Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Ternyata Posesif Juga


__ADS_3

"Wah, artis yang belakangan ini naik daun itu populer juga, ya." ucap Ardan sambil memegangi dagunya. Tumben-tumbennya dia terlihat takjub melihat para gadis dan ibu-ibu yang mengerumuni Daniel, seperti semut mengerubungi gula.


"Ini sangat bagus. Kita harus bisa merekrutnya untuk jadi model memperkenalkan produk-produk kita." ucap Ardan bersemangat sambil menggerakkan tangannya seperti gerakan mencuci tangan.


Entah kenapa jiwa bisnisnya tiba-tiba keluar. Sultan mengangguk senang mendengarnya.


"Baiklah, aku akan mencatat itu." ucap Sultan sambil mengetik di aplikasi memo dihandphonenya. Sultan sangat senang kalau melihat Ardan jadi serius dengan pekerjaannya.


"Loh, itu Cintia dengan teman-temannya kan? Sedang apa mereka?" tanya Sultan melihat Cintia yang terlihat kesal diseret-seret oleh Sonia dan Soraya.


"Ohoho... Ini menarik." ucap Ardan tersenyum usil melihat Cintia dan si kembar mengarah pada Daniel.


"Aku harus merekamnya buat jadi pusaka kenang-kenangan keluarga." ucapnya sambil merekam kejadian itu dihandphonenya.


Soalnya ini pertama kalinya di melihat Cintia, adiknya yang tak begitu tertarik dengan urusan orang lain itu (kecuali dengan Lena), malah ikut juga mengerubungi Daniel. Sultan yang disampingnya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ardan.


"Si kembar tapi beda itu boleh juga idenya menyeret Cintia." celetuk Ardan.


"Hah? Mereka itu kembar?" tanya Sultan tak percaya sambil menunjuk Sonia dan Soraya.


Ardan mengangguk mengiyakan. Karena asyik merekam, dia tak melihat Sultan yang melongo tak percaya karena baru mengetahui kalau Sonia dan Soraya itu kembar.


Sementara itu, setelah puas berfoto-foto di tempat lain, Lena dan Emi kembali ke aula utama acara itu.


"Duh, Kak Bram dimana, ya?" batin Lena celingukan. Dirinya kebingungan mencari Bram di antara kerumunan orang.


"Mereka yang disana kenapa, ya?" tanya Emi heran melihat kerumunan para gadis dan ibu-ibu.


"Astaga! Ada Daniel, Len...!" teriak Emi histeris.


"Daniel? Daniel yang itu kan?" tanya Lena tak percaya karena dia juga salah satu penggemar Daniel.


Emi mengangguk mengiyakan dengan semangat. Mereka berdua langsung lari ke arah kerumunan itu. Tapi sayangnya, Lena tertinggal dari Emi yang berlari lebih cepat darinya saking semangatnya melihat sang idola.


"Emi, tunggu aku." teriak Lena, tapi Emi tak mendengarnya.


"Kecil-kecil begitu Emi cepat juga larinya." ucapnya takjub.


"Duh, aku susah lari gara-gara high heels ini." batin Lena yang terlihat kesusahan berlari.


Lena mendadak panik, tiba-tiba dia tersandung karena high heelsnya selip dan mengakibatkan tubuhnya limbung ke depan.

__ADS_1


"Awas!" teriak seseorang seraya sigap menangkap tubuh Lena.


Tubuh Lena gemetaran dengan jantung yang dag dig dugan, untung saja ada orang yang menolongnya, kalau tidak dia akan mencium lantai dengan gaya. Tapi, entah kenapa mereka terlihat seperti berpelukan.


"Astaga!" batin Lena panik karena menyadari dia tak sengaja memeluk seorang pria.


"Hah? Kak Sultan?" batin Lena kaget, saat mendongak dia mendapati Sultanlah yang ternyata menolongnya.


Bram yang berdiri tak jauh dari mereka, kaget bukan main sampai matanya membulat sempurna menyaksikan pemandangan didepan matanya.


Sedangkan Lena sekarang terdiam membeku. Ada perasaan takjub diantara perasaan panik dan kagetnya karena ini pertama kalinya dia bisa begitu sangat dekat dengan Sultan.


"Maaf, Len." ucap Sultan serba salah. Gara-gara refleks dia jadi lancang menyentuh bahkan memeluk Lena yang sudah menjadi istri orang.


Saat Sultan ingin melepaskan pelukan, Bram yang sudah ada disamping mereka langsung mencengkeram kasar tangan Sultan dan menarik Lena kesampingnya. Sultan terlihat kaget dengan perlakuan Bram, tapi pada akhirnya dia maklum karena tahu kalau dia yang salah.


"K-Kak Bram..." Lena memegang lengan Bram, berusaha menenangkan Bram yang terlihat emosi.


"Maaf, saya tadi hanya ingin menolong Lena yang hampir terjatuh. Tak ada maksud lain." ucap Sultan apa adanya.


Walaupun Sultan berkata jujur, Bram masih saja terlihat emosi. Perlahan-lahan tangannya yang mencengkeram tangan Sultan dilepasnya karena mendengar Lena yang gelisah menenangkannya, apalagi orang-orang disana juga melihat ke arah mereka. Ardan yang juga ada disana terdiam melihat mereka sambil tangannya menutup mulutnya.


"Inilah yang aku takutkan. Pantas saja firasatku agak aneh dari tadi, makanya aku berencana tak ikut ke acara ini. Tapi, Ardan malah memaksaku." batin Sultan. Dia berlalu pergi dari sana bersama Ardan setelah sekali lagi meminta maaf pada Bram dan Lena.


"Gimana nggak cemburu, istrinya dipegang sama aku." batin Sultan kesal.


"Hhh... Dasar. Kenapa sejak kecil Lena selalu kebiasaan suka kesandung sih?" batinnya lagi.


"Hei, kamu mau kemana?" tanya Ardan bingung karena Sultan hanya diam dan mengacuhkannya.


"Ke tempat yang nggak ada kamunya. Jangan ikut." ucap Sultan ngambek. Walaupun dimarahi Sultan, Ardan tetap mengikutinya.


Entah kenapa, tak sengaja Ardan menengok ke belakang dan melihat Lena dengan wajah cemberut melihat kearahnya. Langsung terlintas ide usil dipikirannya. Dipegangnya bahu Sultan sambil tersenyum usil ke arah Lena.


"Ih, Kak Ardan apa-apaan sih?" batin Lena kesal.


"Kenapa aku selalu kalah saing dengan Kak Ardan? Untung saja Kak Sultan nggak melenceng. Kak Sultan memang nggak akan begitu sih." batinnya lagi, tanpa sadar kalau Bram yang disampingnya melihatnya.


"Kamu tadi kenapa bisa jatuh,Len?" tanya Bram mengalihkan perhatian Lena.


"Itu, kak... Aku sama Emi mau foto bareng Daniel. Tapi, tiba-tiba high heelsku selip. Jadinya ya gitu, deh." ucap Lena apa adanya.

__ADS_1


"Mm... Kak. Aku boleh nggak kesana berfoto sama Daniel?" tanya Lena polos tanpa menyadari kalau Bram masih cemburu.


"Nggak. Aku nggak akan mengijinkan. Kamu sudah terlalu lama foto-fotonya di tempat lain tadi." tolak Bram.


Dipegangnya erat tangan Lena dan berjalan pergi ke tempat lain. Lena hanya diam dan menurut saja dengan perkataan Bram.


"Tadi kenapa, Bram?" tanya Bu Dona cemas, takut-takut kalau ada rumor lagi tentang menantunya nantinya. Pak Ibrahim juga terlihat sangat cemas.


"Nggak papa, bu. Cuma salah paham aja." jawab Bram dengan senyum dipaksakan sambil tangannya semakin erat menggenggam tangan Lena.


"Duh, Kak Bram ternyata posesif juga." batin Lena sambil menelan ludah.


Tak jauh dari mereka, Alika menyaksikan semuanya dari tempatnya berdiri.


"Hihi... Kebetulan. Tanpa aku yang melakukannya, dia sendiri yang malah membuat masalah. Kalau begitu, aku hanya perlu menambah bumbunya saja." batin Alika sambil tangannya menutupi bibirnya yang menyeringai.


Wajahnya yang tadi seram mendadak berubah jadi tenang saat ada seseorang yang menyapanya. Dia mengobrol bersama perempuan itu dengan ramahnya.


"Tunggulah, Lena. Pasti akan ada waktunya. Aku akan dengan sabar menunggu hari itu tiba." batinnya licik tapi wajahnya terlihat masih tenang dengan senyum palsunya yang mengembang indah diwajahnya yang menawan.


Sementara itu...


"Ngapain kamu?" tanya Sultan kesal dan risih melihat tangan Ardan yang memegangi bahunya.


"Nggak. Nggak papa." jawab Ardan santai dan tersenyum tak jelas sambil menepuk-nepuk bahu Sultan.


...***...


"Kak Bram, Kak Bram... Aku mau ke toilet." bisik Lena gelisah pada Bram yang sedang mengobrol dengan ayahnya dan kolega bisnis mereka.


"Ya sudah, aku akan menemanimu." ucap Bram.


"Nggak usah, kak. Aku bisa sendiri." tolak Lena.


Bram terlihat agak kesal. Tapi dia tak bisa begitu saja meninggalkan ayahnya dan kolega bisnis mereka. Akhirnya, Bram mengijinkannya dan melepas genggamannya pada tangan Lena.


Bram terlihat sangat khawatir, matanya menyisir mencari sosok saingannya, Sultan, di antara banyak orang. Perasaannya langsung lega karena melihat Lena yang benar-benar pergi ke arah toilet dan Sultan terlihat berada jauh berlawanan arah dengan tujuan Lena.


"Fuh... Lega." ucap Lena.


"Kak Bram posesif banget. Dia menggenggam tanganku terus-terusan. Aku sampai malu, untung orang-orang disana maklum karena kami suami istri. Jadinya aku mengirim pesan ke Emi buat nggak dekatin aku lagi, supaya nggak bikin Kak Bram makin kesal." batin Lena sambil menghela nafasnya, dia duduk di kloset duduk.

__ADS_1


Tiba-tiba, telinga Lena mendengar suara beberapa orang masuk ke toilet itu. Di depan cermin wastafel, kedua perempuan yang baru masuk toilet itu mengobrol dengan begitu serunya. Sampai Lena kaget, kalau mereka membicarakan dirinya dalam obrolan mereka. Membicarakan yang tidak baik tentangnya.


"Apa? K-kenapa mereka bicara begitu? Kenapa ada rumor begitu tentangku?" batin Lena kalut, menguping dari dalam bilik toilet.


__ADS_2