
"Nah... Jadi, kamu sudah mengerti kan sama yang aku jelaskan tadi?" tanya Grace.
"Pst... Kamu bisa kecilkan suaramu? Jangan nyaring begitu ngomongnya." ucap Lena setengah berbisik pada Grace.
Dia jadi malu karena mereka jadi pusat perhatian banyak orang di halaman kampus. Tapi gara-gara menegur Grace, dia malah dipelototi oleh Anisa, Rosi dan Emi.
Ternyata dari tadi Grace menjelaskan tentang tanda-tanda kehamilan secara jelas dan terperinci dan terkadang menggunakan bantuan dari internet juga untuk dijelaskannya pada Lena.
"Hei, karena aku dari jurusan kesehatan dan kami adalah teman-temanmu makanya kami begini karena kami peduli padamu, tahu." ucap Grace jengkel karena Lena terlihat ogah-ogahan mendengar penjelasan darinya.
"Iya, iya. Aku senang banget deh, temanku yang dari kesehatan memperhatikan aku. Tapi, pas kamu yang menjelaskan semuanya tadi, aku malah jadi ketakutan." ucap Lena jengah.
"Tapi kalian harus tahu, dulu aku juga sering merasa nggak enak badan, tapi pada akhirnya hasilnya aku cuma masuk angin biasa. Ya... kemungkinan sama seperti yang waktu itu kan?" ucap Lena membantah.
"Lena... Kamu ini sebenarnya sudah periksa ke dokter atau belum sih...?" tanya Grace, Anisa, Rosi dan Emi sopan tapi terdengar ada aura mengerikan juga disana.
"B-belum. Aku juga lupa kasih tahu Kak Bram soal ini." jawab Lena apa adanya. Ada perasaan merinding juga di tatap dengan tatapan interogasi yang bikin bergidik dari teman-temannya itu.
"Aduh... Dasar Lena. Kan sudah kubilang kemarin, kamu harus periksa ke dokter." mangkel Grace.
"Iya nih, Lena." Emi malah ikut-ikutan menggerutu.
"Oh iya, Alika mana, ya?" tanya Lena sambil celingukan.
__ADS_1
"Jangan mengalihkan perhatian!" bentak teman-temannya kesal.
"Baiklah, baiklah." Lena tak bisa melawan kekuatan aura(?) mereka.
Saat Lena dan teman-temannya asyik beradu mulut, tak sengaja mereka mendengar orang-orang yang berjalan tak jauh dari mereka sedang menggosipkan seseorang.
"Hei, lihat deh itu si Wini."
"Nggak tahu malu banget, masih berani datang ke kampus dengan perut membuncit begitu."
"Yang awalnya kasihan, aku jadi enek melihatnya. Hamil di luar nikah sih, sudah gitu pacarnya ninggalin dia dan nggak mau tanggung jawab lagi."
"Kudengar dia juga di usir dari rumah orangtuanya sendiri."
"Makanya, kalau jadi perempuan itu harus jaga diri."
"Mereka itu apa-apaan sih? Ngegosip... aja terus. Telinga kita jadi ternodai." ucap Anisa kesal.
"Tapi, itu kan emang benar." celetuk Grace acuh tak acuh.
"Tapi kan kasihan." ucap Emi sedih.
"Hei, sudah. Kalau begini artinya kalian juga sama lagi menggosipkan orang." tegur Rosi.
__ADS_1
Lena hanya diam sambil memperhatikan Wini yang berjalan sendirian sambil menundukkan kepalanya.
Perempuan bernama Wini itu wajahnya terlihat resah dan pucat karena jadi perhatian dan bahan gunjingan seisi di kampus.
"Kasihan dia. Hidupnya pasti sangat berat sampai bisa bertahan selama ini." batin Lena prihatin.
Apalah daya, cinta itu memang dilema dan juga bukan ilmu pasti yang memberikan jawaban mutlak pada hasil dari suatu pertanyaan. Dan kita tak akan tahu kapan cinta itu akan tumbuh dan pergi meninggalkan kita begitu saja.
Saat kita mencintainya, orang yang kita cinta malah meninggalkan kita dan yang sedang terpuruk merana dan menanamkan banyak luka. Walaupun terkadang ada juga yang bahagia dengan perpisahan, tapi tetap saja kan ada sedikit luka yang berbekas di hati pastinya.
Wini... Dia pasti sudah sangat menderita kan? Apalagi dia mengandung di saat kuliah, pastilah ini saat-saat sulit bagi hidupnya. Di tambah lagi tak ada orang yang mendukung dan menemaninya di saat dirinya sedang kesusahan.
"Aku harap aku nggak mengalami hal serupa seperti itu. Aku ingin hidup bahagia, memiliki anak juga dan tetap bahagia selamanya bersama keluarga-keluargaku. Semoga tak ada yang menjadi penghalang bagi kebahagiaan kami." do'a Lena dalam hati.
Selesai kampus, seperti biasa Lena menunggu Bram menjemputnya di area halaman kampus. Teman-temannya sudah pulang duluan dan Lena menolak di antar oleh mereka.
"Aneh? Kakak biasanya nggak telat seperti ini. Apa mungkin ada masalah lagi ya diperusahaan?" batin Lena sambil melihat jam dihandphonenya.
"Aku jadi nggak sabar pengen cepat-cepat ngomong sebenarnya dengan kakak." batin Lena tersenyum, memegangi perutnya.
"Oh iya, kenapa aku nggak memeriksanya sendiri pakai alat tes kehamilan seperti biasanya, ya? Kenapa aku jadi suka pelupa begini sih? Aku terlalu menyepelekan kondisi tubuhku rupanya." batin Lena menepuk jidatnya.
"Aduh... "
__ADS_1
Lena terkaget mendengar suara rintihan seseorang yang tak jauh berdiri didekatnya.
Suara siapakah itu?