Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Cemburu


__ADS_3

"Kak Bram kenapa lagi, ya?" batin Lena bingung melihat Bram yang sedang mengemudi disampingnya. Lagi-lagi Bram terlihat kesal seperti hari kemarin saat menjemputnya pulang dari kampus.


"Apa mungkin ada masalah lagi ya di perusahaan?" batin Lena lagi.


Selama perjalanan Lena hanya duduk diam ditempatnya, sampai Bram juga bingung dibuatnya.


"Kenapa dia diam saja? Biasanya dia bakalan nanya? Hhh... Nggak tahu, deh." batin Bram kesal.


Mereka langsung pulang ke rumah dan selama itu mereka hanya diam, tak saling berbicara. Tapi, pada akhirnya Bram tidak tahan juga kalau terus-terusan diam. Dia pun bertanya pada Lena.


"Len, ada yang mau aku tanyakan padamu." ucap Bram. Lena langsung menghentikan langkahnya saat mereka di ruang keluarga.


"Ya? Kenapa, kak?" tanya Lena dengan perasaan senang. Akhirnya Bram mau bicara juga dengannya. Dari tadi Lena hanya diam karena takut-takut kalau malah jadi salah bicara dan memperkeruh suasana.


Bram mengeluarkan handphonenya dari saku jasnya lalu memperlihatkan foto pada Lena.


"Apa hubunganmu dengan pria ini? Kenapa kamu dekat-dekat dengannya?" tanya Bram dengan wajah terlihat kesal karena di landa cemburu.


"Loh, kok bisa ada foto aku sama Ihsan tadi pagi, ya? Siapa yang mengambil foto ini?" batin Lena kaget sekaligus kebingungan.


Di foto itu dia dan Ihsan duduk dengan jarak yang begitu dekat dan terlihat mengobrol dengan akrab. Tanpa mereka sadari, tak jauh dari ruang tamu, Bu Dona diam-diam mendengarkan percakapan mereka.


"Gini, kak. Di kelas tadi, dosen mengadakan kuis. Tapi, sebelum kuis di mulai, kami di suruh belajar sebentar. Karena ada yang nggak aku mengerti, jadi aku nanya sama Ihsan. Kebetulan dia duduk dekat denganku, jadi aku samperin dia, deh." ucap Lena apa adanya.


"Begitu?" tanya Bram meyakinkan, Lena mengangguk mengiyakan.


"Jadi nama orang ini Ihsan. Terus dia satu jurusan dengan Lena." batin Bram kesal.


"Yang kamu bilang tadi beneran kan?" tanya Bram lagi.


"Iya, kak. Beneran." jawab Lena serius sambil mengangguk beberapa kali.


Wajah Bram yang terlihat kesal perlahan-lahan berubah menjadi tenang. Bram menghela nafasnya lega sambil memegangi kepalanya.


"Duh, aku baru tahu kalau Kak Bram ternyata pecemburu." batin Lena.


Tiba-tiba handphone yang ada didalam tas Lena berbunyi. Lena mengeluarkan handphonenya.


"Dari ibu. Maaf ya, kak. Aku terima telepon dulu." pamit Lena pada Bram, lalu berjalan keluar ke arah kolam renang.


"Halo, bu?"


"Iya, Lena sehat-sehat aja kok disini, bu. Ayah masih kerja ya, bu?" ucap Lena pada ibunya di telepon.


Lena tersenyum sendu karena merasakan rindu juga pada orangtuanya. Setiap hari kalau tidak siang atau malam, ayah dan ibunya akan meneleponnya untuk menanyakan kabarnya bersama dengan Bram dan besan mereka. Dan pastinya Lena akan menjawab baik-baik saja.


Sementara itu, Bram yang masih berada di ruang keluarga sedang duduk di sofa setelah ditinggal Lena untuk menerima telepon.


"Dia masih suka dengan orang itu saja aku masih kesal. Apalagi kalau dia malah dekat-dekat dengan pria lain lagi. Tapi... syukurlah. Semua nggak seperti yang aku takutkan." batin Bram sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan tenang.


Bu Dona keluar dari persembunyiannya dan ikut duduk di samping Bram. Saat Bram sudah mulai tenang, ibunya malah membuatnya panas lagi.


"Bram, kamu yakin kalau istrimu itu beneran nggak ngapa-ngapain dikampusnya?" tanya Bu Dona memancing.


"Lena tadi sudah bicara jujur, bu. Aku percaya dengannya." sahut Bram yakin sambil menegakkan duduknya dan berpikir ternyata ibunya mendengarkan percakapannya dengan Lena tadi.


"Kamu kan mana tahu kelakuan istrimu di luar sana. Apalagi dia itu punya mantan pacar kan?" ucap Bu Dona mangkel.


"Lena nggak pernah pacaran, bu." ucap Bram tegas.


"Hah... Darimana kamu tahu kalau dia nggak pernah pacaran?" cecar Bu Dona.


"Aku tahu segalanya tentang Lena, bu. Aku dengar dari teman-temannya." ucap Bram bersikukuh.


"Nak, kamu itu lama di luar negeri, masa baru ketemu aja kamu sudah bilang tahu segalanya tentang istrimu. Apalagi kamu bilang tahu dari teman-temannya. Belum tentu apa yang mereka bilang dan apa yang kamu dengar itu benar, nak. Bisa aja kan diam-diam istrimu itu ternyata ada belangnya." ucap ibunya penuh penekanan.

__ADS_1


Bram ingin menyangkal lagi, tapi tiba-tiba kata hatinya berkata lain. Dia malah jadi kepikiran dengan kata-kata ibunya barusan.


"Iya juga, ya. Omongan ibu ada benarnya juga. Tapi... Uh. Kepalaku jadi pusing." batin Bram bimbang sambil memegangi kepalanya.


...***...


Malamnya...


Bram yang sudah mengenakan tuxedonya dengan rapi duduk dengan wajah cemberut di tepi tempat tidur. Dia tak mau melihat Lena. Karena sibuk dengan pikirannya sendiri, Bram yang membelakangi Lena tak sadar kalau diperhatikan oleh Lena yang sedang dandan.


"Kak Bram kenapa lagi, ya? Perasaan tadi sebelum aku dapat telepon dari ibu, kakak sudah mulai tenang. Tapi setelah itu, kakak terlihat kesal lagi." batin Lena sambil melihat pantulan Bram yang memunggunginya dari cermin rias didepannya.


"Ehem. Kak, aku sudah selesai. Maaf ya nunggu lama." ucap Lena mengalihkan pikiran Bram.


"Huh! Kenapa sih perempuan kalau dandan suka lama?" batin Bram kesal, bangun dari duduknya.


Ketika berbalik seketika kesalnya sirna, dia terpesona melihat Lena yang berdiri dihadapannya. Lena memakai gaun selutut berwarna hitam berlengan panjang yang membuat penampilannya semakin berkilau.


"Aku memakai gaun yang Kak Bram beli kemarin. Semoga amarah kakak bisa mereda." batin Lena sambil tersenyum manis.


"Baju yang aku belikan untuknya memang cocok." batin Bram senang.


"Gimana, kak?" tanya Lena sambil memutar-mutar badannya.


"Ehem, cantik." Bram pura-pura menjawab apa adanya karena masih kesal. Padahal di dalam hati, dia tak henti-hentinya memuji penampilan istrinya.


"Loh, kamu mau kemana?" tanya Bram, membuat Lena menghentikan tangannya untuk membuka pintu kamar.


"Bukannya kita harus berangkat sekarang?" tanya Lena kebingungan.


"Masa mau datang ke acara pakai sandal rumah, sih?" tunjuk Bram ke kaki Lena.


"Astaga!" kaget Lena. Dia baru menyadari kecerobohannya, wajahnya langsung memerah malu.


Bram mengambil high heels berwarna hitam yang dibelikan olehnya juga kemarin yang sebenarnya sudah Lena persiapkan tadi, lalu bersimpuh di hadapan Lena untuk membantunya memakaikan high heels. Lena menurut saja dengan perlakuan Bram.


Sementara itu, di ruang tamu, Bu Dona dan Pak Ibrahim duduk di sofa menunggu Bram dan Lena.


"Mereka lama banget, sih?" Bu Dona bersungut-sungut.


"Sabar, bu. Kita nggak bakalan terlambat kok." ucap Pak Ibrahim santai.


"Huh. Lama-lama paling penampilannya biasa saja." Bu Dona hanya bisa protes dalam hati.


Tak lama kemudian, orang yang mereka tunggu akhirnya keluar juga sambil bergandengan tangan.


"Wah... Kalian serasi sekali. Kamu cantik sekali malam ini, Len." puji Pak Ibrahim.


"Makasih, yah. Semua berkat Kak Bram yang pandai membelikan gaun ini untukku." ucap Lena tersenyum manis menoleh ke arah Bram.


"Huh, dasar. Dia suka bikin aku patah hati tapi bisa juga bikin perasaanku terbang melayang begini." batin Bram dengan wajah tersipu.


"Gimana, bu?" tanya Pak Ibrahim sambil menyenggol lengan istrinya yang berdiri terpaku disampingnya.


"Eh? Oh?" Bu Dona tersadar dari keterpanaannya.


"Ehem, boleh juga. Kalau bukan karena Bram yang pandai mencarikan baju untuknya juga, dia nggak bakalan seperti ini." ucap Bu Dona pura-pura tak peduli. Padahal dalam hatinya dia takjub melihat kecantikan Lena. Lena memang cantik, apalagi kalau dandan akan tambah cantik lagi.


"Ternyata dia cantik juga." batin Bu Dona takjub sambil diam-diam melirik Lena.


...***...


"Iya benar, pak. Dia ada disini." Sultan berbicara pada seseorang diteleponnya.


"Baik, saya akan berusaha membujuknya." ucapnya lagi sambil memegangi kepalanya.

__ADS_1


Setelah selesai menelepon, dia berjalan masuk kekamarnya dan disana dia melihat orang yang suka bikin kepalanya pusing tujuh keliling sedang bermain game online begitu serunya dengan kedua adiknya.


"Main lagi!" ucap Ardan tak terima.


"Sudahlah, kak. Terima aja. Berapa kali mainpun, kakak nggak akan bisa menang melawan kami." ucap Maya bangga sambil tos dengan Angga.


Terkadang Ardan suka menginap di rumah mereka, jadi mereka sudah akrab dengannya dan menganggapnya seperti keluarga.


"Sudah selesai mainnya?" tanya Sultan garang sambil melipat tangannya didepan dada. Mereka langsung menghentikan mainnya.


"Maya, Angga. Kembali ke kamar kalian. Bukannya kalian harus belajar?"


"Tapi, kami sudah belajar tadi, kak." tolak Angga. Dia dan Maya sudah terlanjur nyaman bermain dengan Ardan.


"Kalian.harus.lebih.belajar.lagi." ucap Sultan tegas.


"Terutama kamu, Maya. Bukankah tak lama lagi kamu akan ujian kelulusan?"


"Iya, kak." sahut Angga dan Maya pasrah sambil keluar dari kamar. Sultan kalau sudah begitu, maka tak akan bisa di lawan.


"Lalu, kamu kenapa masih disini?" tanya Sultan garang pada Ardan. Yang ditanya pura-pura tak mendengar dan malah asyik merebahkan dirinya di tempat tidur Sultan dengan santai.


"Papamu tadi telepon, kamu harus datang ke acara itu, Ardan." ucap Sultan kesal karena diacuhkan.


"Aku nggak akan pergi kesana kalau kamu nggak ikut." rajuk Ardan.


Sultan memijit pelipisnya dengan kesal mendengar perkataan Ardan yang kekanak-kanakan. Saat di kantor tadi, Sultan sudah memberitahu Ardan kalau dia tak akan ikut ke acara. Ardan malah tidak terima dan sekarang dia merajuk ke rumah Sultan karena tidak mau sendiri (jomblo) datang ke acara itu.


"Oh, aku baru sadar kalau kamar Lena di seberang sana gelap, nggak ada cahayanya. Oh iya, dia kan sudah nikah, ya pasti ikut dengan suaminya kan." celetuk Ardan, menghadap keluar jendela kamar tapi diam-diam matanya melirik Sultan.


Sultan terlihat jengah mendengarnya. Kalau dibiarkan, Ardan akan terus melantur tak jelas.


"Hhh... Apa boleh buat. Aku akan pergi ke acara itu juga, jadi kamu harus ikut." ucap Sultan pasrah.


"Sungguh?" tanya Ardan bangun dari berbaringnya dengan wajah berbinar-binar.


"Iya... " jawab Sultan jengah, sambil tangannya sibuk mengambil tuxedonya di lemari.


"Sungguh?"


"Iya, beneran. Makanya aku mau ganti baju dulu. Kamu juga bersiap-siaplah." kesal Sultan. Ardan langsung berdiri dari tempat tidur dengan ceria. Sultan memutar bola matanya malas melihat Ardan.


Mendengar suara ribut-ribut dari kamar Sultan, kepala Maya dan Angga menyembul keluar dari kamar mereka masing-masing.


"Kalian mau kemana?" tanya Angga heran.


"Kakak jadi juga perginya?" tanya Maya pada Sultan.


"Apa boleh buat. Kalian belajar sana." kesal Sultan sambil melirik jengkel ke arah Ardan. Maya dan Angga menurut dengan perkataan Sultan dan masuk ke kamar mereka dengan mulut manyun.


TIIIIIIN...


"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Sultan kaget, Ardan tiba-tiba menekan klakson begitu nyaring saat mobil dihidupkan.


"He, he... Maaf, nggak sengaja." ucap Ardan dengan tampang polosnya. Saking senangnya, dia sendiri yang meminta ingin menyetir mobilnya. Sultan sampai tak habis pikir kenapa dia bisa berteman dengan Ardan.


Sementara itu, di rumah seberang...


"Astaghfirullah!" kaget Pak Hadi mendengar suara klakson di seberang sana. Minuman yang diminumnya sampai tumpah saking kagetnya.


"Siapa sih itu malam-malam begini?" tanya Pak Hadi jengkel.


"Paling-paling saingannya Lena." jawab Bu Mila apa adanya sambil memberikan tisu kesuaminya. Dia tahu karena tadi sore melihat Ardan ke rumah Sultan.


"Hah? Saingan Lena? Maksud ibu?" tanya Pak Hadi kebingungan.

__ADS_1


"Eh, bukan apa-apa, yah." ucap Bu Mila tersadar kalau suaminya itu tak tahu kalau sebenarnya anak mereka menyukai Sultan dan Ardanlah yang selalu menjadi saingannya.


__ADS_2