
"Oke. Kalau begitu, pertama-tama aku akan tendang terlebih dulu 'bawah'nya si bayi besar ini. Lalu menendang anak buahnya." batin Daniel mantap.
Saat si pria besar itu melayangkan pukulannya, di saat yang sama Daniel juga mengayunkan kakinya. Tapi, kedua orang ini menghentikan aksinya karena mendengar teriakan seseorang. Mereka langsung terperangah kaget melihat kedatangan orang itu dan tiga orang lainnya.
"Berhenti. Apa yang kalian lakukan? Selalu menindas orang yang lemah. Memalukan, kekanak-kanakan banget." ucap Cintia anggun dan gagah dengan tatapannya yang tajam dan berani.
"Gawat, bos. Itu Cintia, si harta karun berjalan itu." ucap anak buah si pria besar takut.
"Ternyata aku masih dijuluki seperti itu, ya? Ya... mau bagaimana lagi, aku juga sering menjuluki orang dengan sebutan aneh-aneh juga sih." batin Cintia.
"Heh! Mengatakan kami memalukan, bukannya kamu sendiri juga sama saja?Kamu juga menggunakan kekuasaanmu untuk bisa menginjak-injak orang kan?" tanya si pria besar berani memutar balikkan fakta.
"Jangan sembarangan! Cintia nggak seperti itu!" teriak Sonia dan Soraya geram.
Cintia mengangkat tangannya mengisyaratkan si kembar tapi beda untuk diam.
"Yang dikatakannya nggak salah juga. Aku memang suka bikin masalah, tapi hanya pada Lena saja lebih seringnya." batin Cintia tertohok.
"Baiklah, kuakui aku juga pembuat masalah. Tapi kalian lebih salah lagi, kalian sudah melakukan kesalahan besar. Kalian sering melakukan perundungan bahkan memalak orang-orang juga. Mau kubacakan Undang-Undang tentang perundungan beserta hukuman dan dendanya?" tanya Cintia menyeringai.
"Hah? Apa-apaan?" teriak si pria besar kesal dan ingin menyerang Cintia.
__ADS_1
"Eits. Apa kamu sudah lupa dengan yang kamu katakan tadi? 'Aku menggunakan kekuasaan untuk menginjak-injak orang' kan? Nah, kalau kamu sampai berani menyerangku, aku akan buat kalian begitu sangat menyesal sampai kalian tak bisa lagi membayangkan hidup kalian akan seperti apa nantinya. Jadi, bagaimana?" tantang Cintia percaya diri.
Ketiga berandalan itu terlihat ketakutan dengan kata-kata Cintia dan jadi berpikir untuk mundur. Daniel terperangah takjub melihat Cintia. Apalagi Maya dan si kembar tapi beda, mereka sampai heran dan takjub mengapa Cintia mau berhadapan dengan berandalan itu demi seorang pria aneh bernama Daniel.
"Huh, kali ini kami akan melepaskanmu." ucap si pria besar sambil beranjak pergi dari sana bersama anak buahnya.
Tanpa sadar Cintia dan Daniel saling bertatapan.
"Ehem, aku nggak bermaksud untuk menolong kamu, ya. Jangan salah paham. Aku hanya nggak suka saja melihat orang yang seenaknya saja menganiaya orang lain. Ya... hitung-hitung kemungkinan aku bisa menambah nilai mata kuliahku kan. Tapi, ehem, apa kamu baik-baik saja?" tanya Cintia menanyakan keadaan Daniel pada akhirnya setelah mengeluarkan perkataan panjangnya yang ngalur ngidul dari tadi.
Wajah Cintia terlihat angkuh dan santai, tapi dalam hatinya...
Cintia memang suka dengan orang yang unik dan tak gentar berhadapan dengannya, tapi dia suka tak menyadari sifatnya itu.
"Hmph. Kamu lucu juga. Padahal tanpa bantuanmu, aku juga bisa sendiri menghadapi mereka." ucap Daniel terkekeh kecil.
"Tapi, terima kasih sudah menolongku, nona pengacara." ucap Daniel lagi sambil mengeluarkan jurus jitunya: 'Senyuman Maut (Artis Tampan)'(?).
DABOOM...!!!
Cintia, Maya, Sonia dan Soraya kaget melihat Daniel, si hutan rimba, memancarkan aura yang tak biasanya.
__ADS_1
"Aura ini! Entah kenapa aku seperti sering melihat aura ini. Tapi dimana, ya?" batin Maya dan Soraya berpikir keras.
"Pft, sudah kuduga. Orang ini memang bukan sekedar orang aneh biasa." batin Sonia tersenyum.
"A... apa-apaan ini? Kenapa jantungku tiba-tiba berdetak nggak jelas begini? Ada apa dengan jantungku? Lalu kenapa wajahku rasanya panas banget?" batin Cintia kaget, memegangi pipi dan dadanya.
"Siapa itu yang bermain biola?" tanya Cintia marah.
"Biola?" tanya Sonia dan Soraya bingung.
"Nggak ada yang main biola kok, kak." sahut Maya bingung juga.
"Hah? Kenapa tadi aku seperti mendengar suara biola?" batin Cintia syok.
Apa jangan-jangan gara-gara si hutan rimba aku malah jadi berhalusinasi begini? Lalu jantungku... Apa ini?
Apa... ini yang dinamakan dengan cinta seperti yang Kak Ardan bilang selama ini? Masa sih? Nggak mungkin!
Ng-nggak! Pasti bukan. Aku nggak mau jadi bodoh karena cinta. Aku nggak mau jadi seperti papa, Kak Ardan dan Lena.
NGGAK MAU...!!!
__ADS_1