
Sebuah mobil mewah melaju menerobos gelapnya malam. Tiba-tiba dering telepon masuk, membuat sang pengemudi didalamnya menoleh melihat layar handphonenya.
Dia menurunkan laju kendaraannya, lalu menepi ke pinggir jembatan. Dia keluar dari mobil, demi mengangkat telpon dari orang yang dikenalnya.
Wajahnya sangat tampan. Sinar lampu jalanan yang menyinarinya semakin menambah menawan penampilannya.
"Halo... "
"Iya, sudah dua hari ini aku berada di Indonesia. Maaf, ya... Aku terlambat memberitahu kamu." sesalnya pada orang diseberang telepon sana.
"Oh, kamu sudah tahu? Ya begitulah... Ayah memaksaku menikah dengan anak temannya. Aku bahkan nggak tahu temannya yang mana."
"Ha, ha, ha... Kamu sendiri juga tahu kan, seperti apa ayahku itu orangnya." ucapnya sambil tertawa. Sepertinya orang diseberang sana menyuruhnya menolak perjodohan.
"Aku juga inginnya menolak perjodohan. Tapi, kalau aku menentang ayah, aku bakalan dicoret dari kartu keluarga."
"Apa, Al? Beneran? Yang mau dijodohin sama aku itu perempuan nggak bener? Bikin onar juga?" tanyanya kaget, wajahnya terlihat sedikit kesal.
"Aku bakal minta ayah batalin perjodohan." ucapnya lagi sambil mengakhiri pembicaraan diteleponnya.
Lalu dirinya terdiam beberapa saat. Dipandangnya pemandangan diseberang sana dari tepi jembatan tempatnya berdiri. Tapi, tak ada yang terlihat karena tertutup oleh gelapnya malam.
"Hhh... Apa yang ada dipikiran ayah. Bisa-bisanya jodohin aku sama perempuan kayak gitu." desahnya sambil bersandar menumpukan tangan dipagar jembatan dengan handphone yang masih ditangan.
Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang mengagetkan dirinya. Karena kaget, tanpa sadar handphonenya terlepas dan jatuh bebas ke bawah jembatan.
"Aaah... " teriaknya histeris.
Dirinya melongo tak percaya. Badannya masih bersandar dengan tangan yang berpegangan dipagar jembatan untuk melihat handphonenya yang jatuh. Kemungkinan handphonenya rusak parah dibawah sana.
Tanpa disadarinya, tak jauh dari tempatnya berada, ada seseorang yang memperhatikan dan salah paham dengan gerak-geriknya.
...***...
Lena terduduk lemas dijalan, jantungnya berdegup kencang menyadari kebodohannya yang ingin bunuh diri tadi.
"Hamba khilaf, Ya Allah... " sesalnya.
Lena duduk memegangi kedua kakinya dijalanan beraspal, bersandar dipagar jembatan. Tidak dipikirkannya kalau dressnya bakalan kotor karena ulahnya.
Entah kenapa, Lena baru menyadari betapa sepinya tempat itu. Tak ada lalu lalang mobil yang melintas disana. Bulu kuduk Lena langsung merinding. Takut-takut dia jadi korban begal atau bertemu penampakan yang tak diundang.
Baru saja Lena berpikir yang tidak-tidak, tiba-tiba sebuah mobil mewah menepi dijembatan tersebut.
"Oh, laki-laki. Tampan juga." ucap Lena saat orang yang didalam mobil itu keluar.
"Pasti dari keluarga kaya." tebak Lena melihat dari mobil mewah yang dikendarai pria tersebut.
Tanpa sadar, Lena menumpukan wajahnya ketangan. Memperhatikan pria itu dari kejauhan. Lena sudah lupa dengan ketakutannya. Dia malah memilih diam disana karena merasa ada seseorang yang tanpa sengaja menemaninya.
"Hm? Kenapa ekspresinya berubah?" tanya Lena pada diri sendiri. Melihat si pria yang terdiam dengan wajah yang muram.
__ADS_1
"Uh... Dingin... " Lena memeluk tubuhnya sendiri karena dinginnya angin malam yang berhembus.
"Duh, sudah jam segini?" kaget Lena melihat jam yang tertera dilayar handphonenya. Dia langsung teringat dengan orangtuanya yang pasti menunggunya dengan khawatir.
Saat Lena hendak menelepon taksi online, dirinya dikagetkan dengan suara teriakan dari pria disana. Suaranya terdengar sangat frustasi. Betapa kagetnya Lena, saat menoleh dia melihat pria tersebut bertingkah mencurigakan.
"Mau apa dia? Hah? Jangan-jangan... " Lena langsung teringat dengan kebodohannya tadi. Tanpa pikir panjang, Lena langsung berlari kearah pria tersebut.
"Hei... Apa-apaan kau? Sadarlah... " teriak Lena.
Si pria yang mendengar teriakan Lena menoleh. Wajahnya tampak sangat terkejut. Jelas saja, ditempat sesunyi itu bisa-bisanya ada seorang wanita. Pakai baju putih-putih lagi.
Tapi, seketika dirinya terpana.
Penampakan? Tapi kok cantik?
Dirinya terpesona melihat wajah Lena yang mulai terlihat jelas seiring semakin dekatnya Lena yang berlari kearahnya.
"Hah... Hanya gara-gara putus cinta, nggak seharusnya kamu berpikiran sempit begitu." ucap Lena ngos-ngosan.
"Oh, ternyata manusia." batin si pria lega.
Tunggu sebentar.
"Hah? Maksudnya?" tanya si pria bingung.
"Loh? Bukannya kamu tadi... mau bunuh diri?"
Sepertinya ada kesalahpahaman.
...***...
Masih ditempat yang sama. Gelak tawa kedua insan tersebut membahana memecah kesunyian malam. Entah bagaimana, tanpa sadar mereka sudah akrab saja.
Dari perbincangan panjang mereka, mereka jadi menyadari kalau mereka memiliki masalah yang sama. Sama-sama dijodohkan orangtua. Sama-sama kabur dari acara perjodohan. Dan sama-sama singgah dijembatan yang sunyi tanpa disengaja.
"Ternyata kita satu frekuensi." celetuk si pria tiba-tiba.
"Satu frekuensi, satu hati."
"Ah, kalau hati kayaknya nggak, deh." ucap Lena tak menyetujui ucapan si pria.
"Oh ya? Kenapa?"
"Karena hatiku sudah ada yang mengisinya." jawab Lena tersenyum dengan wajah yang merah merona.
Si pria terpana melihatnya. Tapi, entah kenapa ada rasa kecewa muncul dihatinya.
"Aku sudah lama menyukainya." tambah Lena lagi.
Si pria terdiam. Hatinya terasa sesak mendengarnya.
__ADS_1
"Uh... Maaf ya, kak. Aku malah jadi curhat sama kakak." ucap Lena sambil memeluk tubuhnya yang kedinginan karena hembusan angin malam.
Si pria yang menyadarinya, langsung melepas jas yang dipakainya dan mengenakannya pada Lena.
"Nggak papa. Aku juga menyukai seseorang, kok." ucapnya.
"Oh ya? Berarti kita sama dong? Terus orang yang kakak sukai bagaimana?" tanya Lena.
"Dia... menyukai orang lain." jawabnya tersenyum sendu, sambil menatap Lena dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Padahal aku sudah mulai menyukainya." ucap si pria sambil mengalihkan pandangannya ke depan.
"Yang sabar ya, kak." ucap Lena kasihan sambil berusaha menenangkan.
"Yah... Apa boleh buat. Oh iya. Kita belum kenalan kan? Namaku Bram." ucapnya memperkenalkan diri.
"Lena." disambutnya jabatan tangan Bram.
"Terus gimana tuh dengan HPnya?" tanya Lena sambil menunjuk ke bawah jembatan.
"Nanti bisa beli lagi." jawab Bram tersenyum.
...***...
"Disini aja, Kak Bram."
"Kenapa disini? Nggak langsung kerumahmu aja, Len? Aku bisa anterin kok." ucap Bram tak terima dengan Lena yang menolak kebaikannya. Lena meminta dirinya mengantar hanya sampai depan komplek perumahan saja.
"Aku nggak mau ada yang salah paham, Kak Bram... " jawab Lena dingin.
Bram langsung mengiyakan tanda mengerti, saking terkejutnya dengan perubahan sikap Lena.
"Makasih ya kak, tumpangannya." Lena tersenyum sambil membuka pintu mobil.
"Ah iya. Hati-hati, ya... " sahut Bram dengan senyum yang dipaksakan. Padahal dalam hatinya tak rela harus berpisah dengan Lena.
Lena masih belum keluar dari mobil, karena tiba-tiba dirinya teringat sesuatu.
"Mm... Kak."
"Ya?"
"Obrolan kita tadi... tolong dirahasiakan, ya." pinta Lena malu-malu.
"Oh. Baiklah." jawab Bram dengan senyum yang mengembang.
Lena benar-benar sudah keluar dari mobil Bram. Lalu berlari-lari kecil untuk mempercepat langkahnya. Bram yang memperhatikan Lena dari dalam mobilnya, tanpa sadar sebuah senyuman terbit dari bibirnya.
"Hhh... Seandainya dia wanita yang ayah jodohkan untukku... "
"Tapi, sayang... Dia menyukai orang lain."
__ADS_1