
Selembar puisi cinta yang dibuat oleh cinta pertamanya yang bertepuk sebelah tangan, Lena simpan sebagai harta yang paling berharga.
Tapi, alangkah kagetnya Lena. Puisi yang disimpannya bertahun-tahun lamanya, ternyata bukan buatan Sultan, cinta pertamanya. Melainkan buatan temannya Sultan, yaitu Ardan.
Kecewa cintanya tak berbalas, Lena terpaksa menerima perjodohan dengan anak atasan tempat ayahnya bekerja.
Bukannya bahagia, malah kecewa yang didapatkannya.
Kekecewaan demi kekecewaan yang dialaminya karena cinta, membuatnya menutup hatinya rapat-rapat.
Tapi, saat Lena sudah tak membutuhkan lagi yang namanya cinta, Sultan malah mulai menyukainya.
Kebimbangan kembali menyusup ke dalam hatinya.
Akankah Lena tetap bertahan untuk menutup hatinya atau membiarkan cinta lamanya bersemi kembali?
...***...
"Nggak mau!" teriak seorang gadis memecah keheningan malam. Wajahnya terlihat memerah karena menahan tangis.
"Lena..." suara dari pria paruh baya yang terdengar melemah, mencoba menenangkan putrinya.
"Pokoknya aku nggak mau. Nggak mau, nggak mau. NGGAK MAU... TITIK." teriak Lena histeris, lebih keras dari sebelumnya. Air mata yang sedari tadi ditahannya sudah tak terbendung lagi. Dia bangkit berdiri dari sofa, lalu berlari kekamarnya.
"Sudah, yah. Biarkan Lena sendiri dulu. Kita bicarakan lagi kalau Lena sudah lebih tenang." bujuk Bu Mila, mencegah suaminya yang ingin berdiri mengejar putri mereka, Lena.
"Tapi..." Pak Hadi tak melanjutkan kalimatnya saat melihat istrinya tersenyum lembut kearahnya untuk menenangkan dirinya.
"Hhh... baiklah. Kita tunggu Lena lebih tenang dulu." lanjutnya mengalah. Tangan kanannya memegang kepalanya yang lelah karena perdebatan panjang yang berujung penolakan dari putrinya.
BRAK!
Lena membanting pintu kamarnya dengan kasar. Melangkah gontai ke tempat tidurnya. Hampir saja dia terjatuh karena tak sengaja tersandung kakinya sendiri.
"Hiks. Kaki, kenapa sih kamu nggak bersahabat hari ini?" kesalnya pada kakinya sendiri.
__ADS_1
Lena merebahkan dirinya dengan kasar dikasurnya yang empuk. Dipeluknya erat bantal tidurnya dengan air mata yang masih berlinang.
"Huaa... Ayah jahat... Kenapa tiba-tiba mau menikahkanku dengan anak Pak Ibrahim?"
Entah ada angin apa...
Waktu Lena pulang sehabis main dari rumah temannya, ayah dan ibunya tiba-tiba menyeretnya ke ruang keluarga. Dan tanpa basa-basi lagi, mereka langsung mengatakan akan menjodohkannya dengan anak Pak Ibrahim yang akan datang dari luar negeri.
Bagai keselek permen karet(?), Lena yang sangat syok mendengarnya langsung menolak habis-habisan. Lena tak menyangka, orangtuanya dengan begitu mudahnya menerima perjodohan itu secara sepihak, seolah-olah pendapatnya tak begitu diperhitungkan.
"Pantas saja aku merasa ada yang aneh sampai-sampai nggak bisa fokus di kampus tadi. Ternyata... ternyata... Huaa..." pecahlah tangisnya.
...***...
Lena Sari Putri. Mahasiswi jurusan ekonomi. Gadis cantik berumur 20 tahun ini anaknya supel dan mudah bergaul. Mempunyai banyak teman.
Tapi, sayang... Dia anak yang manja, mudah terpengaruh, gengsian, dan memiliki ego yang terlalu tinggi.
Pak Hadi dan Bu Mila bersikap terlalu lembut kepadanya. Karena merasa dimanjakan oleh kedua orangtuanya, membuat Lena menjadi semakin besar kepala. Sejak kecil, apa yang diinginkannya harus selalu dituruti.
Pernah waktu SD, dia merajuk mengurung diri dikamar seharian karena tidak dibelikan mainan yang diinginkannya. Padahal boneka dan mainan yang terlupakan olehnya penuh dan bertumpuk di lemari.
Padahal mereka bukan berasal dari keluarga yang sangat kaya. Dan sang ayah yang hanyalah pegawai kantoran biasa, dengan gaji yang tak seberapa. Walaupun begitu, orangtuanya tetap mengabulkan keinginan anak semata wayang mereka. Apapun akan mereka berikan, asalkan bisa melihat anak mereka bahagia.
...***...
KLANG!
Tiba-tiba telinga Lena mendengar suara pagar yang dibuka. Lalu disusul suara mobil yang masuk ke halaman rumah di seberang jalan sana.
Tangisan Lena seketika berhenti. Diusapnya kedua matanya yang sembab. Wajahnya terlihat sangat berantakan. Entah sudah berapa lama dia menangis. Langsung saja dia bangkit dari rebahannya dan berjalan kearah jendela.
Dari jendela kamarnya, Lena bersembunyi mengintip dari balik gorden bergaris-garis berwarna merah muda pastel warna kesukaannya.
Kalau ada orang yang menyadari keberadaannya, pasti akan langsung salah paham. Mereka akan mengira sedang melihat penampakan. Karena cara mengintai Lena yang terkesan mengerikan dengan penampilan yang kusut dan berantakan.
__ADS_1
"Dia lembur lagi, ya?" tanya Lena pada dirinya sendiri.
Tak lama, seseorang yang Lena intai, keluar dari mobil yang sudah terparkir di garasi.
"Wah, dia pakai kacamata. Cocok juga." ucap Lena tersipu malu. Seolah-olah bisa melihat dari tempatnya berada hanya dengan pencahayaan lampu yang tak seberapa.
"Dia kayaknya kelelahan? Pasti ada banyak kerjaan dikantornya. Dasar gila kerja." ucapnya menebak-nebak.
"Oh iya. Gimana kalau sudah lulus kuliah nanti, aku kerja ditempatnya juga?" otaknya tiba-tiba beraksi. Wajahnya langsung berbinar-binar saat membayangkannya.
"Tapi... kalau kerja disana... berarti ketemu temannya juga, dong?" tiba-tiba dirinya teringat sesuatu dan ekspresi wajahnya langsung berubah tak senang.
Tiba-tiba orang yang diintainya menghadap ke depan kearah rumah Lena. Wajah orang itu jadi semakin terlihat jelas, karena sinar lampu halaman rumahnya menyinari dirinya dengan sangat menawan.
Saat melihat wajah tampannya, wajah Lena langsung memerah merona dengan debaran jantung yang berpacu bagai derap kuda. Seolah-olah orang itu juga melihat dirinya. Padahal belum tentu orang tersebut melihat atau bahkan menyadari keberadaan Lena yang mengintai dirinya.
Zreeeg!
"Eh? Eh...? Tidak... Kakak, jangan tutup hati, eh, garasinya... " ucap Lena dalam hati.
Ternyata orang itu menghadap kearah rumah Lena karena ingin menutup garasi mobilnya. Lena langsung kecewa dibuatnya, karena acara mengintipnya jadi terhenti seketika.
Dengan wajah cemberut, Lena bersandar menumpukan kedua tangannya di bibir jendela. Tanpa sadar dirinya tersenyum.
Ditatapnya lagi rumah di seberang jalan sana. Rumah tempat orang itu berada. Rumah bertingkat dua, dengan cat warna putih yang menutupi keseluruhan dindingnya. Pemandangannya sangat asri, dengan tanaman-tanaman hias yang tersusun rapi dan menyejukkan mata.
Tapi, ternyata salah...
Lebih tepatnya, Lena memandang salah satu tempat dilantai dua yang nyala lampunya mulai terlihat dari sebuah jendela.
Karena terlalu menyukai orang tersebut, mengintainya sudah menjadi rutinitas keseharian Lena. Dan karena hal itu jugalah, sekarang Lena sudah melupakan segala kesedihannya. Dirinya termenung beberapa saat.
"Andaikan ayah dan ibu tahu kalau ada seseorang yang aku sukai." batinnya dengan sedih.
"Tapi... apakah dia juga menyukaiku?" tiba-tiba Lena dibuat galau karena pertanyaannya sendiri.
__ADS_1
Helaan nafas panjangnya yang terdengar berat, menjadi penyemangat bagi angin dingin malam yang berhembus, menerbangkan rambut panjangnya yang indah tergerai.
Whuuush...