
Duk!
Klontang!
Brak!
"Hore... Kalian lihat kan? Aku bisa menendang masuk semuanya loh." ucap Lena berbinar-binar senang.
"H-hore..." Anisa, Grace, Rosi dan Emi bertepuk tangan dengan pikiran yang heran dan bingung melihat Lena yang dari tadi suka menendang sampah-sampah yang berserakan ke dalam tempat sampah.
"Se-sebenarnya apa yang terjadi pada Lena?" tanya Emi bingung.
"Entahlah. Rosi, kamu kan dari jurusan teknik elektro, coba kamu sentrum dia dengan keahlianmu itu. Siapa tahu ada yang salah dengan otaknya." Grace malah mengusulkan yang tidak-tidak.
"Jangan ngawur, itu tindakan kriminal namanya. Kalau aku malah ingin mendaftarkannya ke tim sepak bola wanita setelah melihat kemampuannya ini." usul Rosi malah sama ngawurnya.
"Tolong jangan mengusulkan yang aneh-aneh. Sebelum usul kalian itu dilakukan, kita mungkin bakalan di amuk Kak Bram duluan. Kalian lupa ya, kalau sedang hamil pastinya mengidam yang aneh-aneh kan? Grace, bukannya kamu sendiri yang bilang begitu waktu itu?" ucap Anisa mengingatkan.
"Iya, aku tahu. Aku nggak lupa. Tapi, aneh aja kan. Kelakuan anehnya jadi keluar saat dia hamil. Padahal tadi nggak begini deh." ucap Grace masih syok tak percaya.
"Apa jangan-jangan anaknya nanti laki-laki?" Emi malah bersemangat menebak jenis kelamin anaknya Lena kelak.
Sudah cukup, hentikan kekonyolan kalian.
"Mau kemana lagi dia?" tanya Grace bingung melihat Lena yang berjalan pergi entah kemana itu.
"Entahlah, yang penting ikut saja. Kita kan sudah janji buat menjaganya." sahut Anisa. Yang lain mengangguk patuh.
"Kalian mau kemana?" sapa seseorang tiba-tiba.
"Oh, Alika. Nggak tahu juga nih, kami cuma ngikutin Lena aja. Tahu kan hari-hari dimana dia ngidam akhirnya datang juga." sahut Rosi.
"Ahaha... Iya, ya benar juga. Kalian pasti repot karena selalu menjaganya begini." ucap Alika tertawa.
"Alika, akhir-akhir ini kamu nggak kumpul bareng kami lagi kenapa?" tanya Emi tiba-tiba.
__ADS_1
"Aku sibuk pemotretan. Jadi nggak bisa kumpul bareng karena sehabis kampus aku langsung ke studio."
"Oh begitu, benar juga."
"Tapi, sekarang aku ada waktu luang. Aku ikut kalian juga, ya."
"Boleh." sahut Emi mengangguk lucu.
"Loh? Itu kan ruangan jurusan tata boga. Kenapa Lena kesana?" tunjuk Alika tiba-tiba.
"Waduh, semoga dia nggak membuat keributan disana." ucap Grace khawatir. Mereka bergegas mengikuti Lena kesana.
Di dalam ruangan jurusan tata boga, orang-orang disana langsung ribut melihat Lena yang tiba-tiba masuk kesana.
"Loh? Siapa dia? Dia bukan dari jurusan ini kan?"
"Kalau nggak salah dia dari jurusan ekonomi deh."
"Yang nikah sama anak orang kaya pemilik perusahaan makanan terbesar itu kan?"
"Entahlah."
"Apa jangan-jangan dia mau sidak makanan kesini?"
Karena suasana kelas yang tiba-tiba berubah jadi ribut sampai seseorang yang ada disana jadi melihat ke arah 'sumber penyebab' juga.
"Itu kan Lena. Kenapa dia ada disini?" batin orang itu kaget tak percaya.
"Endus, endus..." Lena mengendus-endus aroma makanan sambil berjalan kesana kemari mendatangi meja-meja orang-orang jurusan itu yang ada berbagai makanan buatan mereka disana.
"M-maafkan teman kami ya, bu. Dia lagi ngidam soalnya." ucap Anisa pada dosen disana. Dia dan yang lain jadi malu dengan kelakuan Lena.
Setelah jalan kesana kemari, Lena menghentikan kakinya pada salah satu meja.
"Oh, kalau nggak salah kamu Wini kan?" kaget Lena.
__ADS_1
"I-iya." sahut Wini mengangguk malu-malu senang.
"Ini kue buatanmu?" tunjuk Lena pada kue di atas meja.
"Iya." Wini mengangguk mengiyakan.
"Wah... Kue buatanmu harum banget. Dari luar saja aku bisa menciumnya, makanya aku datang kesini mengikuti aromanya. Pasti kuemu enak." ucap Lena tersenyum.
"B-benarkah?" tanya Wini, wajahnya memerah malu.
"Apa? Lena bisa mencium bau kue itu dari jarak sejauh tadi? Dan di antara semua makanan yang ada disini, dia bisa membedakan bau kue buatannya Wini?" tanya Anisa tak percaya.
"Padahal tadi kita juga melewati kantin kan?" tambah Rosi.
"Apa jangan-jangan anaknya nanti perempuan?" tanya Emi polos.
"Hei, bagaimana kalau kita daftarkan dia jadi pencicip makanan? Atau jadi perempuan pelacak? Mumpung penciumannya lagi super bagus begitu." usul Grace.
"Boleh juga idemu." Rosi mengiyakan.
"Ahaha... " Alika tertawa kecil mendengar kekonyolan mereka.
"Apa kamu lagi ngidam? Kamu mau kue buatanku?" tebak Wini, melihat Lena yang memegangi perutnya. Lena menggangguk mengiyakan.
"Bolehkah?" tanya Lena berharap.
"Tentu saja boleh." sahut Wini tersenyum.
Merekapun lalu pergi dari sana setelah keinginan ngidam Lena sudah terpenuhi.
"Kalian mau? Enak loh." tawar Lena pada teman-temannya, menyodorkan kue buatan Wini. Tapi mereka menolak.
"Nanti kamu marah lagi kalau kami minta." ucap mereka dalam hati.
"Lena, apa seperti ini nggak apa-apa?" tanya Alika tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Lena bingung sambil asyik memakan kuenya.