
"Oi, Daniel."
Mendengar namanya di panggil, Daniel menoleh ke sumber suara. Disana dilihatnya ada tiga orang yang menghampirinya.
"Hhh... Mereka berandalan yang suka memalak orang-orang di kampus." batin Daniel jengah dan ingin beranjak pergi.
"Hei... Tunggu dulu... Mau pergi kemana kamu?" tanya salah satu orang yang bertubuh besar, merangkul bahu Daniel untuk menahannya pergi.
"Ada perlu apa?" tanya Daniel ketus dan kesal karena langkahnya di hadang dengan tak sopan.
"Haha... Lihat dia. Kenapa cara bicaramu sok begini?" ucap si pria besar dan disahuti tawaan mengejek dari teman-temannya.
Daniel mengetatkan rahangnya saking kesalnya, tapi tak terlihat karena brewok palsunya.
Tanpa mereka sadari, ada seorang perempuan yang mengintip mereka dari kejauhan.
"Ada yang kena bully. Kalau tidak salah mereka itu yang suka mengganggu dan memalak orang. Kenapa mereka suka sekali mengganggu orang yang lemah? Akan kulaporkan sama dosen." batinnya geregetan dan cepat-cepat pergi dari sana.
Tapi saat berlari keruangan dosen yang yang letaknya masih jauh, dia tak sengaja berpapasan dengan orang yang dikenalnya dan orang itu menyapanya.
"Maya? Ngapain kamu lari-lari begitu?"
__ADS_1
"Kak Cintia! Aku mau lapor ke dosen kalau ada yang sedang di rundung sekarang, kak." ucap Maya.
"Siapa yang di rundung?" tanya Cintia penasaran.
"Bukan Lena kan?" tanyanya dalam hati.
"Aku nggak tahu namanya. Tapi orangnya agak aneh, rambutnya gondrong berantakan, brewokan terus pakai kacamata tebal gitu." sahut Maya menerangkan.
"Si hutan rimba?" batin Cintia kaget.
"Dimana?"
"Eh? Di... sana." jawab Maya. Dia dan Cintia berlari ke arah yang di tunjuk Maya.
"Apa kita juga harus kesana? Kenapa Cintia begitu mempedulikan orang aneh itu, ya?" tanya Soraya bingung karena ditinggal begitu saja oleh Cintia dan Maya.
"Sudahlah, ayo kita kesana juga. Kamu kan juga tahu kalau Cintia suka dengan orang yang unik dan tak gentar berhadapan dengannya." ucap Sonia seraya menarik tangan Soraya.
Kembali ke Daniel dan ketiga berandalan lagi...
"Nggak usah berbelit-belit, bilang aja langsung. Kalian.mau.apa...?" tanya Daniel dengan raut wajah datar tapi suaranya terdengar begitu kesal.
__ADS_1
"Ahaha... Karena penampilanmu yang seperti ini kupikir kamu bodoh karena otakmu ketutupan sama poni dan kacamata tebalmu itu. Ternyata selama ini aku salah." ucap si pria besar, menepuk-nepuk bahu Daniel.
"Kamu ada uang kan? Berikan pada kami." ucap si pria besar blak-blakan sambil mengulurkan tangannya dan langsung mendapat tatapan menghunus tajam dari Daniel.
"Ayolah... Anggap saja kamu bersedekah membantu kami yang sedang kesusahan ini. Bukankah kamu selama ini suka bersedekah dan menolong orang-orang yang kesusahan kan? Uangmu kan banyak, beri kami barang sedikit... saja. Masa kamu nggak mau?" ucap si pria besar menyeringai.
"Aku hanya membantu orang yang menurutku pantas untuk di tolong. Bukan orang-orang seperti kalian. Cobalah bercermin, apakah kalian orang yang pantas untuk di tolong?" sahut Daniel datar, berjalan meninggalkan ketiga berandalan itu.
"Apa? Belagu sekali dia. Kau pikir kau itu siapa?" teriak pria besar itu garang.
Dihadangnya lagi langkah Daniel dengan mencengkeram kasar kerah bajunya dan menyudutkan Daniel ke dinding dengan keras. Daniel terlihat mengaduh kesakitan karena perlakuan kasar orang itu. Dan kedua temannya memegang erat kedua tangan Daniel.
"Hhh... Kalian ingin melakukan kekerasan?" tanya Daniel jengah.
"Kalau memang diperlukan. Kenapa? Kamu takut?" tanya si pria besar dengan memasang wajah sangarnya.
"Nggak juga tuh. Soalnya aku sudah sering seperti ini sejak kecil. Bahkan lebih parah dari ini." batin Daniel datar. Entah kenapa dia jadi teringat dengan masa lalunya yang suram.
"Hhh... Lupakan masa lalu, pikirkan saja tentang sekarang. Bagaimana cara melawan mereka bertiga ini. Selama ini, selain memerankan film romantis dan drama, aku juga sudah sering memerankan film action. Jadi, aku masih ingat gerakan-gerakan bela diri yang aku pelajari saat memerankan tokohnya. Hm... Kalau tak bisa menggunakan tangan, aku bisa gunakan kaki." batin Daniel berpikir.
"Oke. Kalau begitu, pertama-tama aku akan tendang terlebih dulu 'bawah'nya si bayi besar ini. Lalu menendang anak buahnya." batin Daniel mantap.
__ADS_1
Danielpun melancarkan aksinya. Dan apakah usahanya berhasil?