
Ceklek!
"A-aku benar-benar lagi belajar kok, kak." ucap Angga gelagapan melihat Sultan yang masuk kekamarnya.
"Ya, ya, bagus." sahut Sultan, melihat Angga yang sedang berkutat dengan buku-buku di meja belajarnya.
"Belajar yang benar, ya" ucap Sultan masih tetap dengan wajah kakunya.
"Duh, kak. Rambutku!" teriak Angga kesal karena Sultan malah mengacak-acak rambutnya.
Setelah selesai dari kamar Angga, Sultan ke kamar Maya. Di meja belajarnya, Maya malah ketiduran di atas buku-bukunya.
"Mm... Nyam... Belajar giat... buat lulus... UN... " Maya malah mengigau dalam tidurnya.
Sultan geleng-geleng kepala melihatnya. Lalu digendongnya Maya ke tempat tidur dan menyelimutinya. Sultan keluar dari kamar Maya, baru saja dia menutup pintu kamar Maya, ibunya terburu-buru mendatanginya dengan berjalan cepat menaiki tangga.
"Nak, ada telepon dari Ardan. Pasti ini penting, cepat angkat." ucap ibunya, membawakan handphone yang tak sengaja ditinggalkan Sultan di meja makan dapur.
"Kenapa nggak ibu angkat aja dulu?" tanya Sultan sambil menyambut handphonenya.
"Kamu kan tahu, ibu nggak begitu berani angkat telepon." ucap ibunya sambil nyegir kuda. Sultan hanya tersenyum memaklumi sifat ibunya.
"Tapi, kenapa ya Ardan menelepon malam-malam begini?" batin Sultan bingung.
"Ha..." baru saja menyahut telepon, suara di seberang telepon sana sudah terdengar panik saja.
"Tolong... Tolong, Kak Sultan!"
"Loh, kok bukan suara Ardan?" batin Sultan kaget.
"Maaf, kamu ini siapa, ya?" tanya Sultan.
"Anisa? Ada apa?"
Bu Raisa terlihat khawatir melihat wajah Sultan yang tegang. Mendengar suara Sultan yang panik, kepala Angga menyembul dari pintu kamarnya.
"Ardan masuk rumah sakit? Ada apa? Hei, tenanglah, tenanglah. Ya sudah, baiklah, aku akan segera ke sana." ucap Sultan panik, masuk kekamarnya untuk mengambil kunci mobil dan jaketnya.
"Ardan kenapa, nak?" tanya Bu Raisa cemas.
"Nggak tahu, bu. Aku pergi dulu ya, bu. Assalamualaikum." pamit Sultan terburu-buru menuruni tangga.
"Waalaikumsalam. Hati-hati, nak." ucap ibunya.
"Angga. Belajar!" teriak Sultan. Dia sempat-sempatnya mengingatkan Angga. Angga terlihat pasrah dengan ucapan kakaknya.
"Yang sabar ya, nak." ucap Bu Raisa menghibur anak bungsunya.
...***...
Sultan sudah sampai di rumah sakit dan bersamaan itu mobil orangtua Ardan juga sampai di sana. Mereka bertiga berlari panik masuk ke rumah sakit dan setelah sampai mereka langsung memasuki ruangan VIP tempat Ardan di rawat. Di sana terlihat Anisa berdiri ketakutan dengan tubuh gemetaran.
__ADS_1
"Putra tampanku... Kamu kenapa, nak?" tanya Bu Cinta dengan air mata yang berlinangan mendekati Ardan yang tengah terbaring lemah.
"Apa yang terjadi padamu, nak? Jangan bikin kami takut, dong." ucap Pak Amar ketakutan. Sultan juga cemas melihatnya.
"Mama... Papa... Sultan... A-aku..." ucap Ardan. Suaranya lemah dengan ekspresi wajah seperti orang yang sedang sekarat dan seperti akan memberikan wasiat saja.
"Pe... rutku... "
"Ya, nak? Ada apa dengan perutmu?" tanya papa dan mamanya khawatir memegangi tangannya.
"M-maaf. Sebenarnya ini semua salah saya. Saya tak tahu kalau Kak Ardan tak bisa makan makanan pedas." ucap Anisa panik. Tubuhnya gemetaran dengan posisi yang membungkuk dalam.
Bu Cinta, Pak Amar dan Sultan terbelalak menatap Anisa.
"Duh... Gimana nih? Seharusnya aku menyadari saat dia nyanyi untuk menghiburku tadi kalau dia benar-benar tak bisa makan makanan pedas. Mana aku tahu. Kupikir dia hanya ingin menyamai lagu-lagu makanan yang lainnya." batin Anisa ketakutan.
"Putra kami tak bisa makan yang pedas-pedas. Seharusnya kamu tahu itu" marah Bu Cinta.
"Kamu harus tanggung jawab!" ucap Pak Amar ikut-ikutan.
"S-saya benar-benar minta maaf... " ucap Anisa panik luar biasa.
"Huwe... Mereka pasti akan menuntutku. Apa jangan-jangan aku akan di penjara?" teriak Anisa dalam hati.
Kamu memang akan di penjara, Anisa. Tapi, di penjara cinta lebih tepatnya.
Sedangkan Sultan hanya diam menatap jengah drama yang ada didepannya.
"Apa ini juga harus aku rekam buat pusaka kenang-kenangan keluarga?" batin Sultan lagi.
...***...
Di malam yang sama, di kediaman keluarga Bram...
Di ruang keluarga, Bram dan Lena sedang berdansa mengikuti alunan musik yang mengalun dengan syahdunya. Pak Ibrahim dan istrinya duduk di sofa melihat mereka. Dan terlihat beberapa pelayan berjajar untuk melihat anak dan menantu majikan mereka itu. Karena ini hal yang jarang dan baru pertama kalinya mereka lihat di rumah ini.
"Aneh? Kenapa tiba-tiba Kak Bram mengajakku berdansa, ya?" batin Lena bingung dan canggung juga di lihat oleh mertua dan para pelayan disana.
"Aku memang tak bisa membuat puisi sepuitis itu, tapi aku bisa langsung mengungkapkan perasaanku dengan berdansa seperti ini." batin Bram, matanya menatap lekat wajah Lena.
Alunan musik berhenti. Bram dan Lena mengakhiri dansa mereka. Para pelayan bertepuk tangan riuh, takjub melihat mereka. Setelahnya, para pelayan itu kembali ke tempat mereka masing-masing.
"Bagus, bagus sekali." puji Pak Ibrahim sambil bertepuk tangan. Bu Dona hanya diam dengan wajah cemberutnya.
"Makasih, yah." ucap Bram dan Lena bersamaan.
"Kalau begitu, kami kembali ke kamar ya, ayah, ibu." pamit Bram.
Ayah dan ibunya mengangguk mengiyakan. Lena mengikuti langkah Bram disampingnya. Wajahnya langsung memerah melihat tangan Bram yang menggenggam tangannya dengan begitu posesifnya.
Kenapa aku merasa Kak Bram agak aneh ya tingkahnya? Apa mungkin cuma perasaanku saja? Tapi untunglah, ayah dan ibu Kak Bram nggak terus-terusan bertanya tentang kejadian kemarin malam lagi. Kakak bisa menyelesaikan semuanya, walaupun terlihat kebingungan juga bagaimana menjelaskannya.
__ADS_1
"Aku mau ganti baju dulu ya, kak." ucap Lena setelah mereka sudah masuk ke kamar.
"Aku juga mau ganti baju." ucap Bram dengan senyum yang sulit diartikan, mengikuti Lena masuk keruangan lemari baju mereka. Lena kebingungan melihat senyumannya.
Saat membuka lemari bajunya, Lena syok dan berdiri mematung melihat isi lemarinya. Dia tak melihat Bram yang dibelakangnya sedang senyam-senyum usil sambil mangganti bajunya.
"Kakak... A-anu, kenapa ada baju tidur seperti ini dilemariku ya, kak?" tanya Lena terbata-bata dengan wajah memerah malu.
Tangannya memperlihatkan baju tidur yang 'aduaduaduh mengkhawatirkan' itu pada Bram.
"Mulai sekarang kamu harus memakai itu." ucap Bram santai, dia sudah selesai mengganti bajunya.
"Apa? Yang benar saja? Masa aku harus memakai baju tidur yang aduaduh begini? Sedangkan kakak bajunya normal dan santai begitu?" protes Lena, tapi hanya bisa dikatakannya dalam hati saja.
"Astaga. Inilah yang aku takutkan. Akhirnya hari ini tiba juga." batin Lena syok. Dia baru melihat baju-baju itu karena baju biasa dan baju tidur tempatnya berbeda di lemari.
P-padahal, selama ini Kak Bram tak mempermasalahkan tentang baju tidur karakterku yang lucu-lucu. Bahkan dia malah bilang imut dan lucu.
Tapi, kenapa sekarang... Sejak 'malam kemarin itu', kakak mulai berubah. Jadi makin posesif sampai membuat aturan kalau aku harus memakai baju tidur seperti ini sekarang. Padahal, aku sangat menyukai piyama karakterku itu.
Sejak kecil aku memang sangat suka dengan karakter kartun yang lucu-lucu. Saking sukanya, sampai aku mengoleksi banyak mainan dan boneka berbentuk karakter kartun apa saja yang menarik perhatianku. Bahkan sampai ke piyama juga. Seleraku nggak aneh kan?
Sampai aku beranjak SMA, aku masih tetap membeli boneka. Tapi, saat ayah mengalami kecelakaan dan di pecat dari pekerjaannya dan karena aku yang terus-terusan di ejek oleh Grace, aku langsung menghentikan hobiku berburu boneka.
Saking banyaknya, sampai salah satu kamar penuh kubuat khusus untuk menaruh semua mainan dan boneka. Dan mungkin aku adalah kolektor mainan dan boneka pertama dan terbanyak, di komplekku.
Omong-omong, aku pernah dengar kalau ada mainan yang harganya mahal kalau dirupiahkan. Walaupun, aku tak tahu yang mana. Tapi, lain kali aku akan ke rumah ayah dan ibu lagi untuk mengeceknya, siapa tahu ada kan.
Dan sekarang, masih di depan lemari, aku berdiri dengan tangan yang masih memegang baju tidur ini dan memandanginya dengan keraguan. Apakah aku harus memakainya atau tidak?
Tapi, saat di rumah ayah dan ibuku tadi, mereka terus-terusan menasehatiku supaya menurut dan patuh dengan suami. Jadi, aku harus memakainya dan mempensiunkan baju tidurku yang lama?
"Aku akan menunggumu." bisik Bram di telinga Lena sambil memeluk pinggangnya dari belakang.
Lena kaget sampai tubuhnya meremang karena ulah Bram. Wajah Lena memerah melihat Bram yang berjalan keluar duluan dari ruangan itu sambil tersenyum usil kearahnya.
Setelah pusing berpikir lama, akhirnya Lena masa bodoh saja dan memakai baju tidur itu juga pada akhirnya. Lalu keluar menyusul Bram di kamar. Saat keluar, Lena melihat Bram sudah duluan berbaring di tempat tidur menunggunya.
Bram yang menyadari kedatangan Lena, mengubah posisi berbaringnya jadi menyamping dan melihat Lena yang kesusahan menutupi bagian tubuhnya yang tak begitu tertutup oleh baju tidur yang kurang bahan itu.
Wajah Lena seketika memerah karena Bram yang menatapnya dengan begitu lekat dan menepuk-nepuk tempat tidur supaya Lena tidur disampingnya. Lena menurut dan menaiki tempat tidur. Tapi, bukannya ikut tidur, Lena malah duduk dan menanyakan kaki Bram.
"K-kaki kakak nggak papa?"
"Hm? Kakiku baik-baik saja." jawab Bram tersenyum santai.
Lena jadi merasa bersalah mendengarnya. Karena saat dansa tadi, sebenarnya Lena tak bisa dansa. Jadinya, dia sering tak sengaja menginjak-injak kaki Bram.
"Maaf ya, kak. Sini aku pijitin kakinya." tawar Lena, tangannya langsung memijit-mijit kaki Bram. Karena masih merasa bersalah sekaligus mengalihkan 'maksud' Bram tadi.
"Ahaha... Kamu mau sampai kapan memijit kakiku begitu?" tanya Bram tertawa melihat Lena yang memijit kakinya dengan kikuk.
__ADS_1
Bram duduk dari rebahannya, dipegangnya tangan Lena untuk menghentikan memijit kakinya lagi. Tanpa sadar mata mereka saling bertatapan. Dan setelah itu... Apa, ya? Ya, begitulah.