum ?" tanya Alvin saat melihat pelayannya hanya berdiri sambil memegang botol Lafite.
" Sa..saya tidak berani tuan Moor " jawabnya langsung.
Alvin menghela napas " minum saja, tenang disini masih banyak stok " Alvin mengambil botol yang ada di dekapan Pelayan tersebut dan menuangkan nya kedalam dua gelas.
__ADS_1
" Ayo minum " Alvin mendentingkan gelasnya ke gelas satunya.
Pelayan tersebut dengan gemetar mengangkat gelasnya, dia tidak menyangka akan bisa minum, minuman mahal, apalagi di tuangkan oleh bosnya, pikirannya langsung terbang jauh ke awan.