
"Loh, kalian kenapa?" tanya Grace heran melihat tingkah dua orang didepannya.
"Jangan tanya-tanya." ucap Lena sebal sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
"Nggak usah ikut campur." sahut Anisa, wajahnya tertekuk sebal.
"Kenapa sih?" bingung Grace manyun.
Tak ada jawaban dari mereka berdua, hanya tatapan tajam mereka yang diarahkan pada Grace. Mereka kesal dengan sikap Grace yang pura-pura tak peka.
"Emi sama Rosi ada kelas, jadi nggak bisa kumpul bareng kita. Sayang banget." Grace ngomong pada diri sendiri.
"Hhh..." Anisa mendesah, terlihat dirinya memegang kepalanya yang pusing.
"Aku mau ke toilet dulu." pamit Anisa berdiri, meninggalkan Grace dan Lena.
"Anisa aneh ya hari ini? Pasti ada apa-apanya nih." Grace masih ngomong sendiri dengan senyum-senyum senang. Sepertinya sifat penasarannya yang usil itu bangkit lagi.
Lena hanya diam, tak mau menanggapi ucapan Grace.
Tak jauh, terlihat Cintia dkk memasuki area kantin kampus. Semua orang disana pangling melihat dirinya.
Tanpa sengaja Cintia dan Lena bertatapan.
Bukannya mencari tempat duduk yang jauh, Cintia malah memilih duduk didekat Lena. Seketika Lena dongkol dibuatnya.
"Mau apa, hah?" bisik Lena tajam.
Bisa Cintia rasakan kalau Lena menatapnya dengan tajam dari balik kacamata hitamnya.
"Jangan cari-cari masalah. Aku lagi capek." bisik Cintia tak kalah tajam. Wajahnya terlihat suntuk.
"Apa kamu bilang? Kamu duluan yang cari gara-gara." balas Lena tak terima.
"Kamu harusnya berterima kasih padaku. Kalau bukan karena aku yang bikin pembelaan, kita bakalan benar-benar diskors." ucap Cintia dengan tersenyum bangga, tapi bagi Lena senyumannya terlihat seperti meremehkan dirinya.
"Pembelaan? Bukannya waktu itu kamu kayak kelihatan ngeles, ya?" bantah Lena tak suka.
"Dengar, ya. Kalau kita ketahuan bikin masalah lagi, kita bakalan benar-benar diskors." bisik Cintia bete.
"Oh ya? Kalau begitu, jangan duduk disini. Pergi sana." bisik Lena mengusir Cintia. Bisa-bisanya Cintia malah menceramahinya.
"Terserah aku dong mau duduk dimana." tolak Cintia, masih tetap duduk ditempatnya.
Grace senyum-senyum gemes memperhatikan mereka berdua.
Disaat mereka ribut-ribut dengan tenang, pak dosen killer yang kebetulan lewat memperhatikan mereka. Seketika mereka langsung santun dan bergantian sungkem sama dosen tersebut.
__ADS_1
Kecewa Grace melihat Lena dan Cintia yang berubah jadi alim.
Masalah yang satu sudah selesai, muncul lagi masalah yang baru.
Anisa yang baru balik dari toilet, tiba-tiba berteriak memanggil nama Cintia. Cintia yang kaget, sontak menolehkan kepalanya dengan wajah yang terlihat bertanya-tanya.
"Cintia, tolong ya, tegur kakakmu itu." Anisa mencak-mencak.
"M-maksudnya?" tanya Cintia bingung, dirinya sambil berjalan mundur. Nyalinya tiba-tiba menciut, mengingat Anisa yang membanting kakaknya kemarin.
Lena dan Grace yang melihat mereka jadi tertarik untuk mendengarkan.
"Bilang sama kakakmu. Jangan ganggu-ganggu aku lagi..." ucap Anisa, wajahnya terlihat hampir menangis.
"Memangnya kenapa dengan kakak Cintia?" tanya Lena tak tahan. Sepertinya, dia tahu kalau Ardan membuat masalah.
"Hueee... Ceritanya panjang." jawab Anisa sambil menyeka air matanya.
Semenjak kejadian pembantingan Ardan kemarin, Ardan tak henti-hentinya menghantui Anisa. Ardan terus-terusan mengirimi pesan-pesan penuh gombalan dan rayuan ke Anisa. Sampai Anisa jengah dibuatnya. Seingat Anisa, dia tak pernah memberikan nomor handphonenya pada Ardan.
Walaupun nomornya sudah diblokir Anisa, tetap saja Ardan mengganggu dengan nomor-nomor baru yang tak terhitung jumlahnya. Sampai Anisa pusing memikirkan ada berapa handphone yang dimiliki si pemilik rayuan maut itu.
Namanya sultan mah bebas, Anisa.
Cintia yang mendengar curhatan merana Anisa, hanya bisa menutup wajahnya rapat-rapat. Malu dengan kelakuan kakaknya.
Sampai kadang-kadang, tanpa sadar Cintia suka menyebut kakaknya GGS. Ganteng Ganteng Str*s. Dan pastinya selalu dihadiahi jitakan dari kakaknya.
Dan sekarang, Cintia sedang was-was. Karena kakaknya tiba-tiba datang ke kampus mereka.
Seisi kantin kampus heboh. Tak menyangka kedatangan tamu tak diundang yang tampan dan terkenal super kaya. Para gadis berlomba-lomba mencari perhatiannya. Sampai-sampai kedua dayang Cintia ikut-ikutan juga.
Cintia jadi jengah melihatnya. Bisa-bisanya mereka suka pada kakaknya yang kelakuannya nggak ada bagus-bagusnya. Yang suka bikin malu keluarga.
Tiba-tiba semua orang disana kaget, tak menyangka Ardan malah menghampiri Anisa. Si hijab berbahaya yang begitu ditakuti banyak orang.
"Hai." sapa Ardan pada Anisa.
Anisa melotot tak senang kearahnya.
"Aduh, punggungku. Punggungku masih sakit. Kamu masih ingat sama janjimu kan?" Ardan pura-pura meringis untuk membuat Anisa merasa bersalah.
"J-jangan jadikan sakitmu sebagai alasan, ya." ucap Anisa galak. Ardan malah makin semangat menggodanya.
Anisa kaget, Ardan tiba-tiba berlutut didepannya. Dan langsung melancarkan aksinya, berpuisi ria.
Alangkah indah sang bunga
__ADS_1
Kuingin memetik dan menaruhnya di vas kaca
Untuk kusimpan dimuseum cinta.
Loh? Loh? Loh?
Lena yang melihat mereka, terkaget-kaget mendengar Ardan yang membacakan puisi yang mirip dengan yang disimpannya. Sampai tak sadar kacamata hitamnya melorot.
Grace yang disamping Lena kegirangan dan mengabadikan peristiwa itu dihandphonenya.
Sedangkan Cintia, wajahnya sudah merah padam. Tak sanggup melihat kelakuan orang didepannya.
"Siapapun tolong lempar aku ke antariksa... " batin Cintia berteriak saking malunya.
Anisa yang tersadar dari keterkejutannya, langsung kabur saat Ardan ingin menyelesaikan membaca puisinya. Ardan yang berusaha mengejar Anisa, menghentikan langkahnya saat melihat Lena mematung dengan wajah yang pucat pasi.
Dengan kerennya, Ardan mengedipkan sebelah matanya pada Lena. Dongkol Lena melihatnya.
...***...
"Apa-apaan itu tadi?" tanya Lena garang.
"Apanya?" tanya balik Ardan.
Setelah kejadian tadi, Lena langsung menyeret Ardan keluar dari kantin.
"Puisi tadi... Kenapa kakak masih ingat sama puisi Kak Sultan?" gereget Lena, tak ada takut-takutnya dia dengan orang terkenal didepannya.
"Ya jelas, dong. Yang buat itu kan aku." jawab Ardan dengan bangga sambil menunjuk dirinya sendiri.
"APA?" teriak Lena tak percaya.
Hiks
Pantas saja...
Seharusnya dari awal aku mengetahuinya. Mana mungkin puisi itu dibuat oleh Kak Sultan yang tak begitu mau mengenal wanita. Ibu saja tak percaya, kenapa aku bisa nggak sadar. Gara-gara ulah Kak Ardan, aku jadi dibutakan cinta.
Hiks
Kenapa kelakuan kakak beradik ini sama? Yang kakak mempermainkanku. Yang adik suka menggangguku. Apa mereka sangat senang melihat aku merana?
Lena terduduk lemas ditanah.
"Huaaa... Semuanya salah Kak Ardan." tangis Lena tiba-tiba.
"Loh, kok? Kenapa jadi aku yang salah?" tanya Ardan bingung. Kelabakan melihat Lena yang menangis didepannya.
__ADS_1
"Pokoknya salah Kak Ardan. Huaaa... " tangis Lena malah semakin menjadi-jadi.