Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Curhat Dalam Hati


__ADS_3

Di malam yang sama, di suatu tempat...


Cintia duduk di sofa yang ada di kamarnya dengan wajah yang tertekuk dan muram. Penampilannya berantakan, rambutnya terlihat kusut dan acak-acakan, serta memakai baju yang terlalu santai dan terkesan apa adanya. Tak menggambarkan sosok Cintia yang biasanya selalu berpenampilan wah. Biasanya kalau sudah begitu, pasti ada sesuatu yang sedang mengusik pikirannya.


"Hhh... Kenapa dari tadi aku mikirin dia terus sih?" batinnya kesal.


"Keluar dari pikiranku, hutan rimba...!" teriaknya frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.


Sejak kejadian si hutan rimba yang menolongku yang hampir jatuh tadi siang, aku jadi kepikiran terus tentangnya. Aku hampir tak fokus mendengarkan dosen saat di kampus. Sampai rumahpun, aku masih kepikiran dia saja. Ada apa dengan diriku ini?


Walaupun penampilannya berantakan, tapi matanya indah menawan. Aku terpesona sampai tak sadar malah jadi menatapnya.


Ergh? Hei, hei! Hentikan... Kenapa aku malah ngomong begitu?


Sebenarnya dari tadi ada sesuatu yang mengusik pikiranku.


Brewoknya si hutan rimba. Entah kenapa ada yang janggal. Waktu dia menolongku tadi siang, aku bisa melihat jelas wajahnya karena jarak kami yang begitu dekat. Ada yang aneh dengan brewoknya, seperti bukan asli dan terlihat seperti brewok palsu.


Siapa si hutan rimba itu sebenarnya? Mengapa dia harus menyamar seperti itu? Apa jangan-jangan dia orang yang dikirim oleh saingan-saingan ayah dan berpura-pura mendekatiku untuk mengorek informasi rahasia perusahaan dariku? Hm... Kayaknya nggak mungkin deh. Tapi, kalau memang benar, awas saja. Aku akan buat dia menyesal.


"Duh... Kenapa aku masih mikirin dia aja sih?" ucap Cintia kesal.


"Sumpek. Keluar aja deh." ucapnya sambil melangkah keluar dari kamarnya yang luas dan elegan itu. Tapi saat jalan, dia masih saja kepikiran.


Perasaanku entah kenapa jadi takut-takut. Soalnya, aku sangat tahu persis kalau dia memakai brewok palsu. Aku langsung bisa menyadarinya karena dari pengalamanku yang pernah diculik oleh orang-orang yang memakai brewok palsu saat aku kecil dulu. Sejak saat itulah, karena trauma terkadang aku jadi suka berkata kasar dan tak ramah pada orang lain.


Dan karena kejadian itu juga, aku memutuskan untuk masuk kuliah jurusan hukum. Lagipula aku orangnya memang suka berdebat. Orang-orang akan diam membeku karena tak kuat mental berdebat denganku. Walaupun masih ada juga orang yang kuat mentalnya berhadapan denganku, salah satunya Lena.


Lena... Orang itu, entah kenapa aku ingin selalu mengganggunya. Walaupun dia terkadang suka kalah debat denganku, tapi dia selalu ada cara untuk tetap melawanku.


Mungkin karena selama ini orang-orang di sekolah pada takut dan selalu menghindar saat melihatku karena aku yang tak ramah ini. Aku takut akrab dan membuka diri karena trauma yang aku alami, jadinya aku tak punya teman main. Aku jadi tertarik dengannya karena hanya dia satu-satunya orang yang berani menghadapiku.


Waktu itu, Kak Ardan yang dulunya bersekolah di SMP elit dipindahkan ke SMP negeri oleh papa dan mama karena sudah kewalahan mengurus Kak Ardan yang suka membuat ulah. Di sekolah barunya itulah kakak berteman dengan Kak Sultan.


Kak Sultan jadi korban yang 'direpotkan' oleh Kak Ardan. Tapi, berkatnya juga Kak Ardan mengalami sedikit perubahan. Walaupun masih banyak bikin ulahnya juga.

__ADS_1


Kadang aku suka dipaksa Kak Ardan berkunjung ke rumah Kak Sultan karena melihat aku yang santai dan tak ada kerjaan di rumah. Aku jadi sering bertemu dengan Lena disana.


Saat pertama kali aku kesana, aku sempat kaget karena melihat ada sesuatu seperti penampakan diseberang rumah Kak Sultan. Ternyata itu adalah Lena dan aku baru tahu kalau dia menyukai Kak Sultan rupanya.


Aku sampai heran, apa yang disukainya dari kulkas freezer berjalan itu? Tapi kalau memilih, aku lebih memilih Kak Sultan sih daripada kakakku sendiri. Maaf, kakak...


Karena aku memiliki trauma dengan orang baru, makanya waktu pertama kali berkenalan dengan Lena, aku malah membuat kesan buruk karena bersikap tak ramah padanya. Karena itulah kami jadi sering cekcok dan bermusuhan.


Dan waktupun berlalu, sampai aku kaget karena ternyata aku satu kampus denganya. Sebenarnya aku ingin berteman dengannya, tapi karena aku sudah punya hubungan buruk dengannya, setiap kali aku mendekat yang ada malah membuat kekacauan. Dan karena aku terlalu gengsi, aku jadi malu mengatakannya.


Dia memiliki banyak teman karena sikap ramahnya. Aku juga memiliki teman, Sonia dan Soraya, walaupun mereka sering disebut dayangku kalau di kampus. Mereka berteman denganku saat kami masuk kuliah. Orang-orang pasti tak akan percaya kalau mereka berdua sebenarnya saudara kembar karena wajah mereka yang berbeda.


Tapi masalahnya, ada maksud lain kenapa mereka dekat denganku. Mereka berteman denganku hanya karena ingin menaikkan martabat keluarga mereka saja. Tapi, selama mereka masih patuh dan menurut saja dengan apa yang aku katakan, akan kubiarkan mereka ikut dan selalu bersamaku. Terkadang kalau aku lagi bosan, aku akan pergi diam-diam sendirian dari si kembar itu.


Awalnya, aku tak begitu suka dengan si kembar tapi beda ini. Tapi, lama-lama aku bisa membuka diri karena waktu itu aku dan Lena pernah diskors karena membuat kekacauan. Karena merasa bosan terus-terusan di rumah dan merasa bersalah juga pada Lena, aku jadi berusaha berubah dan membuka diri.


Aku berusaha sekuat tenaga untuk tak membuat masalah lagi dengannya. Tapi, aku tak bisa karena aku masih geregetan dan ingin membutnya sadar kalau cintanya itu hanya bertepuk sebelah tangan dengan Kak Sultan.


Hhh... Dasar. Apa dia masih tak sadar kalau dia hanya dianggap adik saja? Saat dia jatuh pingsan di acara pernikahannya sendiri, aku tahu dia begitu gara-gara Kak Sultan pastinya. Waktu itu, aku ingin menemuinya yang pingsan diruangannya, tapi aku takut kalau hanya akan membuat keributan, jadi aku hanya mendengarkan dia dan teman-temannya dari luar ruangan saja. Aku iri dia bisa memiliki teman yang baik, tulus dan selalu bisa menyemangatinya.


Kalau dipikir-pikir, belakangan ini Lena sudah tak terpancing emosi seperti dulu lagi. Mungkin karena dia sudah menikah jadi bisa mengendalikan diri supaya tak membuat malu suaminya. Padahal waktu itu dia kena bully, eh... dia malah merahasiakannya dari teman-temannya. Aku sampai tak habis pikir dengannya.


"Allahu Akbar!" Ardan yang sedang asyik memainkan handphonenya tiba-tiba berteriak kaget. Cintia sampai berjingkat kaget dibuatnya.


"Astaga! Kupikir ada penampakan. Kamu kenapa, Cin?" tanya Ardan sambil memegangi dadanya melihat penampilan Cintia. Cintia hanya diam dengan wajah merengut duduk manja disamping mamanya.


"Tumben, kakakmu ini jadi alim? Biasanya kalau kaget kakakmu akan teriak yang tidak-tidak." ucap Pak Amar, papa mereka, takjub.


"Kamu nggak tahu ya, sayang? Putra kita ini lagi dekat sama perempuan berhijab loh." yang menyahut malah Bu Cinta, mama mereka dengan semangat sambil menyisir rambut Cintia dengan tangan.


"Oho, benarkah? Lagi dekat atau sengaja dekat?" tanya Pak Amar penuh selidik karena tahu sifat putranya.


"Lebih tepatnya ta'aruf, pa." Ardan mengoreksi dengan bangga sambil memainkan handphonenya lagi.


"Lebih tepatnya, kakak cuma ganggu Anisa aja, pa. Lihat deh, kakak main HP pasti lagi ganggu Anisa." celetuk Cintia bete.

__ADS_1


Semenjak keluarga Anisa mengijinkan Kak Ardan ta'aruf dengan Anisa, setiap pagi aku juga jadi ikut Kak Ardan menjemputnya kalau pergi ke kampus. Aku tak bisa menyetir mobil sendiri karena trauma pernah nangkring di atap rumah warga, gara-gara aku salah injak rem malah jadi gas. Dan kebetulan rumah warga itu ada di bawah jalan. Aku tak mau diantar oleh supir pribadi, walaupun supirnya perempuan sekalipun.


Tak mengapa kalau aku menjadi obat nyamuk, walaupun kupingku jadi ikut panas mendengar gombalan Kak Ardan yang bikin kepala pusing seperti orang mabuk. Tapi, bukan itu yang aku khawatirkan.


Aku selalu takut-takut kalau satu mobil hanya bertiga dengan Anisa. Kalau Kak Ardan yang membuat masalah, aku takutnya Anisa khilaf bisa-bisa aku dibantingnya juga kan ngeri...


Terkadang aku takjub dengan Kak Ardan, walaupun Anisa selalu menunjukkan permusuhan tapi kakak tetap gigih mengejarnya. Sepertinya kakak sudah benar-benar menemukan jodohnya. Walaupun gombalannya masih tetap, tapi hanya untuk Anisa saja.


"Siapa lagi yang bikin masalah?" tanya seseorang tiba-tiba.


"Kakek? Kok nggak ngabarin kalau mau kesini?" tanya Cintia kaget sambil berlari untuk memeluk kakeknya.


"Haha... Kakek kangen sama cucu kakek yang cantik ini. Tadi kakek dengar ada yang bikin masalah, siapa?" tanya Pak Damar, kakek mereka.


"Tuh, kakak." jawab Cintia sambil menunjuk Ardan.


"Tapi, kek. Cintia juga sering bikin masalah, kenapa dia nggak dimarahin juga?" ucap Ardan tak terima.


"Aku kan cucu kesayangan kakek. Weee..." ledek Cintia.


Cintia memang cucu kesayangan karena dia bisa mencuri hati kakeknya, jadi Cintia tahu kalau dia tak akan dimarahi oleh kakeknya. Tapi, masalahnya dia akan tetap diceramahi juga walaupun versi kalemnya.


"Hooo... Begitu, ya. Kalau begitu, berarti Ardan sudah siap mengemban tugas perusahaan sepenuhnya." ucap Pak Damar setelah mendengar cerita kalau Ardan sudah menemukan jodohnya. Ardan kaget mendengarnya.


"Tidak! Jangan, kek! Aku nggak mau diusiaku yang masih muda ini dipusingkan sama urusan perusahaan." teriak Ardan memohon.


Dia orangnya selalu ingin hidup bebas dan santai tanpa mau diganggu oleh urusan pelik perusahaan yang memusingkan. Jadi direktur saja dia ogah-ogahan, apalagi kalau jadi presdir menggantikan papanya. Tapi walaupun begitu, kinerjanya tak bisa diremehkan di perusahaan.


"Bersikaplah lebih dewasa, Ardan. Jangan suka menyusahkan Sultan terus." bentak Pak Damar.


"Kalau kamu begini terus, lama-lama papa bakalan angkat Sultan jadi anak nantinya menggantikan kamu." ancam Pak Amar sambil bercanda.


"Aku setuju, pa." ucap Ardan riang, bukannya menolak dia malah kesenangan mendengarnya.


"Nggak jadi deh." ucap Pak Amar setelah melihat kekonyolan anak sulungnya itu. Ardan terlihat mengeluh kecewa. Cintia geleng-geleng kepala melihat mereka.

__ADS_1


Hhh... Dasar. Papa sama kakak kelakuannya sama aja. Waktu muda, katanya papa sama konyolnya seperti Kak Ardan. Sampai sering diamuk oleh kakek. Sifat papa mulai berubah saat bertemu dengan mama. Kelakuan Kak Ardan nggak jauh beda dengan kelakuan papa dulu.


Walaupun aku suka bikin onar, tapi aku nggak akan seperti papa dan kakak yang suka bikin ulah karena cinta.


__ADS_2