Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Antar Paket


__ADS_3

"Barang-barang sudah di kemas semua, tinggal di antar aja deh." ucap Grace sambil meregangkan tubuhnya.


"Suruh ayahmu aja yang mengantar semuanya." ucap Bu Eri setelah selesai membantu Grace mengemas barang-barang pesanan.


Grace menurut dan langsung menemui ayahnya, tapi entah kenapa dia jadi berubah pikiran.


"Ayah, sepeda motornya aku pakai, ya."


"Mau antar paket? Biar ayah saja."


"Aku saja. Soalnya sekalian ada orang yang mau aku temui."


"Ya sudah, hati-hati ya, nak." ucap Pak Hasan tersenyum menyemangati sambil menyerahkan kunci pada Grace.


Beberapa saat Grace menatap ayahnya, lalu balik lagi ke tempat barang-barang yang sudah dikemasnya.


Pekerjaan ayah tak menentu. Tapi, semenjak aku menjadi reseller, ayah yang suka membantu mengantar paket-paket. Ekonomi kami jadi lebih membaik, kami sudah tak terlilit hutang lagi, ayah dan ibu juga sudah tak pernah bertengkar seperti dulu lagi. Enak ya kalau punya banyak uang.


"Kak Anggun mau ngantar paket, ya?" tanya Ade tiba-tiba muncul.


"Iya." jawab Grace seadanya.

__ADS_1


"Hei, kenapa sih sampai sekarang kamu masih tetap memanggilku Anggun? Panggil Grace dong... " sungut Grace manyun.


"Nama kakak kan memang Anggun. Ayah sama ibu aja tetap manggil kakak Anggun tuh." ucap Ade sambil mengelus-elus Boba si kucing gembul yang dulu terbawa oleh Bandi dan sekarang kucing itu dipelihara mereka.


"Tapi kalau Bandi malah kamu panggil Boba." ucap Grace tak terima.


"Kan lucu." kilah Ade tak merasa salah.


"Huh, ya sudahlah! Aku pergi dulu." ucap Grace pura-pura ngambek.


Di rumah seseorang...


"Akhirnya paketku datang juga... " ucap Bandi senang menyambut kedatangan Grace yang membawa paket untuknya.


"Loh? Bukannya bagus ya punya pelanggan tetap seperti aku? Lagian selain di kampus, aku kan juga ingin sering-sering bertemu denganmu dengan cara seperti ini." ucap Bandi tersenyum, memegangi paket miliknya.


"Sadar diri dong. Kamu kan aku friendzone. Muahahaha... " ledek Grace sok angkuh.


"Ada tamu? Oh, ternyata Anggun. Pantas saja Boba aneh dari tadi, ternyata dia menunggumu, ya." ucap Amira, kakak sulung Bandi, yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Kak Amira masih memanggilku dengan Anggun sama seperti Boba, cuma Kak Indah yang memanggilku Grace." batin Grace.

__ADS_1


"Ayo masuk, kakak buatin minuman, ya."


"Boleh deh, kak. Ehehe..." Grace tak akan menolak tawaran itu dan langsung masuk ke dalam rumah Bandi.


"Hm? Kenapa?" tanya Bandi bingung karena ditatap dengan lekat oleh Grace.


"Heran deh, kok bisa ya kalian sekeluarga cakep-cakep semua? Kulitmu juga lebih putih dariku." ucap Grace agak tak terima saat membandingkan warna kulitnya dengan Bandi.


"Huh, hidup sungguh nggak adil. Kenapa hidupnya terlihat begitu santai? Sedangkan aku harus bersusah payah menjalani hidupku." batin Grace tak terima.


Lihatlah Boba, dia lebih cakep dariku yang (agak) dekil gini. Kenapa dia suka padaku coba? Sampai Doni juga dulu. Aku yakin, pasti ada banyak yang suka sama Boba, tapi bakal mikir sih kalau lihat kepribadiannya.


Sebenarnya aku bisa saja merawat diri, tapi entah kenapa aku suka lupa dan tekadang malas untuk perawatan kulit. Padahal terkadang aku reseller produk kecantikan juga.


"Yang namanya hidup itu memang nggak sesuai dengan apa yang kita harapkan, Anggun. Tapi nanti akan ada waktunya semua akan bersinar. Dan, menurutku kamu cantik kok." ucap Bandi senyam-senyum seolah tahu apa yang dipikirkan Grace dari raut wajah cemberutnya.


"Cih, kata-katamu seolah aku harus menerima kenyataan apa adanya. Tapi ujung-ujungnya malah bikin ge-er. Nggak nyangka ternyata kamu bisa ngegombal juga." ucap Grace bete. Bandi tertawa kecil mendengarnya.


"Mm... Kalau mendengar kata-katamu tadi, aku jadi teringat puisi gombalannya kakak Cintia deh." ucap Grace berpikir.


"Oh, yang waktu itu dia nembak temanmu Anisa, ya? Sampai videonya heboh begitu dulu." Bandi mengingat-ingat.

__ADS_1


"Ahaha... iya. Eh, tahu nggak? Lena pernah cerita kalau puisi itu dulu sudah pernah dibuat untuk mengerjai tetangganya Lena buat nembak cewek. Lena kira itu buatan Sultan dan malah menyimpan kertas puisi itu bertahun-tahun lamanya. Eh... nggak tahunya itu buatan kakaknya Cintia. Huahaha... " Grace tertawa terbahak-bahak.


"Hatsyiii...!!!" di suatu tempat Lena bersin.


__ADS_2