Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Ayam Geprek Level Dewa Geledek


__ADS_3

Suasana saat ini begitu tegang. Tatapan Anisa sangat serius dan menghunus tajam, sedangkan Ardan walaupun terlihat serius tapi senyuman usilnya tetap tersungging diwajahnya yang tampan.


Ready... Go!


"Haaa...!" teriak Anisa yang duluan memulai serangan. Dilayangkannya pukulan dan tendangan mematikannya pada Ardan.


Tapi, alangkah kagetnya Anisa, ternyata Ardan bisa menangkis dan menghindari serangan mematikannya itu dengan gesit dan lincahnya.


"B-bagaimana bisa dia?" batin Anisa kaget sampai mundur beberapa langkah.


Ardan tersenyum usil dan mengedipkan sebelah matanya pada Anisa.


"Uwoh... Kak Ardan memang keren!" teriak Ridwan sambil tepuk tangan.


Dia heboh sendirian. Anisa dan anggota lainnya kebingungan melihatnya.


"Kakak memang petarung hebat!" ucap Ridwan lagi sambil mengacungkan jempolnya.


"Itu karena kekuatan cinta." sahut Ardan bangga.


Lagi-lagi Anisa dan anggota lainnya kebingungan. Soalnya baru pertama kali melihat Ardan duel dengan Anisa, malah sudah di bilang petarung hebat saja.


"Kalian nggak tahu, ya? Aku pernah lihat di internet, kalau Kak Ardan dulu pernah ikut kejuaraan tinju bebas. Kakak mengalahkan lawannya dengan cepat hanya dalam hitungan detik di ronde pertama loh." Ridwan menjelaskan dengan semangat karena melihat banyak mata yang kebingungan kearahnya.


Anisa dan yang lainnya kaget. Apalagi Ardan, dia juga kaget karena ada orang yang tahu tentang dirinya di masa lalu.


"Nggak mungkin? Dia?" batin Anisa, melihat Ardan dengan tatapan tak percaya.


Ardan tersenyum sambil mengangkat bahunya sombong, mengiyakan perkataan Ridwan.


"Keren... Ups!" Anisa menutup mulutnya karena tak sadar berucap. Itu karena dia begitu mengagumi orang-orang kuat.


Ardan sempat mendengarnya. Anisa jadi malu sekaligus kesal melihat Ardan yang tersenyum kearahnya.


Anggota karate lain langsung mengerubungi Ridwan yang memperlihatkan video di handphonenya. Mereka kaget dan takjub melihat video pertandingan tinju bebas itu dan di video itu memang benar ada Ardan yang sedang mengalahkan lawannya dengan beringas.


Waktu kuliah, Ardan pernah ikut klub tinju bebas. Sampai dia memohon pada Sultan untuk merahasiakannya dari keluarganya.


Tapi, sepandai-pandainya bunglon menyamar tetap akan ketahuan juga. Keluarganya langsung panik, melihat Ardan yang bertarung di televisi. Sampai-sampai sang kakek hampir kena serangan jantung dibuatnya. Mereka baru tahu dengan hobi barunya Ardan.


Ardan langsung berhenti dan keluar dari klub tinju bebas itu gara-gara di ancam oleh Sultan yang dimintai tolong oleh keluarga Ardan, Sultan mengancam tak akan menjadi temannya lagi kalau dia tetap meneruskan hobinya itu.


"Gimana kamu bisa tahu video ini, Wan?" tanya salah satu anggota.


"Bapakku yang penyuka tinju bebas tak sengaja menemukan video lama ini di internet. Awalnya aku juga kaget melihat wajah Kak Ardan disini." jawab Ridwan.


"Akhirnya... Sebenarnya sudah lama aku ingin melihat Kak Anisa duel dengan Kak Ardan. Tapi aku takut mengusulkan terang-terangan karena nggak ada alasan yang tepat. Dan baru sekarang kebetulan ada kesempatannya." ucap Ridwan polos.


"RIDWAN... KAMU..." ucap Anisa emosi.


Bisa-bisanya Ridwan menjadikannya bahan perbandingan mengukur kekuatannya dengan Ardan. Ridwan terlihat ketakutan dan langsung bersembunyi di balik tubuh anggota yang lain.


"Gimana? Kita lanjutkan lagi?" tantang Ardan mengalihkan emosi Anisa.


"Huh! Dia pikir aku akan ketakutan setelah mendengar cerita tentang dirinya begitu. Aku nggak akan kalah. Aku akan mengalahkannya, dengan begitu dia nggak akan menggangguku lagi sesuai perjanjian. Aku pasti bisa!" tekad Anisa dalam hati.


Anisa langsung menyerang Ardan lagi dengan cepat, Ardan sudah siap menghadapinya. Tapi saat dirinya sudah siap, hatinya malah berkata lain.

__ADS_1


"D-dia tersenyum? Kepadaku?" batin Ardan terpana karena selama ini Anisa selalu merengut dan tak pernah terlihat tersenyum kepadanya.


Tapi, sepertinya Ardan salah paham. Sebenarnya Anisa tersenyum karena yakin bisa mengalahkan Ardan. Dan benar saja, di saat Ardan lengah, Anisa dengan mudahnya langsung membantingnya dengan keras ke lantai.


"Hore... Aku menang." sorak Anisa senang. Sedangkan Ardan merintih kesakitan di lantai.


Yang menonton mereka sebagian ada yang senang dan sebagian ada yang kecewa, termasuk Ridwan pastinya. Yang kecewa memberikan uang pada yang senang karena mereka tidak mendukung Anisa.


"Keterlaluan! Kalian jadikan kami bahan taruhan?" teriak Anisa marah.


Ardan terdengar merintih kesakitan. Anisa dan yang lainnya tersadar, mereka kelupaan dengan Ardan.


"Kak Ardan nggak papa?" tanya Ridwan panik. Anggota lain ikut mengerumuni dan bertanya khawatir pada Ardan.


"Lihat. Aku bisa mengalahkanmu. Jadi kamu harus menepati janjimu." ucap Anisa bangga.


"Kak Anisa gimana sih? Orang lagi kesakitan begini malah di ejek. Lihat nih, Kak Ardan. Tanggung jawab dong, kak." Ridwan malah marah-marah. Yang lain jadi ikutan juga.


"Loh kok, kenapa kalian jadi menyalahkan aku? Peraturannya kan harus saling lawan dan mengalahkan kan? Lagipula, dia kan orangnya tangguh." ucap Anisa tak terima.


Tapi, pada akhirnya Anisa mengalah juga karena terus-terusan di tatap anggota lain, apalagi dia juga tak begitu tahan lama-lama mendengar rintihan kesakitan Ardan yang lebay dan dibuat-buat.


"Hhh... Baiklah, baiklah. Aku akan bertanggung jawab." ucap Anisa mengalah.


"Astaga, kenapa kejadian ini terulang lagi?" batin Anisa kesal.


"Bantu aku menggendongnya ke mobilnya. Kalian harus temani kami ke rumah sakit." ucap Anisa, ikut berjongkok di dekat Ardan.


"Maaf, kak. Tadi aku di telepon bapak buat cepat-cepat pulang." tolak Ridwan.


"Loh? Terus siapa yang menyetir mobilnya kalau dia lagi kesakitan begini?" tanya Anisa pada semua anggota yang juga terang-terangan menolak dan langsung kabur meninggalkan mereka berdua.


Anisa dan Ardan saling bertatapan dalam diam.


"Hiiih... Ingin rasanya kutonjok wajahnya." batin Anisa kesal melihat Ardan yang senyam-senyum kearahnya.


...***...


"Huh! Padahal tadi teriak-teriak kesakitan, tapi sekarang baik-baik saja." sindir Anisa pada Ardan yang sedang menyetir disampingnya.


Sesekali Ardan terdengar bersenandung riang mengikuti alunan lagu yang diputarnya. Dia terkadang suka mendengarkan lagu sambil menyetir kalau suasana hatinya sedang senang.


"Hm... Aku langsung sembuh karena kebaikan hatimu." sahut Ardan. Anisa terlihat jengkel melihatnya.


"Duh, kenapa lagu yang di putar begini lagi?" batin Anisa canggung, mendengar lagu dari penyanyi Indonesia yang mengalun bercerita tentang cinta.


"Kamu harus tepati janji, nggak akan ganggu aku lagi." Anisa menagih janji.


"Hah? Rasanya aku nggak pernah janji begitu?"


"Pokoknya kita sudah sepakat. Kamu kan sudah kalah melawan aku."


"Aku kalah karena terpesona dengan senyumanmu."


"Iuh... Sabar, sabar. Tangan... Kaki... Sabarlah." batin Anisa mangkel. Dia sudah geregetan ingin membanting Ardan lagi.


"Padahal aku yang menang, tapi kenapa seperti aku yang kalah? Tapi sungguh mengejutkan, aku tak menyangka kalau ternyata dia pernah ikut tinju bebas." batin Anisa kesal sekaligus takjub.

__ADS_1


"Hei, bagaimana bisa kamu dulu pernah ikut tinju bebas?" tanya Anisa. Dari tadi dia sudah tak tahan untuk menanyakannya.


"Hm... Buat cari kesenangan aja sih. Habisnya, aku agak bosan jadi anak orang kaya." jawab Ardan apa adanya.


Keluarganya dari dulu memang terkenal sudah kaya raya. Setelah Ardan lahir pun, segala kebutuhan dan keinginannya pastilah selalu terpenuhi karena keluarganya sudah duluan kaya dan berada. Karena selalu terpenuhi, entah kenapa dia malah jenuh jadinya.


"Kenapa orang kaya terkadang pikirannya suka di luar nalar. Di saat orang lain ingin kaya, mereka malah ingin jadi orang biasa." batin Anisa heran.


"Lalu kamu sendiri, kenapa suka karate?"


"Aku hanya ingin membuktikan pada Abi dan kakak-kakakku kalau aku bisa menjaga diriku sendiri tanpa harus merepotkan mereka. Lagian kamu juga tahu kan, banyak kejahatan terjadi belakangan ini dan sudah ada banyak perempuan yang jadi korbannya." ucap Anisa sambil melirik Ardan.


"Jangan suudzon gitu, dong. Tenang saja, aku nggak bakalan begitu kok. Aku ini kan pencari cinta sejati." ucap Ardan mengetahui maksud lirikan Anisa.


Ardan memperlambat laju mobilnya dan berhenti karena lampu merah menyala. Tapi entah kenapa, musik yang masih mengalun tiba-tiba berganti memainkan lagu Wrecked dari Imagine Dragon. Lagu aliran rock yang menyiratkan kehilangan di tinggal oleh orang yang disayangi.


Dan kebetulan lagi, ada seorang ibu dan anaknya lewat di garis penyeberangan melintas di depan mobil mereka. Anisa memperhatikan ibu dan anak itu dengan sendu, ditambah lagi dengan lagu itu yang semakin membuat hatinya pilu.


Dia jadi merindukan almarhumah Umminya, walaupun dia tak pernah bertemu dan hanya bisa melihatnya dari foto keluarga. Selama ini, dia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Walaupun begitu, Abi dan kedua kakaknya selalu memberikan kasih sayang yang berlimpah untuknya. Jadi, dia bisa mengatasi kerinduannya pada sang Ummi, walaupun terkadang suka iri dengan teman-temannya yang memiliki sosok seorang ibu.


Ardan kalang kabut melihat Anisa yang tiba-tiba ingin menangis. Dia ingin mengganti lagu itu, tapi dia malah mengurungkan niatnya karena punya ide lain untuk menghibur Anisa. Lalu saat di lirik yang tepat dia berimprovisasi dan langsung mangganti liriknya menjadi...


Ayam geprek, sambalnya emang mantep


Ayam geprek, nggak usah lagi colak colek di cobek


Ayam geprek, level dewa geledek


Tapi sayang, aku nggak suka pedes...


Anisa yang hampir menangis, jadi terperangah kaget melihat Ardan dengan tatapan aneh. Sampai-sampai ojol dan penumpangnya yang ada di samping mobil Ardan, terbengong-bengong melihat Ardan. Untung suaranya bagus.


"K-kenapa dia?" batin Anisa kebingungan. Tapi entah kenapa, lama-lama mendengar Ardan, Anisa jadi tak tahan juga untuk tak tertawa.


"Hahaha... Kok malah di plesetin jadi ayam geprek sih? Level dewa geledek? Emangnya ada, ya?" tanya Anisa sambil menyeka air matanya karena terlalu serius tertawa. Dia jadi lupa dengan kesedihannya tadi.


Sekarang malah Ardan yang jadi terperangah karena melihat Anisa yang tiba-tiba tertawa.


"Syukurlah... " batin Ardan senang melihat Anisa yang tak sedih lagi.


Maafkan aku Abang Naga, karena sudah seenaknya mengganti lirik lagumu. Tapi, aku tak ingin melihat cintaku, pujaan hatiku sedih seperti tadi.


"Kak Ardan lucu juga." ucap Anisa, masih tertawa-tawa kecil. Mata Ardan membelalak mendengarnya.


"K-kamu tadi menyebut namaku?" tanya Ardan tak percaya dengan wajah berbinar-binar. Anisa menjawab dengan senyuman.


Ardan terlihat jadi sangat bahagia, akhirnya apa yang diinginkannya terkabul juga. Anisa yang selama ini tak pernah menyebut namanya dan selalu memasang wajah merengut melihatnya, akhirnya mau menyebut namanya bahkan tersenyum dan tertawa untuknya.


"Ehem, mau makan ayam geprek?" tanya Ardan tiba-tiba sambil melajukan mobilnya karena sudah lampu hijau.


"Boleh. Yang level dewa geledek." sahut Anisa menerima tawarannya.


"Baiklah..."


"Ergh! Waduh. Gawat! Saking senangnya, aku sampai lupa kalau aku nggak bisa makan yang pedas-pedas. Tapi aku sudah mengiyakan. Sebagai pria, aku tak mungkin menarik kata-kataku. Harga diri, dong." batin Ardan agak gelisah.


"Haduh... Kayaknya aku harus menyiapkan obat sakit perut buat jaga-jaga nih." batin Ardan pasrah.

__ADS_1


__ADS_2