Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Siapa?


__ADS_3

"Apaan tuh, Grace?" tanya Lena heran. Grace tumben-tumbennya membawa sesuatu kekampus.


"Pesanan Rosi dan Emi. Nih, punya kalian. Semoga kalian suka sama barangnya." ucap Grace tersenyum lebar sambil menyerahkan masing-masing barang pada Rosi dan Emi.


"Uwooh... Gokil... Ini nih yang aku mau." ucap Rosi puas sambil memperlihatkan jaket barunya yang berwarna biru tua dengan gambar tengkorak besar dibagian depannya.


"Waah... Bahannya bagus ya, Grace." ucap Emi senang melihat celana panjang pesanannya.


"Sudah pasti, dong... " ucap Grace bangga.


"Aku baru ingat, waktu itu kamu bilang pengen jualan online kan? Baguslah, Grace." ucap Lena senang setelah mengingat pesan digrup chat mereka, waktu itu Grace mempromosikan barang-barang jualan onlinenya disana.


"Iya, aku ikut gabung jualan online buat bantu ekonomi keluarga." ucap Grace tersenyum sendu.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Grace. Kami akan selalu mendukungmu." ucap Anisa menyemangati Grace sambil merangkul bahunya.


"Kalau kalian mau pesan sesuatu juga, bilang aja sama aku, ya. Pasti aku antarin, buat teman gratis ongkir, deh." ucap Grace riang pada Lena dan Anisa.


"Iya, tentu saja." ucap Lena dan Anisa tersenyum melihat Grace yang ceria.


...***...


Lena sedang fokus memperhatikan penjelasan dosen didepannya. Sesekali Lena terlihat gelisah. Entah kenapa perasaannya terasa tak nyaman seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya.


Selesai kelas, Lena pergi ketoilet wanita. Dirinya terlihat was-was karena merasa ada seseorang yang mengikutinya. Tapi, saat dia menengok kebelakang, tak ada orang disana.


"Aneh. Perasaan tadi kayak ada yang mengikuti. Dikelas tadi juga sama. Perasaanku jadi tak nyaman." batin Lena sambil memegang tengkuknya. Dia sudah didalam toilet dan duduk dikloset duduk.


"Mungkin cuma perasaanku aja. Karena mau nikah, makanya aku jadi mikir yang nggak-nggak." batin Lena menenangkan dirinya sendiri.


"Kenapa nih? Kok nggak bisa dibuka?" batin Lena bingung. Dirinya mau keluar, tapi pintu bilik toilet itu tak bisa dibukanya. Tiba-tiba dia seperti mendengar ada orang ditoilet itu juga.


"Apa ada orang diluar? Pintunya nggak bisa dibuka. Apa bisa tolong..."


BYUR!


Tiba-tiba ada yang menyiram air diatas kepalanya. Lena terdiam saking kagetnya. Dirinya basah kuyup karena banyaknya air yang tersiram padanya. Untung air yang disiram padanya bersih.


Lena bisa mendengar dengan jelas langkah kaki seseorang yang berjalan keluar lalu menutup pintu dengan sedikit keras.


"Apa-apaan ini? Siapa yang melakukan ini sama aku?" batin Lena kesal.


Tak lama kemudian, terdengar seseorang yang masuk ketoilet itu.

__ADS_1


"Iiih... Kenapa disini basah banget?" terdengar suara jijik seseorang yang dikenal oleh Lena.


"Cintia? Itu kamu kan? Tolong, dong. Kamu bisa bukakan pintu ini nggak?" ucap Lena.


"Lena? Kamu didalam? Kok ganggang pintunya diikat-ikat gini sih?" kaget Cintia. Beberapa saat dia terdengar sibuk melepas sesuatu yang mengikat ganggang pintu.


"Astaga? Kamu kenapa basah kuyup begini?" Cintia terkaget-kaget melihat Lena setelah pintu toilet itu terbuka.


"Ada yang iseng nyiram aku. Aku nggak tahu siapa orangnya." ucap Lena kesal sambil melihat pantulan dirinya dicermin wastafel.


"Tunggu. Jangan-jangan orang yang berpapasan denganku tadi orangnya." ucap Cintia sambil keluar toilet untuk melihat orang yang dimaksudnya. Tapi, orang itu sudah menghilang.


"Waktu jalan ketoilet tadi, aku berpapasan sama orang yang terlihat mencurigakan. Aku nggak bisa melihat wajahnya karena tertutup topi ditambah lagi wajahnya tertutup sama tudung jaket. Dia langsung salah tingkah waktu aku perhatiin." ucap Cintia.


"Siapa ya orang itu?" batin Lena berpikir.


"Lena? Kamu kenapa kayak gitu?" tiba-tiba suara Anisa mengagetkan mereka berdua. Grace, Rosi dan Emi juga bersamanya.


"Kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Lena bingung.


"Kamu lama banget datangnya. Jadi kami pikir kamu pasti ada disini." ucap Anisa.


"Lena kok bisa basah begini?" tanya Emi.


"Lena pakai dulu jaketku sama celana Emi buat ganti bajumu." ucap Rosi sambil menyerahkan jaketnya. Emi juga melakukan hal yang disuruh Rosi. Untung mereka memesan itu dari Grace.


"Cintia, pasti kamu kan?" tanya Grace melihat kearah Cintia dengan curiga.


"Enak aja. Bukan aku. Jangan menuduh sembarangan, dong." marah Cintia tak terima.


"Soalnya kamu kan suka cari masalah sama Lena. Ditambah lagi kamu ada disin, gimana kami nggak curiga." cecar Grace. Cintia ingin marah, tapi ditengahi oleh Lena yang keluar dari bilik toilet setelah selesai ganti baju.


"Bukan Cintia."


"Lalu siapa orangnya? Biar kami bertiga yang menghajarnya." ucap Rosi dan disahuti anggukan dari Anisa dan Grace. Cintia dan Emi ciut melihat mereka yang berubah jadi garang.


"Aku nggak tahu siapa orangnya. Kita nggak boleh sembarangan menuduh orang." ucap Lena pada mereka.


"Nggak bisa gitu, dong. Sekali dibiarin, orang itu bakalan ganggu kamu terus. Ya... seperti seseorang." ucap Grace sambil melirik Cintia. Cintia tersinggung mendengarnya, walaupun memang benar.


"Tunggu sebentar. Sekali? Kalian nggak tahu ya kalau kemarin dia juga kena bully? Ditoilet ini lagi." ucap Cintia.


"Cintia!" tegur Lena marah.

__ADS_1


"Yang benar? Kok kamu nggak kasih tahu kami, Len?" kaget Grace.


"Kalau nggak percaya, nih, lihat. Aku ada videonya." ucap Cintia memperlihatkan video dihandphonenya.


Sementara teman-teman Lena fokus menonton video itu, Cintia malah mengomentari penampilan Lena.


"Hm... Kamu nggak cocok pakai itu deh, Len."


Lena memakai jaket bergambar tengkorak milik Rosi yang tak sesuai dengan gayanya selama ini. Ditambah lagi celana milik Emi yang menggantung dipakainya, karena Emi orangnya berperawakan pendek.


"Yang penting ada buat baju ganti, Cin." ucap Lena bete.


"Ini nggak bisa dibiarin. Kita harus melapor kedosen." ucap Anisa terpancing emosinya setelah melihat video tadi. Yang lain mengiyakan.


"Jangan." tolak Lena.


"Kenapa kamu malah ingin menyembunyikan kejadian ini sih, Len? Kejadian kemarin dan hari ini sepertinya terjadi saat kamu memutuskan akan menikah kan?" tanya Anisa khawatir. Lena terdiam.


"Apa jangan-jangan kamu sudah tahu siapa orangnya?" tanya Cintia tiba-tiba.


"Aku tidak tahu. Karena itu, kita nggak boleh bertindak sembarangan. Kita masih belum tahu motif dan dalangnya. Kemungkinan orang-orang ini hanya suruhan saja. Walaupun aku ingin melapor juga." ucap Lena sedikit kesal.


"Ucapanmu ada benarnya juga. Kalian nggak boleh gegabah dalam bertindak. Takut-takut nantinya akan ada serangan yang tak terduga atau kemungkinan pelaku sebenarnya akan lepas begitu saja." ucap Cintia sambil berpikir.


"Ah, baru ingat kalau ada kelas. Kalau kalian butuh bantuan, aku pasti akan bantu." ucap Cintia sambil keluar pergi dari sana. Lena dan teman-temannya tanpa sadar memandangi Cintia yang keluar dari toilet itu.


"Nggak nyangka, ternyata Cintia orangnya baik, ya. Padahal dia sering menganggu Lena, tapi malah mau membantu." celetuk Grace takjub.


...***...


"Perasaan tadi pagi baju yang kamu pakai bukan begini, deh?" tanya Bram bingung memperhatikan baju Lena.


"Tadi ketumpahan kopi, kak. Jadinya pinjam jaket sama celana teman, deh." ucap Lena berbohong.


"Apa kita belanja baju dulu buat kamu?" tanya Bram.


"Nggak usah, kak. Aku pengen pulang aja." tolak Lena. Kepalanya sudah pusing gara-gara memikirkan siapa pelaku yang menjahilinya tadi.


Dirumahpun, orangtuanya kaget melihat baju Lena yang lain dari tadi pagi.


"Astaghfirullah! Kenapa kamu pakai jaket begitu, nak?" tanya Pak Hadi kaget. Istrinya juga sama-sama kaget.


Kaget melihat Lena memakai jaket bergambar tengkorak, padahal selama yang mereka tahu Lena selalu berpenampilan feminim.

__ADS_1


"Gaya baru, yah." ucap Lena menggoda orangtuanya.


"Bercanda. He, he... " ucap Lena lagi.


__ADS_2