
"Hm, hm, hm... " Grace bersenandung riang berjalan melewati gang sempit yang minim pencahayaan dari lampu jalanan disekitar rumanhya. Karena saking senangnya, dia sampai lupa kalau gang yang dilewatinya itu terkadang bisa berbahaya dilewati kalau malam hari.
"Hari ini aku banyak dapat rezeki dari jualan online. Aku akan menepati janjiku beliin bakso kesukaannya Ade. Akan kubelikan jumbo buatmu, dek." batin Grace riang.
Ade, adik perempuannya itu sangat suka bakso. Saking sukanya, kalau keinginannya sudah tak terbendung, seharian adiknya akan menyerocos dan yang diomonginnya pasti selalu tentang bakso. Bakso kuah. Bakso asam urat, eh, bakso urat. Bakso beranak. Bakso pelakor? Dan bakso-bakso lainnya. Grace sampai mabuk mendengarnya.
Untung Grace punya banyak akal, dia mengakalinya dengan membelikan mi instant yang ada rasa bakso untuk adiknya itu. Adiknya hanya menurut walaupun wajahnya merengut.
Grace sudah sampai di gerai bakso yang terkenal enak tak jauh dari rumahnya. Tiba-tiba dia kaget melihat seorang wanita berhijab yang dikenalnya disana.
"Bu Indah?" ucapnya kaget.
"Oh, Grace. Mau makan bakso juga, ya?" ucap Indah ramah.
"Iya, bu." sahut Grace. Sebelum melanjutkan perbincangan, Grace terlebih dahulu memesan baksonya.
"Kok dibungkus? Kirain makan disini?" tanya Indah bingung.
"Buat Ade, bu." sahut Grace tersenyum sambil duduk satu meja di depan Indah.
"Ade sehat-sehat aja, kan?" tanya Indah lagi.
"Ya... Ade sehat-sehat aja, bu. Terlalu sehat malahan." jawab Grace tertawa.
Dia jadi teringat dengan adiknya yang beberapa hari ini merajuk manja minta dibelikan bakso olehnya. Tapi, karena Grace lupa membelikannya karena sibuk, makanya dia membelikannya malam-malam begini.
Indah adalah dokter di puskesmas yang sering menangani adiknya Grace kalau sakit. Indah orangnya sangat ramah, Grace jadi akrab dengannya.
"Oh iya. Kalau diluar jangan panggil ibu, dong. Panggil kakak aja, ya." ucap Indah pada Grace.
"Oke, kak." sahut Grace semangat sambil melirik seseorang yang ada disamping Indah.
"Kok kamu bisa ada disini juga?" tanya Grace bingung. Sedari tadi ada seseorang yang duduk bersama Indah dan terlihat senyam-senyum kearahnya. Jiwa kepo Grace terusik dan sesekali melirik ke arah orang itu.
"Loh, kamu belum tahu, ya? Bandi ini adikku." Indah yang menyahut sambil menepuk punggung Bandi yang lagi makan. Hampir saja Bandi tersedak dibuatnya.
"Apa? Bandi adiknya Kak Indah?" kaget Grace.
"Ku-kupikir tadi mereka pacaran. Tapi, kok bisa? Rasanya nggak mungkin, deh. Tapi mukanya agak mirip-mirip, sih. Tapi, Kak Indah kan orangnya ramah, kalau Bandi kan agak... " batin Grace syok tak percaya sambil melirik ke arah Bandi yang sedang menyeka mulutnya dengan tisu.
"Aku ini beneran adiknya, tahu." ucap Bandi sedikit kesal kearahnya.
"Lagi-lagi dia tahu apa yang aku pikirkan." batin Grace syok.
"Kalau nggak salah, bukannya kalian se kampus, ya? tanya Indah.
"I-iya, kak." jawab Grace masih syok.
Tiba-tiba abang tukang bakso memanggilnya karena pesanannya sudah selesai dibungkus, obrolan mereka jadi terputus. Selesai membayar pesanannya, Grace pamit pulang pada Indah dan Bandi. Karena kalau kelamaan, adiknya akan menangis bombay.
__ADS_1
"Kenapa dia jadi ikutan juga?" batin Grace sambil melirik seseorang yang juga berjalan disampingnya.
"Kamu nggak usah repot-repot ngantarin aku loh, Boba." ucap Grace serba salah sambil agak meledek.
"Hm? Nggak masalah, kok. Lagian perempuan kan nggak boleh pulang sendirian malam-malam begini." sahut Bandi santai.
Saat Grace hendak pulang tadi, Indah memaksa Bandi menemani Grace pulang saat tahu kalau Grace malah melewati gang yang rawan dilewati kalau malam hari. Dan dari itu juga, Grace jadi tahu kalau Bandi dipanggil Boba oleh kakaknya. Grace malah jadi ikut-ikutan juga memanggilnya Boba.
"Pft! Boba?" ucap Grace sambil mati-matian menahan tawanya. Bandi hanya diam memperhatikannya.
"Ehm, ehem. Maaf." ucap Grace mencoba menghentikan tawanya.
"Hm? Kok dia diam aja ya daritadi?" batin Grace heran. Bandi orangnya memang suka tak terduga kelakuannya.
Tiba-tiba ada seekor kucing liar yang gendut mengikuti mereka. Bandi berjongkok mengambil kucing itu untuk menggendongnya, lalu mengelus-elus kucing itu sambil tersenyum. Entah kenapa, Grace jadi teringat sesuatu.
"Oh iya, Boba. Dari dulu aku penasaran, kenapa kamu suka menjuluki Lena dan Cintia dengan sebutan harimau sama macan, ya? Padahal kan sama aja." tanya Grace.
"Hm... Karena cocok aja kayaknya." jawab Bandi asal. Grace bingung, tak habis pikir dengan jawabannya.
"Ahaha... Aku ada alasannya juga, kok." ucap Bandi sambil tertawa.
Grace jadi kaget, tiba-tiba Bandi malah tertawa saja. Entah kenapa dia jadi takut-takut dengan orang disampingnya daripada harus jalan sendirian di gang yang terkadang rawan itu.
"Kamu tahu kan, harimau atau yang terkadang dipanggil macan itu salah satu pemangsa yang berada di puncak tertinggi dalam rantai makanan. Yang juga kuat, tangguh, berani dan juga memiliki gengsi. Walaupun panggilannya berbeda tapi mereka tetaplah sama. Begitu pula halnya dengan Lena dan Cintia. Mereka orang yang berbeda tapi sifat mereka sama. Sama-sama tangguh, berani, terlalu gengsian dan sama-sama bikin onar." ucap Bandi cekikikan diakhir kalimatnya.
"Oh iya. Waktu itu kamu pernah bilang Doni plinplan, kan? Apa maksudmu?" tanya Grace tiba-tiba. Sepertinya dia masih memikirkan mantannya walaupun dia sudah berusaha melupakannya. Beberapa saat Bandi terdiam.
"Anggun... Mantan yang sudah bertunangan tak bisa lagi kamu kejar. Kalau kamu semakin berharap dan menunggunya, kamu hanya akan berubah jadi sakit jiwa." ucap Bandi dengan suara dan mimik wajah yang datar.
"Hei, hei. Apa maksudmu, hah? Kenapa malah jadi sakit jiwa, sih? A-aku memang sakit hati ditinggal tunangan sama mantanku, tapi nggak sampai segitunya juga kali. Aku ini perempuan tangguh, tahu. Lagian, aku juga tahu diri, kok." ucap Grace kesal mendengar perkataan Bandi yang tiba-tiba jadi sarkastis.
"Ya, aku tahu. Kamu memang perempuan tangguh." ucap Bandi sambil melirik Grace dengan ekspresi yang masih datar.
"Tapi, terkadang ada juga yang mentalnya lemah... seperti kakak kami." ucapnya lagi.
"Kamu punya kakak lagi selain Kak Indah?" tanya Grace.
"Hm. Kakak tertua kami."
"Kakak orangnya sangat baik dan ramah. Sejak kedua orangtua kami meninggal, kakak yang selalu menjaga dan mengurus aku dan Kak Indah. Sampai-sampai kakak berhenti sekolah demi kami berdua. Sampai suatu hari, kakak jatuh cinta dan akhirnya menikah dengan pria pujaannya."
"Awalnya semua berjalan damai-damai saja. Sampai suatu hari, kakak memergoki suaminya berselingkuh. Tapi, karena saking cintanya, kakak malah menutup mata dan telinganya. Sampai suaminya menceraikannya karena hasutan sang selingkuhan. Gara-gara cintanya yang buta, kakak berubah jadi gila karena tak terima dicerai suami yang sangat dicintainya." ucap Bandi sambil menunduk.
Grace hanya terdiam, dia jadi prihatin mendengar cerita Bandi.
"Semakin hari keadaan kakak semakin memburuk, sampai-sampai mentalku dan Kak Indah ikut terpuruk. Tapi, setelahnya kami sadar kalau kami tak boleh menyerah. Kami berusaha keras untuk menyembuhkan kakak. Ternyata usahaku dan Kak Indah berhasil, kakak bisa sembuh dari ketidakwarasannya. Dan mulai menjalani hidupnya dengan normal seperti dulu lagi." ucap Bandi sambil mengelus si kucing.
"Setelah itu, mantan suami kakak tiba-tiba datang dan minta balikan karena dirinya dicampakkan oleh selingkuhannya. Untung kakak sudah benar-benar move on, apalagi kami juga melarangnya." lanjutnya lagi sambil menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Pria jahat seperti itu memang pantas menerima karmanya." ucap Grace sebal sambil mengepalkan tangannya.
"Tapi, kok kamu malah ngomongin masalah keluargamu sama aku?" Grace baru tersadar setelah mendengar cerita panjang lebarnya Bandi yang layaknya sinetron.
"Ya... Aku cuma pengen curhat aja." jawab Bandi sambil tertawa. Grace terdiam membeku, bingung mendengarnya.
"Anggun, ada yang mau aku bilang sama kamu."
"Ya? Apa, Boba?" tanya Grace sambil meledek.
"Aku... "
Mata Grace terbelalak kaget mendengar apa yang diucapkan Bandi barusan.
"K-kamu ngomong apa tadi?" tanya Grace kaget.
"Kak Anggun... Kakak sudah pulang? Kenapa lama banget, kak?" teriak seseorang yang mengganggu obrolan mereka. Grace menoleh kearah sumber suara.
"Loh? Aku sudah ada didepan rumah aja?" batin Grace kaget.
"Ade! Jangan lari-lari! Kamu itu nggak boleh kelelahan, tahu!" teriak Grace panik melihat adiknya lari kearahnya.
"Maaf... Habisnya kakak lama, sih." ucap Ade manyun.
"Oh iya. Makasih ya sudah ngantarin aku, Bo... " ucapan Grace terputus karena saat menoleh Bandi sudah tak ada disana, yang ada hanya kucing gendut yang tadi digendong Bandi.
"Wah... Kucing! Imutnya... Siapa namanya, kak?" tanya Ade sambil menggendong si kucing.
"Boba." jawab Grace mematung.
"Boba? Lucu juga. Terus, yang tadi siapa, kak?" tanya adiknya.
"Boba."
"Boba juga? Maksudnya?" tanya adiknya bingung.
Sementara itu...
"Jadi, gimana?" tanya Indah senyam-senyum. Dia baru menyadari kalau adiknya itu menyukai Grace.
"Ya... gitu, deh." jawab Bandi.
"Yang jelas dong ngomongnya." marah Indah. Bandi hanya tertawa.
Mereka lalu pulang menaiki sepeda motor. Bandi terkadang suka jadi 'tukang ojek' buat Indah dan kakak tertuanya. Bandi mau saja disuruh, walaupun hari ini Indah kebetulan pulangnya malam dari puskesmas.
"Oh iya... Kenapa tadi nggak pakai sepeda motor ya buat ngantar Grace?" Indah baru tersadar.
"Oho... Dasar kamu ini." ucap Indah paham sambil memukul-mukul punggung Bandi didepannya, karena Bandi hanya menyahuti pertanyaannya dengan tertawa tak jelas.
__ADS_1