Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Emosi Bumil


__ADS_3

"Hoek...! Uhuk, uhuk! Uh..." Lena muntah-muntah, salah satu tangannya berpegangan erat di pinggir wastafel sambil memegangi kepalanya.


Saat sarapan bersama tadi Lena malah mual-mual dan langsung pergi ke toilet.


"Kamu nggak papa?" tanya Bram khawatir disampingnya, Lena mengangguk-angguk pelan.


"Apa hari ini kamu nggak usah pergi ke kampus dulu? Biar kamu istirahat aja di rumah?"


"Nggak, aku bisa kok ke kampus."


"Namanya juga lagi hamil, wajar kalau istrimu begitu, Bram." ucap Bu Dona agak acuh. Dia juga ikut ada disana bersama suaminya.


"Kedepannya kamu akan lebih repot lagi kalau istrimu ngidam, nak. Sama seperti ibumu dulu waktu mengandungmu." ucap Pak Ibrahim sambil terkekeh kecil dan langsung disikut ringan istrinya yang memasang wajah manyun.


"Demi anakku, aku rela kok direpotin." ucap Bram tersenyum sambil memegangi perut Lena. Lena mematung tersipu mendengarnya.


"Kita harus lebih sering-sering periksa keadaanmu dan anak kita ke dokter, ya. Aku akan selalu nemenin."


"Tapi, aku nggak mau ngerepotin kakak. Masa harus sering-sering?"


"Pokoknya harus. Aku sendiri yang mau kok." ucap Bram ngotot.


"I-iya, deh." Lena tak bisa melawan.


...***...


"Uh... Kenapa aku agak males ya belajar hari ini?" batin Lena tak semangat, menyandarkan kepalanya di tangan saking bosannya mendengarkan dosen yang mengajar di depan.


"Nah, jadi apa ada yang mau ditanyakan?" tanya dosen setelah selesai menjelaskan.

__ADS_1


"Lena. Apa kamu sudah paham dengan yang bapak jelaskan? Bapak lihat kamu bengong saja dari tadi. Waktu itu juga bapak lihat kamu ketiduran." tegur pak dosen dalam mode ramah.


"Eh? Eh... " kaget Lena karena tiba-tiba di tegur oleh dosen dan malah celingukan melihat sekelilingnya.


Dilihatnya orang-orang disana dan juga dosen menatapnya dengan tatapan yang terlihat 'seperti mengintimidasi' dalam pikirannya.


"Uh... Hiks, hiks. Huweee... "


"Loh? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?" tanya pak dosen kaget. Yang ada disana ikutan kaget juga melihatnya.


"Aku juga nggak tahu, pak. Apa mungkin ini bawaan cabang bayi?" batin Lena, menyeka-nyeka air matanya.


"Y-ya sudah, maafkan bapak, ya. Jangan menangis lagi, ya. Oke?" ucap pak dosen kelabakan dan merasa bersalah sekaligus bingung padahal dirinya hanya menegur baik-baik.


...***...


"Lena, kamu minum minumanku lagi." tegur Grace.


"Lah? Kenapa malah kamu yang jadi marah-marah? Pakai mengungkit-ungkit itu segala lagi." mangkel Grace.


"Hm... Emosi nggak stabil bumil sudah mulai terlihat nih sama Lena." ucap Anisa.


"Tapi, Lena kan emang suka emosian." celetuk Emi keceplosan. Emi langsung menutup mulutnya karena di tatap tajam oleh Lena.


"Kamu nggak makan, Len?" tanya Rosi sambil mengunyah makanannya, melihat makanan Lena yang masih belum disentuhnya.


"Akan kumakan kok." sahut Lena. Tapi, baru saja beberapa suapan...


"Hoek! Hoek..." Lena malah mual-mual sampai teman-temannya jadi tak berselera makan dibuatnya.

__ADS_1


"Hei, Lena. Kami tahu kalau kamu lagi hamil. Tapi, jangan begini juga dong." protes Grace.


"Maaf. Aku ke toilet dulu, ya. Kalau ada yang mau, habisin aja punyaku." pamit Lena dan bergegas pergi.


"Eh, beneran nih? Oke deh." sahut Grace senang, mengambil makanan Lena yang masih tersisa banyak dan langsung mendapat cubitan dari Anisa.


Di toilet wanita...


"Hhh... " Lena menyeka mulutnya setelah puas mengeluarkan apa yang dimuntahkannya. Dilihatnya pantulan dirinya di cermin.


"Ukh, apa aku bisa melewati hari-hari seperti ini, ya?" batinnya cemas, memegangi kepalanya.


"Tapi... demi anak ini, nggak papa deh." batinnya lagi tersenyum, memegangi perutnya yang masih belum membuncit.


"Lena, kamu nggak papa?" tanya Anisa khawatir. Dia dan yang lain ikut menyusul mendatangi Lena.


"Aku sudah baik-baik saja." jawab Lena tersenyum.


"Kamu mungkin akan kesulitan menjalani kehidupan kampusmu selama kamu hamil... " ucap Anisa.


"Tapi tenang saja, kami akan selalu ada bersamamu." tambah Grace.


"Benar. Jadi, jangan khawatir ya, Lena." ucap Emi.


"Kami akan menjaga dan menemanimu." ucap Rosi.


Lena merasa tersentuh mendengar teman-temannya yang menyemangatinya.


"Terima kasih semuanya." ucap Lena terharu, menyeka air mata bahagianya. Teman-temannya memeluknya dengan sayang.

__ADS_1


"Maafin semua kata-kata kami tadi ya, Len."


"Iya, iya. Sudah aku maafin kok."


__ADS_2