Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Aku kenapa, ya?


__ADS_3

"Gimana?" tanya Bram dengan tak sabaran menghampiri Lena yang baru keluar dari kamar mandi.


"Negatif." jawab Lena geleng-geleng kepala sambil menunjukkan alat tes kehamilan ditangannya.


"Hhh... " Bram menghela nafasnya.


Dia merebahkan dirinya dengan kasar di tempat tidur. Lena jadi serba salah melihat Bram yang kecewa.


Sudah tiga bulan berlalu, tapi Lena tak kunjung juga menunjukkan tanda-tanda kalau dirinya hamil. Berkali-kali di cek lewat alat tes kehamilan tetap saja hasilnya negatif. Padahal selama ini, Lena terkadang suka pusing dan mual-mual, tapi setelah di periksa ternyata dirinya cuma masuk angin biasa.


"Apa yang salah, ya? Padahal kita sudah sering periksa dan dokter bilang kita berdua subur-subur aja. Nggak ada masalah." ucap Bram heran sambil memandangi langit-langit kamar.


"Mungkin belum saatnya kita dikasih anak. Yang sabar aja ya, kak." ucap Lena tersenyum menyemangati.


Duduk disamping Bram yang sedang berbaring, ditepuknya lembut lengan Bram. Bram tersenyum menanggapinya.


"Kalau begitu, kita harus lebih giat lagi berusaha." ucap Bram, bangkit dari rebahannya dan langsung memeluk Lena. Wajah Lena seketika memerah mendengar perkataannya, tapi setelahnya Lena terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa?" tanya Bram bingung melihat Lena yang memegangi perutnya padahal sudah tahu kalau dia tidak hamil.


"Mm... Gimana ya, kak. Kalau seandainya aku hamil, sepertinya aku masih belum siap deh. Soalnya aku kan masih kuliah. Aku... belum ingin punya anak di usia muda begini." ucap Lena terus terang.


"Lena. Apa jangan-jangan kamu diam-diam minum pil KB atau memakai yang lainnya untuk menunda kehamilan?" tanya Bram curiga. Dia sampai melepas pelukannya karena mendengar kata-kata Lena barusan.


"Hah? Nggak, kak. Aku nggak minum pil KB atau semacamnya kok. Beneran." jawab Lena gelagapan berusaha meyakinkan Bram karena di tatap dengan penuh selidik oleh suaminya itu.


"Baiklah, baiklah. Aku percaya." sahut Bram.


"Kita sarapan, yuk. Bukannya kamu harus ke kampus kan?" ajak Bram. Lena mengangguk mengiyakan. Lalu mereka keluar kamar untuk sarapan.


Di meja makan, Bram dan orangtuanya sudah asyik menyantap sarapan mereka. Sedangkan Lena terlihat sedang melamun sambil melahap makanannya dengan perlahan.


Selama ini, aku sudah belajar giat untuk bisa memasak. Tapi sayangnya, aku malah membuat kekacauan di dapur dan yang ada aku malah membuat pekerjaan para pelayan jadi bertambah saja.


Aku memang tak bisa memasak, walaupun sering minta diajari oleh ibuku, tetap saja tak bisa dan selalu gagal. Dan walaupun bentuk makanannya berhasil, tapi rasanya lagi yang nihil. Mungkin memasak bukanlah bakatku.


"Hhh... " Lena menghela nafasnya lesu.


Lagi asyik makan, tak sengaja Bu Dona melihat Lena yang sedang melamun sambil makan.


"Kalau nggak mau makan, ya nggak usah makan. Jangan di paksa. Waktu itu maksa sok-sokkan pengen belajar masak, yang ada malah membuat dapur hampir meledak. Ngerepotin aja. Apa nanti kata orang kalau tahu menantu dari pemilik perusahaan makanan terbesar tak bisa masak dan malah hampir membuat dapur meledak." sindir Bu Dona. Wajah Lena merah padam saking malunya mengingat kejadian tempo hari.


"Hidup enak, cuma santai. Nggak bisa ngapa-ngapain. Jadi beban aja deh. Apalagi kamu juga belum hamil-hamil kan?"


Kali ini jantung Lena berdenyut nyeri mendengarnya.


"Tapi, tunggu sebentar... Bukannya bagus ya kalau dia nggak hamil?" batin Bu Dona berpikir.


"Ibu!" tegur Bram.

__ADS_1


"Kenapa? Memangnya ibu salah? Sudah tiga bulan ini dia nggak hamil-hamil kan? Apa jangan-jangan dia... "


"Bu, kami sudah periksa ke dokter. Tidak ada masalah, kami subur-subur aja." potong Bram membela istrinya.


"Terus, kenapa sampai sekarang dia masih belum hamil juga?" tanya Bu Dona sengit.


"Mungkin belum waktunya di kasih, bu." ucap Bram.


Bu Dona ingin berucap lagi, tapi dihentikan oleh Pak Ibrahim yang dari tadi hanya diam mendengarkan mereka.


"Sayang, hentikan. Jangan berkata begitu lagi yang hanya akan jadi beban pikiran bagi menantu kita." ucap Pak Ibrahim lembut tapi tajam sambil menaruh lauk di piring istrinya itu.


Bu Dona sangat tahu, selain kata-kata tajam, kata 'sayang' serta diambilkan lauk untuknya dengan keadaan seperti tadi, itu artinya suaminya sedang dalam amarah yang sangat besar. Dia langsung terdiam. Tapi ada perasaan malu dan tak terima karena merasa dipermalukan di depan menantunya.


"Kamu nggak papa, nak?" tanya Pak Ibrahim.


Lena mengangguk menyahutinya dengan perasaan serba salah karena lagi-lagi kedua mertuanya bertengkar kecil gara-gara dirinya.


"Ya sudah, lanjutkan lagi makannya." ucap Pak Ibrahim lagi.


"Huh, menyebalkan! Dia pasti sedang tertawa senang di dalam hatinya. Kenapa suami dan anakku malah membela dia terus sih? Padahal, dulu Bram nggak seperti ini. Dulu Bram pasti selalu menuruti apa perkataanku." batin Bu Dona kesal dengan mata yang terlihat berair. Sekuat tenaga ditahannya agar air matanya tak mengalir.


"Ibu kenapa?" tanya Bram bingung melihat ibunya.


"Pedas." jawab Bu Dona berbohong.


...***...


"Apaan tuh? Tteokbokki?" tanya Lena penasaran pada Anisa. Grace, Rosi dan Emi ikut juga mengerubungi Anisa.


Mereka heran melihat Anisa yang tumben-tumbennya membawa bekal ke kampus. Dan sayur bekalnya itu terlihat seperti tteokbokki, tapi bentuknya kecil-kecil. Dan berbeda dengan kuah tteokbokki yang merah, kalau yang ini kuahnya agak kekuningan. (Maaf, jadi review makanan)


"Bukan. Ini namanya lantar kujang." sahut Anisa.


"Hah? Apaan tuh?" tanya Grace sambil tangannya mencomot bekal Anisa.


"Lantar kujang itu sulur keladi."


"Hati kakak pertamaku kepincut sama gadis dari Kalimantan. Katanya dia merantau ke Jakarta dan satu tempat kerja dengan kakak. Kakak membawanya ke rumah untuk diperkenalkan pada kami dan langsung deh demo masak di rumah." ucap Anisa sambil memakan bekalnya. Lena, Rosi dan Emi ikut juga mencicipinya.


"Oh... Sulur keladi, ya... " ucap Grace.


"Tapi bukan keladi tanaman hias, ya." Anisa mengingatkan.


"Iya, tahu kok. Nanti aku akan minta ibu buat masakin begini juga deh." ucap Grace.


"Tapi, sebelum di masak, sehabis kulitnya di kupas harus didiamkan dulu dengan garam atau cuka supaya nggak gatal kalau di makan. Di cuci, baru setelah itu bisa di masak." ucap Anisa lagi.


"Baik, bu guru." sahut Lena, Grace, Rosi dan Emi bersamaan sambil mencatat di buku mereka masing-masing. (Review makanan selesai)

__ADS_1


"Kalian lagi lihat apa sih?" tanya Lena penasaran melihat Rosi dan Emi mengerubungi Grace yang sedang asyik menonton di handphonenya.


"Hei, katanya sudah nggak mau lagi lihat keponakan online? Tapi, sekarang masih di lihat juga. Dasar munafik." kesal Lena pada Grace.


"Habis lucu sih" sahut Grace cengengesan.


"Iya nih. Pengkhianat." ucap Rosi.


"Betul, betul, betul." Emi malah ikut-ikutan.


"Hei, bukannya kalian berdua juga ikutan menonton tadi? Kenapa malah jadi menyalahkan aku juga?" marah Grace.


"Aduh! Kamu juga?" Grace mengaduh kesakitan karena pinggangnya di cubit Anisa.


Tak jauh dari tempat mereka berkumpul, terlihat Bandi tengah berjalan sambil tersenyum dan melambaikan tangannya pada Grace. Grace menyahutinya dengan lambaian tangan dan tersenyum juga kepadanya.


"Huh, bisa-bisanya kamu akrab dengan dia." ucap Lena pada Grace, dia tak senang melihat Bandi.


"Kenapa?" tanya Grace polos.


"Karena orang itu seenaknya menyebut-nyebut aku harimau. Apa coba maksudnya? Pokoknya aku nggak mau kamu akrab dengannya. Aku nggak akan merestui kalian." Lena tiba-tiba marah.


"Itu cuma perumpamaan aja kok. Lagian, memangnya kamu ibuku, pakai nggak ngerestuin segala. Bukannya kamu waktu itu nggak mau jadi ibu angkatku. Kamu munafik juga tahu." ucap Grace, dia malah ikutan marah juga.


"Kok kamu malah jadi membela dia sih?" marah Lena tak terima. Dia dan Grace saling adu kening dengan sengitnya.


"Hei, sudah, sudah." lerai Anisa.


"Nggak tahu nih. Lena kok sensi banget sih hari ini? Lagi PMS, ya?" marah Grace. Rosi dan Emi menahan Grace yang marah-marah.


"Sensi?" batin Lena kaget.


Iya juga, aku kenapa begini, ya? Apa gara-gara aku selalu menahan emosiku di rumah, aku malah jadi melampiaskannya pada teman-temanku. Seharusnya aku bisa belajar dari Anisa dan Grace.


Ternyata selama ini, yang suka mengirimi boba untuk Grace adalah Bandi dan yang mengirimi pisang keju itu adalah mantannya Grace, Doni.


Waktu itu Grace cerita kalau Doni pernah menemuinya. Doni bilang, dia tak begitu bahagia dengan tunangan pilihan ibunya. Dia mengaku dipaksa bertunangan oleh sang ibu. Dan masih tak bisa melupakan Grace dan ingin balikan lagi dengannya. Tapi, Grace menolak karena Doni yang sudah bertunangan dan dia juga tak mau menyakiti hati tunangan mantannya.


Grace sudah benar-benar bisa melupakan sang mantan dan mulai terlihat akrab dengan Bandi. Tapi, akrab sebagai teman saja. Kasihan Bandi, di friendzone sama Grace. Padahal kata Grace, dulu Bandi pernah menyatakan perasaannya pada Grace. Tapi, entahlah kenapa Grace masih ngefriendzone Bandi. Mungkin karena Grace masih ingin fokus dengan kuliahnya dulu.


Sedangkan Anisa, setelah lama menunjukkan permusuhan pada Kak Ardan, akhirnya Anisa mau juga menerimanya berta'aruf dan bersikap sedikit ramah kepadanya. Entah kata-kata apa yang Kak Ardan katakan padanya. Walaupun begitu, Anisa masih menunjukkan rasa tak suka juga kalau Kak Ardan berulah dan mengeluarkan jurus gombalannya pada Anisa.


Dari situ seharusnya aku belajar, kalau kita harus bisa mengikhlaskan dan melepaskan cinta yang bukan merupakan jodoh kita dan mulai menerima orang yang mencintai kita dengan sungguh-sungguh dan apa adanya. Menjalani hidup yang baru dan meninggalkan masa lalu. Seharusnya aku bisa begitu.


"Loh, kok malah sedih? M-maafkan aku, Len." ucap Grace kelabakan.


Dia jadi kebingungan melihat Lena yang tiba-tiba memasang mimik wajah sedih. Dia dan Anisa memeluk Lena untuk menenangkannya.


Melihat mereka bertiga yang saling berpelukan dengan akrab, Rosi dan Emi hanya diam dan saling berpandangan satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2