
"Loh, kamu kenapa?" tanya seorang gadis berhijab yang bernama Anisa keheranan.
"Yaaah... nggak kenapa-napa?" jawab yang ditanya sambil membetulkan letak kacamata hitamnya. Tanpa disadarinya, disampingnya ada Grace, gadis berambut panjang sepunggung, yang melepas kacamata hitamnya dengan usil.
"Apa-apaan? Memangnya kamu artis? Ke kampus pakai kacamata hitam sega... "
"Aakh! Jangan... " saking kagetnya, tanpa sadar si gadis berkacamata hitam berteriak histeris. Tangannya refleks memegang tangan Grace.
"...la" lanjut Grace yang terputus karena melihat wajah dibalik kacamata hitam yang sudah terlepas.
"Lena, kamu kenapa? " teriak Grace dan Anisa bersamaan. Mereka kaget melihat wajah lena yang suram dengan mata yang membengkak. Kalau diperhatikan lebih jelas lagi, hidungnya terlihat sedikit memerah.
...***...
"Oh... Jadi kamu mau dijodohin sama anak Pak Ibrahim?" tanya Rosi, si tomboy berambut pendek. Senyum mengembang tercetak diwajahnya.
"Tunggu sebentar... Pak Ibrahim... Pak Ibrahim... Maksudnya pemilik perusahaan makanan terbesar itu, bukan?" tanya Emi, si imut bertubuh pendek yang selalu ceria.
"Iyap." Grace yang menjawab semangat sambil mengedipkan sebelah matanya dengan centil. Sedangkan yang ditanya hanya diam dan memasang wajah masam.
"Waaah... Kamu beruntung banget... Selamat ya, Len." histeris Emi berbunga-bunga. Rambutnya kuncirnya yang bergelombang, bergoyang-goyang karena dirinya yang heboh sendiri.
"Kenapa kalian berdua malah senang gitu, sih? Bukannya mendukung penolakanku, kalian malah jadi antusias begini? Kalian sama aja kayak Grace sama Anisa." amuk Lena pada Rosi dan Emi yang baru datang bergabung dengan Lena, Grace dan Anisa yang berkumpul di taman kampus.
Grace nyengir-nyengir kuda, sedangkan Anisa pura-pura tak tahu menahu mendengar sindiran Lena.
"Nggak ada yang mengerti sama perasaanku. Bahkan sahabat pun tak bisa diandalkan. Huk... huk... " ucap Lena dengan air mata buayanya.
"Memangnya kenapa? Nggak ada salahnya juga kan menerima perjodohan?" tanya Rosi polos.
"Ehem, ehem." tiba-tiba Anisa berdehem.
"Iya. Kata ayahku, Pak Ibrahim itu atasan yang sangat baik dan berwibawa. Pasti anaknya juga sama seperti ayahnya, bukan?" ucap Emi lugu, sambil mengingat kata-kata ayahnya yang merupakan karyawan diperusahaan Pak Ibrahim.
__ADS_1
"Ehem." Anisa berdehem lagi.
"Ih, baik apanya? Kalian aja yang nggak tahu, kalau Pak Ibrahim itu aslinya cerewet. Terus, aku aja nggak pernah ketemu sama anaknya. Mana kita tahu anaknya 'baik dan berwibawa' kayak ayahnya juga, kan? Kalian lupa, ya? Kalau aku menyukai seseorang?" Lena tiba-tiba menunduk, nada suaranya berubah lembut di akhir kalimatnya.
"Ck. 'Cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan' mu itu?" sosor Grace. Dia tahu siapa yang Lena maksud.
"Ehem."
"Dasar bucin. Ngapain kamu masih suka sama manusia salju tanpa ekspresi itu? Ganteng sih, tapi bikin sakit batin. Bertahun-tahun cintamu bertepuk sebelah tangan gitu, kamu malah bilang masih suka padanya? Diberi masa depan yang cerah, eh... kamu malah menolaknya? Heran deh, sama seleramu. Dia itu cuma mengaggap kamu sebagai adik aja, Len... Nggak lebih..." ucap Grace panjang lebar tanpa merasa bersalah sedikitpun mengatakannya. Hanya dia yang paling berani blak-blakan mengutarakan pendapatnya.
"Ekhem!" kali ini Anisa berdehem sedikit keras.
"Maaf ya, Len. Ucapan Grace itu ada benarnya juga. Sayang banget loh, kalau ditolak." Rosi mengiyakan, disambut dengan anggukan setuju dari Emi.
Lena masih menunduk, samar-samar terlihat bahunya bergetar.
"Tuh, kan? Udah... terima aja. Kalau aku sih, langsung bilang OK. Kapan lagi kan bisa jadi orang kaya. Aku yakin pasti orangnya juga gan... Duh." ucapan Grace tiba-tiba terputus.
"Wahai lidah yang tak bertulang, jagalah lisanmu itu." bisik Anisa tajam, tangannya sambil mencubit-cubit pinggang Grace. Grace mengaduh kesakitan.
"Kamu yang paling berbahaya." bisik Anisa dingin.
"Halah... Bukannya kamu tadi setuju-setuju aja?" ucap Grace mengingatkan. Anisa terdiam, tapi tangannya masih mencubit-cubit Grace dengan gemas.
"Tega!"
"Siapa coba yang tega?" kilah Anisa. Dimulailah bisik-bisik mereka yang tak kalah sengit.
"Kenapa... " tiba-tiba Lena mengeluarkan suaranya, sontak keempat sahabatnya menoleh kearahnya.
"Kenapa kalian gampang banget ngomong kayak gitu? Dari tadi aku dengerin, kalian cuman ngomongin pendapat kalian aja. Tapi nggak mikirin perasaan aku. Lagian aku masih muda, aku nggak mau nikah muda. Aku juga tak mengincar harta, aku hanya mencari cinta. Memangnya salah kalau aku menyukainya?" tanya Lena dengan suara yang meninggi. Kekesalan yang sejak tadi ditahannya akhirnya keluar juga.
Teman-temannya seketika terdiam.
__ADS_1
"Sekarang, aku tanya kekalian yang sudah punya pacar. Kalian pasti memiliki perasaan yang sama kayak aku juga, kan? Iya, kan?"
Tak ada jawaban.
"Kenapa diam? Kenapa nggak ada yang jawab? Lihat, aku benar, kan?" senang Lena. Merasa sudah menang, karena teman-temannya tak bisa membantah kata-katanya.
"Um... Lena. Sebenarnya kami... " akhirnya Rosi yang buka suara, walaupun terputus-putus.
"Eh, kalian kenapa?" tanya Lena kebingungan melihat ekspresi keempat sahabatnya yang berubah jadi aneh. Teman-temannya terlihat ragu mengatakannya.
"Udah... Bilang aja." paksa Grace.
"Uh... Padahal tadi aku sudah lupa." ucap Emi sambil menutup wajahnya dengan tangan.
"Kenapa sih?" tanya Lena tambah kebingungan.
Mereka pun langsung curhat tanpa bisa dihentikan lagi.
"A-aku... baru aja putus sama pacarku. Aku nggak tahu apa salahku. Tapi, waktu itu dia bilang kalau aku terlalu kekanak-kanakan." mata Emi terlihat berkaca-kaca saat mengatakannya.
"Aku langsung putus sama pacarku, waktu tahu dia selingkuh dibelakangku. Katanya kami nggak sejalan. Apaan? Nyesel rasanya, kenapa waktu itu nggak aku hajar aja, ya?" wajah Rosi tertekuk suram.
"Kurasa kalian sudah tahu, kalau aku diputusin pacarku. Gara-gara mamanya nggak ngerestuin hubungan kami. Cih, dia pikir aku suka apa sama anaknya." kesal Grace sok tangguh, padahal hatinya runtuh.
"Apalah daya diriku yang jomblo ini. Nasib... nasib..." sahut Anisa dengan suara yang lebih mengenaskan dari yang lainnya.
"Eh, bercanda kok... " ucap Anisa tersadar kalau ditatap sedih oleh teman-temannya.
Lena, Grace, Emi dan Rosi langsung menatap Anisa dengan prihatin. Mereka semua tahu, kalau keluarga Anisa terlalu hiperprotektif terhadap Anisa.
Bagi Abi dan kedua kakak laki-laki Anisa yang pernah kehilangan sosok wanita hebat saat melahirkan Anisa, Anisa adalah putri dan adik perempuan satu-satunya yang harus mereka jaga dan lindungi dengan segenap jiwa dan raga.
Jangankan pacaran, ada laki-laki yang menyapa Anisa saja, sudah dihujani tatapan membunuh dari kakak-kakaknya. Yang lebih ekstrim lagi, saat ada laki-laki yang menanyakan alamat pada Anisa, laki-laki itu langsung kabur terbirit-birit melihat Abinya yang sedang mengacung-acungkan celurit. Padahal waktu itu, Abi kebetulan lagi memangkas rumput-rumput liar dihalaman.
__ADS_1
Ha, ha... Mereka benar-benar sahabat satu frekuensi.