Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Bukan Jodohmu


__ADS_3

"Hm, hm, hm... " Lena bersenandung riang sambil menyisir rambutnya didepan cermin. Suara mobil terdengar memasuki rumah diseberang sana. Lena langsung bergegas kejendela untuk mengintip Sultan yang pulang dari bekerja.


"Sudah pulang." ucapnya lalu mengambil buku-buku yang tadi ditaruhnya diatas meja belajarnya. Saat melewati ruang keluarga, ayah dan ibunya yang sedang menonton TV terheran-heran melihatnya.


"Mau kemana malam-malam begini, Len?" tanya ayahnya bingung.


"Mau nanya tugas sama Kak Sultan." jawab Lena riang.


"Masa mau belajar kayak gitu?" tanya Pak Hadi kebingungan kearah istrinya. Melihat Lena berpenampilan rapi dan sedikit berdandan. Bu Mila hanya angkat bahu sambil menghela nafas.


Kurang lebih setengah jam, Pak Hadi dan Bu Mila yang masih asyik menonton TV, terkaget-kaget melihat Lena yang pulang kerumah sambil menangis.


"Loh, kamu kenapa lagi, Len?" tanya Pak Hadi kebingungan sekaligus khawatir.


"Sulit, yah... " jawab Lena sesegukan sambil berlari kekamarnya.


"Sesulit itukah tugasnya sampai nangis-nangis begitu?" tanya Pak Hadi bingung parah kearah istrinya. Bu Mila terlihat bingung juga.


"Lena... Ibu masuk, ya... " ucap Bu Mila sambil mengetuk pintu kamar Lena. Dirinya langsung masuk dan mendapati Lena yang menangis sambil menyeka air matanya. Terlihat tangannya memegang sebuah kotak kecil yang ada dipangkuannya.


"Kamu kenapa, nak?" tanya Bu Mila sambil duduk disamping Lena, dipinggir tempat tidur Lena.


"Ibu... Huweee... " Lena menghambur kepelukan ibunya.


...***...


Dikampus tadi, dosen memberi tugas untuk dikerjakan dirumah. Jadi, malam ini aku berencana akan belajar dengan Kak Sultan. Sambil modus juga. He, he... Aku sudah sedikit berdandan dan berusaha berpenampilan menarik. Sampai-sampai ayah dan ibu bingung melihat tingkahku.


Dari keluar rumah sampai menyeberangi jalan, aku bersenandung ria. Kutekan bel rumahnya dan disambut oleh Bu Raisa, ibunya Sultan.


"Assalamualaikum... "


"Waalaikumsalam... Oh, Lena... Mau belajar dengan Sultan, ya?" tanya Bu Raisa ramah sambil melihat buku-buku yang dibawa Lena.


"Iya, tante. Kak Sultannya sudah pulang kan?" tanya Lena pura-pura tak tahu, padahal tadi dia sudah mengintip Sultan yang datang.

__ADS_1


"Iya. Ayo masuk." ucap Bu Raisa mempersilahkan Lena masuk.


"Angga sama Maya mana, tante?" tanya Lena tiba-tiba.


"Mereka sudah dikamar mereka. Tunggu ya, Len. Sultannya lagi mandi."


"Iya, tante... " ucap Lena sambil duduk diruang tamu.


"Oh iya. Tante... jangan repot-repot, ya." ucap Lena pada Bu Raisa untuk tak menyuguhkan apapun. Tapi terlambat, Bu Raisa sudah membawakan nampan berisi minuman dan kue kecil untuknya. Bersamaan dengan itu, Sultan juga ikut keluar dengan memakai baju santai dan rambut yang sedikit basah karena selesai mandi.


"Tante tinggal dulu, ya." ucap Bu Raisa setelah selesai menaruh suguhan untuk tamunya.


"Iya, tante... " ucap Lena ceria. Lalu tersenyum kearah Sultan. Wajah Sultan terlihat masam.


"Hhh... Yang mana yang mau ditanyakan?" ucap Sultan tenang sambil duduk diseberang Lena, walaupun sebenarnya dirinya ogah-ogahan.


Sultan orangnya memang pintar. Dia selalu bisa menjawab hal yang Lena tidak mengerti. Memang tak salah lagi, karena kecerdasan Sultan, Ardan memintanya bekerja diperusahaan keluarga mereka. Sultan juga memiliki posisi yang sangat penting disana. Dengan adanya Ardan, ditambah juga dengan keberadaan Sultan, perusahaan itu bisa berkembang dengan lebih sangat pesat lagi.


Karena keasyikan melihat Sultan yang masih serius menjelaskan, tanpa sadar Lena malah melamun melihatnya. Sultan yang sadar Lena tidak mendengarkan penjelasannya dan malah melamun, menghentikan omongannya.


"Suka kakak... Ups!" Lena tak sadar bergumam dan langsung menutup mulutnya.


"Apa?"


"Nggak kok, kak. Aku nggak bermaksud bilang suka kakak... Ups!" ditutupnya lagi mulutnya yang keceplosan. Diliriknya Sultan, tentu saja orang yang didepannya memasang wajah tak senang.


"Apa yang ada dipikiranmu itu? Bisa-bisanya kau bilang suka pada orang lain, sedangkan kau sudah dijodohkan orangtuamu."


"Maaf, Len. Tapi kali ini aku harus tegas padamu." batin Sultan.


Mata Lena terbelalak, tak menyangka tiba-tiba mendengar ucapan bernada kasar dari Sultan.


"Orangtuamu sudah susah payah menjodohkanmu. Kau seharusnya mengerti kalau itu untuk kebaikanmu sendiri. Seharusnya, kau turuti kemauan mereka. Apalagi ayahmu. Asal kau tahu saja, kau itu masih beruntung ayahmu masih hidup sehabis kecelakaan itu. Sedangkan aku, aku harus kehilangan sosok ayah yang aku sayangi karena kecelakaan juga. Kau itu beruntung, Len. Turutilah apa mau mereka." ucap Sultan sendu.


Lena terdiam seribu bahasa. Ditatapnya Sultan dengan rasa sakit yang menyusup hatinya.

__ADS_1


Aku ditolak.


Ini yang aku takutkan. Aku jadi teringat tentang Alika. Alika yang langsung ditolak Kak Bram tadi siang. Sekarang, aku jadi benar-benar tahu bagaimana perasaannya waktu itu. Sakit...


Saking sakitnya hatiku, aku langsung menyudahi belajar dan bergegas pulang kerumah. Hampir saja aku terjatuh karena tersandung kaki sendiri. Kaki mautku malah beraksi. Hiks, aku jadi terlihat begitu menyedihkan.


Perasaanku langsung kosong. Tak sadar air mata ini malah mengalir jatuh saja. Sulit sekali. Rasanya sulit sekali menyentuh hatinya yang beku seperti es batu. Aku tak bisa membuatnya meleleh karena dirinya yang kaku bak kulkas freezer yang isinya sudah membeku. Mungkinkah hatinya sudah dikutuk oleh ratu salju?


Padahal, sudah lama aku menyukainya. Sampai-sampai aku bersekolah di SMA tempatnya menuntut ilmu dulu. Anisa dan Grace juga ikut terseret olehku. Sampai aku juga kuliah dan mengambil jurusan yang sama dengan yang dipilihnya dulu. Dia menyadari itu. Tapi kenapa dia malah menolakku? Kenapa dia malah berkata begitu padaku? Aku hanya menyukainya, lalu apa yang salah?


Lena masih sesegukan dipelukan ibunya. Bu Mila hanya terdiam mendengar cerita Lena sambil mengusap kepala Lena untuk menenangkannya. Dipegangnya kertas puisi yang baru dia dengar dari Lena kalau itu bukan buatan Sultan.


"Dia memang bukan jodohmu, nak." ucap Bu Mila. Lena yang mendengarnya, semakin mengalir deras air matanya.


...***...


Dikediaman keluarga Bram. Diruang keluarga, Bram duduk bersandar disofa. Wajahnya terlihat muram, sesekali dirinya terdengar menghela nafas berat. Diingatnya lagi tentang Lena.


Padahal dirinya sudah susah payah berupaya menenangkan Lena, tapi Lena malah dengan mudahnya melupakan semua kesedihannya saat membahas hal tentang Sultan.


"Hhh... Bisa-bisanya dia begitu. Dia seolah-olah tak menyadari perasaanku. Yang mau dijodohin sama dia kan aku, bukan Sultan." batin Bram nelangsa.


Tiba-tiba suara ibunya membuyarkan lamunan Bram.


"Bram, lihat deh siapa yang datang." ucap Bu Dona senang.


"Ada apa malam-malam datang kesini, Al?" tanya Bram heran sambil membenarkan posisi duduknya. Ternyata yang datang adalah Alika.


"Aku... mau minta maaf soal yang tadi siang, kak. Aku nggak bermaksud ngomong begitu." ucap Alika, wajahnya terlihat sangat menyesal.


"Iya, nggak papa. Tapi, seharusnya kamu minta maafnya sama Lena bukan sama aku. Jangan diulangi lagi ya yang seperti itu"


"Iya, kak." ucap Alika sambil mengangguk patuh.


"Aduh... Alika ini. Sudah cantik, baik, penurut lagi." ucap Bu Dona senang sambil membelai rambut Alika. Alika tersipu malu.

__ADS_1


"Nggak kayak perempuan pilihan ayahmu itu. Eh... Kamu malah suka juga sama dia. Heran deh ibu." ucap Bu Dona bersungut-sungut. Bram hanya terdiam ditempatnya.


__ADS_2