
"Lena... Cepetan, nak. Kita sarapan bareng sama Bram juga." ucap Bu Mila sambil mengetuk pintu kamar Lena.
"Iya, bu... Aku bakalan nyusul." ucap Lena malas-malas.
"Duh... Padahal malas banget kuliah..." batin Lena. Dia bersusah payah menyeret tubuhnya yang lemah, lemas, letoi dan lesu kemeja makan. Dilihatnya ayah dan ibunya sudah menunggunya dan... Dan...?
"Loh, kok ada Kak Bram disini?" tanya Lena bingung.
"Kan tadi ibu sudah bilang kalau ada Bram."
"Kapan ibu bilang?" tanya Lena lagi. Rupanya tadi dia tak benar-benar mendengarkan kata-kata ibunya.
"Tadi!" jawab Bu Mila mangkel.
Bram senyum-senyum melihat pertengkaran kecil ibu dan anak itu.
"Sudah, sudah. Kita sarapan dulu. Nggak enak tuh dilihatin Bram." ucap Pak Hadi menengahi istri dan anaknya.
"Len, kamu nggak usah naik ojek, ya. Bram katanya mau mengantar kamu kekampus. Iya kan, nak Bram?" tanya Pak Hadi pada Bram.
"Iya, pak." jawab Bram tersenyum ramah.
"Oh, gitu... Ya sudah." ucap Lena seadanya. Dilihatnya Bram tersenyum kearahnya. Selesai sarapan, Lena dan Bram berpamitan dengan orangtua Lena.
"Kok kakak jadi ngantar aku juga?"
"Kita kan harus menjalin pendekatan dulu. Lupa, ya?"
"Oh, iya juga..." ucap Lena lesu. Mereka sudah didalam mobil dalam perjalanan kekampus.
"Kenapa? Kok lesu?" tanya Bram bingung melihat Lena yang duduk disampingnya.
"Nggak papa kok, kak."
"Ceritain aja, aku bisa dengerin kok." ucap Bram tersenyum. Lena terdiam sesaat.
"Aku... ditolak, kak. Sama seperti Alika juga. Aku juga ditolak sama Kak Sultan." ucap Lena sendu. Bram terdiam.
"Maaf, aku nggak bermaksud menyinggung masalah pribadimu." ucap Bram sambil mengalihkan pandangannya kearah jalan. Ekspresi wajahnya sulit diartikan, entah dia kecewa atau sedih melihat Lena yang seperti itu.
"Nggak papa kok, kak." Lena tersenyum miris.
__ADS_1
...***...
"Yang semangat, dong... masa masih lesu begitu?" ucap Bram tersenyum untuk menyemangati Lena. Mereka sudah sampai dikampus dan Bram mengantar Lena berjalan, menemani Lena barang sebentar. Orang-orang menatap mereka dengan takjub.
"Iya, kak." ucap Lena berusaha tersenyum.
"Nggak papa kan kalau aku tinggal?" tanya Bram cemas.
"Iya. Kakak pergi aja." sahut Lena sambil mengangguk.
"Ya sudah. Aku pergi, ya."
"Yang semangat." ucap Bram lagi sambil berjalan meninggalkan Lena. Lena tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Cie, cie... " Grace, Rosi dan Emi tiba-tiba sudah berdiri disamping Lena.
"Apaan sih?" Lena bersungut.
"Kok marah?" tanya Grace senyum-senyum.
Sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti ditempat Bram menghentikan mobilnya tadi. Rupanya itu mobil Ardan. Dari mobil itu, keluarlah Anisa dengan wajah yang masam. Lalu, keluar lagi Cintia dengan wajah yang pucat pasi. Sepertinya Cintia takut-takut satu mobil dengan Anisa.
"Pulang nanti aku jemput kalian, ya... " ucap Ardan senang dari dalam mobil.
"Cie, cie... " goda Grace usil.
"Berisik. Diam aja deh, Grace." ucap Anisa dongkol, wajahnya terlihat muram.
"Anisa kok bisa sama mereka?" tanya Emi.
"Aku juga masih bingung mikirannya dari tadi." jawab Anisa.
"Loh, kok bisa?" tanya Rosi kebingungan.
"Tadi pagi, Cintia sama kakaknya itu sudah datang aja kerumah. Entah apa yang diomongin kakaknya itu, keluargaku mau-mau aja mendengar omongannya."
"Aku nggak menyangka. Abi... Kakak-kakakku tersayang... Kenapa kalian berkhianat dibelakangku? Padahal dulu kalian tak begitu. Kenapa...?" ucap Anisa frustasi.
"Kalian tahu nggak? Kemarin... Bisa-bisanya dia datang keperguruan karate kami buat ketemu aku doang. Yang lebih ngeri lagi, semakin aku membanting lawan latihanku buat nakut-nakutin dia. Eh... Dia malah semakin senang melihatku." ucap Anisa gemetaran dengan mimik wajah yang depresi.
"Wuih... Kasihan tuh yang kamu banting-banting." ucap Rosi. Emi bergidik ngeri, membayangkannya saja sudah bikin ngilu. Lena hanya tersenyum-senyum mendengarkan, entah kenapa dia tak semangat menanggapi obrolan mereka. Grace yang disampingnya, melihat Lena dengan curiga. Karena tak biasanya Lena begitu.
__ADS_1
Lalu, mereka beriringan masuk kedalam kampus. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Dari wajahnya jelas terlihat menggambarkan kebencian.
"Aku nggak terima ada yang merebut Kak Bram dariku." ucapnya garang sambil mengepalkan kedua tangannya.
...***...
Selesai kampus, Lena, Grace dan Anisa beriringan berjalan keluar dari area kampus. Mereka hanya bertiga karena Rosi dan Emi sudah pulang duluan. Kebetulan mereka juga beriringan berjalan dengan Cintia dan kedua dayangnya. Lena yang lesu tak menanggapi Cintia yang sudah mulai nyiyir kelihatannya. Sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti didepan mereka. Ternyata Ardan, dia keluar dari mobilnya.
"Wah, kebetulan sekali. Kalian sudah kumpul aja." ucap Ardan. Anisa yang dongkol melihatnya, menyeret Grace dan Lena menjauh dari sana.
"Anisa ikut kami juga, ya..." bujuk Ardan menghadang Anisa.
"Maaf, aku nggak bisa pulang bareng kalian kalau Lena dan Grace nggak ikut." ucap Anisa beralasan sambil tersenyum masam.
"Terus kami gimana, kak?" ucap Cintia marah. Apalagi kedua dayangnya juga tak terima kalau harus mengalah. Ardan berpikir sejenak. Sudah bisa ditebak jalan pikirnya seperti apa.
"Hiks, padahal tadi maksudnya aku menolak secara halus." batin Anisa merana. Mereka bertiga jadi satu mobil juga akhirnya dengan Ardan dan Cintia, karena Ardan orangnya pemaksa. Untung saja, Lena tadi sudah mengirimkan pesan pada Bram untuk tak jadi menjemputnya.
"Jadi, kamu masuk jurusan pendidikan mengikuti jejak mendiang ibumu, ya?" tanya Ardan pada Anisa.
"Itu karena aku ingin mengajari orang lain bagaimana caranya melindungi diri dari orang sepertimu." ucap Anisa mangkel. Ardan malah cekikikan.
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu. Kalian belum makan kan?" bujuk Ardan tiba-tiba. Cintia yang duduk disampingnya, jengah mendengar kakaknya.
"Nggak u-"
"Wah, boleh juga tuh." Grace yang menyerobot. Langsung Anisa cubit pinggangnya.
"Baiklah... Makan apa ya enaknya?" tanya Ardan tersenyum senang.
"Huh. Kalau mau traktir harus ditempat yang paling mahal dong." ucap Anisa sinis untuk membuat kesan buruk tanpa menyadari omongannya barusan. Ardan dan Cintia tersenyum mendengarnya dengan ekspresi yang sulit diartikan Anisa. Lena menutup wajahnya, Grace geleng-geleng kepala.
"Kenapa?" tanya Anisa bingung. Mungkin saking kesalnya, dia lupa siapa Ardan sebenarnya.
Anisa sudah seperti kehilangan nyawanya. Tahu-tahu mereka sudah ada direstoran mewah dengan hidangan serba mahal yang sudah tersaji didepan mata mereka. Anisa jadi menyesal, padahal dia tak bermaksud berkata asal begitu.
Grace kalap melihat banyaknya makanan yang tersaji diatas meja. Lena terlihat senang juga walaupun agak lesu. Mereka jadi kecipratan berkahnya juga. Cintia sudah melahap makanannya dengan anggun.
"Loh, kenapa melamun? Katanya mau makan ditempat yang paling mahal..." ucap Ardan cekikikan pada Anisa. Dongkol Anisa melihatnya.
"Kalau ditraktir begini terus sih, aku bakalan dukung kakak dengan Anisa." celetuk Grace tiba-tiba.
__ADS_1
"Wah, kamu memang paham maksudku." ucap Ardan senang. Dia dan Grace saling tos-tosan. Anisa, Lena dan Cintia menatap Grace tajam. Yang ditatap malah tak tahu menahu dan asyik melahap makanannya.