
Malamnya, Lena dan Bu Dona menemani pria tercinta mereka masing-masing dengan bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi untuk melepaskan penat kedua pria itu yang sudah bekerja keras seharian ini.
Pak Ibrahim dan Bu Dona tengah asyik bernostalgia, mengenang masa lalu indah yang pernah mereka alami dulu.
"Sayang, kamu masih ingat nggak, hari itu... "
"Ahaha... Iya, aku ingat. Kamu pernah memberiku hadiah..."
Diam-diam Lena memperhatikan pembicaraan mereka.
"Uwah... ternyata ayah dan ibu punya cerita masa muda yang romantis begitu juga ya dulunya." batin Lena takjub.
"Ngomong-ngomong tentang hadiah... seingatku sampai sekarang aku nggak pernah kasih sesuatu untuk kakak." batin Lena berpikir sambil mengunyah buah apel yang sudah di potong.
"Mikirin apa?" tanya Bram, mulutnya menyerobot sepotong apel dari tangan Lena.
"Ehehe... Maaf, maaf... " kekeh Bram menenangkan Lena yang ngambek gara-gara ulahnya menyerobot buah tadi.
"Duh, imutnya... " ucap Bram, dipeluknya erat istrinya saking gemasnya sampai wajah Lena memerah.
__ADS_1
"Mm... Selama ini kakak selalu mengasih sesuatu tanpa aku minta. Tapi... aku belum pernah kasih sesuatu atau pun hadiah buat kakak." ucap Lena dengan wajah agak sedih.
"Hm? Siapa bilang? Kamu sudah kasih aku hadiah yang sangat berharga kok." ucap Bram, dielus-elusnya perut Lena dengan sayang. Lagi-lagi wajah Lena memerah.
"Benar juga. Kenapa aku bisa lupa? Padahal aku sedang mengandung buah cinta yang sangat kami tunggu dengan penuh harapan yang merupakan hadiah terindah bagi kakak." batin Lena tersadar.
"Kamu harus janji nggak akan dekati temanmu yang namanya Wini itu lagi, ya."
"Kakak tiba-tiba jadi berubah." batin Lena kaget melihat tatapan tak senang dari Bram.
"Kalau kakak melarang, aku nggak akan mendekatinya lagi." ucap Lena patuh.
"Baiklah, akan kuusahakan." janji Lena.
"Uh... Dasar pecemburu. Kalau kakak begini kan jadi imut. Kayak angry bird, serem serem gemes..." batin Lena gemas tertahan.
"Tapi, gimana caranya menghindari seseorang dengan sopan tanpa membuat orang tersinggung, ya?" batin Lena berpikir keras.
Tengah asyik berpikir, Bram tiba-tiba menarik tangannya Lena, dilihatnya cincin di jari manis Lena. Ditautkannya tangan Lena dengan tangannya yang memakai cincin juga di jari manisnya, menggenggamnya erat lalu dicium-ciumnya tangan istrinya yang putih dan mungil itu.
__ADS_1
"Cantik."
"Tentu saja, kan kakak yang sudah memilihkan cincinnya." ucap Lena tersenyum polos.
"Bukan... Maksudku, istriku yang cantik." ucap Bram tersenyum usil.
"Ih... Kakak nakal deh." sungut Lena, disembunyikannya wajahnya yang memerah di lengan Bram sambil mencubit-cubit lengan suaminya itu. Bram malah terkekeh kesenangan.
"Kalau diamati baik-baik, ternyata dia pandai mengambil hati orang, entah dia menyadarinya atau tidak." batin Bu Dona diam-diam melirik Lena.
Dulu, perhatian Bram dan suamiku hanya tercurahkan untukku Tapi, sekarang perhatian Bram terbagi semenjak menikah dengan Lena. Ya wajar sih, di masa begitu mereka sedang masa-masanya di mabuk cinta. Yang penting aku bisa melihat anakku bahagia.
"Melamunkan apa sih?" tanya Pak Ibrahim menyadarkan lamunan istrinya.
"Ehem, nggak ada... " bantah Bu Dona.
"Kalau dipikir-pikir, bagaimana kalau kita juga bikin adik untuk Bram?" tanya Pak Ibrahim tersenyum usil.
"Yang benar saja!?" kaget Bu Dona. Seketika wajahnya memerah, dicubit-cubitnya pinggang suaminya saking gemasnya.
__ADS_1
Mereka yang awalnya ingin bersantai sambil menonton televisi, sekarang malah televisi yang menonton mereka karena kalah romantis dengan ke-uwu-an masing-masing pasangan itu.