Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Seperti Roller Coaster


__ADS_3

Sehabis membuat kehebohan dikampus, Ardan kembali kekantornya.


Mulai turun dari mobil sampai masuk ke gedung kantor miliknya, dirinya selalu bersenandung ria. Dia sangat senang rupanya.


Karyawan wanita terpana, karyawan pria melipir dibuatnya. Sebagian karyawan yang lainnya bertanya-tanya siapa yang jadi korban atasan mereka.


Tapi, saat masuk keruangan miliknya, dirinya terkejut melihat seseorang yang menyambutnya dengan aura menyeramkan menguar dari orang tersebut.


"Anda darimana saja, Pak Direktur?" tanya orang itu garang. Ternyata orang itu adalah Sultan.


"Aku sudah kerepotan sama pekerjaanku sendiri, kamu malah seenaknya kabur dari tugas. Darimana saja, hah?" amuk Sultan.


"Aku habis berkelana." jawab Ardan santai sambil senyum-senyum tak jelas, tak dihiraukannya amukan Sultan.


"Astaga... Kamu nggak bisa berhenti dari kebiasaan anehmu itu? Kasihan anak orang." ucap Sultan tak habis pikir dengan kelakuan orang didepannya. Dia tahu apa yang dimaksudkan Ardan.


"Ah, kamu ini memang nggak mengerti apa itu cinta." kilah Ardan beralasan.


Sultan sangat mengenal Ardan. Dia tahu kalau Ardan hanya mencari wanita yang tulus mencintainya tanpa iming-iming harta. Tapi, gara-gara suka merayu wanita, dia jadi dikira playboy dan suka gonta-ganti pasangan.


Ardan begitu karena dia trauma, saat SMA berpacaran dengan wanita yang ternyata hanya mengincar hartanya saja. Ardan sakit hati dibuatnya.


Bukannya belajar dari pengalaman dan menjauhi wanita, Ardan malah semakin menjadi-jadi kelakuannya. Dan jadilah Ardan yang sekarang.


"Aku juga tahu apa itu cinta, tapi nggak kayak kamu juga caranya." kesal Sultan sambil duduk disofa.


"Sultan, Sultan... Gara-gara kamu begini, wanita jadi segan dekat-dekat sama kamu." Ardan geleng-geleng kepala sambil berjalan mendekati sofa.


"Padahal banyak wanita yang suka sama kamu. Termasuk Lena pastinya." ucap Ardan memancing-mancing, sambil duduk disamping Sultan.


"Kenapa kamu jadi ngomongin Lena?" tanya Sultan, dahinya berkerut karena bingung.


"Nggak usah sok polos, deh. Bukannya kamu juga sudah tahu kalau anak itu suka sama kamu." pancing Ardan lagi.


Sultan terdiam.


"Asal kamu tahu aja, ya... Saking cintanya Lena sama kamu, sampai-sampai puisi buatanku yang kamu buang ke tempat sampah itu malah diambil sama dia. Beneran loh. Aku melihatnya dengan mataku sendiri." ucap Ardan meyakinkan Sultan yang terlihat terkaget-kaget.

__ADS_1


"Puisi? Puisi apaan?" tanya Sultan polos dengan wajah yang terlihat bingung.


"A-astaga. Kamu lupa? Itu loh... puisi yang kusuruh buat nembak cewek sekelas kita." kaget Ardan melihat kepikunan orang disampingnya. Biasanya Sultan tidak begini. Padahal selama ini, Sultan memiliki daya ingat yang sangat kuat. Apa mungkin karena ini masalah cinta-cintaan, dia jadi gampang lupa.


Sultan jadi teringat masa SMAnya.


Waktu itu, Ardan memaksanya bertaruh kalau pak guru yang rajin tak akan masuk ke kelas mereka. Benar saja, Sultan kalah. Pak guru tak masuk karena ada rapat. Sebagai hukuman Ardan memaksanya membacakan puisi cinta pada teman sekelas mereka.


Sepele memang. Tapi, ancaman Ardan yang jadi masalahnya. Dia akan menyebarkan foto-foto konyol Sultan yang Ardan ambil diam-diam. Sebenarnya, Ardan memang sengaja mencomblangin mereka.


Hhhh... Ardan memang suka seenaknya.


"Huh. Gara-gara kamu, aku jadi punya pengalaman konyol kayak gitu." kesal Sultan setelah mengingatnya lagi. Bisa-bisanya dia punya teman seperti Ardan.


"Kenang-kenangan buat kelulusan." Ardan cekikikan sambil merangkul Sultan. Sultan sambut dengan menyikut perut Ardan.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruang kerja Ardan, mereka langsung menghentikan obrolan mereka.


Masuklah seorang karyawan wanita setelah Ardan mempersilahkannya masuk. Wanita itu menyerahkan dokumen yang harus Ardan tandatangani.


Dia sedikit salah tingkah melihat dua pria dihadapannya. Ardan melayangkan senyum menawannya pada karyawan wanita tersebut. Sebal Sultan melihat Ardan yang suka umbar-umbar senyum tak kenal waktu itu.


Kedua wanita yang masih terpaku ditempatnya, langsung kabur melihat tatapan tajam Sultan yang tajam ke arah mereka.


"Duh... Gara-gara begini nih, kamu jadi jomblo terus." ucap Ardan sambil menahan sakit kakinya yang diinjak Sultan.


"Kamu sendirinya juga jomblo." balas Sultan kesal.


"Aku jadi heran, apa yang Lena sukai dari dirimu ini, ya?" tanya Ardan bingung sambil memegang dagunya.


"Kenapa jadi ngomongin Lena lagi sih?" Sultan memutar bola matanya malas.


"Lena itu tulus suka sama kamu tahu." sungut Ardan sebal.


"Sobat, sudah ada perempuan yang tulus mencintaimu didepan mata, kenapa kamu malah menghindarinya?"


"Jangan jadi mak comblang lagi. Aku nggak suka dipaksa-paksa kayak waktu SMA dulu." ucap Sultan langsung mengancam Ardan. Auranya terlihat menyeramkan.

__ADS_1


"T-tapi kan... " ucapan Ardan yang takut-takut langsung dipotong Sultan.


"Nggak! Aku sudah bilang kalau hanya menganggap Lena sebagai adik. Nggak lebih. Lagipula dia sudah dijodohkan orangtuanya." ucap Sultan langsung keintinya, sambil menyeruput kopi miliknya.


"Apa? Beneran? Sama siapa?" kaget Ardan. Dia baru mengetahuinya sekarang.


"Sama anak atasan ayahnya." jawab Sultan santai.


"Kenapa Cintia nggak kasih tahu aku, ya?"


"Kenapa kamu pengen tahu banget sih tentang Lena?" tanya Sultan saking geregetnya.


"Kan sudah kubilang kalau dia suka sama kamu." jawab Ardan sengit.


"Kan sudah kubilang aku cuman menganggapnya adik aja." balas Sultan tak kalah sengitnya.


Mangkel Ardan melihat Sultan yang biasa-biasa saja mengatakan hal itu. Seolah-olah tak ada perasaannya sama sekali.


Tanpa bisa ditahannya lagi, mulutnya pun langsung berceramah ria.


"Hidup itu seperti roller coaster, sobat. Saat kita menaikinya, kita akan merasa tenang-tenang saja. Tapi, saat bergerak kita jadi takut akan seperti apa jalurnya membawa kita. Saat berada ditanjakan, kita akan terbuai merasa diawang-awang. Tapi, saat turunan, kita jadi panik luar biasa. Takut-takut dengan apa yang akan terjadi didepan mata nantinya." ucap Ardan panjang lebar.


Sultan hanya diam mendengarkan dengan seksama.


"Yang aku takutkan, kamu akan menyesal karena terlambat menyadari perasaanmu nantinya." ucap Ardan dengan pandangan sendu.


Mereka terdiam beberapa saat.


"Jangan ngegombal, aku masih normal." ucap Sultan pura-pura meledek.


"Hei, ini nasehat, bukan gombalan." mangkel Ardan mendengar Sultan yang tiba-tiba mengejeknya. Padahal dia sudah sangat serius mengatakan semua hal itu tadi.


"Daripada ngurusin masalah cinta-cintaan. Tuh, urus sendiri kerjaanmu sana." tunjuk Sultan pada dokumen yang menumpuk dimeja kerja Ardan.


"Dibantu, ya... Dibantu, ya... Kamu kan jenius." rayu Ardan.


"Ogah!" tolak Sultan kesal.

__ADS_1


Ardan berusaha memeluk Sultan supaya tidak kabur. Tapi Sultan yang tahu, langsung kabur secepat kilat dari ruang kerja sang direktur.


__ADS_2