Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Acara Yang Heboh?


__ADS_3

"Hhh... Kemana lagi Kak Ardan? Seharusnya dia juga datang ke acara ini?" batin Cintia celingukan mencari sosok kakaknya di antara kerumunan orang di acara antar perusahaan itu.


Dari tempatnya berdiri, terlihat kakek dan papanya sedang berbincang dengan kolega bisnis mereka. Sedangkan mamanya berbincang dengan teman-teman sosialitanya, dan disana terlihat ada Alika dan ibunya juga ikut nimbrung. Untung saja dia tidak sendirian karena ada Sonia dan Soraya disampingnya.


"Anaknya cantik ya, bu." ucap Bu Rahayu ramah, mamanya si kembar tapi beda, pada mamanya Alika, Bu Clarisa.


"Terima kasih, bu." sahut Bu Clarisa tersenyum sambil membelai rambut Alika.


"Anak saya Cintia juga seumuran dengan Alika. Tapi, dimana ya dia sekarang?" ucap Bu Cinta sambil celingukan mencari Cintia. Karena kumpul khas emak-emak inilah kenapa Cintia tak mau ikut dengan mama dan teman sosialita mamanya disana.


"Sudah ada jodohnya belum? Kalau belum, gimana kalau dijodohkan dengan anak saya?" celetuk salah satu ibu lainnya sambil tertawa. Bu Clarisa hanya menanggapinya dengan tertawa juga.


Alika hanya senyam-senyum dengan wajah ramahnya, tapi dalam hatinya dia jengah juga lama-lama mendengar rumpian emak-emak didepannya.


"Enak aja. Aku nggak mau nikah sama pria lain selain sama Kak Bram. Huh, nggak jaman Siti Nurbaya, nggak jaman modern, orangtua selalu saja suka menjodoh-jodohkan anak mereka." batin Alika bete. Dia sudah sangat cinta mati dengan Bram sejak kecil. Tapi sayangnya, cintanya diserobot oleh Lena karena perjodohan.


Dan sekarang dirinya sangat kesal saat melihat Pak Ibrahim dan istrinya sudah datang ke acara itu. Tapi, yang membuatnya sangat kesal bukanlah Pak Ibrahim dan istrinya melainkan dibelakang mereka ada Lena yang terlihat sedang bergandengan tangan dengan Bram.


"Aneh? Kenapa Kak Bram terlihat biasa-biasa saja? Padahal aku sudah kirim foto-foto yang bisa membuatnya naik darah begitu." batin Alika bingung sambil mengingat kalau dia yang sudah mengirim foto kedekatan Lena dan Ihsan pada Bram.


"Cih, apa yang sudah dia lakukan pada Kak Bram?" batin Alika lagi dengan tatapan penuh kebencian pada Lena.


Saat ini, Lena menggenggam erat lengan Bram saking gugup dan takjubnya karena baru pertama kali datang ke acara besar seperti itu. Para undangan disana kebanyakan adalah pebisnis, para pesohor dan artis juga datang ke acara itu.


"Jangan tegang begitu, kan ada aku." bisik Bram sambil tersenyum kearahnya. Lena menggangguk mengiyakan.


"Aku jadi canggung karena nggak ada yang aku kenal disini." batin Lena sambil melihat sekelilingnya. Dia dan Bram ikut nimbrung dengan Pak Ibrahim dan Bu Dona berbincang dengan kolega bisnis mereka. Lena hanya diam mendengarkan.


Terdengar orang-orang disana banyak memuji pasangan pengantin baru itu, bahkan kolega bisnis mereka juga ikut memuji. Dalam hatinya, Bu Dona terlihat senang karena menantunya itu tidak mempermalukan dirinya.


Tiba-tiba ada seseorang mencolek lengan Lena dari samping, Lena jadi menoleh karenanya.


"Emi?" kaget Lena tak percaya. Tak menyangka ada juga orang yang dikenalnya disana.


"Kamu cantik banget." puji Lena. Emi terlihat senyam-senyum.


"Katanya kamu nggak mau datang?" tanya Lena.


"Ya mau gimana lagi. Aku dipaksa terus sama orangtuaku. Kata mereka siapa tahu aku dapat jodoh disini." ucap Emi tertawa kecil sambil menggaruk pipinya.


"Hhh... Padahal putus dengan mantanku aja aku sudah sedih, ini aku malah disuruh cari jodoh." sungut Emi, tapi karena itu dia jadi terlihat imut.


"Kamu cantik banget loh, Len." puji Emi takjub.


"He, he... Siapa lagi kalau bukan Kak Bram yang membelikan dan memilih baju ini buatku." bisik Lena sambil tersenyum.

__ADS_1


"Wah... Benarkah?" tanya Emi takjub.


"Seharusnya kan perempuan sendiri yang memilih baju, tapi kamu malah Kak Bram yang memilihnya. Itu artinya, Kak Bram sangat menyayangimu, Len." ucap Emi polos, Lena hanya tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya.


"Rasanya canggung ya, cuma kita berdua aja nggak ada yang lainnya disini." ucap Lena mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh iya, Len. Disana ada tempat yang bagus buat foto, loh. Kesana, yuk. Kita kirim foto buat bikin iri yang lain." ucap Emi tersenyum usil.


"Ohoho... Tunggu, ya. Aku harus minta ijin dulu dengan suamiku." ucap Lena mengiyakan ajakan Emi.


Lena meminta ijin pada Bram dan Bram mengijinkannya pergi dengan Emi. Tapi, dalam hatinya dia tak rela kalau harus berpisah dengan Lena.


Sementara itu, dari kejauhan Cintia melihat Lena dan Emi yang pergi ke tempat tujuan mereka. Sampai-sampai Sonia dan Soraya was-was melihatnya. Takut-takut kalau mereka di buang oleh Cintia dan kemungkinan akan di amuk oleh orangtua mereka nantinya.


"Hm... Apa aku cerita padanya tentang tingkah Ihsan yang aneh melihatnya, ya?" batin Cintia berpikir.


"Tidak, jangan. Dia sudah menikah. Aku nggak mau karena aku, keluarganya jadi bermasalah. Kemungkinan Ihsan itu penggemar rahasianya dan menyukai Lena diam-diam kan? Tapi, tunggu sebentar... Bukannya dia sudah tahu kalau Lena sudah menikah ya?" batin Cintia bingung dengan pertanyaannya sendiri.


Tiba-tiba Cintia kaget mendengar teriakan histeris para gadis yang melihat ke arah pintu masuk. Disana terlihat Ardan dan Sultan yang baru datang ke acara itu dan duo itu sudah membuat kehebohan saja. Cintia jengah melihat kakaknya yang sedang tebar pesona itu, walaupun tak separah dulu karena sudah bertemu dengan Anisa.


"Inilah yang aku tidak suka. Gara-gara dia, aku jadi pusat perhatian juga. Lihat dirinya." batin Sultan kesal melihat Ardan yang terlihat sok tenang dan cool, tapi gayanya masih terlihat sedikit petakilan.


"Akhirnya, cucuku yang tampan datang juga." ucap Pak Damar sambil menepuk-nepuk punggung Ardan dengan gemas.


"Maaf ya Sultan. Dia selalu bikin kamu repot." ucap Pak Amar terlihat serba salah.


"Oh iya, ini Pak Ibrahim dan anaknya Bram. Pastinya kalian sudah tahu kan?" tanya Pak Amar.


"Oh, tentu saja, pa." sahut Ardan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Sultan. Sultan pura-pura acuh tak acuh. Dia dan Ardan bersalaman dengan Bram dan Pak Ibrahim.


"Untung saja Lena nggak ada disini." batin Bram lega saat bersalaman dengan Sultan. Tapi, ada perasaan tak suka juga saat melihat Sultan.


"Aku masih tak menyangka, bagaimana bisa orang ini begitu akrab dengan anak sulung dari orang terpandang itu?" batin Bram penuh selidik menatap Sultan. Sultan tak tahu kalau ditatap oleh Bram karena terlalu asyik mendengarkan yang lainnya.


Sedangkan di tempat lain, Bu Dona asyik mengobrol dengan Alika dan ibunya serta ibu-ibu lainnya.


"Menantunya kemana, bu? Kok nggak ikut ngobrol bareng kita?" tanya Bu Clarisa.


"Tadi katanya dia pergi sama temannya. Nggak tahu kemana." jawab Bu Dona agak malu karena sang menantu malah tak menemaninya.


"Namanya anak muda, bu. Wajar kalau dia malah memilih bersama temannya. Putri saya juga nggak kelihatan dimana orangnya." ucap Bu Cinta seolah memahami perasaan Bu Dona. Bu Dona jadi terlihat sedikit tenang mendengarnya.


Sementara itu...


"Um... Cintia. Apa kita akan terus berdiri disini saja?" tanya Soraya takut-takut. Dia akhirnya memberanikan diri bertanya karena merasa bosan terus-terusan berada di tempat yang sama dari tadi.

__ADS_1


"Hm." jawab Cintia acuh. Sonia dan Soraya jadi bingung mendengarnya.


Entah kenapa, baru pertama kali ini Cintia terlihat tidak semangat menghadiri acara besar seperti itu.


"Bosan. Apa nggak ada yang seru, ya?" batin Cintia.


Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara para gadis yang lagi-lagi berteriak seperti kehadiran Ardan dan Sultan tadi. Sampai-sampai Sonia dan Soraya juga ikut histeris melihat ke sumber teriakan itu.


"Astaga! Itu Daniel!" teriak mereka bersamaan.


"Hm? Daniel?" batin Cintia bingung sambil melihat orang yang dielu-elukan itu.


Daniel, artis tampan yang akhir-akhir ini sangat populer di dunia hiburan juga hadir di acara itu. Rambutnya gondrong tapi di sisir rapi. Dan senyuman manisnya terbit diwajahnya yang bersih mulus tanpa ada kumis dan jenggot yang tumbuh diwajahnya.


"Entah kenapa wajahnya terlihat mirip dengan seseorang, ya?" batin Cintia sambil berpikir keras tapi tetap tak ingat juga.


"Duh, ada-ada saja aku ini. Namanya juga artis, pastinya sering lihat wajahnya di TV kan?" batinnya lagi.


Cintia kaget karena tiba-tiba Sonia dan Soraya memegangi lengannya dan langsung menyeretnya ke arah artis itu tanpa minta ijin darinya.


"Hei, hei. Apa yang kalian lakukan?" tanya Cintia kesal, si kembar malah menyeretnya dengan tak sopan.


"Kita nggak boleh kalah berfoto dengan Daniel... " jawab mereka histeris. Tak dihiraukan mereka Cintia yang sudah marah dengan perlakuan mereka. Bisa-bisanya mereka menyeret seorang Cintia. Mereka jadi semakin berani saja.


Sementara itu, ibu-ibu sosialita...


"Astaga. Gadis-gadis jaman sekarang suka tak mengenal tempat kalau sudah asyik dengan apa yang mereka sukai." ucap Bu Cinta geleng-geleng kepala melihat kerumunan para gadis yang mengerumuni Daniel, bahkan sampai ibu-ibu juga ikut.


"Iya benar, bu. Untung Cintia dan si kembar nggak begitu ya, bu." sahut Bu Rahayu berdecak.


Baru saja ngomong begitu, mereka langsung melongo melihat anak-anak mereka, Sonia dan Soraya sedang menyeret Cintia dengan semangat sambil histeris menyebut-nyebut nama Daniel.


"Tidak, ma. Jangan salah paham. Ini nggak seperti yang mama pikirkan." teriak Cintia dalam hati saat melihat mamanya terdiam membeku melihat kearahnya.


"Wah, tenaga mereka kuat juga." batin Cintia takjub melihat Sonia dan Soraya yang mampu membelah kerumunan para gadis dan ibu-ibu disana.


Kalau urusan seperti ini, mereka sudah jangan ditanya lagi. Pasti kekuatan ajaib mereka akan keluar.


"Aku nggak usah ikut, kalian saja." ucap Cintia menolak, tapi si kembar tetap menyeretnya sampai mereka sudah berhadapan dengan Daniel.


Tak sengaja Cintia dan Daniel saling bertatapan. Langsung saja Daniel tersenyum jahil kearahnya, Cintia malah terpaku melihatnya.


"Matanya... Entah kenapa aku jadi teringat si hutan rimba." batin Cintia takjub sekaligus kesal.


Dan lagi-lagi tanpa permisi, si kembar menyeretnya begitu saja mendekati Daniel untuk berfoto. Cintia hanya bisa pasrah, dia tak bisa melawan karena kekuatan si kembar yang tak ada lawan itu. Walaupun dia merasa risih berdekatan dengan artis tampan Daniel.

__ADS_1


Sementara mereka heboh dengan Daniel, di tempat lain juga terjadi kehebohan sampai mata Bram membelalak melihat Lena yang di peluk oleh Sultan di depan matanya.


Apa yang sudah terjadi?


__ADS_2