Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Canggung


__ADS_3

Setelah acara pernikahan selesai, Lena, Bram dan orangtua mereka berkumpul dirumah Lena. Karena mulai hari itu juga, Lena akan pindah kekediaman suami dan mertuanya. Jadi dia harus mengemasi barang-barang miliknya.


Orangtua Lena memeluk Lena dengan haru karena mulai hari itu mereka harus melepas anak semata wayang mereka kepada menantu dan besan mereka.


"Jangan lupakan ayah dan ibu ya, nak. Yang sehat, makan yang banyak, ya." ucap Bu Mila sambil menangis haru.


"Iya, bu. Pasti." sahut Lena sesegukan.


"Itu pasti, bu. Aku kan hobi makan." sahut Lena dalam hati.


"Menurut ya sama suami dan mertuamu. Sering-sering jenguk ayah sama ibu ya, nak." ucap Pak Hadi sambil menangis haru juga.


"Iya, yah." sahut Lena patuh.


"Nak Bram, kamu harus menjaga dan membahagiakan anak kami ini, ya. Dia sekarang sudah menjadi tanggung jawabmu." ucap Pak Hadi sambil memegang pundak Bram.


"Iya, yah. Aku janji akan menjaga dan membahagiakannya." ucap Bram pada Pak Hadi yang sekarang sudah menjadi ayahnya juga.


"Tenang saja, pak. Anak kami ini tak akan macam-macam selama ada saya." ucap Pak Ibrahim. Sedangkan Bu Dona hanya diam saja.


Selesai melepas haru, orangtua Lena mengantar Lena, Bram dan besan mereka keluar rumah. Saat keluar dari rumah, terlihat para tetangga sudah menunggu mereka didepan rumah. Para tetangga itu juga ingin melepas kepergian Lena pada keluarga barunya. Mereka juga memberi nasihat yang sama seperti orangtua Lena juga. Sebagian dari mereka bahkan masih tak menyangka, anak tetangga mereka menikah dengan anak orang kaya.


"Kak Sultan kok nggak ada?" batin Lena sambil matanya mencari sosok Sultan diantara kerumunan tetangganya. Tapi, tak ada Sultan disana, yang ada hanya ibu dan adik-adiknya saja.


"Ayo, Len. Kita pergi." ucap Bram pada Lena. Orangtua Bram sudah masuk duluan kedalam mobil.


"Iya." sahut Lena dengan perasaan kecewa karena tak bisa melihat Sultan dihari kepindahannya.


Orangtua Lena dan para tetangga heboh melepas kepergian mobil pengantin baru itu.


Sementara itu, Sultan dari tadi hanya mengintip dari balik jendela kamarnya, sampai mobil Lena dan keluarga barunya melaju pergi sampai tak terlihat lagi.


"Bocah itu... Kupikir dia sudah melupakanku, ternyata masih belum." batin Sultan kesal sambil bersandar didinding kamarnya dengan melipat kedua tangannya didada.


"Seharusnya aku nggak bersikap ramah kepadanya." ucapnya lalu berjalan keluar dari kamar.


"Loh, kakak disini? Kenapa nggak ikut kami mengantar Kak Lena tadi?" tanya Angga yang baru masuk rumah dan berpapasan dengan Sultan ditangga.


"Kakak tadi sakit perut. Duh, perutku..." ucap Sultan berbohong sambil meringis memegangi perutnya.


"Oh, gitu?" ucap Angga sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


...***...

__ADS_1


Lena dan keluarga barunya sudah sampai dirumah mereka. Mereka masuk kerumah mewah itu bersama-sama dan disambut dengan penyambutan yang meriah oleh para pelayan yang sopan dan ramah.


Bram meminta ijin pada orangtuanya untuk langsung beristirahat dikamar mereka. Lena mengikuti dibelakang Bram berjalan kearah kamar mereka. Dia menolak bantuan saat pelayan ingin membantunya membawakan kopernya.


Tak kusangka, aku sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Entah kenapa, aku masih saja takjub melihat rumah ini. Padahal Kak Bram sudah berkali-kali mengajakku berkunjung kesini.


Banyak hal yang tak disangka-sangka terjadi hari ini. Dari ibu yang tak mabuk saat naik mobil. Mungkin karena terlalu bahagia aku akhirnya menikah, ibu jadi amnesia dengan mabuk kendaraannya. Lalu, si tomboy Rosi yang tiba-tiba berpenampilan feminim. Sampai aku yang jatuh pingsan sampai-sampai bikin heboh semua orang. Dan tahu-tahu aku sudah jadi anggota keluarga ini saja.


Mereka sudah sampai dikamar, Lena takjub melihat kamar itu dan isinya. Lalu dia duduk disofa dikamar itu untuk menghilangkan penatnya. Bram juga ikut duduk disampingnya. Lena bingung melihat Bram yang menatapnya dengan lekat.


"Kenapa, kak?" tanya Lena.


"Apa kamu masih belum bisa melupakan dia?" tanya Bram tiba-tiba.


"Maksud kakak apa?" tanya balik Lena dengan hati-hati.


"Aku tahu kalau kamu pingsan tadi gara-gara Sultan, kan?"


Lena bergeming, terdiam ditempatnya. Karena dirinya ditatap Bram dengan begitu serius.


"M-maaf, kak. Maafkan aku. Sebenarnya aku sudah berusaha melupakannya. Tapi, tapi... aku... " ucap Lena tertunduk dengan wajah yang terlihat sedih, tiba-tiba dia malah menangis. Bram terdiam melihatnya.


"Sebenarnya hatiku masih sakit saat tahu kamu masih menyukainya. Tapi, hatiku lebih sakit lagi saat melihatmu menangis seperti ini karena orang itu." batin Bram. Hatinya terasa nyeri melihat Lena yang menangis didepan matanya.


...***...


"I-iya, yah."


"Duh, agak canggung. Biasanya aku selalu memanggil Pak Ibrahim, tapi sekarang malah jadi ayah." batin Lena gugup.


Lena jadi semakin gugup lagi karena Bu Dona yang mempelototinya dengan wajah tak senang. Tapi Lena pura-pura tak melihat dan mengacuhkannya.


"Aku jadi kangen ayah dan ibu." batin Lena galau.


"Jadi, apa kalian sudah memutuskan akan pergi bulan madu kemana?"


"Uhuk, uhuk!" Lena tersedak saking kagetnya mendengar pertanyaan Pak Ibrahim yang tiba-tiba. Bram langsung memberikan air minum untuknya.


Sedangkan Bu Dona kaget dalam diam sampai sendoknya jatuh ke lantai karena kaget juga mendengar pertanyaan suaminya.


"Pelan-pelan aja, Len." ucap Bram khawatir melihat Lena yang minum dengan terburu-buru.


"Gimana? Sudah nggak papa?"

__ADS_1


"I-iya, kak." jawab Lena tersenyum kikuk setelah selesai minum.


"Astaga... Kaget banget aku." batin Lena, wajahnya terlihat sedikit memerah.


"Untuk bulan madu, saat ini masih belum dulu, yah. Soalnya, Lena kan masih harus kuliah. Apalagi aku harus membantu ayah mengurus perusahaan juga kan?" ucap Bram mencoba membuat ayahnya maklum.


"Benar juga. Tapi kalian harus memikirkannya, ya." ucap Pak Ibrahim. Bram menyahut mengiyakan.


Lena jadi kagum dengan Bram yang selalu menyelamatkannya disituasi yang seperti sekarang ini. Bram yang menyadari dirinya ditatap oleh Lena, langsung tersenyum kearah istrinya itu.


...***...


Keesokan harinya, dikampus...


Grace dan yang lainnya sudah tak sabar menunggu kedatangan Lena. Dan orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang juga bersama suaminya. Mereka langsung menyambut pasangan pengantin baru itu dengan semangat. Dan seperti biasa, Bram hanya akan mengobrol sebentar dengan mereka karena ada kerjaan dikantornya. Teman-teman Lena langsung mengerubunginya.


"Jadi, bagaimana?" tanya Grace sambil senyam-senyum. Yang lain ikut-ikutan menatap Lena.


"Apanya?" tanya Lena bingung melihat tingkah teman-temannya.


"Memangnya kalian nggak ngapa-ngapain semalam?" tanya Grace sok polos.


"A-apa-apaan sih, Grace?" ucap Lena kaget, wajahnya memerah malu karena temannya itu suka bertanya tanpa kenal tempat dan waktu.


"Loh, terus?" tanya Grace lagi.


"Ya... Cuma tidur aja, kami nggak ngapa-ngapain kok. Berhenti nanya yang nggak-nggak." ucap Lena mangkel.


"Jangan gitu dong, Len... Kami kan juga pengen gendong dedek bayi." Anisa jadi ikut-ikutan sambil memeluk Lena.


"Kami sudah menyerah sama keponakan online yang cuma bisa dilihat nggak bisa dipegang." ucap Grace sambil memeluk Lena juga.


"Bikin sendiri sana. Kenapa jadi maksa-maksa aku sih?" mangkel Lena.


"Kami ini kan jones, Len... " ucap Emi.


"Huh, Lena nggak asyik." gerutu Rosi. Dia dan Emi ikut memeluk Lena juga. Lena susah payah berusaha lepas dari pelukan teman-temannya.


Duh, kalian ini... Apa kalian tak mengerti? Aku kan harus menyiapkan hatiku juga. Nggak asal main sosor aja. Tidur seranjang sama Kak Bram aja aku canggung banget, sampai-sampai leherku sakit gara-gara salah bantal.


Aku tidur sambil membelakangi Kak Bram karena tak berani berhadapan langsung kearahnya. Akibatnya, aku tak bisa tidur selama beberapa jam saking terlalu gelisahnya. Apa kalian tak lihat kalau aku kelelahan karena kurang tidur?


Aku bisa saja pindah tidur kesofa, tapi aku takut kalau-kalau membuat Kak Bram tersinggung nantinya. Saat bangun tadi pagipun, aku kaget banget melihat Kak Bram yang tidur disebelahku. Hampir saja aku memukulnya dengan bantal, tapi aku baru teringat kalau aku sudah menikah dengannya kemarin.

__ADS_1


Hhh... Aku nggak mungkin menceritakan semua itu pada kalian. Soalnya ini kan masalah pribadi.


Lena menghela nafas lesu. Dibiarkannya teman-temannya memeluknya karena sudah lelah meronta melepas pelukan mereka.


__ADS_2