Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Masa sih? Aku...


__ADS_3

"Loh, ada Alika juga disini?" tanya Lena saat dirinya sudah sampai di meja kantin tempat teman-temannya kumpul.


"Iya, maaf, ya, aku jadi ikut nimbrung. Soalnya aku agak kesepian." sahut Alika tersenyum polos sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Iya, nggak papa aja sih." ucap Lena tersenyum ramah.


Semenjak Alika ikut kami pergi ke bioskop dulu, perlahan-lahan kami mulai sedikit akrab. Apalagi Emi pernah keceplosan cerita kalau Alika pernah menolongnya dari Raka yang pernah ingin menamparnya dulu.


Dasar Emi. Seharusnya kamu jangan tahan kami yang ingin melabrak dan menghajar Raka waktu itu.


Kami jadi sering bertemu dengan Alika dan terkadang dia juga suka ikut kumpul bareng kami. Nggak masalah sih. Tapi, entah kenapa awalnya aku agak canggung. Atau hanya perasaanku aja, ya? Tapi... kalau dilihat-lihat, sepertinya dia hanya ingin berteman saja.


Teman-temanku juga awalnya agak canggung. Tapi, lama-lama kami bisa menerimanya bersama kami. Sepertinya dia memang hanya ingin berteman saja.


"Kenapa lama banget dari toiletnya?" tanya Grace menyadarkan Lena dari lamunannya.


"Bukan, aku ketiduran di kelas tadi." ucap Lena cengengesan.


"Ketiduran? Kok bisa?" tanya Rosi dan Emi bingung.


"Kayak bukan kamu aja deh, Len." ucap Anisa heran.


"Mana kutahu. Badanku rasanya capek banget, nggak enak badan gitu." ucap Lena, menyandarkan kepalanya di meja dengan loyo.


"Apa kamu sakit?" tanya Alika prihatin.


"Entahlah." sahut Lena, bangun dari sandarannya di meja dengan lesu.


"Hm... Apa belakangan ini kamu telat datang bulan?" tanya Grace tiba-tiba, memegangi dagunya sambil berpikir.


"Mm... Iya sih... Bulan ini aku telat datang bulan. Memangnya kenapa? Hah? Masa aku..." ucap Lena kaget sambil tangannya menutup mulutnya.

__ADS_1


"Bisa jadi. Tanda awal kehamilan kan seperti yang kamu bilang tadi. Nggak enak badan, terus telat datang bulan. Tapi, kalau lebih jelasnya lagi kamu tanya saja langsung ke dokter." ucap Grace meyakinkan.


Alika terlihat agak kaget dan menundukkan kepalanya, tapi Lena dan yang lain tak melihat dan tak menyadarinya.


"Uwoooh... Grace hebat, ya." ucap Anisa, Rosi dan Emi bertepuk tangan takjub pada Grace.


"Sudah nggak sabar pengen lihat dedek bayi." ucap ketiganya lagi senang.


"Kenapa mereka yang malah senang begitu sih?" batin Lena bete.


"Tapi... masa? Apa iya aku benar-benar... " batin Lena lagi. Dirinya masih tak percaya dengan perkataan Grace.


"Selamat ya, Lena." ucap Alika tersenyum ramah.


"Eh, kan masih belum pasti." bantah Lena salah tingkah.


"Makanya, cepetan periksa ke dokter." ucap Grace memaksa.


"Oh iya, Len. Lihat deh, tadi kami minta di foto sama Alika. Hasilnya bagus banget loh. Padahal cuma pakai HP, tapi hasilnya kayak foto dari kamera beneran." ucap Emi sambil memperlihatkan hasil foto-foto tadi selama Lena belum datang.


"Uwaaah... Bagus banget..." ucap Lena takjub.


"Jurusan fotografi... Pastinya ahli soal yang beginian. Apalagi Alika juga model kan? Pengikutnya juga banyak di media sosial." ucap Rosi.


"Ah, kalian bisa aja. Aku masih belum begitu ahli juga kok." ucap Alika kikuk dan salah tingkah karena di puji.


"Beneran. Ini bagus banget loh." ucap Lena meyakinkan.


"Ya sudah pasti lah." ucap Alika membanggakan dirinya dalam hati.


"Maaf, Alika. Apa aku boleh minta tolong kamu buat foto aku juga nggak?" pinta Lena berharap.

__ADS_1


"Boleh, boleh." sahut Alika senang, padahal di dalam hatinya Alika sebenarnya kesal dan ogah-ogahan menuruti keinginan Lena.


"Kami juga ikut..." ucap yang lain.


...***...


"Kamu kenapa? Kok gelisah begitu?" tanya Bram heran melihat Lena yang duduk disampingnya terlihat tak begitu tenang.


"Mm... Kak, aku... " belum selesai Lena berucap, handphone Bram tiba-tiba berbunyi.


"Aku angkat telepon dari ayah dulu, ya." ucap Bram mengambil handphonenya. Lena mengangguk mengiyakan.


Lena memandangi dalam diam Bram yang sedang menerima telepon. Dia jadi tak sabar menunggu teleponan Bram selesai dan ingin langsung mengatakan apa yang dikatakan oleh Grace di kampus tadi tentang dirinya yang sepertinya tengah hamil.


Tapi, diurungkannya niatnya karena mendengar perbincangan Bram dengan sang ayah yang sepertinya ada masalah.


"Iya, baik, yah. Aku akan segera kesana." ucap Bram lalu menutup teleponnya.


"Duh, maaf ya, Len. Hari ini aku nggak bisa ajak kamu jalan-jalan seperti biasanya. Ayah meneleponku kalau ada masalah diperusahaan dan menyuruhku buat cepat-cepat balik lagi kesana." sesal Bram.


"Iya, kak. Nggak papa. Urusan pekerjaan kan jauh lebih penting, apalagi kalau menyangkut perusahaan keluarga kakak. Aku mengerti kok." ucap Lena maklum.


"Aku bersyukur punya istri pengertian seperti kamu." ucap Bram tersenyum hangat. Lena tersipu malu mendengarnya.


"Oh iya, kayaknya tadi ada yang mau kamu omongin deh." ucap Bram teringat.


"Ah, bukan apa-apa kok, kak."


"Lain kali aja aku bicaranya dengan Kak Bram. Kakak pasti sibuk banget diperusahaan nantinya. Mm... atau nanti malam aja deh kalau gitu aku bicaranya. Lagian, kemungkinan aku nggak enak badan juga cuma karena kecapekan atau masuk angin biasa seperti yang dulu-dulu kan?" batin Lena.


Tapi, sampai malam datangpun, Lena malah lupa untuk mengatakannya pada Bram.

__ADS_1


__ADS_2