
Selepas kepergian Pak tua Moor, Jeni datang menghampiri Alvin bersama dengan Arisa, Jeni terlihat sangat menyayangi Arisa. Karena Jeni pikir tidak ada salahnya berteman dengan adik Alvin.
Sementara Arisa masih menanggapi Jeni dengan biasa saja, dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau Alvin adalah kakaknya.
" Sayang.. " Jeni langsung duduk disamping Alvin dan menyenderkan kepalanya di bahu Alvin.
" Kenapa ?" Alvin yakin kalau Jeni pasti ada maunya kalau bermanja - manja seperti itu.
" Hihihi... besok aku boleh jalan sama Arisa gak ? mau belanja ke Mall, iya kan Arisa ?" Jeni melemparkan pertanyaannya pada Arisa.
" Eh... iya !" Sontak saja Arisa terkejut, karena dia masih iri melihat Jeni yang terus bermesra - mesraan dengan Alvin di depannya.
Alvin menghela napas " tapi aku besok tidak bisa menemani kamu ? Apa kamu tidak keberatan ?"
Jeni mengangguk dengan semangat " tidak apa - apa kok, aku tahu kamu pasti sibuk "
" Baiklah, nanti aku suruh pengawal untuk menjaga kalian berdua " Alvin berkata dengan Santai sambil mengusap puncak kepala Jeni.
Arisa semakin gelisah saja, dia tidak tahan melihat kemesraan mereka berdua " Ka..kakak ! Aku mau ke atas dulu " dia langsung pergi setelah berpamitan.
Jeni menatap kepergian Arisa, dia hanya tersenyum saja mengantar kepergian Arisa, Jeni tidak tahu kalau Arisa cemburu dengan kedekatannya dengan Alvin.
Sementara Alvin dan Jeni yang masih senang bercanda gurau bersama di kediamannya.
Ken dan yang lainnya baru menerima perintah dari Pak tua Moor yang tadi menghubungi mereka.
" Ken, apa yang tuan Besar katakan ?" tanya Neil penasaran.
Ken menghela napas " Kita di suruh menunggu tuan Muda memberikan perintah, kata tuan Besar, tuan Muda juga akan menggerakkan pengawalnya kemari dan kita tidak boleh bertindak sebelum tuan Muda mengeluarkan perintah "
" Jadi kita harus menunggu lagi ?" Crewi terlihat tidak berdaya.
" Mau bagaimana lagi, tuan Besar nampaknya serius kalau dia mau menurunkan tahtanya untuk tuan Muda " Finsmoke buka suara.
Lori menimpali " tapi menurutku tidak heran kalau tuan Besar mengambil keputusan tersebut, karena tuan muda sekarang, mungkin dia sudah lebih kuat daripada kita "
" Lori benar, sepertinya tuan muda sudah tahu musuhnya dari awal, tapi dia sengaja tidak bergerak terlebih dahulu, buktinya sekarang setelah dia muncul, Andalas sangat mudah kita taklukkan yang notabenya akan sangat lama jika hanya kita yang bergerak !" Neil buka suara lagi.
Para Eksekutor lain mengangguk setuju, karena semenjak Alvin memperlihatkan identitas nya, Keluarga Moor yang hanya terkenal di Chinate untuk saat ini, sekarang menjadi perbincangan hangat para pebisnis di seluruh Dunia.
Ke esokan paginya, Alvin mengantar Jeni dan Arisa sampai di depan Rumah mewahnya hingga menaiki Mobil.
" Langsung pulang jika urusan kalian sudah selesai, jangan mampir kemana - mana dulu, kalian masih baru disini !" ucapnya datar.
" Iya sayang... Kami pasti langsung pulang kok, kalau urusannya sudah selesai " jawab Jeni manja.
Alvin mengecup kening Jeni " ya sudah hati - hati dan Kalian jaga istriku baik - baik !"
" Baik tuan !" Jawab Klon System dengan mantap.
__ADS_1
Beberapa Klon System juga bersiap untuk menjaga Jeni dan Arisa, karena Alvin menyuruh mereka menjaga Jeni dengan ketat.
Mobil yang di naiki Jeni dan Arisa mulai meninggalkan kediaman, Alvin melambaikan tangan karena Jeni melambaikan tangan padanya.
Setelah Mobil Jeni sudah tidak terlihat, sorot mata Alvin berubah menjadi dingin " Siapkan Mobil ! aku akan ke Big Grown Investasi !"
Klon System yang tersisa disana langsung dengan sigap menyiapkan Mobil, mereka pun bersiap untuk mengawal Alvin yang akan mengunjungi perusahaannya.
" Sayang tunggu !" terdengar teriakan Sera dari dalam yang dengan tergopoh-gopoh, menghampiri Alvin.
" Nak, ponsel kamu ketinggalan, tadi berbunyi terus di kamar jadi Ibu mengambilnya " Sera menyerahkan Ponsel Alvin dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
" Terimakasih " Alvin menerima ponsel tersebut tanpa berekspresi dan langsung masuk kedalam Mobil.
Sera hanya bisa menghela napas " Sabar Sera, kamu harus kuat, ini belum secuil pun dari penderitaan Alvin selama ini " gumamnya lirih saat Mobil Alvin mulai berjalan.
Di dalam Mobil Alvin memanggil System " System kerahkan Klon Kamu ke Lotara, bantu para Eksekutor untuk melakukan penaklukan di Grivia ! Jangan sampai ada satu orangpun terlepas disana !"
[ Para Klon sudah berada disana Tuan, saya hanya tinggal mengaktifkannya saja ]
Alvin mengangguk mengerti, walau dia sedikit terkejut karena System begitu cepat mengetahui niatnya itu.
[ Tuan anda belum Cek in hari ini, apakah anda ingin Cek ini ? ]
" Ya aku ingin Cek in !" ucap Alvin dingin.
[ Cek in pikiran berhasil, selamat anda mendapatkan Kasino bawah tanah Grivia dan anggota bawah tanah Grivia !]
" Kamu memang yang terbaik System " ucapnya sambil mengulas sebuah senyum.
[ Terimakasih tuan Moor !]
Tak berselang lama Mobil Alvin sampai di Big Grown Investasi, mobil pun berhenti tepat di parkiran CEO, dimana biasanya yang menempati parkiran tersebut adalah Velas.
Klon System langsung membukakan pintu untuk Alvin, terlihat perusahaan yang masih lengang, karena Alvin datang tepat jam tujuh.
Dua orang Security Yang melihat Mobil Alvin parkir ditempat CEO mereka mau menegur tapi ragu, karena mereka yakin kalau Alvin bukanlah orang sembarangan.
" Rul kamu saja yang negur sono !" Security yang lebih tua mendorong Ruli yang Notabenya Security muda.
" Seharusnya anda saja Clowi yang menegurnya, andakan sudah lama bekerja disini, jadi kalau di pecat gak papa " Celetuk Ruli seperti orang bodoh.
" Pletaak
" Aduh
Ruli mengaduh kesakitan saat pentungan Security mengenai kepalanya.
" Kamu ini memang tidak bisa di andalkan !" Clowi dengan ragu menghampiri Alvin.
__ADS_1
" Tu...tuan maaf, parkiran tersebut milik tuan Velas, bi..bisakah anda parkir di tempat yang lain ?" tegur Clowi pada Alvin saat dia sudah ada di dekatnya.
Alvin menoleh ke arah Clowi, para Klon System juga menatap Clowi dengan tatapan dingin.
' glek ' Clowi menelan ludah, karena para pengawal Alvin terlihat sangat sangar dan berwajah dingin.
Wajahnya memucat, tubuhnya bergetar, keberanian yang dia kumpulkan tadi menguap begitu saja, tubuhnya seakan tidak bertulang lagi.
" Bilang pada Velas, pemimpinnya datang dan sudah menunggu diruangannya " suara Alvin sangat dingin membuat Clowi semakin terasa tertekan.
Alvin meninggalkan Clowi yang langsung ambruk di lantai karena saking lemas tubuhnya.
" Pak tua Clowi !" Ruli langsung mendekati Clowi dan memapahnya.
" Anda tidak apa - apakan ?" tanya Ruli khawatir.
" Kamu Nanya ?"
" Brugg
Ruli langsung menghempaskan Clowi dan meninggalkannya sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
" Brengsek kamu Ruli !" raung Clowi marah.
Ruli menghentikan langkahnya " Lagian anda, aku serius malah bercanda "
Ruli berbalik dan menghampiri Clowi, dia kemudian memapahnya untuk berdiri.
Clowi menatap punggung Alvin yang sudah mau masuk kedalam Lift, para pengawalnya juga terlihat sangat setia menemaninya.
" Tuan Velas saja kedudukannya sudah sangat tinggi, apa lagi pemimpinnya ?" gumam Clowi tidak berdaya.
" Tunggu dulu, apa maksud anda ?" tanya Ruli penasaran.
" Tuan itu bilang padaku, jika Tuan Velas datang suruh beritahu dia kalau pemimpinnya sudah datang dan menunggu di ruangannya " Clowi menghela napas berat.
" Apaa !" Ruli menganga kaget, hingga rahangnya sampai melebar.
" Clowi, Ruli Mobil siapa itu yang di parkir di tempat ku !" tiba - tiba suara yang tidak asing di telinga mereka terdengar.
Seketika Ruli langsung menarik rahangnya seperti semula dan menoleh ke belakang bersamaan dengan Clowi.
" Tu.. tuan Velas !" mereka berdua langsung membungkuk hormat.
Velas menghela napas " jadi siapa pemilik Mobil itu ?" Velas menunjuk mobil Alvin.
" Tu..tuan Velas, katanya dia pemimpin anda, saya su... "
" Apa ! Kenapa kamu tidak bilang dari awal !" Velas langsung berlari tanpa menunggu Clowi menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
Clowi dan Ruli hanya bisa saling menatap, mereka tersenyum kecut karena ternyata orang yang Clowi tegur tadi adalah Bos besar mereka.
Mereka berdua hanya bisa menghela napas berat, untung saja tidak menyinggung Bos besarnya barusan.