Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Apa Benar Tidak Apa-Apa?


__ADS_3

"Emangnya aku ada bikin salah ya sama orang lain? Perasaan cuma sama Cintia aja sih." batin Lena sambil berpikir. Dia sudah keluar dari toilet dan menghampiri teman-temannya yang berkumpul dikantin.


"Lama banget kamu datangnya." ucap Anisa heran.


"Tadi sekalian ketoilet." ucap Lena.


"Lebih baik aku rahasiain aja kejadian ditoilet tadi." ucap Lena dalam hati.


"Kenapa? Kamu beneran nggak papa, Len?" tanya Grace cemas melihat Lena yang terdiam.


"Iya, nggak papa." jawab Lena tersenyum.


"Jadi, gimana ceritanya kalian kemarin? Apa terjadi sesuatu?" tanya Rosi tak sabar menagih penjelasan dari Lena dan Grace.


Lena dan Gracepun menceritakan semuanya. Dari Lena yang ditolak Sultan. Lalu Lena, Anisa dan Grace yang ditraktir Cintia dan kakaknya. Sampai Lena dan Grace yang bertangis-tangisan karena pertengkaran kecil mereka. Rosi dan Emi kaget mendengar cerita mereka, apalagi Anisa yang baru mengetahui kejadian selain mereka yang ditraktir Ardan.


"Begitu ya." ucap Rosi.


"Kamu beneran nggak papa, Len?" tanya Emi.


"Iya, beneran. Makanya dari kejadian kemarin, aku belajar untuk bisa mengikhlaskan semuanya." jawab Lena tenang. Teman-temannya menatapnya dengan sedih, entah mereka prihatin melihat Lena yang terpuruk karena cintanya atau harus senang karena Lena sudah membuka hati untuk menerima perjodohannya.


"Tapi, kalian bertiga nggak asyik. Masa nggak ngasih tahu kami kalau ditraktir sama kakaknya Cintia sih." ucap Rosi bersungut-sungut.


"Iya, kemarin kita pulang duluan sih." ucap Emi cemberut.


"Lagian kalau kalian ikut, emangnya mau duduk dimana?" tanya Grace.


"Dibagasi." jawab Emi asal.


"Dikap mobil." jawab Rosi lebih asal lagi.


"Emangnya kamu mau menghadang pasangan yang lagi berselingkuh?" tanya Grace mangkel mendengar jawaban asal dari Rosi.


Lena dan Anisa hanya tersenyum mendengar mereka.


"Itu Alika kan? Kenapa dia?" tanya Anisa tiba-tiba. Tak sengaja dirinya melihat Alika yang memperhatikan mereka dengan wajah yang merengut.


"Dia pasti kesal sama aku. Soalnya... Aku merebut Kak Bram darinya." ucap Lena sendu.


"Eh? Alika suka sama Kak Bram? Beneran?" tanya teman-temannya kaget.


"Iya, sama kayak aku juga, dia sudah lama menyukai Kak Bram. Tapi sayangnya, Kak Bram menganggapnya sebagai adik juga. Pasti dia kesal banget. Aku sudah jadi pelakor rupanya." ucap Len sedih.

__ADS_1


"Kamu nggak salah kok. Kalian kan dijodohin sama orangtua kalian." ucap Grace membenarkan.


"Iya, Len. Jangan ngomong kayak gitu dong." ucap Anisa. Rosi dan Emi pun mengatakan hal yang sama.


Lena jadi terharu karena teman-temannya selalu ada untuk mendukung dan menyemangatinya.


...***...


Saat ini, Lena sedang duduk dengan manis disamping Bram yang sedang mengemudi. Selesai kampus tadi Bram menjemputnya. Walaupun Lena terlihat duduk dengan tenang, sebenarnya dirinya sedang was-was. Karena ada seseorang yang duduk bersama mereka dibangku belakang. Orang itu adalah Alika. Alika bisa ikut dengan mereka karena tak ada yang menjemputnya.


"Kak, aku boleh ikut kerumah kakak juga nggak? Soalnya aku kangen sama tante." ucap Alika akrab.


"Iya, boleh." sahut Bram tersenyum ramah.


"Mereka sudah baikan, ya?" tanya Lena dalam hati. Dari kaca spion pengemudi, Lena bisa melihat Alika yang duduk dengan tenang dibelakangnya. Melihat ketenangan Alika, entah kenapa ada perasaan tak nyaman yang menghampiri Lena. Sepanjang perjalanan Lena gelisah dibuatnya, walaupun tak diperlihatkan jelas oleh Lena.


Mereka sudah sampai dikediaman keluarga Bram. Lena takjub melihat rumah yang ada dihadapannya. Rumah yang begitu besar dan mewah dengan halaman luas yang ditata dengan sangat apik membuat Lena terpana melihatnya. Selama ini dia tak pernah berkunjung kerumah itu. Lena masih asyik memperhatikan rumah itu, tak sadar kalau Alika yang disampingnya melihatnya dengan wajah yang merengut.


"Ayo masuk." ucap Bram pada Lena dan Alika saat pintu rumah yang besar itu sudah dibuka oleh seorang pembantu paruh baya.


"Tante... " teriak Alika riang menghampiri Bu Dona.


"Alika?" kaget Bu Dona, dipeluknya Alika dengan sayang.


Lena mengulurkan tangannya untuk salim pada Bu Dona, tapi Bu Dona mengacuhkannya dan malah mengajak Alika keruang keluarga. Lena jadi bingung dibuatnya.


"Maafin ibuku ya, Len." ucap Bram serba salah.


"Nggak papa, kak." ucap Lena sambil tersenyum yang dibuat-buat.


"Apa ini sudah benar? Kenapa lagi-lagi aku ragu?" batin Lena bimbang.


"Menurutmu kita harus membuat pesta pernikahan yang seperti apa?" tanya Bram pada Lena yang duduk disampingnya. Saat ini, mereka sudah duduk disofa diruang keluarga sambil melihat gambar-gambar yang bersangkutan dengan pesta pernikahan untuk mereka nantinya.


"Terserah kakak saja." ucap Lena bingung.


"Nggak bisa begitu, dong. Kita harus bikin pernikahan kita berkesan. Terlebih lagi buat kamu." ucap Bram.


"Atau kamu mau pilih-pilih baju pengantin buatmu dulu?" tanya Bram.


Lena terlihat berpikir sambil membolak-balik buku gambar baju-baju pernikahan yang terlihat mewah itu ditangannya.


"Duh... Semuanya bagus-bagus, kak. Aku jadi bingung milihnya." ucap Lena kebingungan.

__ADS_1


"Ha, ha... Kamu ini... " ucap Bram sambil tertawa.


"Maaf ya, kak. Habisnya aku nggak kepikiran bakalan nikah secepat ini." sesal Lena, wajahnya terlihat malu.


"Sudah tahu mau nikah, masa nggak kepikiran apa-apa sih?" ucap Bu Dona sinis. Lena terdiam.


"Ibu!" tegur Bram.


"Kalau Alika, kalau suatu hari Alika dilamar seseorang, pasti pestanya meriah kan?" tanya Bu Dona pada Alika, tak dihiraukannya teguran Bram. Dia dan Alika juga duduk bersama Bram dan Lena disofa yang lainnya.


"Kalau Alika sih, pastinya ingin pesta pernikahan harus semewah... mungkin. Seperti dinegeri dongeng gitu, tante." jawab Alika riang.


"Wah... Bagus banget. Sudah pasti untuk Alika yang cantik ini semuanya harus istimewa." ucap Bu Dona memuji Alika sambil mengelus bahu Alika yang duduk disampingnya.


Lena hanya terdiam melihat mereka. Biasanya, kalau ada orang yang menyinggungnya, dia pasti akan melawan balik. Tapi, orang yang menyindirnya adalah ibunya Bram dan Alika, dia hanya bisa menahannya. Terlebih lagi pada Alika, dia jadi serba salah karena sudah merebut Bram darinya.


"Apa benar nggak papa, ya?" batin Lena galau.


Tanpa sadar matanya melihat tumpukan contoh undangan diatas meja. Diambilnya beberapa contoh undangan itu. Entah kenapa ada satu contoh undangan yang membuatnya terkaget-kaget melihatnya.


"Loh, kak. Kok ini ada gambar kodoknya?" tanya Lena kebingungan melihat contoh undangan yang ada gambar kodok-kodok imutnya.


"Bukannya kamu suka sama kodok? Waktu itu kamu pakai piyama bergambar kodok kan?" tanya Bram senyum-senyum.


"B-bukan begini juga, kak. Kalau undangannya kayak gini jadi kayak undangan ulang tahun anak kecil, dong." protes Lena, wajahnya seketikamemerah karena malu. Bram malah menertawakannya.


Bu Dona dan Alika tak suka melihat keakraban mereka. Terutama Alika, dia sudah dibakar api cemburu.


...***...


"Kakak nggak mau mampir dulu?" tanya Lena pada Bram yang berdiri disampingnya dihalaman rumah Lena.


"Nggak usah. Aku langsung pulang aja." ucap Bram.


"Oh, gitu. Hati-hati ya, kak." ucap Lena sambil melambaikan tangannya saat Bram masuk kedalam mobil. Mobil Bram sudah pergi, tapi Lena masih berdiri ditempatnya. Dipandangnya rumah diseberang sana.


"Apa iya sudah benar? Tapi, kenapa hati ini masih terasa nyeri?" batin Lena sambil memegang dadanya. Dipandangnya lagi rumah diseberang sana.


"Tidak apa-apa. Ini sudah keputusanku. Aku nggak boleh mengecewakan orangtuaku sama Kak Bram dan orangtuanya. Kuharap aku baik-baik saja. Semoga tidak terjadi apa-apa." batin Lena sambil berjalan masuk kerumahnya.


Keesokan harinya, dikampus...


"Apa-apaan ini? Siapa yang melakukan ini sama aku?" batin Lena kesal. Dirinya basah kuyup berdiri didalam bilik toilet, tangannya mengepal erat saking kesalnya.

__ADS_1


__ADS_2