
Lena memandangi selembar kertas ditangannya.
"Hartaku." ucapnya sambil tersenyum bahagia.
Sudah bertahun-tahun kertas puisi itu disimpannya. Tersimpan rapi dalam kotak kecil miliknya. Setiap kali kegundahan melanda hati, Lena pasti akan membaca puisi itu berkali-kali sampai hatinya merasa tenang.
Teringat lagi kejadian kemarin...
Karena membuat keributan dilingkungan kampus, Lena dan Cintia harus masuk keruangan pak dosen killer. Entah apa yang dosen itu ceramahi, yang pasti aura gelap menguar dari ruangan tersebut. Tapi, 'untungnya' mereka tidak sampai diskors.
Dan waktu itu juga, jantung Lena berdegup kencang bagai derap kuda. Semobil dengan orang yang dia suka, membuat pipinya merah merona. Sesekali diliriknya orang yang berada dibalik kemudi.
Lena senang karena Sultan yang menjemputnya sekaligus malu karena ketahuan dirinya membuat ulah. Walaupun dia memang suka bikin ulah, sih.
"Siapa tahu dia ada yang punya." bisik seseorang tiba-tiba mengagetkan dirinya.
Lena tersadar, kalau didalam mobil itu tidak hanya ada mereka berdua, tapi juga ada Cintia.
"Apa kau bilang?" tatap Lena tajam. Cintia terlihat menyeringai kearahnya.
Seharusnya, Pak Hadi yang menjemput Lena. Tapi, karena setelah Bu Mila mendapat telepon dari kampus, Pak Hadi tak bisa dihubungi. Jadinya, Sultan yang ditelepon untuk dimintai bantuan.
Sedangkan Cintia, Sultan bekerja di perusahaan milik keluarga Cintia. Kakak Cintia yang merupakan direktur di perusahaan itu, tak bisa menjemput Cintia karena ada urusan mendesak. Terpaksalah Sultan juga yang menjemputnya.
Jadilah, Sultan mengantar mereka berdua pulang menggunakan mobilnya. Sudah bisa dipastikan, kedua gadis itu bertengkar lagi. Kalau tidak dihentikan Sultan, mereka akan membuat keributan sepanjang jalan.
Saat mengingat kejadian itu lagi, semakin kesallah Lena pada Cintia.
...***...
Sementara itu, ditempat lain. Di pintu keluar sebuah mall, tampak seorang pria tengah menyeret seorang gadis yang meronta-ronta.
"Aduh, kak. Sakit... Lepasin, kak." ronta Cintia kesakitan karena tangannya dicengkeram terlalu erat.
"Kemarin hampir bikin kakak jantungan gara-gara berulah lagi di kampus. Sekarang kamu malah asyik-asyik shopping, hah?!" bentak kakaknya yang ternyata adalah Ardan.
"Bisa-bisanya kamu kuliah jurusan hukum, tapi malah kamu sendiri yang bikin masalahnya." cecar Ardan murka.
"Ih, padahal kakak sendiri juga sama aja." kilah Cintia.
"Ngelawan, ya?" dijitaknya kepala Cintia, sampai Cintia mengaduh kesakitan.
"Kak, jangan marah-marah disini, dong. Malu dilihat orang." ucap Cintia sambil melihat sekelilingnya.
Benar saja, orang-orang memperhatikan mereka dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Nggak bisa dibiarin. Kakak bakal bawa kamu kerumah kakek." ucap Ardan tanpa menghiraukan kata-kata Cintia tadi.
"Apa? Jangan, kak... " teriak Cintia histeris mengiba-iba. Mengingat betapa menyeramkannya kakek mereka kalau sedang dalam mode ceramah. Apalagi kalau mendengar cucunya sendiri yang membuat masalah.
Tampak seorang gadis berhijab memperhatikan mereka dari kejauhan.
Dan gadis itu adalah Anisa.
...***...
Kita semua sudah tahu, kalau Anisa adalah putri dan adik yang paling berharga bagi Abi dan kedua kakak laki-lakinya. Segala cara akan mereka lakukan untuk melindungi Anisa. Sampai-sampai orang lain segan dan tak berani mendekati Anisa. Karenanya, kelakuan Abi dan kakak-kakaknya malah menjadi beban bagi Anisa.
Demi kedamaian bersama, Anisa memutuskan untuk masuk keperguruan karate ternama. Demi meyakinkan keluarganya kalau dia bisa menjaga dirinya sendiri tanpa bantuan mereka.
Sampai berhasil meraih sabuk hitam. Selalu mendapat juara. Semua lawannya tak berkutik dibuatnya. Sampai-sampai menjadikannya perempuan yang paling berbahaya.
Anisa pikir, hidupnya akan damai bersama keluarganya tanpa ada lagi gangguan. Tapi, sepertinya hal itu tak akan bertahan lama. Hidupnya akan kacau dan takkan tenang karena kesalahpahamannya sendiri.
Semua itu akan dimulai dari hari ini.
Dan sekarang, ditempatnya berdiri. Anisa tak sengaja melihat seorang gadis yang dikenalnya sedang meronta-ronta, diseret oleh pria tak dikenal. Tak ada seorangpun yang berniat menolong gadis tersebut dan malah menjadikannya sebagai tontonan.
Jiwa sosial Anisa yang bangkit melihat kejadian itu, langsung berlari secepat kilat menghampiri mereka.
"Cintia dalam bahaya." batinnya dengan mata yang mengkilat.
Si pria yang masih terkaget-kaget dengan kedatangan dan perlakuan kasar perempuan berhijab didepannya, harus merelakan dirinya dibanting menghantam kerasnya jalanan beraspal.
BRUG!
"Beraninya sama perempuan saja. Dasar pengecut." bentak Anisa kasar pada si pria yang tak sanggup bergerak karena terkejut sekaligus kesakitan.
"Cintia, kamu nggak papa, kan?" tanya Anisa khawatir. Yang ditanya hanya bengong tak bergerak ditempatnya.
Cintia tak menyangka, Anisa mampu membanting orang yang lebih besar darinya dengan begitu mudahnya. Seketika dirinya langsung teringat rumor tentang Anisa yang dijuluki 'Si Hijab Berbahaya' ternyata memang benar adanya.
"Cintia, kalau ada orang jahat mau mencelakai kamu, kalau nggak bisa melawan paling nggak bisa teriak minta tolong, kan." nasihat Anisa sebal, melihat orang yang ditolongnya hanya mematung.
"A-anu... Anisa... Orang jahat itu kakakku." Cintia akhirnya bisa mengeluarkan suaranya walau masih syok.
"Apa? Kakakmu?" teriak Anisa kaget.
"Astaghfirullah... Habislah kau, Anisa." batin Anisa panik. Mengingat yang dibantingnya adalah kakak Cintia, anak sulung dari pemilik perusahaan terbesar dan yang paling berpengaruh se Jakarta. Dengan jumlah kekayaan yang jangan disebutin nanti jadi riya.
Sudah bisa dibayangkannya, dirinya akan dituntut habis-habisan dan keluarganya akan dibuat menderita akibat dari ulahnya.
__ADS_1
"Uh... Sakit... " tiba-tiba rintihan kesakitan Ardan membuyarkan pikiran-pikiran khawatir Anisa. Anisa langsung berjongkok untuk melihat kondisi Ardan dengan lebih dekat.
"M-maafkan saya. Saya salah. Adakah yang terluka? Dibagian mananya yang sakit?" panik Anisa berkeringat dingin. Tanpa sadar dirinya jadi berbicara sopan.
"Dihatiku." jawab Ardan sambil memegang dada kirinya dengan ekspresi sendu yang sulit diartikan.
Mendengar jawaban anehnya, membuat Anisa dan Cintia melongo dengan perasaan mangkel. Bisa-bisanya dengan kondisi begitu dirinya malah ngegombal.
"Duh... gawat." Cintia yang tahu kelakuan kakaknya kalau sudah berulah pasti takkan bisa dihentikan, hanya bisa memijit-mijit pelipisnya.
Terdengar lagi rintihan kesakitan Ardan, tubuhnya terlihat gemetaran sambil tangannya menutup wajahnya. Anisa kelabakan, erasa sangat bersalah karena sudah membuat anak orang benar-benar cidera.
"Maafkan saya. Tolong jangan tuntut saya kepolisi. Saya mohon. Saya janji, saya akan bertanggungjawab." pinta Anisa mencoba bernegosiasi.
"Sungguh?" Ardan melirik Anisa dari celah-celah jarinya.
"I... iya?" jawab Anisa bingung.
Raut kesakitan Ardan seketika berubah. Wajahnya tersenyum berseri-seri, tapi setelahnya berganti jadi senyum yang mencurigakan.
Merinding Cintia melihatnya. Bisa dipastikan kakaknya akan membuat masalah.
"S-sepertinya, aku kena jebak." pikir Anisa menyadari kebodohannya.
Kakak... Abi... Tolong Anisa...
...***...
Malamnya, dirumah Lena.
"Lena... cepetan, nak." panggil Bu Mila sambil mengetuk pintu kamar Lena.
"Tunggu sebentar, bu..." terdengar sahutan dari dalam. Tak lama kemudian, Lena keluar dengan penampilan yang sangat memesona.
"Aduduh... Cantiknya anakku." puji Bu Mila takjub.
Lena terlihat sangat cantik mengenakan dress selutut berwarna putih yang sesuai dengan riasannya.
"Yuk, cepetan, yuk. Taksinya sudah datang." ucap Bu Mila sambil menggandeng tangan putrinya.
"Memangnya ada acara apa sih, bu?" tanya Lena kebingungan.
Lena masih bingung, sebab dirinya diminta ikut menghadiri acara bersama orangtuanya. Tanpa memberitahu acara apa yang akan didatanginya. Walaupun meragu, Lena akhirnya mengiyakan kemauan orangtuanya.
"Nanti juga kamu bakalan tahu." jawab sang ibu tersenyum yang semakin menambah menawan wajahnya yang tertutup hijab.
__ADS_1
Diluar rumah, Pak Hadi sudah menunggu disamping taksi pesanan mereka.
Selama perjalanan, Lena duduk dalam diam dengan pikiran yang masih bertanya-tanya.