Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Harus Bahagia Atau Bagaimana?


__ADS_3

"Ya sudah, aku kembali ke kantor lagi, ya." pamit Bram pada Lena setelah sampai mengantarkan Lena ke rumah.


"Iya, hati-hati, kak." ucap Lena, melambaikan tangannya mengantar kepergian mobil Bram.


"Kayaknya ada tamu deh." ucap Lena dalam hati karena mendengar suara ramai dari dalam saat dirinya ingin masuk rumah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam... " sahut Bu Dona dan teman-temannya ramai di ruang tamu.


"Ternyata benar. Ada teman-teman arisan ibu ternyata." batin Lena.


"Menantunya sudah pulang rupanya." ucap salah satu ibu pada Lena.


"Siang, ibu dan tante-tante semua." sapa Lena ramah. Yang ada disana terlihat senang di sapa oleh Lena.


"Bu, aku ijin ke kamar, ya. Tante-tante semua, maaf ya saya nggak bisa menemani." pamit Lena dengan sopan.


"Iya, nggak papa. Kamu pasti lelah kan habis pulang dari kampus." sahut ibu-ibu itu. Bu Dona hanya diam dan mengangguk seadanya saja.


Tap, tap, tap...


Suara langkah kaki Lena masih terdengar ketika meninggalkan ruang tamu itu, sampai langkah kakinya tak terdengar lagi.


"Menantu Anda cantik ya, bu. Nggak salah milih menantu." puji salah satu ibu. Bu Dona tersenyum, ada sedikit rasa bangga mendengarnya.


"Tapi... Maaf ya, bu. Kenapa sampai sekarang masih belum ada momongan?" tanya ibu yang lain kepo, lebih tepatnya sih ke julid. Bu Dona hampir tersedak saat sedang menyeruput minumannya.


"Aduh... Mulai deh. Belum cukup menggosipkan orang lain tadi, sekarang mereka menggosipkan menantuku. Ya... walaupun nggak salah juga sih. Untunglah mereka tak mengatai menantuku yang berasal dari keluarga biasa. Mau di taruh dimana mukaku. Tapi... kenapa aku agak kesal ya mendengar pertanyaannya tadi?" batin Bu Dona berusaha menyembunyikan kekesalannya.


"Namanya juga mereka masih muda, bu. Mungkin mereka menundanya dulu karena masing-masing masih sibuk." ucap Bu Dona berusaha sedikit tenang.

__ADS_1


"Oh, begitu... Sayang sekali. Padahal selagi mereka masih muda."


"Ya begitulah, bu. Kita tak bisa memaksakan kehendak mereka. Oh iya, obrolan kita tadi sampai mana, ya?" tanya Bu Dona mengalihkan topik pembicaraan.


Mereka melanjutkan obrolan awal mereka lagi. Masih tak jauh dari ruang tamu, Lena ternyata belum benar-benar pergi ke kamar dan malah bersembunyi menguping obrolan mereka.


Wajahnya terlihat sedih dan memegangi dadanya yang terasa nyeri. Cepat-cepat dirinya pergi kekamar. Sesampainya di kamar, Lena langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Termenung beberapa saat dan entah kenapa dia malah menangis.


Hiks. Apa aku menantu yang menyusahkan, ya?


Aku menantu keluarga ini. Diberikan banyak cinta dan hidup yang layak. Walaupun aku sudah rajin belajar dan pergi ke kampus, dan aku juga sudah bisa memasak.


Tapi, aku masih belum memberikan apa-apa pada mereka. Aku belum memberikan keturunan pada keluarga ini. Aku bahkan masih belum yakin apa aku benar-benar sedang hamil. Aku... jadi merasa bersalah.


...***...


"Lena, Lena."


"Hei, sayang. Ayo bangun."


"Ngh... Kakak? Sudah pulang?" Lena membuka matanya, suaranya parau. Bram duduk di tepi tempat tidur, disamping Lena yang sedang berbaring.


"Aku ketiduran rupanya." batin Lena bangun, mengucek-ngucek matanya.


"Kamu kelamaan tidur, ya? Lihat jam berapa sekarang. Loh, kok matamu bengkak? Kamu habis menangis?" tanya Bram, memegangi wajah Lena untuk melihat lebih jelas.


"Nggak." jawab Lena kaget, menutup mukanya dengan tangan dan berbaring lagi, dipangkuannya Bram.


"Kata bibi, kamu belum makan ya pulang tadi? Malah langsung masuk ke kamar dan ketiduran." ucap Bram sambil mengelus-elus rambut Lena.


"Kakak."

__ADS_1


"Hm, ya?"


"Apa kakak masih mencintaiku?"


"Kenapa tiba-tiba?" batin Bram bingung.


"Tentu saja, aku masih dan akan tetap mencintaimu. Tapi... apa kamu juga mencintaiku?" tanya Bram penuh selidik.


"Aku juga mencintai kakak." jawab Lena, mencium tangannya Bram.


"Kamu dari tadi kenapa? Kamu sakit?" tanya Bram khawatir melihat Lena yang entah kenapa jadi aneh.


"Nggak. Aku nggak papa. A-aku cuma..." Lena bangun dari rebahannya dipangkuan Bram.


"Cuma apa?" tanya Bram makin cemas melihat wajah Lena yang memerah, dipegangnya wajah istrinya itu.


"Kata Grace... Mm... Aku kan sering merasa nggak enak badan akhir-akhir ini. Dia bilang, itu karena... aku sedang hamil." ucap Lena malu-malu.


"Benarkah?" tanya Bram tak percaya, wajahnya terlihat berbinar-binar.


"Eh, kemungkinan masih belum pasti, kak. Bisa jadi kan aku cuma masuk angin biasa seperti dulu. Terus, aku juga belum memeriksanya sendiri tadi."


"Kita periksa sekarang saja, sekalian mandi bareng." ucap Bram tak sabaran dan langsung menggendong Lena ke kamar mandi.


"Aaa... Kakak!?" teriak Lena kaget dengan perlakuan suaminya itu.


Dan benar saja, alat tes kehamilan menunjukkan tanda positif, artinya Lena benar-benar hamil. Bram kegirangan dan langsung memberitahukan pada orangtuanya.


Lena tersenyum haru melihat suami dan mertuanya bahagia mengetahui kabar kalau mereka akan segera memiliki momongan.


Sementara itu, perasaan Bu Dona...

__ADS_1


"Aku harus bahagia atau bagaimana kalau begini?" batinnya bingung.


__ADS_2