System Cek In Pikiran

System Cek In Pikiran
Arisa Bikin Ulah


__ADS_3

Perkataan Pak tua Moor membuat Sean dan Darla terkejut, karena mereka tidak menyangka kalau tuannya akan berbicara seperti itu.


" Tuan besar, apa anda yakin, Ken dan yang lainnya adalah sosok penting bagi para Eksekutor, mereka juga sudah bekerja lama untuk anda " Sean memberanikan diri untuk buka suara.


" Benar tuan besar, kenapa mereka tidak di beri kesempatan lagi ?" timpal Darla.


Pak tua Moor menghela napas " aku tahu maksud kalian, tapi ini bukan soal mereka masih layak atau tidak, kondisi mereka sangat parah, Neil mengalami patah tulang rusuk, Crewi punggungnya patah, Lori kedua kaki, tangannya patah, Finsmoke mengalami cedera otak yang bisa mengakibatkan kematian dan Ken, dia juga kehilangan sebelah tangannya "


Pak tua Moor diam sebentar kemudian melanjutkan " aku juga tidak ingin melepas mereka sebenarnya, tapi ini semua jalan yang terbaik untuk mereka, biarkan mereka menikmati masa tuanya dengan tenang "


Sean dan Darla yang baru mendengar kabar tersebut mereka berdua terkejut, bagaimana tidak terkejut kalau orang - orang yang selama ini menjadi tulang punggung para Eksekutor harus tumbang seperti itu.


" Tuan besar anda serius mereka semua terluka separah itu ?" tanya Sean memastikan.


Pak tua Moor mengangguk " buat apa aku berbohong dengan kalian, sudahlah aku mau istirahat, kalian diskusikan masalah ini dengan Swan !"


Pak tua Moor meninggalkan kedua bawahan setianya, dia langsung pergi ke kamarnya untuk merenung dan beristirahat.


Darla dan Sean hanya bisa menunduk lesu, satu persatu rekannya akan mulai meninggalkan tempat mereka.


***


Ke esokan harinya, Alvin dan Jeni pergi jalan - jalan untuk melepaskan penat, mereka memang merencanakan itu dari semalam, sehabis bergumul mesra tentunya.


" Sayang aku tunggu di bawah yah ! " Seru Alvin pada istrinya yang masih di kamar mandi.


" Iya sayang !" Jeni menyaut dari dalam kamar mandi.


Alvin yang sudah rapi, dia langsung keluar kamar, baru saja membuka pintu, dia di kagetkan dengan Arisa yang sudah berdiri depan pintu.


" Pagi Kak " sapanya sambil tersenyum.


Alvin mengerutkan keningnya " mau apa kamu kemari ?"


" Mau menyapa kakak, udah rapi mau kemana kak ?" tanya Arisa menyelidik.


" Bukan urusanmu !" ucap Alvin ketus sambil menutup pintu dan meninggalkan Arisa.

__ADS_1


Tapi Arisa mengikuti Alvin seperti anak Ayam yang mengikuti induknya.


Alvin masa bodo dengan tindakan Arisa, dia mencoba bersabar, karena mau bagaimanapun Arisa adalah keluarganya.


Alvin duduk di kursi teras, Sean dan Darla yang kebetulan sudah berjaga di depan mereka berdua langsung menyapa Alvin dengan sopan.


" Selamat pagi tuan Moor " sapa keduanya dengan kompak.


" Pagi " jawab Alvin singkat.


Arisa yang mengikuti Alvin dari tadi dia duduk di sebelah Alvin tanpa takut Alvin akan marah atau tidak.


Alvin menghela napas " apa kamu gak ada kerjaan lain Arisa !" tegur Alvin dengan nada dingin.


Arisa menggeleng " tidak ada kak, kan selama disini aku memang nganggur, aku bete kak pengen pergi keluar "


Arisa merajuk manja, dia merangkul lengan Alvin dan menyenderkan kepalanya di bahunya.


Alvin mengernyitkan dahi, semakin lama tingkah Arisa semakin menjadi - jadi, dia mencoba melepaskan rangkulan Arisa, tapi Arisa makin lengket saja seperti perangko.


" Arisa lepaskan ! Kamu ..." Alvin belum selesai bicara, Jeni sudah keluar dari dalam.


Sontak saja Alvin bergegas melepaskan Arisa dengan paksa, dia langsung berdiri " kami tidak ngapa - ngapain sayang, si Arisa ini yang ke gatelan !" celetuk Alvin tanpa rasa bersalah sama sekali.


Sean dan Darla yang menyaksikan tuan mudanya sangat ketakutan dengan istrinya, mereka berdua tersenyum getir.


Mereka tidak menyangka kalau orang yang memiliki bawahan sangat bengis malah takut sama istri, tentu saja itu akan menjadi hal konyol jika orang di luar mengetahuinya.


Arisa merasa tidak terima, dia juga ikut berdiri " Kakak apaan sih ! Bukannya kakak tadi sama sekali gak nolak ?" Arisa menyilangkan tangannya di depan dada.


Alvin tercengang karena Arisa malah sangat berani mengatakan hal tersebut di hadapan Jeni, padahal Alvin tidak mau Jeni salah paham.


Jeni menyilangkan tangannya di dada juga, dia menatap sinis Alvin seolah meminta penjelasan.


Alvin menghela napas " Ayolah sayang, apa kamu lebih percaya dia di bandingkan suamimu ini "


Alvin menatap Sinis Arisa, tapi Arisa pura - pura tidak melihat, dia tidak merasa bersalah sama sekali.

__ADS_1


Jeni semakin menatap tajam Alvin, tentu saja Alvin semakin panik, dia yang memang takut Jeni marah bingung ingin mengatakan apa padanya.


Melihat Alvin yang semakin gelisah, Jeni kemudian tertawa " Hihihi... Kamu ini lucu sayang, mana ada aku cemburu sama adik kamu, ayo kita berangkat "


" Hahhh !" Alvin dan Arisa melebarkan rahangnya, mereka tidak menyangka jika Jeni hanya berpura - pura marah saja.


Jeni meninggalkan mereka berdua yang masih tertegun, saat sampai di Mobil Jeni memanggil Alvin " Sayang ayo !"


Alvin tersadar " Eh... tunggu sayang !"


Alvin memelototi Arisa, kemudian dia langsung berlari ke arah istrinya yang sudah menunggu di Mobil.


Arisa hanya bisa tersenyum getir di tempatnya " Apa mereka tidak bisa di pisahkan " gumamnya sambil menghela napas.


Mobil yang di naiki Alvin dan Jeni perlahan menghilang dari pandangan Arisa, dia pun kembali masuk kedalam, karena rencananya membuat Jeni cemburu malah gagal.


Alvin mengajak Jeni untuk jalan - jalan, karena dia sudah lama tidak pergi jalan dengan Jeni.


Di dalam Mobil System berbunyi di benak Alvin.


[ Host belum Cek in hari ini, apakah anda ingin Cek in ?]


Tentu saja Alvin tersenyum saat mendengar bunyi System, dia langsung menjawab dalam benaknya " aku ingin Cek in sekarang System !"


[ Host mengaktifkan Cek in Pikiran, selamat anda mendapatkan Resort Grand Luv Nerika dan sebuah kalung berlian, dokumen Grand Luv sudah dikirim ke brankas anda, kalung berlian ada di bawah kursi Mobil yang anda duduki !]


" *Kamu memang selalu tahu apa yang ada di pikiranku System ! Terimakasih "


[ sama - sama Tuan* ]


Alvin memang berencana ingin membelikan Jeni sebuah kalung berlian, karena dia ingin menyenangkan Jeni.


Tapi System malah memberikannya, tentu saja Alvin sangat senang, dia tidak perlu repot-repot lagi mencari kalung berlian.


Mobil mereka berdua sampai di distrik pusat perbelanjaan Nerika, disana hampir semuanya ada Dari pakaian bermerk, perhiasan dan berbagai aksesoris lainnya, bisa dikatakan tempat tersebut surganya barang - barang mewah berada.


Jeni turun dari Mobil, sementara Alvin langsung mengambil perhiasan yang di berikan System, sebuah kotak merah dengan bentuk Love memang ada di bawah kursi Mobil, Alvin tersenyum dan langsung menyimpannya dalam saku.

__ADS_1


Alvin pun turun dari Mobil dengan percaya diri, dia yang dulu minder bertemu dengan orang - orang besar, sekarang sangat percaya diri dan tidak terlihat gugup sama sekali.


Jeni yang melihat suaminya begitu percaya diri tersenyum lebar, dia langsung menghampirinya dan merangkul lengan Alvin dengan mesra.


__ADS_2