Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Ada Sedikit Perubahan


__ADS_3

"Hatsyiii...!"


"Duh, kenapa dari tadi bersin terus, ya?" batin Lena bingung.


Bu Dona yang sedang asyik memainkan handphonenya melirik sebentar Lena yang juga duduk di sofa lain bersamanya di ruang keluarga, lalu sibuk lagi dengan handphonenya.


Lena menatap ibu mertuanya beberapa saat.


"Ibu, bagaimana kuenya?" tanya Lena hati-hati.


"Hm? Ya... kuenya enak. Beli dimana?" tanya Bu Dona berbasa-basi.


"Sebenarnya itu pemberian dari teman. Dia dari jurusan tata boga. Makanan buatannya yang paling enak dari teman-teman sejurusannya. Aku tadi minta beberapa resep makanan juga darinya." ucap Lena tersenyum berbinar-binar.


"Oh... Kamu punya banyak teman, ya." sahut Bu Dona seadanya.


"Tapi, sepertinya aku nggak akan diperbolehkan dekat dengan Wini lagi karena kakak melarangku. Aku nggak tahu kenapa kakak tiba-tiba begitu dan bisa tahu, padahal waktu itu kakak pernah memujiku karena sudah baik pada Wini." batin Lena lesu.

__ADS_1


Tiba-tiba jadi hening...


"Huft, sampai sekarang aku masih saja sedikit kesulitan mengajak ngobrol ibu mertua." batin Lena galau melihat Bu Dona yang masih asyik dengan hadnphonenya.


Padahal aku ingin berusaha lebih akrab dan sudah sengaja membuat teh dan menghidangkan kue yang diberikan Wini untuk menarik perhatian ibu. Ternyata sulit juga.


Tapi kalau dengan Alika, ibu sangat antusias sekali ngobrol dengannya. Nggak bisa disalahkan sih, soalnya dia kan menantu yang sebenarnya diinginkan oleh ibu. Iri, tapi aku nggak bisa apa-apa.


Ibu kan memang nggak suka padaku. Apalagi waktu itu aku pernah hampir meledakkan dapur gara-gara belajar memasak dulu, ibu jadi semakin nggak suka. Tapi untung saja sekarang aku sudah nggak begitu lagi berkat pelatihan keras dari ibuku.


Kalau dipikir-pikir, perubahan sifat ibu sekarang sudah sedikit lembut dibandingkan dulu. Apa ada kesempatan bagiku?


"Ehem, ehem, kamu sudah periksakan kandunganmu?" tanya Bu Dona.


Lena terlihat kaget, ibu mertuanya tiba-tiba menanyai dirinya.


"Oh? Ah, iya. Aku sama kakak sudah memeriksanya, bu. Kata dokter baik-baik saja." jawab Lena senang.

__ADS_1


"Baguslah, tetap jaga kesehatan, ya." nasihat Bu Dona, wajahnya terlihat sedikiiit merona.


"Baik, bu."


"Benar juga. Semenjak aku hamil, ibu jadi sedikit lembut padaku. Walaupun nggak terlalu banyak, tapi ada perubahan. Entah kenapa aku jadi senang. Harapanku terwujud, memang nggak mudah tapi nggak sia-sia juga. Makasih ya, nak. Hehe..." batin Lena senang memegangi perutnya.


"Oh iya, aku dengar dari pelayan kalau tadi ibu merajut baju bayi, ya?" tanya Lena penasaran.


"Uhuk, uhuk!" Bu Dona yang sedang minum teh jadi tersedak mendengarnya.


"I-ini, bu." Lena jadi kelabakan dan memberikan tisu pada Bu Dona.


"Ibu nggak apa-apa?" tanya Lena khawatir.


"Iya, nggak apa-apa." sahut Bu Dona mulai tenang.


"Ehem, ibu memang merajut baju untuk calon cucu ibu nantinya. Nggak salah kan?" tanya Bu Dona membuat alasan, tapi memang benar.

__ADS_1


"Nggak salah kok, bu. Wajar kan kalau ibu yang sebagai calon neneknya memberikan sesuatu untuk calon cucunya. Hehe... " ucap Lena tersenyum senang.


"Dasar, kenapa para pelayan bilang-bilang padanya kalau aku merajut baju bayi. Lihat, sekarang dia jadi ngelunjak kan. Pantas saja dari tadi dia terus mencari perhatian dariku. Huh, seharusnya aku nggak bersikap baik padanya." batin Bu Dona mangkel.


__ADS_2