Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Semangka


__ADS_3

"Lena, apa seperti ini nggak apa-apa?


"Kenapa?"


"Maksudku begini, kalian sudah tahu kan berita tentang Wini itu? Kurasa nggak baik kalau kamu terlihat terlalu dekat dengannya. Kamu tadi juga dengar kan orang-orang disana tadi malah jadi mencibirmu juga karena dekat-dekat dengannya." ucap Alika menjelaskan.


"Kenapa? Apa yang salah? Walaupun berita tentangnya itu benar, pasti bukan dia yang salah karena dia sudah di jebak sama pacarnya yang nggak bertanggung jawab. Aku yakin, dia juga pasti nggak ingin seperti itu. Tapi, mau bagaimana lagi, dia tak berdaya. Dan walaupun aku sudah tahu berita begitu tentangnya, memangnya salah kalau aku ingin berteman dengannya? Lagipula, dia kelihatannya orang yang baik kok." sangkal Lena panjang lebar.


"Aku berkata begitu, demi kebaikanmu... " ucapan Alika terputus karena dihentikan oleh Anisa dan yang lain yang mengingatkannya untuk maklum karena Lena yang sedang hamil, pastilah emosinya tak stabil.


"Tapi..." Alika tak melanjutkan kata-katanya lagi.


"Ya, baguslah. Terserah kamu saja. Itu sih urusanmu." batin Alika sewot padahal dalam hatinya tersenyum senang.


"Aku pura-pura menegurmu hanya untuk menunjukkan kalau aku ada rasa peduli saja kepadamu. Walaupun terpaksa, apa boleh buat. Tapi, kesal juga kalau ada orang yang membantahku begini, sudah gitu ngotot lagi." batin Alika kesal.


"Lihat, disana ada Cintia sama teman-temannya. Oh, ada Maya juga. Eh? Kalau nggak salah itu Daniel, kan ya?" ucap Emi sambil menyipitkan matanya.


"Cintia kelihatannya akrab dengan Daniel? Padahal yang kutahu Cintia nggak begitu suka dengan orang yang penampilannya berantakan." ucap Lena berpikir.


"Dia kan orangnya suka nggak terduga." celetuk Grace.

__ADS_1


"Pft, benar, memang nggak terduga. Sudah Lena yang bertingkah aneh gara-gara hamil dan malah dekat dengan Wini, bahkan sampai anak orang kaya yang terpandang itupun jadi ikut aneh juga karena dekat-dekat dengan pria aneh itu." batin Alika tersenyum meremehkan.


Apa istimewanya pria itu sampai Cintia mau dekat dengannya? Apa seleranya sudah jatuh sampai tak ingat lagi dengan posisinya sendiri?


Tapi, apa peduliku? Dua orang ini aku benar-benar nggak suka, mereka berdua sama-sama anehnya. Suatu hari nanti aku pasti akan melihat mereka hancur tak berdaya.


Aku ingin sekali melihat si pelakor tak tahu diri ini (Lena) dan perempuan sombong sok berkuasa itu (Cintia) hancur di depan mataku sampai mereka tak bisa lagi mengangkat wajah angkuh mereka untuk selama-lamanya.


"Aku sangat tak sabar menantikan hal itu tiba." batin Alika berapi-api, senyum tipisnya terlihat samar dan mencurigakan.


...***...


"Sayang... " panggil Lena merengek tak sabaran, perlahan-lahan Bram mulai terbangun.


"Ngh? Ada apa?" tanya Bram, bangkit dari tidurnya, mengucek-ngucek matanya dan mengumpulkan nyawanya.


"Aku mau makan semangka, kak. Semangka, semangka." rengek Lena dengan wajah berbinar-binar seperti anak kecil.


"Hm...?" Bram melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 2 malam.


"Oke, ayo." sahut Bram mengiyakan. Lena terlihat sangat senang.

__ADS_1


Dari keluar kamar sampai berjalan ke dapur, Lena selalu bergelanyut manja dilengannya Bram. Bram tersenyum gemas melihat Lena yang menyenandungkan lagu semangka ciptaannya sendiri itu dengan senang seperti anak kecil saja.


Saat keinginan ngidam Lena muncul, Lena suka merengek tak memandang jam dan waktu. Saat dia ngidam di jam malam begini, aku jadi merasa seperti ingin makan sahur saja.


Dan dia meminta hanya aku yang harus menyiapkan segala keinginannya. Dia tak akan mau kalau orangtuaku atau pelayan yang melakukannya. Pft, lucu juga.


Kalau keinginannya tak dituruti, dia bakalan ngambek. Pernah waktu itu aku lambat menuruti keinginannya, dia ngambek sengambek-ngambeknya sampai aku kelimpungan menghadapinya. Tapi saat aku sudah selesai menyiapkan makanan untuknya, dia malah berucap dengan polosnya kalau dia tak menginginkannya lagi dan jadi aku sendiri yang malah memakannya.


Dasar, bumil memang seperti ini ya kelakuannya? Tingkahnya selalu berlebihan dan seperti anak kecil saja. Untung saja semua yang diinginkannya tersedia banyak stok di dapur, jadi aku tak perlu keluar rumah malam-malam seperti cerita teman-temanku saat istri mereka ngidam dulu.


"Semangkanya sudah siap." ucap Bram, meletakkan piring berisi semangka yang sudah dipotong-potongnya kehadapan Lena.


"Uwah..." wajah Lena terlihat berbinar-binar senang dan langsung mengambil sepotong semangka dan memakannya.


"Makan semangka saja dia bisa sesenang ini? Lucunya..." batin Bram tersenyum, melihat Lena yang memakan semangka dengan lahapnya.


"Sudah."


"Hm? Sudah? Ya, tentu saja." sahut Bram tersenyum maklum melihat Lena yang hanya memakan sepotong semangka saja dan masih menyisakan banyak semangka di piring.


"Aku sudah bisa menduganya." batin Bram.

__ADS_1


__ADS_2