Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Harimau Vs Macan


__ADS_3

"Uh... Padahal aku pengen merahasiakannya dari kalian, habisnya aku malu... Hweee..." ucap Emi sambil menangis. Si Emi orangnya terkenal cengeng dan baperan.


"Kenapa malu? Itu kan bukan salahmu." ucap Anisa menenangkannya. Bukannya ikut sedih, Anisa malah gemas melihat tingkah Emi yang seperti anak kecil. Apa gara-gara Emi yang begini, dia jadi diputusin sama pacarnya?


"Nah, Lena. Sekarang kamu tahu kan, kenapa kami dukung kamu buat nerima perjodohan? Kami cuma pengen kamu tahu, kalau hanya mengandalkan cinta saja, kamu hanya akan berakhir merana. Kami tahu kamu mencari cinta bukan mengejar harta. Tapi, apakah kamu pikir akan bahagia, sedangkan orang yang kamu sukai aja nggak menyukaimu. Kamu sudah dikasih pilihan yang bagus, Len. Pak Ibrahim juga dari keluarga baik-baik. Pikirkanlah, Len. Ini kan demi masa depan kamu juga." nasihat Rosi panjang lebar. Saat dia bicara begitu, gaya tomboynya terlihat sangat keren.


"Tapi, aku juga belum tentu bahagia kalau menikah dengan anak Pak Ibrahim." Lena masih kukuh dengan pendiriannya.


"Aduh, keteguhanmu itu bikin aku kesal aja. Terima aja kenapa sih. Pakai ngeributin masalah cinta-cinta segala." kesal Grace, tak tahan mendengar kekolotan Lena.


"Ngomongnya sih gitu. Tapi sendirinya juga sama aja." celetuk Anisa.


"Apa kau bilang?" marah Grace tak terima. Ditatapnya bete Anisa yang masih memeluk Emi yang sesegukan.


"Oh, iya. Waktu kamu diputusin pacarmu, kamu malah lebih heboh dari aku. Kami harus susah payah menenangkan kamu yang mengamuk." tatap tajam Lena mengingatkan.


"H-habisnya, pacarku pengecut. Masa nggak ada niatannya buat pertahankan aku." kilah Grace.


"Oho... Ternyata kamu masih berharap sama mantanmu itu, ya...?" goda Rosi menoel pipi Grace.


"Ah, apaan sih? Aku udah move on, tahu." sebal Grace. Padahal dia bohong kalau bilang sudah move on.


"Jangan peluk-peluk." larang Anisa. Tapi dibiarkannya Grace memeluknya.


"Pilih kasih. Emi aja kamu peluk." paksa Grace.


Sementara keempat sahabatnya peluk-pelukan, Lena hanya diam mematung.


"Selama ini, aku hanya memikirkan diriku sendiri. Menganggap kalau perasaanku yang paling penting. Tanpa sadar kalau mereka juga punya masalah yang sama. Tapi, mereka malah memikirkan kebahagiaanku dan memendam kesedihan mereka. Tapi... Aku sangat menyukainya... Kalau sudah begini, aku harus bagaimana?" batin Lena galau. Lena mulai bimbang dengan perasaannya sendiri.


Tapi, disaat kegundahan hati melanda, disitu pastilah ada ego yang muncul mengalahkannya segalanya.


"Maafkan aku, teman-teman. Aku memang nggak bisa melepaskan cintaku." teriak Lena dalam hati.


Diapun ikut berpelukan bahagia dengan teman-temannya. Entah hilang kemana semua nasihat yang diberikan para sahabatnya tadi. Dia sudah melupakan semuanya.

__ADS_1


"Wah, ada Teletubbies lagi berpelukan rupanya?"


Tiba-tiba suara seseorang mengganggu kesenangan mereka. Lena dan teman-temannya langsung tahu siapa pemilik suara angkuh itu. Seorang gadis bernama Cintia dan dua perempuan dibelakangnya sudah berdiri dihadapan Lena dan teman-temannya.


Cintia, gadis bertubuh tinggi semampai dan berambut lurus pendek sebahu. Dia begitu cantik dengan penampilan yang terawat sangat baik.


Dalam penampilannya, tak pernah lepas dari barang-barang bermerek. Kalian bisa silau melihat penampilannya yang super mewah. Sampai-sampai, dikampus dia dijuluki 'Harta Karun Berjalan' oleh kebanyakan orang. Walaupun begitu, barang-barang bermerek itu telihat sangat serasi dikenakannya.


Memiliki dua 'dayang' yang sangat patuh dan selalu mengikutinya kemanapun dia pergi.


Penampilannya sangat anggun, tapi juga terkesan angkuh. Terlahir dari keluarga kaya dan terpandang, membuatnya memiliki sikap yang seenaknya. Padahal dia tak begitu menyukai Lena dan teman-temannya. Tapi, entah kenapa dia selalu suka mendekat dan membuat keributan dengan mereka.


"Ngapain kamu disini?" tanya Lena tajam.


"Ah... Kami cuma kebetulan lewat, kok... " jawab Cintia santai.


"Cintia, tolong jangan mencari keributan disini." pinta Anisa dengan tatapan tajam.


Lena, Rosi dan Grace menunjukkan sikap tak suka. Sedangkan Emi bersembunyi dibalik badan Anisa. Mereka memang tak begitu menyukai Cintia.


"Aku mencari keributan? Asal kalian tahu saja, yang bikin keributan itu kalian. Kalian nggak sadar apa, kalau dari tadi orang-orang memperhatikan kalian?" sangkal Cintia tak terima, wajahnya terlihat memerah.


"Kalau nggak ada yang diomongin lagi, sebaiknya kalian pergi dari sini." ucap Lena garang.


"Fuh, berlagak sok ya kamu." ucap Cintia tersenyum miring, setelah beberapa saat tadi dilihatnya Lena dengan ekspresi yang tak biasa.


"Padahal tadi kayak anak kecil yang ngeributin masalah cinta-cintaan aja."


"K-kamu nguping, ya?" marah Lena.


"Kan tadi aku sudah bilang, kalau kalian yang bikin keributan. Pastinya orang-orang disini bisa mendengar kalian, dong." jelas Cintia jengah. Wajahnya terlihat bete karena harus mengingatkan Lena lagi.


"Duh, kita bikin rusuh rupanya." batin Lena dan teman-temannya malu.


Cintia menggerakkannya tangannya, mengisyaratkan pada kedua dayangnya untuk tidak berlama-lama disana. Tapi sambil jalan, tiba-tiba dia bergumam.

__ADS_1


"Dasar bucin akut."


Lena yang bisa mendengarnya, langsung putus urat sarafnya. Seketika saja dia ingin menerjang Cintia, tapi ditahan oleh teman-temannya.


"Tahan, Len, tahan." panik Rosi.


"Bodoh. Kamu mau diskors lagi, hah?" Grace mengingatkan.


"Cih, padahal pengen lihat mereka gelut." ucap Grace dalam hati.


Grace dan Rosi mati-matian menahan Lena yang meronta-ronta. Tanpa mereka sadari, dibawah kaki mereka ada gelas plastik milik Grace yang diletakkannya sembarangan ditanah. Tanpa bisa dicegah, kaki Lena yang tak sengaja menendang gelas tersebut, membuat gelas terbang dan menumpahkan isinya yang berupa jus buah naga yang tersisa setengah.


Ceplas!


"Aaah... Bajuku... " pekik Cintia histeris melihat cipratan noda dibajunya yang berwarna terang.


"M-maaf... " Lena jadi merasa bersalah. Apalagi Grace yang sudah sembarangan menaruh jusnya.


Lena memang punya kebiasaan tersandung atau menendang sesuatu karena kecerobohannya. Apa yang ditendang olehnya pasti bakal jungkir balik. Kalau pemain sepak bola Pele dijuluki 'Si Kaki Emas', sedangkan Lena dari dulu dijuluki PeLena 'Si Kaki Maut'. Karena 'bakat'nya itu, hampir saja Lena direkrut tim sepak bola wanita gara-gara ulah Rosi.


"Maaf katamu? Apa kamu tahu baju ini berapa harganya?" amuk Cintia emosi. Seketika wajahnya yang anggun berubah jadi garang. Untuk masalah fashion, Cintia tak terima kalau ada yang merusak penampilannya.


"Terus, kenapa? Paling juga cuma endors." ledek Lena menantang.


"Aaargh... " Cintia kalap. Diterjangnya Lena, bak macan kesurupan.


Grace dan yang lain dan kedua dayang Cintia kalang kabut melerai keduanya.


Orang-orang berkerumun melihat keributan itu. Bukannya melerai, mereka malah menganggapnya sebagai tontonan yang seru.


Begitu pula bagi Bandi, laki-laki narsis dan suka cari perhatian yang terkadang ucapannya suka bikin orang heran itu sudah bersorak kegirangan diantara kerumunan.


"Sudah lama nggak lihat harimau sama macan gelut."


Dia tak menyadari kalau orang-orang disekitarnya memandangnya dengan aneh.

__ADS_1


Harimau sama macan?


Bukannya itu satu hewan yang sama, tapi hanya namanya yang berbeda?


__ADS_2