Tak Seindah Puisi Cintanya

Tak Seindah Puisi Cintanya
Milikku


__ADS_3

"Hm... "


Beberapa bulan ini keadaan rasanya terlalu tenang. Tak adakah hal yang menarik? Sejak Lena menikah, aku tak bisa lagi mengganggunya karena dia tak tersulut emosi seperti dulu dan benar-benar bisa menahan emosinya dengan baik. Kurasa itu pasti karena dia tak ingin menyusahkan suami dan mertuanya.


Entah kenapa jadi nggak seru. Aku mau Lena yang seperti dulu. Aku juga ingin seperti dulu, saat aku bisa bebas sembunyi sendirian tanpa ketahuan si kembar. Tapi, kini si kembar sudah tahu di mana tempat persembunyianku selama ini (toilet). Jadi, sejak mereka tahu, mereka jadi semakin menempel dan tak mau meninggalkanku.


Ya sudahlah, tak mengapa. Yang penting aku tak sendirian.


"Uwah... lihat deh. Daniel keren..." ucap Soraya.


"...Dan tampan banget!" Sonia melanjutkan kata-kata Soraya.


Cintia yang tadinya sedang melamun, tersadar karena mendengar si kembar tapi beda itu takjub melihat reklame di hadapan mereka. Saat ini mereka sedang jalan-jalan di tempat paling hits yang dikunjungi oleh banyak orang. Cintia hanya diam, dia jadi ikut-ikutan juga melihat reklame yang terbentang dihadapannya itu.


Wajah Daniel terpampang jelas di reklame itu yang sedang memperkenalkan produk elektronik dari perusahaan keluarga Cintia.


Artis ini, semenjak Kak Ardan merekomendasikannya untuk mengiklankan produk perusahaan, perusahaan kami jadi semakin meningkat pesat berkatnya.


Tidak hanya produk elektronik, produk makanan dan yang lainnya pun sukses melejit dibuatnya. Yah... perusahaan kami memang merambah ke banyak bidang.


Wajahnya selalu wara wiri di layar kaca, reklame dan media lainnya. Ehem, kuakui aura dan pesonanya boleh juga. Tapi kuingatkan, tak ada maksud lain dalam ucapanku tadi, ya!


Tapi, entah kenapa artis ini terus-terusan terbayang dibenakku dan seolah-olah jadi misteri yang tak terpecahkan bagiku. Aku juga tak tahu kenapa bisa begitu. Dia jadi sama misteriusnya dengan si hutan rimba.


"Ergh? Hei, hei, kenapa aku aku malah memikirkan si hutan rimba sih?" batin Cintia kesal tapi wajahnya sedikit memerah.


"Kenapa, Cin?" tanya Sonia heran melihat Cintia yang mengacak-acak rambutnya.


"Eh? Nggak, nggak papa." jawab Cintia sok anggun sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan.


"Jadi malu, mereka pasti berpikir kalau aku aneh tadi. Hhh... Gara-gara gabut, pikiranku jadi kesana kemari." batin Cintia memegangi wajahnya.


"Huwa... Aku agak bosan hidup terlalu tenang begini. Kumohon, kembalikan Lena seperti dulu lagi!" teriak Cintia frustasi dalam hatinya.


Sementara itu, di restoran milik keluarga Bram...


"Hatsyi...!"


"Kamu nggak papa?" tanya Bram sambil meletakkan gelas kopi yang habis diseruputnya ke meja.


"Cuma bersin, kak." sahut Lena.


"Hm, sepertinya kamu bersin gara-gara kebanyakan makan es krim deh. Sudah, berhenti makan es krimnya, ya." ucap Bram menatap Lena.


Bram ingin menyita es krim Lena, tapi Lena mencubit tangannya dengan wajah yang merengut lucu. Bram malah cekikikan melihatnya.


"Kamu kan sudah makan banyak tadi. Katanya mau diet?" ucap Bram tersenyum usil.


"Mm... Sedikit... aja lagi ya, kak." tawar Lena memohon. Bram tersenyum geli sambil mencubit gemas pipi istrinya itu.


Sambil memakan es krimnya lagi, Lena memandangi sekeliling restoran itu yang terlihat sedikit berubah.


"Hm... Tempat ini terlihat... lebih menarik, tapi nggak menghilangkan kesan elegan didalamnya." komentar Lena tiba-tiba.


"Benar kan? Aku sudah lama meminta ayah untuk mengubah sedikit penampilan restoran ini. Awalnya sih ayah menolak, tapi lama-lama ayah luluh juga. Dan semua furniturnya ini dari perusahaan keluarga Alika." ucap Bram senang karena Lena juga memiliki pemikiran yang sama dengannya.

__ADS_1


Ya, keluarga Alika memiliki usaha furnitur yang cukup terkenal juga.


Kak Bram dan Alika sudah berteman sejak mereka kecil karena orangtua mereka yang menjalin hubungan kerja. Orangtua Kak Bram yang merupakan pebisnis makanan pastinya membutuhkan berbagai furnitur dari keluarga Alika untuk melengkapi isi kantor dan restoran mereka.


Bukankah Kak Bram dan Alika pasangan serasi yang sebenarnya. Anak pemilik perusahaan makanan dan restoran terkenal cocok bersanding dengan anak pemilik usaha furnitur yang saling melengkapi satu sama lain.


Ibaratnya makan di meja tak lengkap kalau tak ada kursinya. Walaupun bisa lesehan sih.


Lalu aku ini siapa sih? Secara ajaibnya, aku menghancurkan segalanya. Aku terselip ditengah-tengah, di antara mereka. Aku yang bukan siapa-siapa dan hanya dari keluarga biasa saja, masuk dan menjadi pengacau saja.


Tentu saja ada yang tak suka dan menganggapku benalu yang tak berharga karena langsung mendapatkan semuanya dengan mudah tanpa harus bersusah payah.


"Lena... Lena!" panggil Bram.


"Hm? Eh? Ya? Kenapa, kak?" Lena tersentak dari lamunannya.


"Kamu nggak dengerin aku ya tadi?" tanya Bram, wajahnya cemberut. Lena nyengir kuda menanggapinya sambil melahap sendokan terakhir es krimnya.


"Setelah ini mau nonton ke bioskop?"


"Hm? Nonton? Memangnya nggak papa ya kakak sering-sering ngajak aku keluar begini? Bukannya kakak ada kesibukan juga di kantor?" tanya Lena polos.


"Kalau buat manjain istri nggak papa kan. Lagian aku tadi kan sudah bilang kalau besok aku dan ayah akan dinas keluar kota. Jadi sebelum pergi, aku pengen manja-manja dulu dengan istriku." ucap Bram tersenyum.


"Oh iya." sahut Lena dengan wajah yang tersipu malu.


"Tapi, selama aku pergi, kamu harus jaga hati ya disini." ucap Bram serius. Sifat posesifnya langsung keluar. Lena mengangguk mengiyakan.


"Bukannya seharusnya kakak ya yang jaga hati di tempat orang?" batin Lena sambil menahan tawanya.


"Terserah kakak saja."


"Oke, ayo kita pergi." ucap Bram senang. Digenggamnya erat tangan Lena lalu berjalan keluar dari restoran mereka.


Saat di bioskop, banyak mata yang memandang takjub pada mereka. Seperti sedang melihat pasangan artis saja.


Selesai menonton, Bram mengajak Lena berbelanja ke mall, setelahnya mereka bersantai di taman. Dan sekarang mereka sudah duduk di salah satu bangku taman disana.


"Tamannya ramai, ya." ucap Lena, melihat sekeliling taman yang ada banyak orang juga sedang bersantai disana.


"Lihat deh, anak itu lucu, ya." ucap Bram tersenyum melihat anak kecil yang sedang asyik bermain dengan orangtuanya.


"Ah, kakak benar-benar ingin punya anak, ya?" batin Lena merasa serba salah sambil memegangi perutnya yang rata.


Saat lagi asyik bersantai, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa mereka.


"Kak Lena, Kak Bram. Lagi santai nih, ye." teriak orang itu sambil melambaikan tangannya.


"Oh, Angga? Mau kemana rame-rame begitu?" tanya Lena melihat Angga dan teman-temannya.


"Kami tadi habis bikin tugas kelompok, kak. Terus mau nongkrong deh." jawab Angga.


"Ya sudah, kami pergi dulu. Selamat bersenang-senang ya, kak. Maaf, sudah mengganggu." pamit Angga. Lena mengangguk dan melambaikan tangannya.


"Anak itu sudah banyak berubah. Padahal dulu Angga anak yang nggak banyak ngomong dan tak begitu mau bergaul. Tahu nggak, kak? Angga itu... " Lena tak melanjutkan ucapannya karena melihat Bram yang menatapnya dengan sendu.

__ADS_1


"Astaga! Apa yang aku lakukan? Seharusnya aku menghabiskan waktu bersama Kak Bram, tapi aku malah membicarakan hal yang bersangkutan dengan Kak Sultan." batin Lena tersadar dan menutup mulutnya.


Di saat yang bersamaan, ada sebuah bola tiba-tiba menggelinding ke arah mereka.


"Mm... Maaf, Oom. Bisa ambilkan bolaku nggak?" tanya seorang bocah laki-laki dengan malu-malu menghampiri mereka dengan tingkah lucunya. Bram berjongkok untuk mengambil bola si bocah.


"Ini bolanya." ucap Bram tersenyum sambil memberikan bola kepada si bocah.


"Makasih, Oom." ucap si bocah senang lalu berlari pergi setelah mendapatkan bolanya.


Bram kembali duduk dan memperhatikan bocah tadi bermain dengan orangtuanya. Lena semakin merasa bersalah melihat Bram yang terdiam.


Aku jadi merasa bersalah pada kakak. Seharusnya aku malu, aku yang sudah menjadi istrinya bisa-bisanya malah masih memikirkan orang lain. Kakak selalu memberikan banyak cinta untukku. Tapi kenapa aku masih saja...


Benar apa kata Grace, disini akulah orang yang paling munafik. Seolah-olah mencintai tapi masih tetap memikirkan orang lain selain suami sendiri. Betapa bodohnya aku.


Aku nggak boleh terus-terusan begini. Aku juga harus berusaha untuk memberikan cinta untuk kakak. Aku akan berusaha.


"Kenapa?" kaget Bram. Lena tiba-tiba memeluk lengannya dan menyandarkan kepalanya dibahunya.


"Maaf ya, kak."


"Maaf? Untuk apa?" tanya Bram bingung.


"Untuk semua kesalahanku. Dan terima kasih untuk segalanya."


"Apa sih? Nggak jelas." ucap Bram tertawa sambil membelai lembut kepala Lena.


"Aku cinta kakak." ucap Lena dengan tulus. Lena tak menyadari Bram yang terdiam membeku dengan mata membelalak karena kata-katanya.


"Aku juga cinta kamu. Sangat." ucap Bram tersenyum lalu mencium puncak kepala Lena yang masih bersandar dibahunya.


...***...


"Hm...? Siapa?" batin Lena antara sadar dan tak sadar dalam tidurnya karena merasakan ada tangan seseorang yang membelai lembut pipinya.


Matanya yang terpejam perlahan-lahan dibukanya dan mendapati Bram tengah menatapnya dengan tangan yang membelai-belai pipinya.


"Ah, maaf. Kamu terbangun ya gara-gara aku?" panik Bram, menarik tangannya.


"Uhm... Kakak kenapa nggak tidur? Bukannya besok mau dinas keluar kota?" tanya Lena sambil mengucek-ucek matanya.


"Aku belum mau tidur."


Lena terdiam beberapa saat.


"Mau aku tepuk-tepuk supaya kakak bisa tidur?" tawar Lena.


"Hm... Boleh."


Tapi, baru beberapa menit menepuk-nepuk punggung Bram, Lena malah tertidur duluan.


"Hehe, dasar." ucap Bram gemas. Lama Bram terdiam sambil menatap wajah Lena.


"Milikku." ucap Bram sambil memeluk Lena yang tertidur dengan posesifnya.

__ADS_1


__ADS_2