Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Hanya Aku Saja


__ADS_3

"I-I am sorry. Are you okay?" tanya panik seorang pria.


"Hah? Astaga... Bule? Tampannya... " batin Emi kaget sekaligus takjub melihat orang asing bertubuh tinggi dengan rambut pirang dan mata birunya yang menawan berdiri dihadapannya.


"Eh, tunggu. Kenapa bisa ada bule tak di kenal di kampus kami?" batin Emi tersadar.


"Astaga! Ternyata tanpa sadar aku ada di luar area kampus." kaget Emi dalam hati.


"Aduh... Kebiasaanku melamun sambil jalan kambuh lagi. Aku harus ke kampus, teman-teman pasti sedang menungguku. Lain kali aku harus perbaiki kebiasaanku yang suka melamun ini." batin Emi menepuk jidatnya dan ingin beranjak pergi dari sana.


Tapi, saat Emi ingin melangkahkan kakinya, si bule tampan malah mencekal tangannya.


"Tunggu, sebelum kamu pergi, bolehkah aku minta tolong padamu?" (Bahasa Inggris) tanya pria bule.


"Eh? Ya? Minta tolong apa, ya?" (Bahasa Inggris) tanya Emi bingung tapi masih terlihat ramah.


"Apa kamu tahu tempat ini?" tanya si bule lagi sambil memperlihatkan alamat di selembar kertas. Ternyata dia sedang tersesat.


"Tentu aku tahu. Tapi sebentar, bukannya kamu bisa mencarinya lewat aplikasi lokasi?" tanya Emi polos.


"Ah... Baterai HPku habis." jawab si bule apa adanya sambil memperlihatkan handphonenya yang tak bisa dihidupi lagi. Bibirnya yang tersenyum kikuk semakin menambah menawan wajahnya saja.


Emi yang orangnya ramah, tentu saja mau menolongnya dengan memperlihatkan alamat tujuan si bule dengan handphonenya Emi. Bule tampan itu beranjak pergi setelah berterima kasih pada Emi yang sudah menolongnya.


Sementara itu...


"Emi kemana, ya? Kok lama banget datangnya?" tanya Rosi celingukan mencari sosok Emi di penjuru kantin.


"Entahlah." Anisa angkat bahu.


"Baru diomongin, orangnya langsung muncul." ucap Lena, menunjuk ke arah Emi yang baru datang dan wajah Emi terlihat berseri-seri.


"Ada apa nih? Wajahmu seperti habis ketemu dengan artis idola saja." celetuk Grace sambil tersenyum usil.


"Iya, aku habis ketemu sama bule tampan tadi, tapi aku nggak begitu tahu dia artis atau bukan." ucap Emi apa adanya.


"Hah? Beneran? Ketemu dimana? Kok bisa? Siapa namanya? Ada fotonya nggak? Ganteng banget nggak? Ngapain aja kamu sama dia? Ngobrolin apa aja? Kamu kan yang paling jago Bahasa Inggrisnya dibandingkan kami yang bebal ini." teriak Lena dan yang lain bergantian.


"D-d-di luar kampus tadi. Tapi, aku nggak sempat tanya namanya. K-kalau foto, aku nggak ingat minta foto bareng, habisnya dia lagi tersesat dan nanya alamat sama aku." jawab Emi ketakutan karena di sosor pertanyaan bertubi-tubi dari teman-temannya.


"Yah... Sayang banget." keluh Lena dan Grace kecewa.


"Tapi, kenapa kamu bisa sampai ada di luar kampus?" tanya Anisa heran.


"Ah... Itu... A-aku lagi ngelamunin tentang pelajaranku di kelas tadi." jawab Emi berbohong.


Lena dan yang lain saling berpandangan. Mereka semua tahu bagaimana kebiasaan Emi yang suka melamun sambil berjalan, pasti yang sedang dipikirkannya sangatlah berat dibandingkan apa yang dikatakannya barusan.


"Lain kali jangan terlalu banyak pikiran. Bahaya tahu kalau melamun sambil jalan. Kami kan jadi khawatir." ucap Rosi mengingatkan.


"OK." sahut Emi tersenyum.


"Fyuh... Untunglah mereka nggak menanyakan apa-apa lagi." batin Emi lega.


"Pasti ada apa-apanya nih. Kita harus cari tahu apa yang terjadi pada Emi tadi, oke?" batin Rosi berapi-api.


"OK!" sahut Lena, Grace dan Anisa dalam hati. Diam-diam mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat tanpa sepengetahuan Emi.


...***...

__ADS_1


Ting tong!


"Pasti ayah sudah pulang." ucap Bu Mila berjalan tergopoh-gopoh ke pintu rumah mereka.


"Assalamualaikum." ucap serempak tiga orang di depan pintu saat pintu di buka.


"Waalaikumsalam. Lena? Bram? Ada apa nih bisa bareng?" tanya Bu Mila kaget mendapati suaminya datang bersama anak dan menantu mereka.


"Ibu... " ucap Lena sambil memeluk ibunya.


"Katanya Lena kangen sama ibu. Jadi sekalian kesini bareng ayah." ucap Bram, tangannya terlihat membawa sebuah bingkisan.


"Kangen? Bukannya kamu beberapa hari ini sering datang ke rumah waktu suamimu pergi dinas?" tanya Bu Mila yang disahuti kekehan dari Lena.


"Katanya mereka mau menginap disini, bu." ucap Pak Hadi.


"Begitu? Boleh aja dong. Tapi, apa itu, Bram?" tanya Bu Mila pada Bram yang sedang membawa bingkisan.


"Oleh-oleh buat ayah dan ibu." jawab Bram tersenyum.


"Aduh... Buat apa repot-repot segala. Terima kasih, ya." ucap Bu Mila, menyambut bingkisan dari Bram.


"Iya, bu." sahut Bram sopan.


"Ibu lagi masak, ya?" tanya Lena.


"Iya, kamu mau bantu ibu?"


"Mau... Sekalian memperdalam belajar memasaknya lagi." sahut Lena semangat.


Sementara Lena dan ibunya sibuj memasak di dapur, Bram dan Pak Hadi mengobrol di ruang keluarga sambil menonton TV.


"Jadi bagaimana kabarnya ayah dan ibu mertuamu, nak?" tanya Bu Mila tiba-tiba.


"Syukurlah. Kamu harus bisa menjaga hubungan baik dengan mertuamu ya, nak. Mereka juga sama seperti ayah dan ibu." nasehat Bu Mila sambil mengaduk-aduk masakan di panci.


"Iya, bu. Aku mengerti kok." sahut Lena patuh.


Awalnya aku agak takut-takut berhadapan dengan yang namanya 'mertua'. Apalagi saat tahu kalau ternyata ibu mertua tak begitu menyukaiku.


Aku yang aslinya biang onar, selalu menahan diri dan menjaga image untuk tak membuat masalah dan takut di pandang buruk oleh mertua.


Awalnya agak susah juga, tapi lama-lama ternyata tak seburuk yang aku bayangkan. Untung saja mentalku mental baja, otak sehat, niat suci(?) dan kesabaran yang mungkin di atas rata-rata, aku bisa menghadapi semuanya dengan tenang, sabar dan dengan kepala dingin.


Walaupun suka merengut dan memperlihatkan rasa tak suka padaku, tapi ternyata ibu mertuaku orang yang baik. Sama seperti Alika juga. Ayah mertua juga, yang dulunya kupikir beliau itu orang yang keras ternyata orangnya sangat baik dan penyayang.


"Aaakh...!" teriak Lena tiba-tiba.


"Aduh, kaget. Kenapa, bu?" tanya Lena kaget, memegangi dadanya. Ibunya tiba-tiba memegangi perutnya saat dia juga asyik membantu sang ibu memasak.


"Ah, nggak. Cuma penasaran saja. Masih belum ya, Len?" tanya Bu Mila sendu.


"Belum, bu." jawab Lena geleng-geleng kepala.


Selama Lena sering datang ke rumah selama Bram pergi dinas, ibunya selalu menanyainya apa dia sudah hamil apa belum. Lena menjawab semuanya apa adanya, sampai pada kesuburannya dan Bram yang baik-baik saja, tapi Lena tetap belum hamil-hamil juga. Sampai-sampai ibunya menyuruhnya untuk melakukan pengobatan untuk bisa memiliki momongan.


"Tetangga kita, Bu Titi, anaknya sudah melahirkan loh. Lucu banget cucunya." ucap Bu Mila senyam senyum.


"Uh... Ibu pengen cepat-cepat punya cucu juga, ya." batin Lena merasa bersalah.

__ADS_1


Hatinya langsung terasa nyeri mengingat suami, mertua dan orangtuanya begitu mengharapkan momongan darinya.


"Baiklah. Kalau begitu, aku dan kakak akan lebih berusaha lagi." batin Lena berapi-api sambil mengepalkan tangan tanda bahwa dia bertekad dan akan melakukannya dengan bersungguh-sungguh(?)


"Masakan kita sudah selesai. Panggil ayah dan suamimu untuk makan ya, Len." ucap Bu Mila.


"Baik, bu." sahut Lena, bergegas pergi ke ruang keluarga dimana ayah dan suaminya sedang asyik mengobrolkan sesuatu disana.


Lalu mereka pun asyik menyantap makanan mereka bersama-sama.


Setelahnya, di kamar Lena...


Bram duduk di tepi tempat tidur, dirinya terlihat lebih segar karena habis mandi dan memakai baju santainya. Entah kenapa dia terlihat seperti sedang berpikir.


"Huh! Aku sebenarnya tak mau mengakui ini. Tapi, semakin aku membencinya, aku jadi semakin penasaran dan ingin membacanya lagi." batin Bram kesal sendiri.


Dilihatnya arah kamar mandi, Lena masih mandi terdengar dari gemericik suara air dari sana.


"Dimana ya kotak kecil itu? Apa Lena menaruhnya disini?" batin Bram, tangannya membuka-buka laci nakas di samping tempat tidur.


Ternyata yang dicarinya itu adalah kotak kecil Lena yang berisi lembar puisi cinta. Entah apa yang ingin dilakukannya pada benda itu.


Karena terlalu asyik mencari-cari, Bram tak menyadari Lena yang baru keluar dari kamar mandi.


"Kakak sedang apa?" tanya Lena memperhatikan punggung Bram yang duduk membelakanginya di tepi tempat tidur. Bram terlihat kaget mendengar suara Lena.


"Ah... Nggak, nggak ngapa-ngapain." jawab Bram salah tingkah.


Saat menolehkan wajahnya ke arah Lena, Bram terlihat terpana melihat Lena yang mengenakan gaun tidurnya berjalan lalu menaiki tempat tidur dan mendekatinya.


"Sayang..." ucap Lena sambil memeluk Bram dari belakang.


"Hm? Sejak kapan dia memanggilku sayang?" batin Bram bingung sekaligus ada rasa senang juga dihatinya.


"Tumben. Ada apa nih? Apa ada yang kamu mau?" tanya Bram.


"Eh? Mm... Nggak juga sih. A-anu maksudku... gimana kalau kita berusaha lebih giat lagi... bikin... anak?" tanya Lena dengan suara hampir berbisik di akhir kalimatnya, wajahnya seketika memerah malu.


"Aku sih mau aja. Apa kita perlu pergi bulan madu buat menambah kesan? Kita sudah ke Bali. Kali ini mau kemana? Ke Lombok?" tanya Bram semangat. Dia yang terlihat paling semangat.


"Pergi bulan madu lagi? Mm... Kayaknya nggak perlu... Oh! Kayaknya boleh juga. Gimana kalau keluar negeri?" usul Lena, tiba-tiba mengubah pendiriannya.


"Ya... kemanapun boleh kok. Jadi, apa kamu sudah memutuskan mau kemana?" tanya Bram sambil mencium-cium pipi Lena.


"Mm... Terserah kakak saja."


"Loh? Kan kamu yang mau, jadi kamu yang harus putuskan dong." ucap Bram bingung.


"Y-yang penting kalau keluar negeri, maunya anak kita wajahnya bakalan jadi bule. Aku agak kepikiran, soalnya Emi nggak sengaja ketemu sama bule tampan yang lagi tersesat tadi siang." ucap Lena apa adanya.


"Hei, kenapa harus mirip bule? Kamu kan bisa lihat wajahku. Aku juga tampan kok." ucap Bram bersungut-sungut.


"Duh, gawat. Kakak ngambek." batin Lena kelabakan.


"Ya sudah, maaf. Kita lupakan saja keluar negerinya. Walaupun bulan madunya di rumah, yang penting aku cuma harus melihat wajah kakak saja kan?" tanya Lena menenangkan Bram.


"Harus. Cuma aku saja." ucap Bram serius, membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Lena.


"Hihi..." tawa Lena. Dia tak tahan melihat wajah Bram yang serius malah jadi terlihat lucu baginya.

__ADS_1


"Hei, apa yang kamu tertawakan?" tanya Bram manyun.


"Kakak lucu." sahut Lena. Tawanya seketika berhenti karena tiba-tiba Bram mencium bibirnya.


__ADS_2