Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Pertama Kalinya Dia Tersenyum


__ADS_3

Semenjak kejadian Lena disiram orang tak dikenal, teman-temannya jadi hiperprotektif kepadanya. Teman yang sebentar lagi akan menikah akan mereka kawal untuk menghindari terulangnya kejadian-kejadian seperti kemarin.


Tapi anehnya, selama beberapa hari ini tak ada lagi orang mengganggu Lena. Rosi, Anisa dan Grace sudah geregetan karena tak sabar menunggu-nunggu kemunculan orang lainnya lagi. Gimana bisa keluar, habisnya mereka mengawal Lena bak bodyguard yang siap sedia untuk menyerang mangsanya. Akhirnya, Lena bisa melewati hari-harinya dengan tenang seperti biasa.


Lena dan teman-temannya pernah mencari tahu tentang dua perempuan yang merundung Lena waktu itu, tapi tak ada satu orangpun yang tahu. Tak ada jejak sama sekali, kemungkinan kedua perempuan itu orang luar dan tidak berkuliah dikampus mereka.


Sebenarnya Lena sempat mencurigai kalau Alikalah pelakunya. Karena perundungan itu terjadi setelah dirinya memutuskan menerima perjodohan. Tapi, tak ada bukti yang kuat kalau dia pelakunya. Saat bertemu juga, Alika terlihat biasa-biasa saja, walaupun dia selalu merengut melihat Lena.


Saat ini, Lena dan Bram sedang membuat foto pre-wedding mereka. Lena terlihat cantik mengenakan gaunnya dan Bram terlihat tampan dengan jasnya.


"Bisa lebih dekat lagi? Yang perempuan diusahakan harus santai, jangan kaku begitu, ya." ucap sang fotografer ramah.


"Yang benar aja? Masa harus lebih dekat lagi?" batin Lena, matanya melotot mendengar sang fotografer tadi.


"Pose yang tadi-tadi sih masih lumayan. Tapi kalau yang begini, gimana aku nggak canggung." batin Lena protes.


Soalnya, pose mereka sekarang seperti hampir berpelukan. Bram merangkul pinggang Lena, sedangkan Lena, tangannya bersandar didada Bram.


"Kamu kenapa malu-malu begitu?" tanya Bram cekikikan melihat Lena yang kaku seperti manekin.


"Ini bukannya sudah terlalu dekat, kak?" tanya Lena dengan wajah yang memerah.


"Memangnya kenapa? Kita kan sebentar lagi bakalan menikah." ucap Bram.


"Oh, i-iya juga." jawab Lena tergagap.


"Begini saja. Anggap saja aku ini orang yang kamu sukai. Bayangkan saja seperti itu, bisa kan?" ucap Bram sambil tersenyum, tapi ada sesuatu yang lain dari makna senyumannya.


Deg!


"Kak Bram menyindirku, ya?" batin Lena, dia jadi merasa bersalah.


"Maafin aku ya, kak. Soalnya aku masih harus menyesuaikan diri." ucap Lena menyesali perbuatannya yang mungkin melukai hati Bram.


"Nggak papa. Mungkin kita harus ganti pose yang lain aja." ucap Bram setelah beberapa saat tadi terdiam.


"Nggak usah, begini aja." tolak Lena sambil lebih mendekatkan dirinya lagi pada Bram. Bram kaget dengan perlakuan Lena yang tiba-tiba, tapi setelahnya dia terlihat bahagia.


Cekrek!


"Oke, bagus." ucap sang fotografer akhirnya.


...***...

__ADS_1


"Nih, undangannya." ucap Lena tersenyum sambil membagikan lembar undangan pada teman-temannya.


"Wuih... Undangannya aja berkelas. Sultan... eh, orang kaya memang beda, ya." celetuk Grace keceplosan mengucapkan kata sultan.


Lena terdiam. Anisa, Rosi dan Emi menatap Grace tajam.


"M-maaf, Len. Maksudku bukan begitu." ucap Grace gelagapan.


"Nggak papa kok. Aku tahu. Jaman sekarang istilah sultan kan memang populer untuk kalangan orang kaya" ucap Lena tenang.


"Apanya?" tiba-tiba Cintia sudah ada disamping mereka, bersama kedua dayangnya.


"Oh, Cintia. Kebetulan. Nih, undangan buat kalian." ucap Lena ramah sambil membagikan undangan pada mereka.


"Wah, sudah ada undangannya aja. Sudah beneran move on kamu?" tanya Cintia penuh selidik.


"Sudah, dong. Makanya ada undangannya kan. Kamu jangan cari-cari masalah, ya." ucap Lena mangkel. Untung saja dia bisa mengendalikan ekspresi wajahnya yang sedih jadi tertutup oleh ekspresi kesal pada Cintia.


"Ya... kirain kan." ucap Cintia lagi.


"Kamu itu, ya... " Lena semakin mangkel.


Saat Lena dan Cintia sudah mulai bersitegang, tiba-tiba ada kedatangan seseorang yang tak terduga.


"Pak Rudi? Pagi, pak." ucap mereka semua disana kelabakan. Lalu bergantian salim pada beliau.


"Ada apa kalian berkumpul begini?" tanya dosen paruh baya itu heran.


"Ini, pak. Saya lagi bagi-bagi undangan pernikahan saya. Ini undangan buat bapak. Datang ya, pak." ucap Lena ramah sambil memberikan undangan.


"Akan bapak usahakan. Nggak nyangka ya Lena sudah mau nikah aja." ucap Pak Rudi.


"Kalau kalian kapan nih?" tanya Pak Rudi sambil melihat teman-teman Lena dan Cintia serta dayangnya.


"Ah, bapak... Jangan tanyakan itu sama kami yang jones-jones ini." Grace yang menyahut lesu. Yang lain jadi terlihat tak bersemangat juga.


"Ahaha... Akan bapak tunggu undangan dari kalian nanti, ya." canda Pak Rudi sambil tertawa. Ternyata pak dosen killer yang terkenal galak itu bisa tertawa juga.


"Ya sudah. Pada masuk sana, kalian pasti ada kelas kan?" tanya Pak Rudi berubah jadi mode galak.


"Iya, pak." ucap mereka semua patuh.


...***...

__ADS_1


"Nggak terasa, ya. Lena yang kecil dulu sekarang sudah mau nikah aja." ucap Bu Raisa.


"Ya begitulah, bu. Padahal rasanya seperti baru kemarin aja, ya." sahut Bu Mila sambil mengelus punggung Lena. Lena hanya tersenyum mendengar mereka.


Saat ini, Bu Raisa berkunjung kerumah mereka. Biasanya, Bu Raisa berkunjung bersama ibu-ibu lainnya dikomplek perumahan itu. Mereka selalu membahas tentang pernikahan Lena atau bahkan ngerumpi khasnya emak-emak.


Tapi entah kenapa, sekarang ini Bu Raisa berkunjung bersama anak-anaknya, Maya, Angga dan... Sultan.


Mereka duduk diruang tamu bersama Lena dan orangtuanya. Lena agak canggung melihat Sultan semenjak kejadian dia ditolak Sultan dulu. Tapi, Sultan malah terlihat biasa-biasa saja.


"Tenanglah,tenang... Bukankah selama ini aku sudah berusaha menghindari bertemu dengannya. Aku sudah berusaha untuk tak mengintainya lagi. Saat berangkat kekampus juga, aku pura-pura tak melihatnya. Jadi, pasti semuanya akan baik-baik saja." batin Lena menenangkan dirinya sendiri.


"Selamat ya, kak." ucap Maya sambil tersenyum.


"Semoga lancar sampai hari H." ucap Angga sambil tersenyum ramah juga.


"Iya, makasih." sahut Lena.


"Selamat ya, Len." ucap Sultan tiba-tiba sambil... tersenyum?


DEG!


"Kak Sultan tersenyum?" batin Lena terpana melihatnya.


Ini pertama kalinya aku melihat Kak Sultan tersenyum. Selama ini aku tak pernah melihatnya tersenyum. Sekalinya tersenyum saat aku mau menikah begini. Kenapa ini? Kenapa hati ini terasa nyeri?


"Kalau Sultan kapan nih? Sudah ketemu jodoh belum?" celetuk Pak Hadi tiba-tiba.


"Masih belum, pak. Saya masih belum mau menikah." sahut Sultan.


Selama orangtuanya dan keluarga Sultan asyik bercengkrama, Lena hanya terdiam ditempatnya.


"Kamu nggak papa, Len?" tanya Bu Mila pada Lena setelah tamu-tamu mereka pulang.


"Hm? Nggak papa kok, bu... Aku kekamar dulu, ya." ucap Lena tersenyum dibuat-buat.


Dikamarnya, Lena duduk ditepi ranjang sambil memegang kotak kecil yang memperlihatkan kertas puisi saat dibukanya.


Hatiku langsung goyah saat melihat senyumannya. Kenapa dia harus tersenyum begitu tadi? Seharusnya dia jangan begitu.


Dia selalu membuatku patah hati. Tapi sekarang malah membuat hatiku bangkit lagi. Dia memporak-porandakan hati ini, yang awalnya sudah kokoh kudirikan, sekarang mulai hancur berantakan. Kupikir aku bisa menahannya, ternyata aku tak bisa.


Hati, kumohon jangan begini. Jangan buat hatiku jadi ragu lagi. Kalau sudah begini, aku harus bagaimana?

__ADS_1


"Hiks, kenapa setiap melihat puisi ini aku malah teringat sama Kak Ardan yang menyebalkan itu juga sih?" ucap Lena menahan tangisnya sambil menyalahkan Ardan.


__ADS_2