
"Yang semangat ya belajarnya." ucap Bram menyemangati Lena.
"Iya, kak." sahut Lena tersenyum ceria.
Mereka kini sudah sampai di kampus, Lena salim pada suaminya.
"Cie, cie, mesranya... Setelah sekian lama, akhirnya bisa melihat kalian mesraan lagi." goda Grace. Anisa, Rosi dan Emi senyam senyum melihat pasangan suami istri itu.
"Ih, Grace. Apa-apaan sih ngomong kayak gitu." marah Lena. Bram hanya tertawa menanggapi ucapan Grace.
"Maaf ya, aku nggak bisa berlama-lama. Aku titip istriku sama kalian, ya." ucap Bram seraya pamit.
"Siap, kak. Serahkan saja pada kami." ucap Grace, Rosi dan Emi serempak seraya memberikan hormat. Anisa hanya mengangguk mengiyakan.
"Aduh, sudah mereka, sampai kakak juga jadi ikutan aneh gara-gara mereka." batin Lena sambil menutup wajahnya dengan tangan.
...***...
Selesai kelas, di ruangan jurusan sastra Inggris. Dosen selesai memberikan pelajaran mata kuliahnya dan menyudahi pembelajaran.
"Cepat-cepat ah ngumpul bareng teman-teman." batin Emi riang.
Merapikan buku-bukunya lalu berjalan keluar dari ruangan jurusannya dengan langkah yang ringan. Karena terlalu asyik dan agak terburu-buru berjalan, tak sengaja Emi menabrak seseorang sampai membuat dirinya sendiri jatuh terduduk di lantai.
"Aduh... Sakit." rintih Emi memegangi bokongnya yang kesakitan.
"Hei, siapa ini?" tanya seseorang yang tak sengaja di tabrak Emi, sedang tersenyum menyeringai.
"K-kamu..." kaget Emi saat mendongakkan kepalanya.
Seketika Emi jadi merinding menyadari orang yang ditabraknya adalah mantan pacarnya, Raka.
"Duh... Padahal akhir-akhir ini aku selalu menghindar kalau tak sengaja bertemu atau berpapasan dengannya. Tapi, kenapa sekarang malah..." batin Emi cemas.
"Ahaha... Kenapa bengong? Kamu orangnya masih belum berubah ya, Emi." ucap Raka tertawa ramah.
Diulurkannya tangannya untuk membantu Emi berdiri. Emi terdiam kagum dan menyambut uluran tangan Raka.
"Kamu masih belum berubah. Polos, naif, kekanak-kanakan dan... nggak berguna." ucap Raka tiba-tiba sampai Emi kaget dibuatnya.
"Pantas saja orangtuamu nggak begitu menyukaimu." ucap Raka lagi sambil tersenyum miring.
"K-kenapa kamu ngomong begitu? Seharusnya aku yang nanya, kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini? Padahal dulu kamu nggak begini. Apa salahku padamu?" tanya Emi, wajahnya terlihat hampir menangis.
"Emi, Emi... Ternyata kamu itu benar-benar naif, ya. Aku baik itu bukan karena cinta tapi karena uangmu." ucap Raka sambil menautkan dua jarinya yang menandakan isyarat uang bukan isyarat cinta.
"Iya sih, aku sudah tahu itu." gumam Emi.
"Oh ya?" kaget Raka.
"Seharusnya, waktu itu aku terima saja tawaran dari Rosi buat menghajar kamu dulu." gumam Emi tanpa sadar.
"Hah? Apa kamu bilang? Sudah berani ya kamu, padahal penakut begitu." ucap Raka berang. Diangkatnya tangannya untuk melayangkan tamparan ada Emi.
__ADS_1
"Duh, seharusnya aku nggak ngomong begitu tadi." batin Emi, memejamkan matanya takut.
"Apa-apaan kamu? Beraninya sama yang lemah." teriak seorang perempuan.
"Eh? Suara ini... " batin Emi, membuka matanya perlahan. Dia kaget mendapati kalau Alikalah yang menahan pergelangan tangan Raka yang ingin memukulnya.
"Apaan sih? Ikut campur urusan orang lain saja." marah Raka.
"Kalau kamu bersikap kasar begini padanya, aku tak akan segan-segan berteriak biar orang-orang kampus datang kesini dan menghajarmu." ancam Alika dengan berani.
"Cih! Yang benar saja." gerutu Raka, menghempaskan kasar tangan Alika lalu berjalan pergi dari sana.
"Kamu nggak papa, Emi?" tanya Alika khawatir.
"Iya, nggak papa. Makasih ya, Al. Kamu berani banget tadi." ucap Emi.
"Bukannya tadi itu pacarmu, ya? Kenapa dia bisa begitu?"
"Mantan. Kami sudah lama putus." ralat Emi.
"Oh, maaf." ucap Alika serba salah.
"Kenapa? Nggak papa, katakan saja, jangan di pendam begitu. Aku akan mendengarkan." ucap Alika melihat Emi yang sepertinya ingin curhat tapi terlihat ragu-ragu mengatakannya.
"Dulu, waktu kami masih pacaran, Raka begitu baik dan pengertian. Ucapannya juga ramah dan sopan. Aku menyukainya karena sifatnya yang begitu. Tapi, kenapa sekarang dia..." Emi tak melanjutkan kata-katanya, wajahnya terlihat begitu sedih.
"Aku selalu membantunya di saat dia kesusahan dan membutuhkan uang. Sampai teman-temanku pernah menasehatiku untuk nggak terlalu mempercayainya. Tapi, aku nggak mendengarkan mereka karena Raka orangnya sangat baik. Tak ada salahnya kan kalau aku berniat menolong pacarku. Aku hanya ingin bisa berguna bagi seseorang. Apalagi alasan teman-temanku juga nggak begitu kuat kenapa mereka bisa nggak suka pada Raka."
"Waktu dia mutusin aku, aku kaget banget. Katanya karena aku terlalu kekanak-kanakan. Aku sampai bingung, kenapa karena itu dia malah mutusin aku. Kuakui aku memang kekanak-kanakan dan aku memaklumi keputusannya itu. Mungkin dia merasa tak nyaman dengan sifatku karena sifatnya yang memang terlihat dewasa daripada aku."
"Dia bilang, putus denganku karena benar-benar tak tahan dengan sifat kekanak-kanakanku. Dan langsung berpacaran dengan perempuan yang lebih cantik, punya banyak uang dan terlihat lebih dewasa dariku."
"Kupikir dia orang yang baik ternyata aku baru tahu dan jadi muak mengetahui sifat sebenarnya yang seperti itu. Dulunya aku suka, tapi sekarang aku jadi tak suka padanya." ucap Emi murung.
"Ah! Maaf, kamu malah jadi mendengarkan curhatanku begini." ucap Emi tersadar.
"Nggak papa, yang penting kan sekarang kamu sudah terbebas darinya dan juga tahu seperti apa dia sebenarnya. Jadi, jangan pikirkan dia lagi, ya." ucap Alika mencoba menghibur Emi.
"Makasih ya, Al, sudah mau mendengarkan curhatanku." ucap Emi tersenyum kikuk.
"Kita itu harus sering-sering curhat supaya nggak terus-terusan membuat beban di hati." ucap Alika maklum.
"Sebenarnya ogah sih. Ngapain juga aku harus dengerin curhatan dia. Tapi, mau bagaimana lagi, aku harus mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari orang yang berada di pihak targetku. Supaya rencanaku berjalan sesuai dengan yang kuharapakan. Dan ternyata orang ini naif banget." batin Alika jengah.
"Ya sudah, aku pergi dulu, ya." pamit Alika.
"Iya." ucap Emi menganggukkan kepalanya.
"Hhh... " Emi menghela nafasnya kasar.
Entah kenapa aku jadi kepikiran.
"Nggak berguna."
__ADS_1
"Pantas saja orangtuamu nggak begitu menyukaimu."
Omongan Raka tadi jadi terngiang-ngiang dibenakku. Kenapa dia harus ngomong begitu padaku? Apa salahku? Kupikir dia orang yang baik dan tulus. Ternyata...
Padahal, aku sudah sangat menyukainya sampai mau saja menolongnya yang kesusahan dalam keuangan. Aku sungguh bodoh, mau saja ditipunya seperti itu.
Tapi... Kenapa dia bicara begitu? Kenapa dia bisa tahu? Padahal aku sudah menutupinya rapat-rapat sampai tak ada yang tahu... kecuali teman-temanku.
Masalah keluargaku, tak ada orang yang tahu. Tapi, orang yang tak sengaja tahu tentang hidupku pertama kali adalah si tomboy Rosi. Kami jadi bisa berteman karena cerita hidup kami kurang lebih sama menyedihkannya.
Dan kepada Lena dan yang lain, aku hanya bercerita secukupnya saja. Walaupun begitu, ternyata mereka orang yang baik. Mereka mau merahasiakan cerita kehidupanku dan selalu menyemangati diriku untuk tak selalu bersedih.
Aku tahu... Aku memang tak disukai oleh orangtuaku.
Selama ini aku selalu dianggap tak berguna dan menyusahkan bagi orangtuaku. Sejak kecil, aku tak berbakat dan tak bisa diandalkan. Dan selalu dibanding-bandingkan dengan kakak perempuanku.
Kakak lebih dan sangat berbakat dibandingkan aku. Kakak selalu di manja dan di sayang sedangkan aku hanya selalu tersenyum dipojokan.
Tapi, di saat ayah dan ibu tak menganggapku, anehnya kakak malah selalu ada dan sayang kepadaku. Sejenak, aku tak mempermasalahkan tentang pilih kasih orangtua kami, yang penting ada kakak, aku tak mengapa.
Entah kenapa, suatu hari aku tak sengaja membuat kakak terluka. Ayah dan ibu marah besar kepadaku. Tak mengapa, marahlah. Itu memang kesalahanku. Tapi anehnya, kakak malah tak marah dan tak benci padaku. Padahal kakak celaka karena diriku.
Karena kecelakaan itu, ayah dan ibu ingin mengirimku ke asrama, tujuannya agar tak ingin putri kesayangan mereka celaka gara-gara aku lagi. Tapi, kakak malah membelaku karena dulu aku masih penakut dan tak bisa lepas dari mereka.
Kakak mengusulkan kalau dialah yang akan pergi ke asrama. Orangtua kami awalnya marah, tapi akhirnya mengalah.
Aku tahu maksud kakak baik, dia ingin supaya aku juga bisa di sayang oleh orangtua kami. Tapi, yang ada malah jadi parah. Orangtua kami semakin tak suka padaku dan aku semakin merindukan kakak.
Karena itulah, saat kakak kembali nanti, aku akan tunjukkan kalau aku bisa berubah. Aku juga bisa seperti kakak. Aku akan berusaha, belajar dan menjadi anak baik dan ramah seperti kakak. Aku akan tunjukkan kalau aku baik-baik saja dan mempunyai keluarga yang sayang kepadaku.
Tapi, yang ada aku malah jadi terlihat polos, kekanak-kanakan dan mudah di perdaya. Kuakui, itu memang sudah jadi sifatku. Walaupun tak bisa sepenuhnya seperti kakak, tapi aku akan berusaha semampuku.
Selama ini, aku selalu berpura-pura menganggap orangtuaku baik kepadaku. Karena aku tak mau nama mereka tercoreng karenaku. Kupikir, aku sudah bisa mengelabui semua orang dengan sikap polosku, tapi ternyata tidak juga, bagi Raka.
Tak mengapa. Walaupun aku masih tetap tak di anggap, yang penting aku ada teman-teman baik yang selalu ada untukku selama kakak tak ada.
Aku juga tahu kenapa ayah dan ibu menyuruhku mencari pacar lagi atau ingin menikahkanku, itu supaya kalau aku menikah, aku akan pergi dari rumah karena ikut dengan suamiku kelak. Supaya mereka bisa membawa kakak pulang ke rumah. Apakah ayah dan ibu senang kalau aku tak ada dan pergi jauh entah kemana?
Sebenarnya aku ingin menolak karena aku tak mau menikah muda dan ingin membangun karirku nantinya. Aku belum ada pikiran untuk menikah... muda?
Ah... Aku jadi teringat Lena. Entah kenapa, aku jadi tahu bagaimana perasaan Lena waktu itu. Aku jadi tahu perasaannya saat dia di paksa harus menikah muda.
Aku jadi merasa bersalah padanya karena aku juga punya andil membuatnya jadi menikah muda begitu. Tapi, untungnya Lena terlihat bahagia saja dengan suami dan mertuanya.
Uh... Gara-gara Raka, pikiranku jadi kesana kemari. Gara-gara dia, hatiku jadi sakit lagi, mengingat yang seharusnya tidak kuingat lagi.
BUK!
"Aduh!" teriak Emi kesakitan memegangi hidungnya. Lagi-lagi dia tak sengaja menabrak seseorang.
"Uh... Kenapa hari ini aku sering menabrak orang sih?" batin Emi kesal.
"I-I am sorry. Are you okay?" tanya seorang pria gelagapan.
__ADS_1
Dia panik melihat Emi karena mengira Emi menangis akibat ditabrak olehnya, padahal selain sakit di hidung sebenarnya Emi sudah ingin menangis karena tadi teringat dengan masa lalunya.
"Hah?" kaget Emi melihat pria dihadapannya.