Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Hati Ini Masih Sesak


__ADS_3

Lena memandangi kalender didepannya dengan gelisah. Dirinya dilanda kebimbangan, apakah dia harus lanjut atau membatalkan pernikahan.


"Tapi, kalau aku batalkan... Ayah, ibu dan Kak Bram pasti... Lalu setelah itu, aku nggak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Kemungkinan aku akan dicap jelek oleh tetangga." batin Lena galau. Tapi pada akhirnya, dia hanya bisa pasrah dengan keadaannya dan menunggu hari esok tiba.


Hari demi hari berganti, tak terasa hari H sudah dekat, Lena sangat gugup jadinya. Sampai...


"Duh, padahal rasanya baru kemarin, tahu-tahu aku sudah mau ijab qobul aja." batin Lena berkeringat dingin, tangannya sudah dingin saking gugupnya.


"Jangan gugup, Len. Tenangkan dirimu, oke?" ucap Bram yang duduk disampingnya dengan tenang.


"I-iya, kak." jawab Lena gugup. Dia berusaha menenangkan debaran jantungnya yang berpacu bagai derap kuda yang larinya tak karuan itu.


Lena sangat cantik mengenakan kebaya pernikahannya dan Bram terlihat gagah dengan jasnya. Pernikahan merekapun diselenggarakan digedung mewah. Pastinya banyak tamu yang datang. Apalagi Pak Ibrahim adalah orang yang terkenal, kolega bisnisnya tentu banyak yang datang.


Tetangga satu komplek perumahan Lena juga hadir. Teman-teman Lena juga sudah hadir bersama keluarga-keluarga mereka dan sudah bersiap-siap mengabadikan momen bahagia Lena dihandphone mereka masing-masing. Mereka heboh sampai sama sibuknya dengan fotografer yang juga mengabadikan momen bahagia itu.


Bram mengucapkan ijab qobul dengan lancar dan jelas mengikuti kata-kata ayah Lena yang sebagai wali nikahnya. Teriakan kata sah dari para saksi dan tamu undangan terdengar setelah ijab qobul selesai.


Lena melirik kearah Bram, yang dilirik tersenyum kearahnya. Mereka saling tukar cincin, setelahnya Lena mencium punggung tangan Bram dan Bram mencium lembut kening Lena.


Acara resepsi digelar saat itu juga.Bram dan Lena sedang berjalan ketempat pelaminan bersama orangtua mereka. Saking gugupnya karena banyaknya tamu undangan yang melihat mereka, tanpa sadar Lena hampir terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Tamu undangan heboh karena kaget, setelahnya mereka bersorak kegirangan karena pengantin pria sigap menangkap sang istri, membuat mereka jadi terlihat mesra.


Bram tersipu malu mendapat pujian dari para tamu, sedangkan Lena wajahnya sudah memerah malu.


"Pft, dasar PeLena." celetuk Grace cekikikan sambil menahan tawanya. Lena melotot menatap Grace yang berada dekat dengannya. Grace malah semakin cekikikan melihatnya. Tawa Grace berhenti setelah Anisa, Rosi dan Emi mencubit pinggangnya secara bersamaan.


"Pst, coba lihat Alika disana." ucap Rosi pada teman-temannya.


Tak jauh dari mereka berdiri, disana terlihat Alika melihat kearah Lena dengan raut wajah masam.


"Kenapa? Kenapa harus dia yang bersanding dengan Kak Bram? Bukan aku?" batin Alika sedih menatap pasangan pengantin yang duduk dipelaminan. Wajahnya terlihat hampir menangis. Karena tak tahan, dia beranjak pergi dari sana.


"Ya mau gimana lagi. Kak Bram kan bukan jodohnya." ucap Grace acuh sambil angkat bahu.


"Duh, Grace. Bisa kecilkan suaramu itu?" batin Anisa, Rosi dan Emi.


Lalu, keempat sahabat Lena ini berfoto-foto dengan Lena dan Bram dipelaminan. Bisa dipastikan betapa hebohnya mereka. Maklum, generasi jaman sekarang suka eksis.

__ADS_1


Para tamu undangan asyik menyantap hidangan yang sudah disajikan sambil mendengarkan para penyanyi yang membawakan alunan lagu dengan merdu. Tak ketinggalan, teman-teman Lenapun ikut menyumbangkan suara mereka untuk memeriahkan acara.


"Duh... Grace. Tolong hentikan." batin Lena malu sambil menutup wajahnya.


"Temanmu itu lucu juga, ya." ucap Bram tertawa.


Awalnya, teman-temannya bernyanyi bagus-bagus saja. Tapi, saat Grace menyanyikan lagu dengan suara tinggi, entah kenapa suaranya berubah jadi fals. Gara-gara dia, yang lain jadi ikut sumbang juga. Anisa dan Emi sampai berhenti menyanyi sambil menutup wajah menahan malu. Rosi sudah cekikikan tak kuat menahan tawanya. Sedangkan Grace tak ambil pusing dan malah tetap asyik bernyanyi.


Saat ini, Lena, Bram dan kedua orangtua mereka sibuk menyalami para tamu yang bersalaman dengan mereka. Ternyata Bram bisa heboh juga saat teman-teman semasa SMAnya juga ikut menyalaminya. Alika dan kedua orangtuanya juga ikut menyalami mereka.


"Selamat ya, Len. Selamat ya, kak." ucap Alika tersenyum ramah bersalaman dengan mereka.


"Makasih, ya." ucap Lena dan Bram.


"Sepertinya dia sudah menerima semuanya dengan lapang dada." batin Lena memperhatikan Alika yang terlihat baik-baik saja.


"Selamat ya, pak, bu." terdengar suara seseorang yang dikenal oleh Lena.


"Tante Raisa?" batin Lena cemas mengingat Sultan pastilah ikut bersama ibu dan adik-adiknya.


"Kenapa hati ini masih sesak saat melihatnya? Kenapa aku ingin menangis? Duh... kepalaku juga pusing." batinnya sambil memegang kepalanya.


"Kak Bram, tolong aku..." batin Lena sambil melihat Bram, tapi Bram sedang asyik mengobrol dengan tamunya.


"Aku sudah nggak kuat lagi, ka... k... " batinnya lagi, kepalanya sudah sangat pusing karena menahan air matanya. Lena merasa sekelilingnya berputar dan...


Bruk!


"Lena?" teriak Bram kaget melihat Lena yang jatuh pingsan disampingnya. Kedua orangtua mereka dan para tamu heboh melihatnya.


...***...


"Uh... Ini dimana?" batin Lena tersadar dari pingsannya. Matanya berkedip-kedip menormalkan penglihatannya.


"Lena, kamu sudah sadar?"


"Kak Bram." ucap Lena melihat Bram yang berada disampingnya terlihat cemas.

__ADS_1


"Kalau masih pusing, berbaring saja dulu." ucap Bram mencegah Lena yang bangun dari sofa.


"Kok kita bisa disini, kak?" tanya Lena bingung melihat ruangan tempatnya dirias sebelumnya.


"Kamu tadi pingsan, makanya dibawa kesini." jelas Bram.


"Kenapa, kak?" tanya Lena bingung melihat Bram yang terdiam dan menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"Ah, nggak. Kamu masih kuat? Soalnya kita harus menyambut tamu lagi." ucap Bram.


"Aku masih kuat kok, kak. Tadi aku cuma kelelahan aja." ucap Lena berbohong.


"Aku tahu kenapa kamu pingsan tadi. Pasti gara-gara orang itu kan? Untuk saat ini, aku nggak akan bertanya apa-apa dulu melihat keadaanmu yang begini." batin Bram, entah kenapa hatinya berdenyut nyeri.


"Ya sudah. Aku akan panggil orang wardrobe untuk mengganti bajumu. Aku juga akan ganti baju diruangan lain." ucap Bram sambil beranjak pergi. Lena hanya mengangguk mengiyakan.


Saat menemui orang wardrobe, Bram bertemu dengan teman-teman Lena disana. Bram mengijinkan mereka masuk keruangan Lena bersama orang wardrobe.


"Kamu nggak papa, Len?" tanya Grace mewakili yang lain.


"Iya, aku nggak papa kok." jawab Lena yang sedang mengenakan bajunya dibantu orang wardrobe. Teman-temannya tak bertanya lebih jauh lagi karena ada orang lain selain mereka, walaupun mereka tahu kenapa Lena pingsan tadi.


"Aku tadi hampir nggak mengenali Rosi loh. Aku sampai pangling sama kaget-kagetnya." ucap Lena tiba-tiba kearah Rosi.


Karena tak biasanya Rosi yang selalu berpenampilan tomboy jadi feminim dengan gaun merah maroon dan memakai wig panjang. Sebenarnya Rosi termasuk cantik tapi karena selalu berpenampilan tomboy membuatnya jadi terlihat garang.


"Ya mau gimana lagi. Aku dipaksa orangtuaku. Aku begini cuma buat kamu aja loh, Len." sungut Rosi dengan wajah memerah malu. Lena dan yang lain tertawa melihatnya.


"Hhh... Rasanya aku mau disini aja, deh." ucap Anisa lesu.


"Kenapa?" tanya Lena bingung.


"Kakaknya Cintia itu masih saja tetap menggangguku. Rasanya aku mau pindah kenegara lain aja buat menghindarinya." ucap Anisa frustasi.


"Kalau gitu pindah ke Kor-Sel aja, biar bisa ketemu oppa-oppa ganteng." celetuk Grace riang. Rosi dan Emi jadi ikut-ikutan seperti Grace juga, mereka sudah ribut menyebut nama oppa-oppa idola mereka. Orang wardrobe sampai ikut-ikutan juga.


Sementara mereka asyik bercanda gurau, mereka tak menyadari ada seseorang yang berdiri diluar ruangan bersandar pada dinding mendengarkan mereka. Orang itu adalah Cintia.

__ADS_1


__ADS_2